
Usai semua beres, aku langsung di tempatkan di ruang rawat inap bersama bayiku, ruangan rumah sakit yang sudah di sulap menjadi istana kecil yang nyaman, berbagai pernak pernik lucu menghiasi setiap sudutnya, cat tembok yang di dominasi warna merah muda ini tampak cocok sekali dengan kelahiran anak perempuanku.
"Aku sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari, Sayang," ujar suamiku tatkala aku begitu takjub memandang setiap sudut tempat ini.
Aku masih duduk di kursi roda, sambil memangku bidadari kecilku yang nampak tertidur dengan sangat pulas setelah kenyang meminum ASI. Karena kondisi kami yang sangat sehat, maka kami hanya menginap satu malam saja, besok pagi dokter sudah memperbolehkan kami pulang.
"Sebentar lagi ayah dan ibumu akan segera tiba," lanjutnya.
"Kau sudah memberi kabar pada mereka?"
"Tentu saja, tidak akan ada yang terlewat untuk moment berharga ini."
"Terimakasih, Honey." Ku hadiahkan senyum penuh ketulusan padanya.
Aku segera memindahkan tubuhku di atas kasur empuk berukuran lumayan besar, dan membaringkan gadis kecilku di sisi kananku.
Ku tatap lekat-lekat wajahnya yang begitu lucu, hidungnya mancung kecil, alisnya berjejer rapi dengan alami bak sulaman, bibirnya mungil nan tipis, membelah di bagian bawah.
Sesekali ia nampak tersenyum kecil seperti sedang memimpikan sesuatu, lesung pipit di kedua pipinya sangat dalam, sungguh cantik bidadariku.
"Sayang, ayah dan ibumu sudah datang," ujar suamiku, membuatku menghentikan sejenak memandang teduh wajah si kecil.
"Nak," panggil ibu dengan mata berkaca-kaca, ia masih berdiri mematung di depan pintu.
"Masuklah, Bu. Lihat cucu cantikmu," kataku.
Dengan penuh kebahagiaan ibu dan ayah menghampiriku, lalu ibu secara lembut menggendong putriku yang masih pulas tertidur.
"Dia cantik sekali," lirih ibu sambil mengelus pipinya, ayah yang nampak terharu hanya tersenyum sambil menyeka buliran bening yang jatuh dari matanya.
"Tentu saja, Bu. Anakku memang cantik, seperti ibunya," jawab suamiku bangga.
"Apakah papamu sudah di beri kabar, Nak?" tanya ayah.
"Sudah, mungkin sebentar lagi sampai, karena memang rencananya dia akan datang ke rumah hari ini, jadi sebelum Sabrina mengalami kontraksi tadi pagi, papa sudah berangkat lebih dulu," jawab suamiku.
Kami bersenda gurau bersama, mengagumi sosok si kecil yang begitu menggemaskan, sedangkan suamiku sibuk merapikan beberapa hadiah yang ayah dan ibuku bawa untuk cucunya.
"Siapa namanya?" tanya ibu.
"Emm, aku akan memberitahunya setelah papa sampai," kata suamiku
__ADS_1
"Kenapa kau sekarang suka main rahasia-rahasiaan sih," ujarku meliriknya, padahal aku juga sangat penasaran dengan nama yang sudah ia rencanakan untuk kelahiran putri kami.
Sesuai kesepakatan di awal kehamilanku saat kami belum mengetahui jenis kelamin si kecil, jika dia lahir laki-laki, maka aku yang akan menyiapkan nama untuknya, tapi jika dia lahir perempuan, maka ayahnya lah yang akan memberi nama.
Saat USG ketiga di bulan ke empat usia kandunganku, sudah di prediksi bahwa calon bayi kita adalah laki-laki, namun prediksi berubah di kehamilan ke tujuh bulan, dokter mengatakan jika bayinya adalah perempuan.
Bagiku, laki-laki ataupun perempuan sama saja, dia adalah anugrah, anak yang di titipkan Tuhan kepada kami, dan dialah hasil dari benih cinta kami yang telah tumbuh subur.
Beberapa saat kemudian papa mertuaku datang, dia membawa buket bunga lily putih berukuran besar dan satu kotak kecil berwarna keemasan, dua pengawal yang ada di belakangnya juga membawa berbagai ornamen lucu nan cantik bertemakan bayi perempuan.
Semua orang di dalam ruangan langsung tersenyum melihat kedatangan papa mertuaku, kedua orangtuaku langsung bersalaman, tidak lupa juga suamiku, ia tampak tidak sabar memperlihatkan si kecil kepada papanya.
"Papa," sapaku, laki-laki itu langsung mendekat dan menyerahkan buket bunga itu padaku.
"Terimakasih, Nak. Terimakasih telah menghadiahkan malaikat kecil kepada keluarga papa, terimakasih telah berjuang melahirkan cucu papa," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Ini sudah menjadi kewajiban Sabrina, Pa. Menjadi wanita yang sempurna dengan melahirkan seorang penerus adalah cita-cita setiap wanita," kataku.
"Ini hadiah sebagai rasa terimakasih papa padamu," ujar papa sambil menyerahkan kotak kecil itu padaku.
"Bukalah," lanjutnya.
Aku membukanya, dan ternyata isinya adalah sebuah kalung dengan liontin berlian biru muda yang indah.
"Tentu saja, Nak. Seorang wanita yang sudah berjuang mempertaruhkan nyawa, patut di beri hadiah atas keberhasilannya," ujar papa tersenyum.
Aku begitu bahagia, sungguh sesuatu yang sulit di dapatkan, suami yang begitu penyayang dan mertua yang sangat baik adalah paket komplit.
Saat papa meraih cucu kecilnya dari gendongan putranya, kini suamiku langsung mendekat dan memakaikan kalung indah ini di leherku.
"Cocok sekali, cantik," pujinya.
"Papa selalu punya selera yang tidak kalah denganmu, Ga," goda papa. Aku dan kedua orangtuaku hanya tertawa melihatnya.
Barang-barang pemberian papa sebagai hadiah kelahiran cucunya sudah di letakkan rapi berjejer dengan hadiah dari ayah dan ibuku. Aku bahkan tidak sabar ingin cepat pulang.
"Siapa namanya, Ga?" tanya papa sambil mengelus lembut pipi cucunya.
"Chamomile Arsyana Briella, bisa di panggil Chamomile," jawab tegas suamiku.
"Ah, nama yang sangat cantik, cocok sekali dengan cucuku ini," jawab papa.
__ADS_1
"Panjang sekali namanya, Honey?" tanyaku.
"Memang panjang, sepanjang perjuangan cinta kita."
"Ciyeeeee ...." sorak papa dan kedua orangtuaku berbarengan.
"Kau tidak ingin menyelipkan nama keluarga besarmu?" tanyaku penasaran, karena ia tampak tidak memakai nama kebesarannya untuk si kecil, 'Wijaya'.
"Tidak, dia harus menjadi wanita tangguh seperti ibunya, dia harus menjadi wanita mandiri seperti ibunya, dia harus bisa berdiri sendiri di atas kedua kakinya tanpa embel-embel nama Wijaya," jawab suamiku tegas.
"Bagus, papa sangat suka prinsipmu, Ga," seru papa.
...
Malam ini aku tidak bisa tertidur dengan pulas, ayah dan ibuku memutuskan untuk menginap di rumah sakit untuk menjagaku, sedangkan suamiku mengantar papanya untuk pulang ke rumah, karena perjalanan papa yang cukup jauh membuatnya lelah, jadi aku memintanya untuk tidak menginap bersama kami di rumah sakit.
"Kau tidak ingin makan apa-apa, Nak?" tanya ibu.
"Tidak, Bu. Sabrina tidak lapar," jawabku, aku hanya gelisah tidak bisa tidur karena payud*raku yang terus mengencang dan terasa sangat nyeri. Bahkan Chamomile sering menangis karena ASI yang keluar terlalu deras dan membuatnya sering tersedak.
"Ibu akan menyiapkan kompres air hangat untuk payud*ramu, Nak," ujar ibu berlalu pergi, mungkin ia paham dengan apa yang aku rasakan, terlebih ia sudah pernah dua kali melahirkan.
Ruangan rawat inap ini sangat komplit dan berukuran besar, ada dapur mini dan kamar mandi di dalamnya, satu kamar untuk pasien dan satu kamar lagi khusus untuk tempat istirahat kerabat yang berkunjung.
Setelah ibu datang membawa air hangat, aku segera mengompres payud*raku yang terlihat lebih besar dari biasanya. Usai merasa lebih baik, aku mengambil ponselku yang tergeletak begitu saja diatas meja.
Aku menekan tombol hijau pada nama Claire di layar ponsel.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...