
Kegiatan yang paling menyenangkan untukku adalah mandi bersama, mandi tanpa adegan yang iya-iya. Hanya mandi, saling membasahi, aku suka membantunya menggosok punggung dan mencuci rambutnya, dia juga sangat senang jika aku memintanya mencuci rambutku.
Ritual mandi yang menyenangkan selalu memakan waktu lebih lama dari biasanya, bisa satu jam lebih atau bahkan mencapai dua jam. Mungkin orang lain bisa berpikir kami ketiduran di kamar mandi.
Setelah kami siap, kami segera menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama, Claire dan tuan Joe sudah menunggu di ruang tengah sambil mengobrol, aku suka sekali melihat kedekatan mereka.
"Sarapan dulu, Joe," ajak tuan Arga.
"Ya, Boss. Aku akan segera menyusul," jawab tuan Joe. Dia lalu merapikan laptop dan berkas-berkas yang berserakan di meja, Claire tidak lupa untuk ikut membantunya
Usai formasi di meja makan lengkap, para pelayan langsung menghidangkan berbagai macam menu yang menggugah selera, tidak ada hari biasa dan hari istimewa disini, semua makanan akan selalu di hidangkan secara mewah dan memanjakan lidah sang tuan rumah.
"Kau akan ikut ke butik lagi, Honey?" tanyaku pada tuan Arga seraya mengambilkan nasi di piringnya.
"Tidak, kita akan jalan-jalan," ujar tuan Arga.
"Jalan-jalan? kemana?"
"Terserah, besok Claire akan kembali ke Paris, jadi kita akan mengajaknya berlibur seharian," ucap tuan Arga melempar pandangan pada Claire.
"Bagaimana, Claire?"
"Baiklah, aku sangat senang jika bisa berkeliling bersama kalian," jawab Claire tersenyum.
"Kau ikut, Joe?" tanya tuan Arga.
"Tidak, Boss. Aku sedang banyak urusan, kalian pergilah dulu, jika urusanku sudah tuntas, aku akan menyusul," jawab tuan Joe sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Terlihat dengan jelas Claire tampak kecewa, dia menatapku dengan mata yang penuh harap.
"Mengapa pekerjaannya tidak di selesaikan besok saja, Tuan?" tanyaku pada tuan Joe.
"Tidak bisa, Nona. Ini adalah pekerjaan penting dan mendesak," ujarnya.
Ku tatap tuan Arga yang sibuk mengunyah, memberikan kode agar dia bisa membantuku membujuk tuan Joe untuk ikut bersama kami.
Namun percuma, tuan Arga hanya menggeleng pelan dan mengangkat bahu, dia tidak mau membantu.
Setelah sarapan usai, tuan Joe langsung bergegas menuju kantor, sedangkan aku dan tuan Arga bersiap-siap.
"Dimana Claire?" tanyaku saat wanita itu tidak terlihat di ruang tamu.
"Mungkin masih bersiap," kata tuan Arga.
"Aku akan menyusul ke kamarnya." Aku berlari menaiki anak tangga dan mencari keberadaan Claire.
Ternyata wanita itu sudah siap, namun dia masih duduk mematung di depan cermin.
"Ayo, Claire,' ajakku.
"Aku tidak bersemangat, Sa. Joe tidak ikut, aku hanya akan jadi penonton kemesraan kalian, seperti obat nyamuk."
"Tuan Joe akan menyusul kita nanti, aku akan membicarakannya dengan tuan Arga, aku akan membujuknya," rayuku.
"Baiklah, aku ikut." Wajah Claire nampak kembali ceria. Sekarang aku yang harus berusaha membuat tuan Arga meminta tuan Joe untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, aku tidak mau Claire bersedih.
Setelah kami bertiga siap, kami segera berangkat. Tuan Arga sengaja tidak membawa supir, kali ini dia sendiri yang bertugas sebagai pengemudi, sedangkan aku dan Claire duduk di kursi belakang.
"Kita mau kemana?" tanyaku.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" Tuan Arga bertanya balik.
"Bagaimana kalau kita ke pantai, aku suka pantai," saran Claire.
"Baiklah, kita ke pantai, aku juga sangat lama tidak bermain di pantai," ujarku kegirangan. Entah sudah berapa tahun aku tidak mengunjungi pantai, terakhir kali aku bermain di pantai adalah saat ulang tahun Safira yang ke 19, beberapa tahun yang lalu.
Setelah mobil di parkir, aku dan Claire berjalan lebih dulu, kami berlari menuju hamparan pasir luas dengan deburan ombak yang menerjang karang di tepian pantai, aku dan Claire melepas sandal yang kami pakai dan meletakkannya sedikit jauh dari bibir pantai.
"Hai, cuacanya sangat terik, jangan panas-panasan!" teriak tuan Arga berlari menyusul kami. Aku dan Claire tidak peduli, membiarkan laki-laki itu berteriak dan mengomel sesuka hati, aku tetap meninggalkannya.
Dari kejauhan, laki-laki itu tampak berbalik arah, entah kemana dia pergi, namun beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa dua topi pantai berwarna putih dan sebuah payung berukuran jumbo.
"Kalian pakai, nanti kulit kalian gosong," ujarnya menyerahkan topi itu pada Claire. Dengan senang hati Claire menerimanya dan memberikan satu untukku.
"Ikutlah bersama kami, kita main air, Honey," ajakku.
"Kalian saja yang main, aku akan menunggu disini, Sayang."
"Baiklah, aku tidak akan memaksa."
"Kau ini, Ga. Laki kok takut panas! nggak gentle sama sekali!" ledek Claire, aku tertawa terbahak-bahak sedangkan tuan Arga cuek dan pura-pura tidak mendengar.
Akhirnya aku meninggalkan tuan Arga duduk sendirian di bawah pohon kelapa, kali ini aku membuat istana pasir bersama Claire. Kami layaknya anak kecil yang baru pertama kali mengunjungi pantai, mungkin inilah yang di sebut masa kecil kurang bahagia, aku dan Claire bermain air dan pasir tanpa memperdulikan sinar matahari yang semakin terik membakar kulit.
Beberapa kali kami mengambil foto selfie berdua, sebagai kenang-kenangan bersama, aku beruntung sekali mengenal teman sebaik Claire.
"Hai," teriak tuan Arga sambil melambaikan kedua tangannya dari kejauhan, dia masih berdiri di bawah pohon kelapa.
"Ada apa?" teriakku balik.
"Kemarilah," pinta tuan Arga.
Tuan Arga menyodorkan es kelapa hijau yang masih berada dalam tempurungnya, cuaca terik yang membahana membuat kami bertiga kehausan dan menyedot habis es kelapa muda itu dalam waktu singkat.
"Honey, kau lihat laki-laki itu?" tanyaku pada tuan Arga sambil menunjuk seorang laki-laki yang membeli es krim di seorang kakek tua pedagang kaki lima.
"Kenapa memangnya?"
"Dia membeli es krim untuk pacarnya yang duduk disana." Ku arahkan mataku pada wanita yang memakai kaos pendek dengan celana kulot yang duduk bersandar di dekat karang.
"Lalu?"
"Kau tidak mau membelikan es krim untukku juga?"
"Kau mau?"
"Tentu saja," jawabku senang, meskipun dia tidak pahan jika aku memberi kode, setidaknya dia mau mencari tau maksudku.
"Baiklah, aku akan memanggil penjualnya, kau bisa memilih rasa es krim yang kau suka," ujar tuan Arga berdiri, dia berlari menemui kakek tua si penjual es krim.
Dengan langkah pelan dengan badan yang sedikit membungkuk, kakek itu berjalan mendekati kami.
"Es krim, Non," tawar kakek itu, tangannya yang gemetar membuka box sterofoam tempat es krim itu di letakkan.
"Silahkan pilih," lanjutnya. Aku dan Claire memilih beberapa es krim dengan berbagai rasa.
"Kau mau, Honey," tawarku pada tuan Arga.
"Tidak, kalian saja." Dia menolak.
__ADS_1
"Berapa semuanya, Pak?" tanya tuan Arga pada si penjual.
"40.000 rupiah, Tuan," jawabnya, tuan Arga lalu mengeluarkan satu lembar uang kertas berwarna biru. Lalu kakek itu merogoh kantongnya.
"Kembaliannya ambil saja," ujar tuan Arga. Seketika wajah keriput kakek itu tersenyum mengembang, dia berterimakasih berulang kali, lalu berjalan menjauhi kami dan kembali menjajakan dagangannya.
Es krim ini memang harganya sangat murah di bandingkan dengan es krim yang di jual-jual di minimarket, tapi rasanya juga tidak kalah enak. Apalagi jika makan es krimnya di pantai yang sedang dalam cuaca terik seperti sekarang.
"Kau benar tidak mau, Honey?" ujarku menyodorkan es krim coklat bertabur kacang di depan bibirnya.
"Aku tidak mau," tolaknya terang-terangan.
"Kenapa? ini enak."
"Memangnya seenak apa es krim yang di jual pedagang kaki lima seperti itu?" ucap tuan Arga melengos.
"Kau tau, Honey. Seberapa keras perjuangan orang-orang seperti mereka untuk mendapatkan recehan demi recehan agar bisa bertahan hidup, kau kaya, banyak uang, hartamu mengalir, tapi mereka?"
"Mereka harus bekerja keras siang dan malam, tak kenal hujan, angin, bahkan panas matahari tidak menyurutkan semangat mereka demi sesuap nasi, hargailah."
"Meskipun kau tidak menyukai atau membutuhkan barang yang mereka jual, tapi dengan membelinya meski sedikit, kau sudah membantu mereka mengisi perut," ujarku menasehati tuan Arga. Kali ini laki-laki itu memandangku dengan netra coklat yang berbinar.
Claire merengek karena badannya basah dan lengket, belum lagi pasir yang masuk-masuk ke dalam baju kami, dia meminta untuk segera mengganti baju. Jarak pantai dan tempat parkir yang lumayan jauh, membuat kami harus berjalan di bawah terik sinar matahari yang menyengat.
Kebetulan aku dan Claire membawa baju ganti, berjaga-jaga jika akan liburan seharian penuh, ternyata sangat bermanfaat sekali.
Setelah sampai di mobil, kami bertiga di buat terkejut dengan pemandangan memilukan di depan kami. Kakek-kakek penjual es krim yang tadi kami beli, kini duduk di belakang mobil kami bersama dua balita perempuan, kedua anak itu berpakaian kumuh dengan rambut acak-acakan yang terlihat tidak pernah di sisir, si kakek menyuapi kedua anak itu dengan sebungkus nasi, sedangkan dia sendiri menelan ludah dan memilih tidak ikut makan.
Aku meremas genggaman tuan Arga, berharap laki-laki di sampingku mau melakukan sesuatu.
"Sa, bukankah kakek itu si penjual es krim tadi?" Claire bertanya memastikan.
"Sepertinya begitu, Claire," jawabku.
"Kasihan sekali," ujar Claire sambil menyeka ujung matanya yang mulai basah. Aku sendiri tidak kuasa melihat pemandangan seperti ini.
Tuan Arga melepaskan genggaman tangannya, dia berjalan pelan menghampiri kakek dan kedua balita itu.
Aku dan Claire masih berdiri mematung, memperhatikan mereka dari kejauhan.
Setelah beberapa menit tuan Arga mengobrol dengan kakek itu, ia terlihat mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya, dia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan di serahkan pada kakek itu.
Seketika laki-laki tua itu bersujud dan menangis, dia berterimakasih kepada tuan Arga dengan berjabat tangan sambil mengucapkan berbagai doa-doa baik untuk tuan Arga.
Selesai dengan misi kebaikannya, tuan Arga menghampiri aku dan Claire, lalu membukakan pintu mobil untuk mengambil baju dan segera mengganti pakaian kotor kami.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Beesambung ...