TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Berkeliling rumah


__ADS_3

Nafasku naik turun tidak terkontrol, aku melihatnya tersenyum seakan memberikan arti, senyuman itu begitu membiusku sampai tak terasa air liurku bahkan ingin sekali menetes membanjiri bibir ini.


Apa yang akan dia lakukan, kenapa dia menakutkan begitu sih.


Debar-debar jantungku bahkan hampir terdengar di seisi ruangan ini, aku memejamkan mata mencoba menenangkan diri sambil mengatur nafasku yang sudah tidak karuan intonasinya, detik-detik menegangkan ini terasa sudah berjam-jam, namun aku masih merasakan nafasnya tepat di depan wajahku.


Sepersekian detik setelah aku tenang, aku kembali membuka mata dan sudah tidak melihatnya di depanku. Aku mematung sendirian menghadap pintu kamar mandi yang terbuka.


"Hey gadis mesum, kenapa kau berdiri disana seperti patung, cepat mandi!" ternyata laki-laki itu sudah duduk bersandar di sofa. Aku bahkan tidak merasakan dia melewatiku saat keluar dari kamar mandi.


"Bukannya ... Eh, bukan." Aku kebingungan.


"Bukan apanya, kau ini mau mandi atau tidak, badan mu bau, kau bisa meracuni udara di ruangan ini." Dia melirik sambil tersenyum miring.


Aku bergegas masuk ke kamar mandi tanpa menjawab apapun, aku harus menghemat energiku untuk menghadapinya seharian penuh, jadi aku tidak ingin buru-buru menguras kesehatan jiwaku pagi ini.


...


Usai mandi, aku memilih pakaian di ruang ganti, saking banyaknya model dan warnanya, aku bahkan kebingungan harus memilih yang mana, karena pagi ini tuan Arga akan mengajakku pulang ke rumahnya, rumah besar yang pernah ku datangi malam itu.


"Kau ini lama sekali nona Sabrina, bisakah kau sedikit cepat." Laki-laki itu berteriak dari arah tempat tidur.


Akhirnya aku memilih gaun berwarna putih selutut dengan pundak terbuka, aksen mutiara dibagian ujung rok membuat gaun ini terlihat manis, bahkan ukurannya sangat pas dengan badanku yang sedikit berisi ini.


Aku selalu mengingat pesan ibu untuk menjaga penampilanku di depan laki-laki yang sudah menjadi suamiku saat ini, agar dia tidak pernah malu memperkenalkanku pada siapapun, penampilan seorang istri bisa menjadi bukti prestasi sang suami.


Aku berdandan dengan sederhana, rambutku tergerai seperti biasa, hanya memakaikan jepit mutiara favoritku. Aku bergegas keluar dari ruang ganti dalam keadaan rapi dan siap berangkat.


"Tuan." Aku menepuk pundaknya yang sedang tengkurap diatas tempat tidur.


"Kau sudah selesai?"


"Sudah."


"Apakah memang semua wanita sepertimu harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih pakaian dan berdandan? merepotkan sekali!" dia bertanya kesal.


Aku hanya diam, mengatur nafasku agar kata-kata mutiaraku tidak meledak begitu saja, ini baru permulaan, aku harus ekstra sabar menghadapi mulutnya yang tidak memiliki rem.


"Ayo pergi, Joe sudah berakar menunggumu di bawah."


Sabar, sabar, sabar Sabrina, biarkan laki-laki gila ini mengoceh terus seharian. Sabar!


...


Pagi ini jalanan begitu lenggang, mungkin karena ini adalah hari minggu, hampir semua perkantoran libur, kecuali para pekerja bangunan atau pekerja pabrik yang masih mengais rupiah dihari libur.

__ADS_1


Mobil melaju dengan santai, aku duduk di belakang kursi pengemudi berdampingan dengan tuan Arga, tuan Joe menyetir di depan sambil sesekali melirik ke arahku lewat kaca spion diatas kepalanya.


"Boss, bagaimana malam pertamamu? Hahaha." laki-laki cerewet ini mulai lagi


"Apanya?" tuan Arga menjawab sekenanya.


"Malam pertamamu boss, ceritakan padaku?"


Hah, apa mereka gila, berbagi cerita dimalam pertama? sungguh, tidak lama lagi aku akan lebih gila dari mereka jika terus-terusan melihat mereka seperti ini. Kegilaan mereka akan menular padaku, mengerikan!


"Ah, tanyakan saja pada gadis mesum di sebelahku ini." Tuan Arga menjawab dengan santai sambil melirik sinis kearahku.


"Gadis mesum? Hahaha." Tuan Joe tertawa lebar sekali seperti sedang menonton adegan lawak di film dono kasino indro.


"Tidak lucu!" aku menyahut dengan nada sebal.


Percakapan seketika terhenti saat memasuki kawasan elite perumahan tempat tinggal tuan Arga, namun aku masih bisa merasakan tuan Joe menahan tawanya di depanku


Aku benar-benar akan lebih gila jika terus seperti ini.


Perumahan ini nampak sepi, tidak ada mobil atau sepeda motor yang berlalu-lalang, sesekali hanya terlihat beberapa orang bersepeda menikmati cuaca cerah dihari libur ini dan beberapa anak kecil bermain bola di halaman rumahnya masing-masing.


...


Tuan Joe membunyikan klakson mobil sekali, seketika dua satpam langsung membuka gerbang utama rumah ini, meskipun aku pertama kali melihat rumah ini saat malam hari, aku masih mengenali gaya arsitektur yang disuguhkan di depan mata, aku selalu kagum dengan setiap sudut rumah ini, sangat besar, mewah dan terawat dengan sempurna.


"Silahkan, Tuan, Nona." Mereka tersenyum dan mengangguk sopan.


Aku turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki kedua laki-laki di depanku, memasuki pintu utama, kami sudah di sambut beberapa pelayan yang berseragam rapi dengan sangat ramah.


"Nona Sabrina, ini adalah beberapa pelayan dirumah ini," ucap tuan Arga sambil menunjuk pelayan di hadapanku.


"Dia adalah Salimah, kepala pelayan dirumah ini, dia juga yang akan mengurus keperluanmu, jika ada sesuatu yang kau butuhkan, katakan padanya."


Seorang pelayan maju satu langkah lalu membungkukkan hormat badan di depanku, aku lalu tersenyum.


Salimah terlihat masih muda, umurnya kisaran tigapuluhan tahun, itu hanya perkiraan saja, karena wajah manusia itu kadang-kadang bisa menipu, sekarang sudah banyak perawatan salon yang menawarkan peremajaan kulit.


"Salimah, ajak dia berkeliling." Tuan Arga memberi perintah dan berlalu pergi meninggalkan kami.


"Mari, Nona." Salimah merentangkan tangan kanannya mempersilahkan aku berjalan mendahuluinya.


Mengelilingi rumah ini butuh waktu hampir setengah jam lamanya, rasanya seperti sudah berkeliling di komplek perumahan tempat tinggalku saking luasnya. Aku bisa saja tersesat jika tidak memperhatikan arahan Salimah untuk memperhatikan setiap lorong rumah ini.


Dirumah sebesar ini, terdapat beberapa kamar tidur utama dan satu kamar tamu, di lantai dua terdapat satu ruangan kerja khusus yang hanya boleh dimasuki oleh tuan Arga dan tuan Joe, serta seorang pelayan khusus yang bertugas membersihkannya.

__ADS_1


"Salimah, aku lelah." Aku manariknya duduk sebentar di balkon atas sambil melihat-lihat kolam renang disini.


"Istirahat disini sebentar, Nona." Dia berbicara sambil tersenyum lalu membuka ponselnya.


Beberapa menit kemudian datang seorang pelayan membawa nampan berisi jus jeruk dengan gelas berukuran jumbo, bongkahan es di dalamnya membuat bulir-bulir air mengembun diluar gelas, melihatnya saja sudah sangat menyegarkan.


"Terimakasih."


"Saya permisi, Nona." Aku tersenyum lalu meneguk separuh jus jeruk ditanganku.


"Sepertinya nona haus sekali." Salimah tersenyum kearahku.


"Berkeliling disini sangat melelahkan, Salimah, kerongkonganku hampir kering."


"Saya tau, Nona."


"Bagaiman bisa pelayan tadi datang membawa jus dan tau kalau kita beristirahat disini," ucapku keheranan.


"Saya yang memberi perintah, Nona."


"Wah, terimakasih banyak, Salimah."


"Sama-sama, Nona, jangan sungkan kalau ingin sesuatu, katakan saja."


"Baiklah." Ada sedikit kelegaan dalam hatiku, setidaknya ada manusia yang bersikap normal padaku dirumah ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih banyak sudah membaca, jangan lupa tinggalkan Like dan komentar yang mendukung ya, biar author semangat update ❤️


__ADS_2