TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Ingin Pulang


__ADS_3

Paris sedang mengalami musim gugur saat ini, daun-daun mulai menguning dan rapuh, lalu jatuh tertiup angin, entah siapa yang lebih memilukan diantara mereka, ranting yang berduka karena kehilangan daun, atau daun yang bersedih karena meninggalkan sang ranting.


Tumpukan daun berserakan di sepanjang jalan berpaving di taman ini, aku dan Claire menikmati setiap pemandangan yang di suguhkan oleh alam.


Usai lelah berjalan-jalan, kami memutuskan menuju ke sebuah cafe yang terletak di selatan taman. Kami memesan coklat hangat yang sama, dan beberapa porsi kue muffin yang menggugah selera.


"Sejak kapan kau mulai menyadari perasaanmu kepada Joe, Claire?" tanyaku memulai pembicaraan sambil menunggu pesanan datang.


"Aku tidak tau, sejak lama, mungkin."


"Maafkan aku, Claire. Aku tidak pernah bermaksud membuat Joe jatuh cinta ataupun menyukaiku," ucapku pelan, aku benar-benar takut Claire berpikir yang bukan-bukan tentangku.


"Tidak ada yang salah dalam hal mencintai dan di cintai, Sa. Semua orang berhak mendapatkan cinta dari siapapun, dan semua orang berhak mencintai siapapun, tidak ada batasan dalam hal itu." Claire memaksakan senyumnya.


"Apakah aku bisa membantumu?"


"Membantuku?"


"Tentu saja, aku bisa jadi mak comblang mu," ujarku sedikit menggoda. Namun, Claire hanya menanggapinya dengan senyum manisnya.


"Kau sudah pernah mengatakan perasaanmu?" tanyaku lagi.


"Belum," jawabnya singkat.


"Aku ini wanita, Sa. Gengsi kalau harus mengatakan cinta lebih dulu," lanjutnya.


"Kenapa? tidak ada patokan siapa yang harus memulai, Claire. Kau tidak akan pernah mendapat jawaban jika tidak pernah mencoba," kataku.


"Tapi, sudah jelas-jelas dia mencintaimu, Sa."


"Lalu? aku ini bersuami, Claire. Mau sampai kapan Joe memendam perasaan terlarang itu. Lambat laun, perasaan itu harus di hancurkan, jika tidak, perasaan itu sendiri yang akan menghancurkan dirinya," sergahku.


"Tapi, Sa---."


"Berusahalah merebut hatinya, Claire."


Wanita cantik di depanku menunduk, menghela nafas panjang dengan buliran bening yang sudah menggenang di kelopak matanya.


Dia mengusap pipi merah meronanya dengan punggung tangannya saat menyadari setetes air mata telah lolos begitu saja.


"Jangan menangis. Percayalah, tidak akan ada hasil yang menghianati usaha, kau harus memperjuangkan cintamu," ucapku menguatkannya, aku menggenggam tangan halusnya, menyalurkan sedikit kekuatan yang tersisa.


Beberapa saat kemudian pesanan kami datang, kami menikmatinya sambil bercengkrama membahas kemajuan dunia fashion saat ini. Melupakan sejenak semua beban dan masalah yang memberatkan pundak.

__ADS_1


...


Hari sudah semakin sore, langit biru cerah kini berubah memancarkan sinar jingga yang meneduhkan. Hembusan angin menerpa dedaunan dan menimbulkan hawa sejuk yang menggelitik kulit.


Aku dan Claire memutuskan menikmati berbagai snack yang sudah kami beli di supermarket tadi pagi untuk menemani kami menonton acara tv.


"Kau tau, Arga hampir membunuh Hana, Sa," ucap Claire sambil memasukkan sepotong kripik singkong rasa barbeque ke dalam mulutnya.


"Hah?" Aku mendelik menatapnya serius, ku hentikan sejenak kegiatan mengunyah ku.


"Ya, Arga mencekik leher wanita itu sampai dia membiru hampir kehabisan nafas. Arga tidak pernah main-main dalam membalas dendam," ujar Claire santai.


"Tapi, kenapa sampai melakukan hal sekejam itu?"


"Kejam? Hahaha. Kau ini lucu, wanita seperti Hana memang seharusnya di musnahkan dari muka bumi ini, Sa. Aku akan mendukung Arga jika dia ingin memutilasi tubuh Hana." Claire tertawa jahat.


"Apakah Arga tau kalau wanita itu yang mencelakaiku?"


"Ya, dia dan Joe melihat semua perdebatan kalian dari rekaman CCTV yang terpasang di rumah itu."


"Jadi, mereka sudah tau semuanya?"


"Tentu saja. Sekarang, kau sudah ingin pulang?" tanya Claire to the point.


Aku menghela nafas panjang lalu menyandarkan punggungku di sofa. Kali ini perasaan ingin pulang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Kau mengenal seorang laki-laki bernama Duhan?" tanyanya lagi.


"Hah?" Seketika aku terkejut, bagaiman bisa dia tau mengenai Duhan.


"Jangan hah heh hah heh. Arga dan seluruh anak buahnya mengintai Duhan sepanjang waktu, mereka menduga bahwa laki-laki itu yang membawamu kabur," ujar Claire.


"Dari mana kau tau semua ini, Claire?" tanyaku menyelidik.


"Tentu saja dari Joe. Dia selalu memberiku informasi terupdate tentang proses pencarianmu."


"Apakah mereka akan melakukan sesuatu yang buruk kepada Duhan?" tanyaku khawatir, aku mulai resah.


"Arga tidak pernah mengampuni setiap orang yang menyulitkan hidupnya, Sa. Dia akan dengan senang hati menyingkirkan kecoa-kecoa pengganggu seperti orang yang namanya kau sebut tadi," ujar Claire dengan tatapan serius, kali ini matanya mengisyaratkan bahwa apa yang dia katakan itu tidak main-main.


"Tapi, Duhan tidak salah dalam hal ini, Claire. Aku yang meminta bantuan darinya," ujarku gugup.


"Kalau begitu, kau harus menyelamatkan hidupnya. Cepat atau lambat, Arga akan segera tau kebenarannya. Dan kita tidak akan pernah tau apa yang akan di lakukannya."

__ADS_1


Kenapa semuanya menjadi sangat rumit seperti ini, bahkan Duhan harus menanggung resiko yang sangat berat karena ulahku.


"Pulanglah, Sa. Kau membuat banyak orang mendapatkan masalah."


"Arga sangat mencintaimu, butuh bukti seperti apa lagi agar kau percaya."


"Aku tau kau juga mencintainya," lanjutnya, dia memegang kedua bahuku dan menatap mataku yang mulai berair.


Akhirnya aku memilih meninggalkan Claire sendirian di depan tv, lalu menuju tempat tidur. Semua yang aku lakukan tidak hanya menyiksa diriku sendiri, ini semua berdampak pada orang lain yang dengan tulus membantuku.


Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, menarik selimut tebal berwarna merah muda untuk menutupi tubuhku. Pikiranku sedang tidak karuan saat ini.


Awalnya aku berpikir, jika memang benar hubungan tuan Arga dan Hana itu adalah sebuah kenyataan pahit yang harus aku terima, maka dengan kepergianku yang cukup lama, akan membuktikan apakah mereka akan melanjutkan kisah cintanya dan berbahagia atas kepergianku.


Namun, semua dugaanku salah. Hana berusaha membuatku pergi, dia yang salah dalam hal ini. Dia yang membuat cerita seakan-akan tuan Arga tidak mencintaiku.


Bodohnya aku sampai termakan omongan wanita ular itu tanpa mendengarkan penjelasan tuan Arga terlebih dahulu. Kalau saja aku tidak gegabah dalam mengambil keputusan, mungkin masalah ini tidak akan semakin rumit.


Aku terus merutuki diriku yang bodoh dan menangis di bawah selimut sambil memejamkan mata, berharap tidur akan membuat suasana hatiku kembali membaik.


...


"Pulanglah, sayang. Kita akan mengunjungi bayi kecil kita," ucap tuan Arga sambil melambaikan tangan dari kejauhan.


"Honey." Aku menatapnya serius, wajah laki-laki itu berubah pucat, matanya bengkak karena terlalu sering menangis. Dia mengenakan sebuah celana hitam panjang dengan atasan kemeja yang aku berikan.


Laki-laki itu melambaikan tangannya dengan senyum yang di paksakan. Aku mulai mendekatinya, semakin aku mendekat, tuan Arga menjauh, semakin jauh, lalu tiba-tiba dia menghilang.


Aku berlari sambil menangis mencari keberadaannya, mengedarkan pandangan ke segala arah. Beberapa kali aku berteriak memanggil namanya, namun hening, tidak ada sahutan darinya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2