
Mentari pagi yang hangat menyambut kami dari dinginnya malam yang sudah berlalu, malam yang tidak pernah kami sia-siakan.
Aku bangun dari kasur dengan melilitkan sebuah selimut untuk menutupi tubuhku yang masih polos tak memakai sehelai benangpun.
Ku lihat tuan Arga masih tertidur pulas, dia sudah mengenakan celana pendek berwarna putih sesaat setelah kami usai berbagi peluh, sedangkan aku langsung terkulai lemas dan memilih tidur untuk mengistirahatkan otot yang menegang beberapa saat.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan tuan Arga sedetikpun membuatku sedikit khawatir, karena kondisi jiwanya yang masih terguncang.
Tidak memakan waktu lama, aku dengan cepat membilas tubuh yang sudah ku gosok dengan sabun beraroma bunga sakura, sedikit tergesa-gesa memang, karena aku takut laki-laki itu terbangun dan tidak menemukan aku di sampingnya.
Ku buka pintu kamar mandi dengan pelan, agar tak menimbulkan suara yang membuat tuan Arga terbangun, ku dekati dia dengan berjinjit, matanya masih terpejam erat, artinya dia benar-benar menikmati tidurnya.
Usai berganti pakaian, aku duduk di depan cermin dan memoles sedikit wajahku agar terlihat lebih segar. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, waktu sarapan telah tiba, tapi tuan Arga masih tebuai dalam mimpi indahnya.
Ku usap lembut pipinya, ku cium beberapa kali bibir itu dengan pelan. Sesaat setelah itu, dia dengan cepat mendekap tubuhku dalam pelukannya.
"Bangunlah, kita harus segera sarapan, Claire pasti sudah menunggu," ucapku sedikit berbisik.
Tuan Arga tidak menjawab, dia hanya memelukku dengan erat dan sesekali mencium pucuk kepalaku.
"Kita akan pergi ke butik, kau bisa menemaniku seharian disana," lanjutku, aku berharap dia segera bangun.
"Baiklah, lima menit lagi," jawabnya sambil mengeratkan pelukan itu, aku diam, menikmati kehangatan sampai lima menit kedepan.
"Ini sudah lebih dari lima menit, Honey." ujarku mendesah.
"Tapi aku belum ingin melepaskan pelukan ini."
"Kasihan Claire, dia pasti sudah menunggu kita di ruang makan."
"Baiklah, lima menit lagi," jawabnya.
Aku terpaksa menurut, tidak ingin ada perdebatan ataupun hal-hal menjengkelkan lainnya terjadi di pagi yang cerah ini.
Setelah hampir lima belas menit berlalu, laki-laki itu baru mau beranjak dari kasur dan melepaskan pelukannya dari tubuhku.
Ini namanya lima menit bonus puluhan menit, dan akhirnya jadi bermenit-menit.
Aku menunggunya mandi sambil menyiapkan baju ganti untuknya, ku pilihkan sebuah kaos polo berwarna putih dengan perpaduan celana jeans berwarna hitam, memang hanya ada dua warna ini di dalam lemarinya.
...
Usai sarapan berempat, aku segera bersiap untuk berangkat ke butik, hari ini aku mengajak tuan Arga, karena aku tidak mau membuatnya semakin ketakutan jika aku tidak berada di sampingnya.
Sedangkan rencana kunjungan kami ke sebuah klinik sudah di atur oleh tuan Joe dan Claire, aku sengaja merahasiakan rencana ini dari tuan Arga, aku tidak mau membuatnya merasa cemas.
"Selamat pagi, Nona. Senang nona sudah kembali pulang," ucap bang Bimo menyambut kami di pintu depan.
"Iya, Bang," jawabku melempar senyum.
Aku melingkarkan tanganku di lengan tuan Arga, bang Bimo bergegas membuka pintu mobil belakang.
"Tidak perlu, aku akan membukanya untuk istriku," sahut tuan Arga, dia menepis tangan bang Bimo yang memegang pintu.
"Ba, baik, Tuan." Bang Bimo terkejut dan sedikit mundur.
"Silahkan, Sayang," ucap tuan Arga mempersilahkan aku masuk, setelah itu dia berpindah ke sisi mobil lainnya untuk masuk dan duduk di sampingku.
"Jika ada aku, jangan sekali-kali bersikap manis pada istriku," ujar tuan Arga.
Hah, dia bersikap manis seperti apa?
Bukannya sudah biasa dia membukakan pintu mobil seperti itu untukku?
"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawab bang Bimo gugup.
__ADS_1
Perjalanan menuju butik terasa sangat lama, karena semua penumpang mobil ini hanya diam tak bersuara, bang Bimo yang biasanya suka berceloteh dan menghibur dengan lawakannya, kali ini dia sangat garing, tidak berkutik sedikitpun karena keberadaan tuan Arga.
Sedangkan laki-laki yang sedang duduk di sampingku, sedari tadi asik memainkan rambutku, dia melilitkan rambut di jarinya, menggulungnya, lalu melepaskannya dengan meninggalkan bekas bergelombang pada rambutku. Ah, dia pikir itu sebuah mainan.
Setelah sampai di depan butik, tuan Arga turun lebih dulu, dia membantu membuka pintu untukku.
"Silahkan, tuan putri," ucapnya seraya tersenyum bak seorang pangeran. Aku hanya tersenyum malu-malu dan berterimakasih.
"Eh, tunggu non," ujar bang Bimo menghentikan langkah kami berdua yang sudah sampai di depan pintu butik.
"Ada apa, Bang?"
"Ada titipan dari istri saya, ini kue buatan istri saya sendiri, Non." Bang Bimo menyerahkan kotak kardus berwarna hijau.
"Wah, terimakasih banyak, Bang," ujarku seraya mengambil kotak itu dari tangan bang Bimo, namun belum juga kotak itu tersentuh olehku, tuan Arga sudah menyahutnya lebih dulu.
Tuan Arga membuka langsung isi kotak itu, di dalam sana terdapat kue brownis coklat berbentuk hati dengan topping keju dan hiasan permen warna warni di atasnya.
"Apakah kue ini higienis?" tanya tuan Arga.
"Di jamin higienis, Tuan. Ini sudah menjadi usaha kuliner istri saya sejak lama, istri saya sudah banyak pelanggan dan banyak yang suka," jawab bang Bimo.
"Apakah istrimu termasuk orang yang pandai menjaga kebersihan diri dan tempat pembuatan kue ini?" lanjut tuan Arga mengintrogasi.
"Honey," ucapku menyela, aku merasa tidak enak atas sikap tuan Arga yang berlebihan dalam menerima hadiah dari orang lain, aku takut melukai perasaan bang Bimo.
"Apakah kau bisa menjamin bahwa kue ini tidak beracun?" tanyanya lagi.
"Honey, jangan seperti itu."
"Apa? aku kan hanya memastikan kalau kue ini sehat, Sayang." Tuan Arga menatapku.
"Bawa sini, ini pasti enak." Aku mengambil alih kue di tangannya.
"Jika setelah makan kue ini istriku sakit perut, jangan harap besok pagi kau masih bisa melihat matahari lagi," sentak tuan Arga, bang Bimo langsung pias, wajahnya berkeringat dingin. Dia pasti begitu khawatir dan takut.
"Maafkan tuan Arga, Bang. Dia tidak bermaksud seperti itu, dia hanya berlebihan," ujarku tersenyum.
"Tidak apa-apa, Non. Semoga non Sabrina suka, ya."
Setelah itu aku menyusul tuan Arga masuk, dia berdiri di dekat pintu, semua mata terbelalak kaget melihat kedatanganku, terutama Riani.
"Sabrina," ucapnya berhambur memelukku.
"Kau pergi kemana saja, aku khawatir," ucapnya menangis di pundakku.
"Aku akan menceritakannya lain kali, Ni. Aku hanya pergi untuk menenangkan diri," jawabku membalas pelukannya. Dia memang sahabatku, yang selalu ingin tau apapun yang terjadi padaku.
"Sudah, sudah," ujar tuan Arga memaksa Riani mundur dan melepaskan pelukannya.
"Jangan terlalu lama memeluk istriku," lanjutnya dengan nada tidak suka.
"Ma, maafkan saya, Tuan. Saya hanya rindu dengan Sabrina," ujar Riani sedikit menjauh.
"Lain kali jangan pegang-pegang istriku, cukup dengan melihatnya saja kau sudah bisa melepaskan kerinduanmu itu," lanjut tuan Arga, Riani hanya mengangguk.
Ya Tuhan, kesurupan apa laki-laki ini sampai sikapnya berubah semakin aneh, aku bahkan sudah tidak enak dengan bang Bimo, sekarang malah dia begini dengan Riani. Jika terus seperti ini, aku akan semakin gila mengatasinya.
"Kau naiklah dulu, Honey. Aku mau bicara sebentar dengan Riani," ujarku.
"Apa yang akan kalian bicarakan? ingin menggosipkan aku?" Dia memicingkan mata.
Hah, kurang kerjaan sekali aku menggosipkan dirimu.
"Tidak, Honey. Aku hanya perlu membicarakan pekerjaan yang belum terselesaikan selama aku tidak ada," jawabku sambil merayunya.
__ADS_1
"Benarkah? jangan lama-lama, aku akan menunggumu," ujarnya lalu menaiki anak tangga.
"Maafkan suamiku, Ni. Dia memang seperti itu." Aku meminta maaf pada Riani atas sikap berlebihan tuan Arga.
"Sudah ku bilang, jangan menggosipkanku," ucap tuan Arga dari ujung tangga teratas, ternyata dia mendengar ucapanku.
"Sudah, sudah, tidak apa-apa, Sa. Aku memakluminya," ujar Riani mengedipkan mata.
Setelah memastikan tuan Arga masuk ke dalam ruanganku, aku segera membahas hal-hal yang sudah aku tinggalkan selama ini bersama Riani dan semua karyawan, terutama tentang kendala pemasaran yang kurang maksimal selama aku pergi.
...
Di ruanganku, tuan Arga sedang tiduran di sofa panjang milikku yang terletak di bawah jendela dekat pintu yang menuju balkon.
"Lain kali jangan bersikap keterlaluan pada bang Bimo, Honey," ujarku sambil merapikan meja kerja.
"Berlebihan seperti apa? aku kan hanya bertanya."
"Itu bukan bertanya, tapi menuduh."
"Terserah, aku hanya memastikan kalau kau makan makanan yang higienis dan yang pasti tidak mengandung racun, agar kau tidak sakit, Sayang. Itu saja," ujarnya membela diri.
"Tapi kau membuat aku merasa tidak enak padanya, Honey. Ini buatan istrinya, mana mungkin mereka meracuniku." Aku mendengus kesal.
"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, aku akan mencoba lebih berbaik hati padanya."
"Belajarlah menghargai orang lain, sekecil apapun pemberiannya. Mungkin kau bisa membeli kue seperti ini, tapi bagi orang lain, mungkin ini lebih berharga dari yang kau lihat, Honey."
"Aku tidak hanya bisa membeli kue semacam itu, bahkan aku bisa membeli semua toko kue yang ada di kota ini untukmu, itu pun jika kau mau."
Halah, sombong sekali!
Aku hanya diam, tidak ingin melanjutkan perdebatan yang sama sekali tidak membuatnya mengerti, malah dia menyombongkan diri lebih tinggi, dasar!
"Makanlah, ini enak," ucapku meletakkan sepotong kue di depan mulutnya.
"Aku tidak mau."
"Kenapa? ini manis sekali."
"Aku mau yang lebih manis, seperti ini," ujarnya langsung menyambar bibirku, dia memejamkan mata mengecup lembut bibir bawahku, dia menyesapnya perlahan.
"Honey, nanti ada yang lihat," ujarku mencebik, melepaskan bibir kami.
"Biarkan saja, biar mereka semua tau bahwa kau hanya milikku."
Hah, memang perlu ya seperti itu?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...