TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Diet mulai besok


__ADS_3

Sudah hampir satu jam aku memijat seluruh bagian tubuh laki-laki ini mulai dari kaki sampai kepalanya, namun dia seperti memanfaatkan kebaikanku sampai-sampai menjadikanku tukang pijat sungguhan seperti ini.


"Tuan," ucapku sambil duduk berselonjor di lantai. Sedangkan yang di panggil tidak menjawab.


Rupanya laki-laki itu tertidur dengan sangat pulas.


Hah, enak sekali ya pijatanku, sampai-sampai kau tertidur begitu pulas, Lihat, air liurmu bahkan sudah membanjiri sofa mahal ini, Tuan.


Aku berdiri lalu menuju kamar mandi, tanganku terasa begitu pegal, bahkan jari jempolku sampai tepos dibuatnya.


Aku memutuskan untuk berendam air hangat sebentar, mumpung tuan Arga sedang menikmati tidur nyenyaknya, aku akan lebih leluasa di kamar mandi tanpa gangguan.


"Sabrian! Sabrina!" teriak tuan Arga menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Cepat sekali sih dia bangun, belum juga lima menit aku mendi, huh.


Aku segera beranjak dari baath up dan memakai handuk kecil menutupi sebagian tubuhku, dengan cepat aku membuka pintu lalu berlari menuju ruang ganti tanpa memperdulikannya yang berdiri melongo melihatku, aku harus bergerak cepat sebulum laki-laki mesum itu menerkamku. Dia sudah seperti singa yang kelaparan setiap saat, tidak pernah tau waktu.


Ku intip dari celah kecil ruang ganti, tuan Arga masih berdiri kebingungan, namun setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang mungkin terasa gatal.


Aku mengambil gaun berwarna hitam selutut dengan aksen pita di bagian pinggangnya, lalu manik-manik berbentuk mutiara belah mengitari bagian leher dengan sangat rapi. Sepertinya aku mulai suka memakai pakaian berwarna hitam atau putih seperti tuan Arga, rasanya selalu cocok di pakai di acara apapun, tetap terlihat elegan meskipun tanpa warna-warna yang mencolok.


Saat aku sudah rapi dan berdandan cantik, aku keluar dari ruang ganti dan melihat tuan Arga yang bersandar di pinggiran tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Mau kemana?" Dia melirikku sekilas.


"Jalan-jalan," jawabku meringis.


"Kau mau pergi jalan-jalan dengan siapa?" dia mengerutkan dahinya.


"Tentu saja dengan tuan, bukankah tuan sudah berjanji mengajak saya jalan-jalan?"


"Besok!"


"Tidak mau, sekarang! Besok katanya kita harus pulang,"


"Aku capek! besok saja."


"Saya sudah memijatmu satu jam penuh, Tuan. Masih bilang capek? saya malah lebih capek!" jawabku kesal sambil membanting bokong bahenolku ini di pinggir tempat tidur.


"Kalau capek ya tidur, bukan jalan-jalan!" jawabnya acuh.


"Bagi perempuan, obatnya capek itu ya jalan-jalan, refreshing!"


"Perempuan memang aneh!"


"Tuan mau mengajak saya jalan-jalan atau tidak? kalau tidak, saya akan---."


"Akan apa?"


"Akan meloncat dari hotel ini," ucapku sambil menghentakkan kakiku dengan kesal.


"Loncat saja, aku jadi tidak repot-repot membawamu pulang, cukup menceburkan jasadmu ke sungai itu," ucap tuan Arga santai tanpa rasa berdosa.


"Bodo amat!" Aku berjalan sambil mendengus kesal menuju dapur, ingin sekali menghabiskan seluruh isi kulkas untuk menghilangkan kekesalanku.

__ADS_1


Sedangkan tuan Arga hanya tersenyum sinis menatapku, dia seakan begitu senang jika melihatku sedang di selimuti kemarahan.


Saat membuka kulkas, aku ingat kalau kemarin malam membuat susu yang belum ku minum, yang sudah ku letakkan diatas meja dekat sofa.


Ah, paling susu itu sudah basi dan kecut.


Aku kembali mengambil beberapa helai roti dan selai nanas yang masih tersisa disana, aku menumpuk empat lapis roti menjadi satu, dan mengoleskan selai nanas di setiap lapisannya.


"Kau rakus sekali," ucap tuan Arga tiba-tiba masuk ke dalam dapur mengejutkanku.


"Biar saja!" Aku membuang muka, lalu menggigit ujung roti yang sudah siap makan.


"Apa kau selalu makan banyak saat sedang marah?"


"Ya, ini bisa membuat emosi saya membaik." jawabku tanpa menolehnya.


"Baiklah, jika emosimu sudah stabil, aku akan menunggumu di depan, kita jalan-jalan sebentar. Habiskan rotimu dulu!" ucap tuan Arga sambil berlalu meninggalkanku.


Yes! jalan-jalan. Aku tersenyum girang di dalam dapur dan menghabiskan roti ditanganku tanpa sisa.


...


"Kita kemana, Tuan?" tanyaku saat sudah berada di dalam mobil.


"Jalan-jalan."


"Maksudku jalan-jalan kemana?"


"Orchard Road."


"Sebuah pusat perbelanjaan, spa dan berbagai macam restoran."


"Wah, kebetulan sekali, saya akan membelikan oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman saya di butik," ucapku senang.


Dia hanya melirikku sekilas, tidak menganggapi ucapanku sama sekali.


Setelah sampai di sebuah jalanan yang sangat ramai, tuan Arga mengajakku turun dari mobil dan memasuki sebuah restoran mewah, pengunjungnya sangat ramai, bahkan mereka bersedia antri untuk mendapatkan tempat duduk.


Kami juga belum mendapatkan tempat duduk, namun saat tuan Arga memanggil salah seorang pelayan, dan berbicara bisik-bisik padanya, pelayan itu kemudian kembali masuk lalu keluar bersama seorang wanita berambut pirang sebahu. Wanita itu tersenyum sangat ramah kepada kami, lalu mempersilahkan kami masuk ke ruangan VIP di resto ini.


"Apakah tuan mengenal wanita pirang tadi?"


"Ya, dia pemilik restoran ini."


"Wah, hebat sekali, tuan mengenal orang-orang asing sepertinya." Aku tersenyum kagum padanya sambil bertepuk tangan ringan.


"Biasa saja." Dia melirikku sambil memanyunkan bibir seksinya.


Tanpa menunggu waktu lama, beberapa makanan terhidang di meja kami, dari penampilannya saja sudah terlihat sangat menggoda, apalagi jika sudah dimakan, pasti lebih mengenyangkan, tentu saja harganya juga fantastis. Ini merupakan resto paling mewah yang pernah aku kunjungi dan keberadaannya yang strategis membuat tempat ini sangat ramai pengunjung, pelancong dari negara manapun pasti tau tempat ini.


"Makanlah dulu, setelah ini kita akan berbelanja oleh-oleh," ucao tuan Arga.


"Benarkah?"


"Ya."

__ADS_1


"Emm, Tuan."


"Apa lagi?"


"Setelah pulang dari sini, bolehkah saya berkunjung ke rumah orang tua saya?" tanyaku memberanikan diri, namun aku sungguh rindu ayah dan ibuku, aku tidak tahan lagi.


"Jika kau selalu bersikap manis, aku akan menuruti semua kemauanmu," ujarnya sambil mulai mencicipi hidangan.


"Benarkah?"


"Tentu saja, sekarang makanlah, biar kamu makin gendut!"


Hah, jadi selama ini kau terus menyogokku dengan berbagai makanan enak dan lezat seperti ini agar aku makin gendut? begitu maumu?


"Tapi, saya ingin kurus, Tuan. Biar seperti model-model fashion show," kataku.


"Wanita cantik tidak harus kurus."


"Tapi biasanya laki-laki suka wanita yang kurus dan ramping."


"Kurus? mana enak di peluk!"


"Memangnya menurut tuan begitu?"


"Ya, memangnya enak kalau memeluk tulang belulang?"


"Ya, tidak seperti itu juga sih, Tuan."


"Sudahlah, tubuh berisimu lebih bagus, jadi makanlah yang banyak jika kau ingin aku menyukaimu."


Halah, sepertinya aku juga tidak terobsesi kau menyukaiku, Tuan.


Tuan Arga makan dengan begitu lahap, sedangkan aku mencoba menahan nafsu makanku agar tidak berlebihan, hanya sekedar mencicipi yang terlihat enak, sayangnya, semua makanan ini terlihat begitu menggoyangkan niat dietku.


Baiklah, dietnya mulai besok, sekarang makan dulu. Lagipula, besok lusa belum tentu aku bisa menemukan makanan selezat ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa nih yang disini juga begitu?

__ADS_1


Dietnya besok aja, sekarang makan aja dulu, Hihihi 🤭🤭


__ADS_2