TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Pijat memijat


__ADS_3

Usai melihat puluhan model berjalan lenggak-lenggok diatas catwalk sambil mengenakan berbagai design pakaian, gaun, bahkan bikini, tuan Arga memutuskan untuk mengajakku menemui Claire di belakang panggung.


"Claire," sapa tuan Arga saat wanita itu sedang mengobrol dengan salah satu rekannya. Setelah melihat kedatangan kami, ia berpamitan pada rekannya untuk menemui kami.


"Ayo kita ke caffe, aku akan mentraktir kalian," ucapnya sambil tersenyum.


Aku dan tuan Arga hanya mengangguk mengikutinya berjalan. Caffe yang di maksud Claire ternyata masih berada dalam gedung ini, hanya saja harus naik 5 lantai lagi, karena letaknya di lantai paling atas gedung.


"Carilah tempat duduk, aku akan memesankan minuman untuk kita," ujarnya saat sudah memasuki pintu caffe.


"Tidak perlu repot-repot, Claire," timpal tuan Arga.


"Sudahlah, Arga. Ajak istrimu mencari tempat duduk." Claire pergi begitu saja.


Akhirnya tuan Arga menggandeng tanganku mencari 3 kursi kosong yang bisa kami tempati.


"Apakah dia tau kalau aku ini istrimu, Tuan?" tanyaku pada tuan Arga yang duduk melamun.


"Ya, dia sudah tau." Aku hanya mengangguk.


Beberapa menit kemudian Claire datang diikuti beberapa pelayan sambil membawa tiga gelas minuman dan beberapa makanan ringan yang kemudian di letakkan diatas meja dihadapan kami.


"Makanlah, jangan sungkan," ucap Clair sambil mengambil kentang goreng yang terlihat sangat enak itu. Aku hanya mengangguk malu.


Beberapa saat kemudian ponsel tuan Arga berdering, dia lalu bergegas mengangkat panggilan masuk menjauhi kami.


"Sabrina, ceritakan tentang dirimu, aku begitu penasaran," Claire bertanya antusias.


"Penasaran? mengapa penasaran padaku, Nona?" jawabku.


"Jangan panggil aku nona, panggil saja Claire, agar kita juga lebih akrab."


"Baiklah, Claire. Mengapa kau penasaran denganku?"


"Tentu saja, sosok wanita yang bisa menjadi istri Arga, aku terkesan padamu."


"Apa tuan Arga tidak menceritakan tentang asal mula pernikahan kami?" tanyaku penasaran.


"Sudah, tapi aku tidak yakin kalau dia tidak punya perasaan apa-apa padamu, karena sudah jelas-jelas kalian pasti sering menghabiskan malam bersama," ucap Claire sambil tersenyum.


"Kami memang tidak saling mencintai,"


"Bohong! bukan tidak saling mencintai, tapi belum!"


"Entahlah, tapi sikapnya yang angkuh dan maunya menang sendiri, membuatku tertekan dalam pernikahan ini," ucapku sambil menatap nanar ke arah punggung tuan Arga yang berdiri jauh dari kami.


"Percayalah, semuanya bisa berubah. Dulu dia anak yang baik, pendiam, dan sangat perhatian pada semua orang, namun dia berubah sejak ibunya pergi dari kehidupannya, dia seperti kehilangan pegangan hidup, dia juga pernah mengatakan padaku kalau dia tidak ingin menikah," ujar Claire sambil menatapku.


"Benarkah?"


"Ya, jadikah dia Arga yang aku kenal dulu, Sabrina. Kau pasti bisa membuatnya kembali menjadi lebih baik." ucap Claire menggenggam tanganku.


"Kalian membicarakan aku?" tuan Arga tiba-tiba berdiri di dekat meja kami.

__ADS_1


"Tidak, hanya urusan wanita." Claire menjawab dengan santai meskipun sudah jelas-jelas kami kepergok membahasnya.


"Mataku rasanya berdenyut-denyut, pasti kalian membicarakanku," ucap tuan Arga sambil mendudukkan pantat seksinya diatas kursi.


"Jangan terlalu percaya diri, banyak hal yang bisa dua orang wanita bicarakan selain tentang pria." Claire mencebik, sedangkan aku hanya melihat dan mendengar perdebatan mereka sambil mengunyah sandwich daging buatan caffe ini.


Setelah cukup lama kami mengobrol, akhirnya Claire pamit untuk pergi lebih dulu, karena dia harus terbang ke New York siang ini untuk sebuah acara penghargaan pebisnis muda disana. Aku sungguh terkagum-kagum melihat prestasi wanita cantik di hadapanku ini, parasnya begitu menawan, namun prestasinya juga sangat membanggakan. Pantas saja tuan Arga begitu memujinya, bahkan Claire juga sosok orang terkenal yang berpengaruh, namun tetap rendah hati.


Tidak lupa, aku dan Claire juga bertukar nomor ponsel, senangnya aku bisa mendapatkan teman baru, apa lagi dia sudah senior di bidang design busana, aku bisa belajar banyak darinya.


"Kapan-kapan kalau ada waktu, aku akan mengunjungi kalian," pamit Claire sambil menciumi pipi kanan kiriku.


"Baiklah, kabari jika kau akan datang, Claire." Aku memeluknya sebagai tanda perpisahan.


Ini adalah pertama kalinya aku bertemu teman baru namun sudah merasa cocok sampai ke hati, selain dia yang sangat receh padaku, obrolan kami juga selalu nyambung, aku merasa seperti sudah mengenalnya lebih lama, padahal baru beberapa jam mengetahui namanya.


...


Akhirnya kami kembali ke hotel berdua, hari sudah semakin sore, namun rasanya aku belum puas menjelajahi kota ini.


"Ayo kita jalan-jalan lagi, Tuan," ajakku pada tuan Arga yang baru saja keluar kamar mandi.


"Gak mau!" jawabnya cuek.


"Kenapa?"


"Capek!"


"Mari saya pijat, setelah itu, ajak saya jalan-jalan lagi," ucapku merayunya.


"Bisa, sedikit."


"Baiklah, kalau pijatanmu enak, aku akan mengajakmu jalan-jalan lagi, karena besok siang kita harus kembali pulang," ujarnya lalu duduk di sofa panjang dekat jendela.


"Pulang? kenapa cepat sekali, saya belum puas disini," keluhku.


"Aku masih banyak pekerjaan. Sudah, cepat pijat punggungku!"


Akhirnya aku menuruti keinginannya, dia duduk menghadap arah kolam sambil kepalanya manggut-manggut mendengarkan alunan musik pop milik penyanyi asal Amerika, sedangkan aku menelusuri pundak dan punggungnya dengan pijatanku yang asal-asalan, karena pada dasarnya aku tidak tau bagaimana cara memijat yang benar.


"Kau ini bisa memijat atau tidak? lemah sekali!" protesnya menepis tanganku kasar.


"Eh, saya sebenarnya kurang bisa. Hehehe," ucapku sambil tertawa lirih.


"Dasar, tidak becus. Kemarilah, aku akan memberikan contoh," ucapnya lalu menarik tanganku, dia menyuruhku duduk di sampingnya, lalu memijat bagian pundakku.


"Ini baru yang namanya memijat!" ujarnya sambil memijat pundakku dengan sangat lihai, aku begitu menikmati pijatannya, enak.


"Tuan sangat jago memijat." Aku memujinya.


"Yang namanya pijat ya seperti ini, enak. Tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek sepertimu," ucapnya sambil terus memijat pundakku.


"Yang sebelah sini dong, Tuan," ucapku sambil menunjuk bagian pundak kiri dekat leher.

__ADS_1


"Yang ini?"


"Iya, enak sekali, Tuan. Ah ...."


Beberapa detik kemudian, dia terlonjak kaget lalu berdiri, padahal aku sedang sangat menikmati pijatan gratis laki-laki tampan ini.


"Kau! berani-beraninya membodohiku!" Dia berucap lantang.


"Saya? saya melakukan apa?"


"Kau tadi bilang ingin memijatku, sekarang malah aku yang memijatmu."


"Saya kan tidak memintanya, tuan sendiri yang memijat saya dengan suka rela," ucapku sambil tersenyum semanis mungkin.


"Alasan! kau pasti keenakan sudah ku pijat, sekarang cepat pijat seluruh badanku, itu hukumanmu!"


"Kalau pijat seluruh badan, lalu jalan-jalannya kapan, Tuan?"


"Besok!"


Dia lalu tidur tengkurap di sofa, aku yang baru saja keenakan di pijat pundakku saja, sekarang harus balik memijatnya seluruh tubuh dari ujung kaki sampai ujung kepala, sungguh tidak adil.


"Pijatnya agak keras, dasar lemah!" ucapnya protes.


"Iya, ini sudah keras." Aku menekan bagian betisnya dengan sangat keras.


"Hah, itu terlalu keras, kau bisa meremukkan tulang kakiku nanti." Protesnya lagi.


"Lalu saya harus bagaimana, Tuan?" Aku berdecak kesal, ingin rasanya koprol di hadapannya.


"Kau ini perempuan, harusnya sedikitlah lemah lembut, jangan terlalu kasar."


Lembek salah, keras salah, memang hidupku ini selalu salah di matamu, Tuan. Hanya kau yang maha benar!


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Ada yang mau crazy up?

__ADS_1


Beri komentar di bawah, dalam sehari harus ada minimal 50 komentar, episode selanjutnya crazy sekali 😂😂


__ADS_2