TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Berfoto berdua


__ADS_3

"Sabrina!" Teriak tuan Arga dari dalam kamar mandi.


"Ya, Tuan." Aku menjawab dengan suara lantang dari arah tempat tidur.


"Jangan berteriak kepadaku, cepat kemari!"


Gawat, mau apa lagi sih laki-laki ini, belum puas apa memakanku semalaman penuh.


"Ada apa?" tanyaku sambil menempelkan telinga di pintunya.


"Masuklah," ucapnya sambil membuka pintu.


"Tidak mau, tuan mandi duluan saja," jawabku beranjak meninggalkannya.


"Kau tidak mau ku ajak jalan-jalan?"


"Hah, kemana?" tanyaku penuh semangat 45.


"Hahaha, rahasia. Jika kau ingin jalan-jalan, maka mandilah bersamaku."


Aku tau pasti ini cuma akal-akalanmu saja kan, agar dapat jatah sarapan pagi tambahan, lagu lama!


"Saya lebih senang menghabiskan waktu berdiam diri dikamar dari pada jalan-jalan, Tuan," ucapku mencari alasan.


"Oh, jadi yang semalam itu masih kurang?" Dia masih berdiri di samping pintu bertelanjang dada.


"Bukan begitu, maksud saya---."


"Sudahlah, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu, aku hanya ingin kau menggosok punggungku saja." Dia lalu bergegas masuk lebih dulu.


"Baiklah." Aku mengikutinya masuk dengan langkah hati-hati, berjaga-jaga kalau saja dia tiba-tiba menerkamku, aku bisa lari dengan cepat.


Dia duduk di dalam bath up membelakangiku, dia bahkan sudah melepaskan handuknya dan tidak memakai apapun, aku duduk dengan tenang menggosok punggungnya dengan pelan.


Hampir setiap hari, mataku yang suci dan polos ini selalu saja tercemar oleh perilaku tidak tau malumu, Tuan.


Akhirnya, kali ini aku masuk ke dalam kamar mandi bersamanya, dan keluar dari sana masih dalam keadaan memakai pakaian lengkap, artinya aku benar-benar beruntung tidak dijadikan sarapan pagi olehnya.


...


Siang ini tuan Arga mengajakku jalan-jalan mengunjungi Merlion Park, sebuah patung berukuran besar dengan kepala singa dan berbadan ikan yang sudah menjadi maskot negara Singapura ini, nama Merlion berasal dari kata mermaid dan lion, yang artinya ikan duyung dan singa.


Taman ini buka selama 24 jam, untuk masuk kesini juga tidak di pungut biaya alias gratis, asalkan kita selalu menjaga kebersihan dan ketertiban saat berkunjung.


"Bolehkah saya berfoto dengan latar belakang patung itu, Tuan?" tanyaku pada tuan Arga yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


"Hah, norak. Jangan-jangan kau belum pernah melihat patung seperti itu," ucapnya sambil melirik sinis.


"Memang belum, saya hanya melihatnya di televisi."


"Baiklah, kau berdiri disana, aku akan memotretmu," ujar tuan Arga sambil menunjuk tempat dimana aku harus mengambil pose.

__ADS_1


"Pakai ponsel saya saja, Tuan." Aku menyerahkan ponselku padanya.


"Hah, Hp murah seperti ini hasilnya akan jelek, percuma jauh-jauh berfoto disini tapi hasilnya jelek," ejeknya.


Di dunia ini sepertinya tidak ada yang paling benar selain dirimu, Tuan. Kau memang maha benar dengan segala bualanmu.


"Baiklah, pakai Hp milik tuan saja," ucapku pasrah lalu berjalan mendekati patung itu.


Aku berpose berulang kali sampai tangan dan kakiku terasa pegal, namun tuan Arga selalu bilang hasilnya jelek dan menyuruhku mengulang kembali setiap pose.


"Tidak apa-apa kalau hasilnya jelek, Tuan. Lagipula saya lelah terus menerus berdiri disana, malu dilihat orang," ucapku sambil duduk selonjoran di sebelah kakinya.


Dia tidak menjawab, lalu beranjak pergi menemui seorang laki-laki pirang yang juga sedang asik memotret pasangannya.


Dia kembali mendekatiku diikuti laki-laki tersebut.


"Berdirilah, ayo kita foto bersama," ucapnya mengulurkan tangannya membatuku untuk berdiri, lalu menyerahkan ponsel miliknya kepada laki-laki pirang itu.


Kamipun berpose berdua untuk mengambil beberapa gambar, aku berusaha sangat keras untuk tersenyum dengan tulus agar hasil fotonya tidak jelek.


"Ini baru bagus," ucap tuan Arga sambil memperlihatkan layar ponselnya padaku.


Halah, paling juga semua fotoku yang tadi sudah bagus, hanya saja kau tidak mau mengakuinya. Yang ini kau bilang bagus kan karena ada wajahmu yang terpampang nyata disana. Gumamku kesal.


Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku tanda setuju dengan pendapatnya, agar dia tidak protes lagi.


Usai lelah berfoto dan berkeliling, kami memutuskan untuk menyusuri Singapore River menggunakan perahu listrik yang sudah tersedia di tempat wisata ini.


Kami duduk berdua di bagian depan perahu sambil menikmati pemandangan, sedangkan telinga kami fokus mendengarkan penjelasan sang pemandu.


Hari sudah semakin sore, pancaran sinar jingga sudah mengisi sebagian langit yang cerah membiru, menunjukkan senja akan segera tiba.


Kami memutuskan kembali ke hotel untuk membersihkan diri setelah seharian penuh jalan-jalan. Entah kenapa perasaan bahagia menyelimuti hatiku, karena selama seharian ini, tuan Arga selalu bersikap baik padaku, dia tidak terlalu memperbudak diriku.


"Nanti malam aku ke bar untuk menemui seseorang," ucapnya sambil memakai kaos polo berwarna putih.


"Siapa?" tanyaku penasaran.


"Teman lama."


"Oh, baiklah."


"Kau ikut? akan ku kenalkan kau padanya," lanjutnya.


"Tidak perlu, saya di kamar saja, istirahat."


"Baiklah, jam 8 malam aku sudah janji menemuinya, bersiap-siaplah," ujarnya sambil berjalan menuju meja panjang meraih ponselnya.


Apa? kau sepertinya tuli, Tuan. Aku kan sudah bilang tidak ingin ikut, kenapa kau menyuruhku bersiap-siap pukul 8 nanti. Menyebalkan.


"Saya tidak ikut, Tuan." Aku mengulang ucapanku.

__ADS_1


"Aku tidak menerima penolakan dengan alasan apapun." Dia menjawab dengan mata yang fokus menatap layar ponselnya.


Percuma saja bicara denganmu, kau memang cocok di sandingkan dengan tuan Joe, sama-sama tembok!


...


Akhirnya aku turuti saja keinginan tuan Arga membawaku ke sebuah bar, letak bar ini masih di dalam hotel yang kami tempati, jadi tidak perlu jauh-jauh jika hanya ingin sekedar mencari suasana baru jika bosan berdiam diri di dalam kamar.


Dia berjalan lebih dulu mendahuluiku memasuki bar, kemudian memilih tempat duduk untuk kami.


"Kau mau minum apa?"


"Terserah," jawabku datar.


"Lagi-lagi kau jawab terserah, kau pikir di tempat ini ada makanan atau minuman dengan nama terserah. Hah?" dia mendengus kesal.


"Begitu saja marah, lagipula siapa yang membujukku datang ke tempat ini?" Aku tidak kalah sewot dengannya.


"Akan ku ambilkan minum, tunggu disini." Dia lalu pergi meninggalkanku duduk sendirian.


Aku melirik jam kecil di tanganku, sudah lima belas menit tuan Arga berpamitan mengambilkan minum tapi tak kunjung kembali kesini.


Kemana laki-laki itu, ambil minum saja lama banget. Gumamku kesal.


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, benar saja, tempat ini di penuhi dengan orang-orang berpakaian rapi, memakai jas dan para wanita yang bergaun seksi menampilkan seluruh lekuk tubuhmya yang mirip gitar spanyol, sepertinya di tempat ini hanya aku yang duduk kesepian sambil clingukan kesana kemari mencari sosok laki-laki yang mengajakku kesini namun seperti hilang di telan bumi.


Ketemu!


Dari kejauhan aku melihat punggung tuan Arga yang sedang berdiri di depan meja bar panjang bersama seorang wanita cantik bergaun putih menawan.


Bisa-bisanya laki-laki itu bersama wanita lain, sedangkan aku di anggurkan begitu saja, menyebalkan!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2