
Baru kali ini aku merasa kalau sakit perut itu bisa menyelamatkan hidupku dari terkaman harimau buas itu, hatiku benar-benar sedang berperang, di satu sisi, dia sudah sah menjadi suamiku, tentu saja dia berhak menikmati tubuhku, tapi di sisi lain, pernikahan ini seolah-olah hanya permainan, dia tidak benar-benar menganggapku sebagai istrinya, meskipun aku tau cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, tapi dengan sikapnya yang keterlaluan padaku, akankah dia bisa berubah mencintaiku jika aku sudah benar-benar rela melepas keperawananku.
Begitu berat rasanya beban yang aku tanggung, sungguh jika boleh memilih, aku lebih rela menjadi pelayan di rumah ini tanpa di gaji sekalipun dari pada harus menjadi istri mainannya.
...
Ini masih pukul setengah lima pagi, alam masih gelap, bahkan mataharipun belum menampakkan sinarnya, aku bangun dan membuka gorden jendela yang langsung menghadap ke arah taman depan rumah, rasa sejuk dari embun-embun yang berjatuhan membasahi tanah masuk melalui sela-sela fentilasi udara, seketika melegakan pernafasanku yang kian sesak.
Sejak kejadian semalam, aku susah tidur, bayangan-bayangan mengerikan terus berputar-putar di kepalaku, aku sungguh takut jika tiba-tiba di buang begitu saja jika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dariku, bagiku, sebuah keperawanan adalah hal sakral yang harus benar-benar dijaga oleh seorang wanita, karena itu adalah sebuah mahkota.
Dari pada terus menerus berpikir buruk tentang apa yang belum tentu terjadi, aku memutuskan untuk mencuci muka dan mengganti bajuku dengan piyama panjang lalu keluar kamar.
Aku menemui Salimah dan beberapa pelayan yang sudah sibuk di dapur, bahkan mereka sudah bekerja keras sebelum matahari terbangun.
"Salimah, kau masak apa hari ini?" tanyaku pada Salimah yang sibuk mengawasi para koki yang sedang memasak.
"Hari ini jadwal menunya seafood, Nona," jawab Salimah sambil tersenyum.
"Baiklah, aku akan membantu disini, aku ingin masak kepiting asam manis."
"Nona duduk saja, koki kami yang akan memasaknya," jawab Salimah sambil menunjuk sebuah kursi di dekat dapur.
"Tidak, aku ingin memasaknya sendiri."
"Tapi, jika tuan tau, tuan akan marah, Nona," wajah Salimah memelas.
"Dia tidak akan marah, Salimah, tenanglah."
"Biarkan koki yang memasaknya, Nona, jika nona punya resep rahasia, katakan saja biar koki bisa memasak sesuai selera nona."
"Aku gak mau, Salimah, biarkan aku memasak," ucapku cuek sembari mengambil celmek lucu berwarna merah muda dengan motif kupu-kupu.
"Kami sudah selesai memasak semua menu sarapan pagi ini, Nona, jadi biarkan kami yang memasak kepiting asam manis untuk nona," ucap salah seorang koki di hadapanku.
"Kalian semua duduklah, aku mau memasak sendiri," ujarku menatap tiga koki laki-laki yang sibuk membersihkan sisa-sisa bahan masakan.
Seketika ketiga koki itu menatap kearah Salimah, memberikan kode kebingungan atas sikapku, Salimah mengangguk pelan ke arah mereka, menyuruh mereka duduk menuruti perintahku dan membiarkanku melakukan apapun yang aku inginkan. Sepertinya kegiatan memasak bisa membantuku mengurangi stress karena menghadapi tuan Arga.
Aku memasak dengan santai, tidak peduli empat pasang mata yang menatapku heran. Aku berniat memasak kepiting asam manis dengan potongan jagung manis sebagai campurannya, saat memotong jagung menjadi beberapa bagian, tiba-tiba jari telunjukku tersayat pisau, darah keluar dari luka dan mengalir sampai telapak tangan, membuatku meringis menahan perih, para pelayan histeris melihat darah segar menetes jatuh ke lantai.
"Nona, ada apa denganmu?" Tuan Joe datang tiba-tiba mengejutkan kami semua, dia benar-benar datang di saat yang tidak tepat.
"Ambilkan kotak P3K, cepat!" teriakan tuan Joe seketika membuyarkan para pelayan yang berdiri tegang menatapku.
__ADS_1
Salimah dengan sigap datang membawa kotak P3K dan menyerahkannya pada tuan Joe.
"Ikut aku." Tuan Joe menarik tanganku ke ruang tengah, Salimah dan semua koki khawatir sekaligus takut akan mendapat murka dari sang tuan akibat kejadian pagi ini.
"Apa yang kau lakukan di dapur sampai-sampai jarimu hampir terpotong seperti ini, Hah?"
"Aku memasak," ucapku sambil meringis.
"Apa masakan koki di rumah ini tidak enak sehingga kau ingin memasak sendiri?"
"Tidak, aku hanya ingin makan masakanku sendiri."
"Lain kali berhati-hatilah, jangan melukai dirimu sendiri," ucap tuan Joe kemudian menghisap darah di jariku dengan mulutnya dan meludahkannya di tisu.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil."
"Luka kecil apanya, kalau jarimu sampai putus bagaimana?" ucapnya sambil meneteskan obat merah di jariku.
"Ini tidak sakit," kataku.
"Sudahlah, aku akan menghukum para pelayan itu, bisa-bisanya mereka membiarkanmu memasak sendiri sampai terluka."
"Jangan, aku yang memaksa untuk memasak sendiri, mereka hanya menuruti perintahku, tolong jangan hukum mereka," ucapku memohon.
"Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidak sampai terluka seperti ini." Dia menempelkan hansaplas di atas lukaku, mengelusnya dengan perlahan menggunakan jari telunjuknya.
"Apa boss sudah bangun?" tanyanya sambil memasukkan sisa obat merah ke dalam kotak.
"Belum."
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu yang sedikit pribadi padamu, Nona?"
"Tanyakan saja, aku tidak keberatan."
"Kau bahagia dengan pernikahan ini?"
"Aku tidak tau," ucapku sendu, ada goresan luka di dadaku yang terus melebar sejak menjalani pernikahan ini.
"Maafkan aku tidak bisa membantumu apa-apa, aku begitu khawatir saat Salimah mengatakan kau tenggelam kemarin, apa lagi aku tau bahwa boss yang mendorongmu."
"Aku baik-baik saja, Tuan."
"Apakah boss memperlakukamu dengan baik?" tanya tuan Joe dengan menatap kedua mataku lekat.
__ADS_1
"Hmm." Aku tidak berniat menjawab, sepertinya aku belum menemukan jawaban yang cocok dengan apa yang aku rasakan saat ini, tapi sikap tuan Joe pagi ini membuatku heran, kenapa dia begitu khawatir padaku.
"Terimakasih sudah merawat luka kecil saya, Tuan."
Entah kenapa dan apa penyebab kau terlihat begitu khawatir, ini kan hanya luka kecil, Tuan. Berbeda sekali dengan boss-mu, sepertinya kau lebih perhatian padaku, Hahaha aku jadi Ge-er nih.
Aku berlalu meninggalkan tuan Joe di ruang tengah yang masih menatapku penuh kekhawatiran, padahal, jika dia tau, luka di jari ini tidak ada apa-apanya dari pada luka di hati yang sudah menganga lebar, hanya saja luka yang ini tidak terlihat.
...
Sampai di kamar, aku masih melihat tuan Arga mengubur seluruh tubuhnya di bawah selimut hangat berwarna coklat polos, hanya pucuk rambutnya saja yang terlihat, dia nampak menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.
Aku duduk di sofa favoritku, tentu saja ini sofa favorit kami, aku memandang keluar jendela, tampak sinar lembut matahari pagi mengguyur seluruh alam.
"Kau sudah mandi?" tanya tuan Arga yang sudah terduduk di tepian tempat tidur sambil menggaruk kepalanya.
"Belum, tuan mandilah terlebih dahulu, saya akan menyiapkan air hangat," ucapku sambil berjalan ke arah kamar mandi, aku menyempatkan diri melirik wajahnya.
Pagi-pagi seperti ini kenapa sih sudah kelihatan tampan begitu, padahal kau kan belum mandi, Tuan, kenapa bisa setampan itu sih. Sepertinya ini pagi keberuntunganku, selesai jariku di elus-elus sopir tampanmu, sekarang melihatmu dengan wajah yang so cute seperti itu, Arrrggh.
Aku tersenyum sendiri di dalam kamar mandi, Ah sepertinya aku sudah gila.
"Mandilah bersamaku," ucap tuan Arga memasuki kamar mandi dan mengunci pintunya, sedangkan aku masih berdiri mematung di depan bath up.
"Ti, tidak perlu, saya mandi nanti saja." badanku mulai merinding melihat dirinya mulai menanggalkan pakaiannya dengan santai di hadapanku, sepertinya urat malu laki-laki ini benar-benar sudah putus.
"Semalam kau menolakku, sekarang kau benar-benar harus membayar makanan yang sudah kau makan, ayo, aku akan membantumu mencicil hutang itu." Dengan tubuh tanpa kain sehelaipun, dia mulai mendekatiku, aku tidak tau harus berbuat apa lagi pagi ini, sepertinya aku sudah terjebak dan tidak akan bisa lari menghindari terkaman harimau yang sedang di selimuti hasrat bebahaya di dadanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ......