TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Cemburukah?


__ADS_3

Seketika mata nona Hana yang awalnya fokus pada makanan di atas piringnya, kini langsung berpaling manatapku seperti elang yang memburu mangsanya.


Aku tidak mengerti hubungan apa yang terjalin antara tuan Arga dan nona Hana, namun sepertinya nona Hana punya perasaan begitu kuat kepada tuan Arga. Sorot mata kagum dan penuh cinta itu tergambar sangat jelas, namun aku tidak bisa menebak dengan pasti perasaan tuan Arga padanya.


Usai acara makan selesai, kami semua duduk menikmati camilan dan minuman di ruang tengah sambil bercengkrama. Aku duduk di samping ibuku, jauh dari tuan Arga, namun nona Hana begitu mencari perhatian papa mertuaku dan tuan Arga. Ganjen sekali!


"Bolehkah aku sering-sering main ke sini jika sedang tidak bekerja, Paman?" tanya nona Hana tiba-tiba pada papa mertuaku.


"Bagaimana, Arga?" Papa balik bertanya pada tuan Arga, karena memang yang empunya rumah ini adalah tuan Arga.


"Silahkan, pintu rumah selalu terbuka untukmu, Hana."


"Benarkah?" ucap nona Hana sambil merangkul lengan tuan Arga, dia tersenyum begitu manis sambil menatap netra coklat laki-laki itu. Aku melihatnya dari kejauhan, darahku seperti sedang mendidih.


"Ya, kau bisa berteman baik dengan istriku," ucap tuan Arga menimpali, namun dia tidak berusaha melepaskan tangan nakal wanita ular itu dari lengannya, seperinya dia begitu suka di perlakukan seperti itu oleh nona Hana.


"Ah, terimakasih banyak, Arga. Aku akan sangat senang memiliki sahabat baru," lanjut nona Hana sambil tersenyum sinis melirikku.


Dasar ganjen, bisa-bisanya pegang-pegang suami orang tanpa malu, ganjen kok di pelihara!


Yang laki juga sama, di pegang-pegang juga malah meresapi, memang sama-sama ganjen. Menyebalkan!


Dari pada aku terus menerus melihat adegan syuting romeo dan juliet itu, aku memilih mengajak ibu untuk masuk ke dalam kamarku, aku ingin melepaskan rindu yang luar biasa ini. Jika hanya duduk melihat nona Hana yang kesurupan, bisa-bisa aku terkena hipertensi.


"Apakah kau bahagia, Nak?" tanya ibu membelai rambutku saat kami duduk berdua di sofa.


"Sabrina bahagia, Bu. Bukankah ibu melihatnya sendiri kalau tuan Arga begitu baik pada Sabrina."


"Ya, ibu melihatnya. Apakah kalian saling mencintai?"


"Mengapa ibu bertanya seperti itu?"


"Usia pernikahan kalian sudah menginjak dua bulan, ibu harap semua ini benar-benar membuatmu bahagia, Nak." Ibu meneteskan air mata.


"Sabrina bahagia, Bu." Aku mengusap lembut kedua pipi ibuku.


"Berjanjilah pada ibu, jangan memaksakan hatimu jika memang belum siap. Cinta itu tumbuh karena terbiasa, semoga jika kalian terbiasa bersama, cinta itu akan segera tumbuh mengisi ruang hatimu," lanjut ibu.


"Sabrina akan berusaha, Bu." Aku memeluk wanita di hadapanku, wanita yang sudah mengandungku selama sembilan bulan dan merawatku dengan penuh kasih sayang.


"Maukah ibu menginap disini?"


"Tidak, ibu harus pulang, Nak."


"Kenapa, Bu?"

__ADS_1


"Tidak enak dengan suami dan mertuamu, mereka sudah begitu baik menjagamu, ibu tidak ingin merepotkannya lagi," jawab ibu.


"Tapi Sabrina masih sangat rindu kalian."


"Kapan-kapan kau bisa ajak suamimu berkunjung ke rumah, ibu akan sangat senang kalau kalian bersedia menginap lain waktu," ujar ibu tersenyum.


"Baiklah, aku akan membicarakan ini dengan tuan Arga."


Hari sudah semakin larut, aku menggandeng ibu menuju ruang tamu, dan mengantarkan ayah dan ibuku sampai di depan rumah. Rasanya begitu cepat waktu berlalu, meskipun sudah berjam-jam kami bersama, tapi itu belum cukup mengobati rinduku.


...


Aku dan tuan Arga memilih kembali ke kamar, mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah. Sedangkan papa masih memilih asik menonton televisi.


"Jangan tidur terlalu malam, Pa," ucapku sambil berlalu menuju kamar mengikuti langkah tuan Arga.


"Baik, Nak. Hanya beberapa jam saja, hehehe."


Di dalam kamar, aku langsung melepas gaun yang membalut tubuhku dengan ketat ini, rasanya sudah gerah. Lalu memilih mencuci muka dan membasuh tangan dan kakiku sebelum beranjak tidur.


Sedangkan tuan Arga sudah melepas semua pakaiannya dan membuangnya di sembarang tempat, hanya menyisakan celana pendek berwarna hitam.


Aku yang melihat pakaian berserakan di lantai, memilih membereskan semuanya terlebih dahulu sebelum naik ke tempat tidur.


Saat aku mau meletakkan pakaian milik tuan Arga di keranjang baju kotor, aku mencium aroma parfum yang berbeda dari yang biasa kucium, aromanya benar-benar milik seorang wanita, khas wangi-wangian bunga.


Aku melempar pakaian itu dengan kasar ke dalam keranjang baju kotor, lalu naik ke atas tempat tidur, membelakangi tuan Arga yang sudah tidur terlentang, kedua tangannya di letakkan di bawah kepalanya.


Sungguh aku merasa begitu sakit melihat wajah itu, bagaimana tidak, dia terang-terangan menerima rayuan wanita lain sedangkan istrinya duduk menatapnya. Apakah hati nurani laki-laki ini sudah mati?


Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkan nasibku yang sangat memprihatinkan ini. Ada rasa sesak yang tertahan di dadaku, rasanya begitu sakit, bahkan membuatku sulit bernafas.


Tidak terasa, tetesan bening mengalir pelan dari ujung mataku. Aku benar-benar bingung dengan apa yang melanda diriku, sedikitpun aku tidak mencintai laki-laki ini, tapi mengapa setiap aku melihatnya dengan wanita lain membuatku merasakan nyeri di ulu hati, rasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, cemburukah aku?


"Kau tidak apa-apa?" tanya tuan Arga memegang pundakku, mungkin dia terganggu karena aku cukup lama terisak menahan tangisan ini.


"Tidak." Aku menghapus air mataku, tapi tidak ingin membalikkan badan menatapnya, hatiku masih perih.


"Kau menangis?"


Aku menggeleng, enggan menjawab.


"Jangan berbohong, aku tau kau menangis. Apa yang membuatmu sedih?" Dia masih mengusap lembut pundakku.


"Tidak apa-apa."

__ADS_1


Kau ini memang bodoh atau hanya pura-pura bodoh. Apa kau tidak merasa telah menyakiti perasaanku?


"Katakan padaku jika kau ada masalah," lanjut tuan Arga.


Aku kembali menggeleng, perasaan sesak di dadaku terasa semakin mencekik setiap mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya


"Kemarilah." ucap tuan Arga langsung membalikkan badanku menghadap dirinya, dia mencoba membenamkan wajahku di dadanya, aku tidak kuasa menolak dekapan ini.


"Katakan, ada apa? apa kau masih rindu pada ayah dan ibumu?" Dia kembali bertanya sambil mengelus lembut rambutku.


Aku mengangguk, memang aku masih begitu merindukan mereka, namun bukan itu yang membuatku menangis.


"Minggu depan kita akan berkunjung ke sana, sekarang tidurlah," lanjut tuan Arga.


Dia masih memelukku dengan erat, wangi tubuhnya sudah tidak seenak biasanya, wangi ini sudah bercampur dengan aroma parfum wanita ular itu. Aku membencinya!


"Saya sedang ingin sendiri, Tuan," ucapku mencoba melepaskan diri.


"Kenapa?" Dia menatapku dengan raut wajah penasaran.


"Tidak apa-apa, saya sedang ingin tidur di sofa itu." Aku menunjuk sofa panjang tempat favorit kami di dekat jendela.


"Baiklah, jika itu bisa membuatmu tenang." Dia melepaskan pelukannya, aku segera bangkit dan berjalan gontai menuju sofa.


Setidaknya aku tidak mencium aroma wanita lain yang menempel di tubuhmu, Tuan. Aku tidak akan kuat jika semalam penuh tidur di sampingmu.


Akhirny aku bisa tertidur dengan pulas di sofa panjang ini, rasanya membuatku lebih nyaman jika jauh dari tuan Arga untuk beberapa saat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2