
Sinar matahari yang masuk dari celah gorden langsung menerobos masuk menghangatkan tubuhku, aku benar-benar tidur semalaman penuh disini. Namun rasanya perasaan kesal dan sesak semalam sudah sedikit terurai.
Aku mengernyitkan dahi, menatap selimut berwarna merah muda yang menutupi tubuhku.
Perasaan semalam aku tidak membawa selimut saat pindah disini, kenapa bangun-bangun sudah ada selimut ya?
Aku turun dari sofa dan berjalan menuju tempat tidur, melihat tuan Arga yang masih nyenyak tidur dengan memeluk guling, seperti ada kehangatan yang menerobos masuk melalui celah-celah hatiku yang rapuh. Sekuat apapun aku mencoba membencinya, tapi dia bisa saja membuatku luluh, semenyebalkan apapun tingkahnya, aku begitu mudah melupakannya.
"Kau sudah bangun rupanya," ucap tuan Arga sambil mengucek kedua matanya saat melihatku berdiri di dekat tempat tidur.
"Apa kau sudah membaik?" lanjutnya.
"Ya, saya akan pergi bekerja hari ini," jawabku sambil melipat selimut yang tiba-tiba mengubur tubuhku dengan hangat semalam penuh.
"Jika belum ingin bekerja, di rumah saja, temani papa."
"Tidak, Tuan. Saya sudah libur selama hampir seminggu, pekerjaan saya banyak, kasihan orang-orang butik," jelasku padanya.
"Ya sudah, kemarilah dulu," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Ada apa?"
"Kemari saja."
"Tidak mau!" Aku membuang muka, jangan-jangan dia ingin sarapan pagi diatas kasur lagi.
"Cepat, aku tidak suka mengulang-ulang perintah," ucapnya mulai kesal.
Akhirnya pelan-pelan aku mendekat, lalu tiba-tiba dia dengan mesra mencium keningku, membuatku tersentak.
"Mulai hari ini itu akan menjadi rutinitas kita," ujarnya tersenyum menatapku.
"Rutinitas?" Aku melongo.
"Ya, sebagai ganti ucapan selamat pagi."
"Saya bisa mengucapkan selamat pagi setiap hari, tidak perlu di ganti dengan adegan seperti itu." Aku berdiri menjauhinya.
"Aku tidak suka di tolak, jadi kau harus patuh!"
Apa kau tidak sadar telah mempermainkan hubungan ini, Tuan?
Semalam kau bermesraan dengan wanita simpananmu itu di hadapanku, dengan tidak tau malunya kalian saling bertatapan, lalu sekarang kau memintaku rutin melakukan adegan aneh sebagai ganti ucapan selamat pagi, kau benar-benar tidak waras.
Aku berjalan menuju kamar mandi, percuma saja membantah laki-laki itu, dia tidak pernah sekalipun mau mengalah.
...
Aku sudah rapi dan sudah siap menuju ruang makan untuk sarapan, namun sepertinya tuan Arga sedang sibuk mencari sesuatu di lemarinya.
"Kau mencari apa, Tuan?" tanyaku.
"Apa kau melihat dasi hitam bergaris milikku?" Dia menatapku sambil mengusap rambutnya yang masih basah.
__ADS_1
"Dasi?" Aku mencoba membantunya mencari.
"Inikah?" tanyaku sambil menenteng dasi yang teronggok di depan mata, padahal dasi itu tidak sedang bersembunyi di mana-mana, namun tuan Arga seperti kerepotan mencarinya.
"Wah, ketemu. Padahal aku sudah mencarinya di semua lemari," ucapnya senang.
"Dasi itu disini, memang biasanya disini," ucapku menunjuk sebuah laci tempat aku menemukannya.
"Mungkin aku yang lupa. Maukah kau membantuku?" Matanya memberi isyarat agar aku memasangkan dasi itu di lehernya.
Aku belum pernah melakukan hal ini, tapi aku sudah tau bagaimana cara memasang dasi yang baik dan benar, karena dulu aku sering melihat ibuku membantu ayah memasangkan dasi saat ayah akan pergi bekerja.
Saat aku sedang fokus memasang dasinya, aku menyadari dia menatapku begitu serius, bahkan aku tau dia tidak berkedip sama sekali. Tinggi badanku yang hanya sebahunya, membuatku sedikit mendongak untuk meraih lehernya.
Jika saja aku ini adalah wanita jahat yang pendendam, pasti sudah ku jeratkan dasi ini pada lehermu, Tuan. Hanya saja aku masih jadi wanita penyabar, jadi aku akan selalu berbaik hati padamu.
"Sudah."
"Terimakasih," ucapnya sambil mencium kilas bibirku. Lagi-lagi aku di buat terkejut dengan sikap manisnya.
Kami memutuskan segera keluar kamar dan menuju meja makan untuk sarapan, aku sudah melihat tuan Joe dan papa mertuaku berbincang-bincang menunggu kami.
"Sudah lama, Joe?" sapa tuan Arga.
"Ah, baru saja aku sampai, Boss."
"Ayo kita sarapan dulu," ujar papa.
"Apa kau butuh sekretaris untuk membantumu di butik, Sabrina?" tanya tuan Arga di pertengahan sesi sarapan.
"Tidak, saya sudah punya orang kepercayaan."
"Baiklah, apakah sopir baru itu menurutmu baik?"
"Siapa? bang Bimo?" Aku balik bertanya.
Tuan Joe langsung terbatuk-batuk mendengar ucapanku barusan.
"Minumlah, Joe. Pelan-pelan saja makannya" Papa menyodorkan segelas air putih, aku menatapnya heran.
"Kenapa kau memanggilnya seperti itu?" tanya tuan Arga lagi.
"Memanggil apa? bang Bimo?" Aku mengernyitkan dahi, tidak mengerti dengan maksud laki-laki ini bertanya seperti itu.
"Ya, aku geli mendengarnya. Lihat, Joe sampai terkejut seperti itu." Mata tuan Arga melirik tuan Joe sekilas.
"Memangnya kenapa?"
"Apakah tidak ada panggilan lain?"
"Saya nyaman memanggilnya seperti itu," ucapku sambil melanjutkan makan.
"Aku geli mendengarnya, hi." Tuan Arga menampilkan ekspresi lucu.
__ADS_1
Sedangkan papa hanya menahan senyum mendengar obrolah pagi kami yang menghiasi sarapan hari ini.
Usai sarapan, aku kembali ke kamar mengambil tas dan beberapa barang milikku, terutama oleh-oleh yang sudah ku beli di singapura saat berbulan madu kemarin, semuanya aku beli khusus untuk teman-temanku di butik. Setelah itu aku segera pamit kepada papa mertuaku.
"Sabrina berangkat kerja dulu, Pa." Aku mencium punggung tangan laki-laki itu.
"Hati-hati di jalan, nanti siang papa sudah harus kembali pulang, ada beberapa urusan disana," ujar papa.
"Baiklah, papa juga harus berhati-hati. Kapan-kapan Sabrina akan datang berkunjung."
Papa hanya tersenyum menanggapi, lalu melambaikan tangannya saat aku sudah masuk ke dalam mobil.
Ah, bahagianya. Bahkan papa itu seperti ayah kandungku sendiri. Terimakasih Tuhan, kau telah mengirimkan orang-orang baik padaku. Maafkan aku jika terlalu sering mengeluh.
Bang Bimo melajukan mobil dengan kencang, karena hari memang sudah siang.
Sesampainya di butik, Riani sudah menyambutku dengan sangat gembira. Aku mengeluarkan tas berukuran agak besar yang berisi cinderamata khas singapura kepadanya.
"Ini semua untukku?" tanya Riani kegirangan.
"Ya, aku sudah berjanji untuk membawakanmu oleh-oleh." Aku memeluk sahabatku itu.
"Kau memang selalu baik, Sa. Kau tidak pernah melupakanku meskipun sedang bersenang-senang di luar sana," ucap Riani membalas pelukanku.
"Lalu, bagikan ini kepada semua karyawan." Aku menunjuk sebuah kardus sedang yang di letakkan bang Bimo diatas meja.
"Siap!"
Aku segera berlalu menaiki anak tangga menuju ruanganku, sedangkan bang Bimo ku tinggal bersama Riani di ruangan bawah, aku sudah berpesan pada bang Bimo untuk membantu Riani jika di perlukan.
Sesampainya diatas, aku langsung meletakkan tas ku diatas meja kerja, dan membuka pintu kaca menuju balkon, aku rindu tanaman-tanaman mawar milikku.
Pagi ini semuanya mekar dengan indah, pasti Riani yang sudah merawatnya selama aku tidak datang kesini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1