
Pagi ini aku terpaksa meninggalkan Sabrina di rumah sakit sendirian di temani dua pengawal kepercayaanku, setelah mendengar apa yang sudah di katakan oleh Joe, aku memutuskan mengajaknya pulang ke rumahku sebentar.
Aku belum sempat pulang ke rumah sejak Sabrina masuk rumah sakit, sesaat setelah Salimah memberi kabar bahwa Sabrina jatuh terpeleset di tangga, aku langsung terbang dari Prancis ke kota ini.
...
Setelah sampai di rumah, aku langsung menuju ruang kerjaku, melakukan pengecekan rekaman CCTV yang sudah terpasang di seluruh ruangan di rumahku, kecuali di dalam kamar pribadi milikku.
Aku melihat dengan jelas bagaimana awal mula Hana datang ke rumah ini dan meminta Salimah untuk memanggil Sabrina, dan Sabrina menemui Hana dengan berbaik hati. Aku mendengar semua percakapan mereka.
Melihat wajah Sabrina yang begitu sedih atas semua ucapan yang di lontarkan oleh Hana, membuatku ikut merasakan sakit.
Aku mengenal Hana dari kecil, kami memang berteman karena orang tua Hana adalah sahabat papaku, tapi sampai saat ini aku hanya menganggapnya sebagai seorang teman dan rekan bisnis, tidak lebih. Dia memang pernah memintaku untuk menikah dengannya, tapi dengan terang-terangan aku menolak, secuwilpun aku tidak memiliki perasaan terhadapnya.
Dia adalah wanita penuh ambisi, kasar, dan cenderung emosional, dia selalu punya seribu cara untuk mendapatkan apa yang dia kehendaki, bahkan mengorbankan harga dirinya.
"Wanita jal*ng!" makiku keras saat melihat dengan mata kepalaku sendiri rekaman yang menunjukkan Hana menendang betis Sabrina dengan sengaja, itu yang membuat Sabrina terjatuh.
"Wanita sialan! akan ku bunuh kau!" teriakku.
Joe yang berdiri di sampingku hanya berdiri mematung tanpa sepatah katapun, dia hanya melihat dan berpikir.
"Aku tidak menyangka wanita itu akan berbuat senekat itu, Boss."
"Aku tidak akan membiarkannya, Joe. Dia harus membalas semua perbuatannya!"
"Tenangkan dirimu, Boss," ucap Joe.
"Bagaimana aku bisa tenang, aku bahkan tidak menyadari dari awal kalau semua yang terjadi kepada Sabrina itu sudah di rencanakan oleh Hana, dia sengaja datang ke rumah ini saat aku belum pulang, dan dengan tidak tau dirinya dia mengatakan hal-hal yang buruk pada istriku." Istriku, ya, aku baru menyadari betapa berharganya istriku.
"Kita akan menyelesaikan semuanya," ujar Joe dengan nada pelan, namun tangannya mengepal kuat diatas meja.
"Sialan! sial! sial! sial!" Aku semakin tak terkendali, ku banting semua barang yang ada di hadapanku, aku frustasi, aku kalap, aku tidak mampu lagi mengendalikan emosiku.
Saat suasana emosiku sedang sangat kacau, tiba-tiba ponsel Joe berdering, dengan wajah penuh kekhawatiran, dia menghampiriku.
"Boss, bagaimana aku mengatakan ini, tapi ...," ucap Joe tertahan.
"Katakan!"
__ADS_1
"Sabrina, hilang," lanjutnya.
"Hilang? apa maksud dari hilang itu?" Aku kacau, aku bahkan tidak bisa berpikir jernih.
"Dia pergi, meninggalkan rumah sakit dan lolos dari pengawasan para pengawal. Sebaiknya kita langsung kembali ke rumah sakit sekarang."
Tanpa berkata apa-apa, aku langsung berlari menyusuri lorong rumahku dan menuju mobil.
"Sebaiknya aku saja yang menyetir, kau tenangkan dulu dirimu, Boss," ucap Joe saat aku hendak membuka pintu di samping kursi kemudi.
Aku langsung berpindah tempat dan membiarkan Joe mengemudi.
Entah apa yang aku rasakan sekarang, tapi aku belum pernah merasakan kesakitan sesakit ini, baru saja aku kehilangan calon anakku, kini Sabrina pergi, entah apa yang terjadi padanya saat ini.
Sepanjang perjalanan, tanganku terus sibuk menelpon para penjaga yang mengawasi Sabrina, aku juga melakukan beberapa panggilan kepada direktur rumah sakit.
Setelah sampai aku langsung berlari cepat menuju ruangan tempat Sabrina di rawat.
"Nona Sabrina berniat mencari udara segar, Tuan. Kami mengizinkan, dan tetap mengawasinya dari kejauhan, lalu nona bilang ingin membeli pakaian ganti, jadi dia meminta kami untuk menunggu di depan butik," ucap salah satu pengawal.
Aku sudah tidak tahan lagi melihat dua pengawal tidak becus seperti mereka, sekuat tenaga ku pukul wajah keduanya secara bergantian sampai mereka jatuh terjungkal, emosi yang kian meledak-ledak membuat kekuatan di tubuhku seakan bertambah.
Joe dan beberapa orang yang ada di dekatku berusaha menahanku agar berhenti menghajar kedua pengawal itu, aku menyadari wajah mereka sudah membiru dan bibir berdarah akibat hadiah yang aku berikan, namun itu tidak membuatku merasa puas.
"Tenang, Boss. Tenang!" teriak Joe terus menerus. Aku kehilangan kendali, tangan ini seakan ingin melepaskan rasa sakit yang tertahan di dadaku.
"Sebaiknya kita langsung menuju butik tempat Sabrina hilang, Boss," ajakan Joe langsung mengalihkan perhatianku.
Dengan cepat, aku langsung berjalan di depan Joe dan menyuruh kedua pengawal itu menunjukkan butik tempat Sabrina hilang. Dengan langkah terseok-seok dan wajah lebam penuh memar, kedua pengawal itu tetap menuruti perintahku.
Setelah sampai di butik, Joe meminta pemilik butik untuk memutar rekaman kamera pengawas bagian dalam butik saat Sabrina datang kesini.
Terlihat dengan jelas saat Sabrina memilih beberapa pakaian, kaca mata, dan topi. Namun Sabrina juga terlihat bolak-balik memeriksa ponselnya dan melakukan beberapa panggilan kepada seseorang.
Setelah Sabrina membayar semuanya, dia langsung menuju ruang ganti dan keluar dari sana dengan semua pakaian barunya, lalu berjalan keluar dari butik.
Aku meminta pemilik butik memeriksa kamera pengawas di bagian depan butik. Disana terlihat Sabrina berjalan dengan santai melewati kedua pengawal yang duduk di kursi kayu sebelah pintu masuk, Sabrina masuk ke dalam sebuah mobil berwarna putih, lalu mobil itu melaju dengan cepat ke arah timur.
"Dasar kalian tidak berguna!" Aku melayangkan kembali bogem mentah ke arah pengawal itu.
__ADS_1
"Cepat cari istriku, jika dalam waktu 2x24 jam kalian tidak mampu menemukannya, jangan harap kalian bisa berdiri dengan kedua kaki kalian, pergi!" teriakanku membuat mereka ketakutan dan kalang kabut pergi menjauh.
"Kita akan menemukannya, Boss. Aku akan meminta banyak bala bantuan," ucap Joe.
Aku menghempaskan tubuhku di atas lantai butik, aku berantakan, aku sungguh tidak percaya Sabrina akan termakan omongan Hana dan memutuskan untuk meninggalkanku.
Aku menyesal telah menggantungkan perasaannya, aku menyesal tidak mengatakan perasaan ini dari awal, bodohnya aku.
"Aku sudah meminta semua bawahan kita mencari keberadaan istrimu, Boss. Aku juga sudah menghubungi kepolisian atas hilangnya Sabrina, tapi polisi akan melakukan proses pencarian setelah waktu 2x24 jam Sabrina belum di temukan," ujar Joe sambil membawakan segelas air putih untukku.
"Aku harus menemui Hana, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya" ujarku sambil berdiri setelah menghabiskan segelas air putih yang di bawa Joe.
Dengan langkah cepat kami kembali memasuki rumah sakit dan menuju tempat parkir mobil.
Joe melajukan mobil dengan kecepatan kilat, dia membelah kemacetan dengan berkendara zig-zag. Sedangkan aku, sedang mengumpulkan tenaga untuk memberikan pelajaran berharga kepada wanita jahanam yang telah membuatku kehilangan banyak hal berharga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Terimakasih yang sudah setia membaca, ILY 3000 ❤️
Info: POV Tuan Arga, artinya yang menjalankan peran sebagai "Aku" disini adalah tuan Arga ya teman-teman 😁
__ADS_1