
Alunan musik lembut membangunkan ku dari mimpi yang aneh, entah mengapa, kepalaku terasa berat dan berdenyut, tidak biasanya aku bangun tidur dengan perasaan seperti ini.
Samar-samar, ku lihat suamiku sedang duduk di tepi kasur sambil membaca sebuah buku, ia sudah tampak segar dengan rambut yang masih terlihat sedikit basah.
Aku menggerakkan tubuhku perlahan, merasakan semua persendiku yang linu.
"Sayang," ujar suamiku lembut, ia menyingkap anak rambut yang menutupi wajahku.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku, pusing, Honey," jawabku sambil berusaha duduk menahan kepala yang terasa begitu sakit. Dia membantu menopang tubuhku, dan memberikan sandaran bantal di bagian punggung.
"Kenapa aku merasa sakit kepala, ya. Padahal, semalam aku baik-baik saja."
"Mungkin karena kau terlalu banyak pikiran dan lelah, Sayang. Istirahatlah, hari ini kau harus libur kerja."
"Tidak, Honey. Aku sedang terlalu sibuk untuk berlibur, banyak hal yang harus aku kerjakan."
Aku tidak boleh libur bekerja, begitu banyak hal yang harus segera terselesaikan, aku tidak mau membuat pelanggan butik kecewa.
"Tapi, kau sedang kurang sehat, Sayang. Istirahatlah dulu selama satu hari, setidaknya sampai sakit kepalamu sembuh," bujuk suamiku, ia nampak begitu khawatir.
Beberapa saat kemudian ponselnya berdering, ia pamit untuk menemui seseorang di depan.
"Sayang, minum ini," ujar suamiku saat ia kembali, ia membawa satu gelas berisi minuman.
"Apa ini?" tanyaku.
"Minum dulu."
Ku sesap perlahan, rasanya seperti air kelapa muda. Kenapa tiba-tiba dia memberiku air kelapa muda?
"Jangan berpikir yang bukan-bukan, Sayang. Aku hanya sedang ingin membeli air kelapa muda ini, semalam aku bermimpi ke pantai, dan tiba-tiba, pagi ini aku sangat ingin minum ini," ujar suamiku, ia seperti mampu membaca apa yang ada dalam pikiranku.
"Oh, ku pikir, ada sesuatu." Aku tersenyum, meletakkan gelas ke atas meja dan merangkulnya.
"Aku akan mendi sebentar, Honey. Kau jangan ke mana-mana."
"Siap, Lovely," ucapnya genit, ia mengerlingkan sebelah mata.
Melihatmu setiap hari, membuat setiap detik dalam hidupku terasa lebih berarti, kau memberi warna baru yang belum pernah aku ketahui. Beruntungnya diriku.
...
Usai membersihkan diri dan berpakaian rapi, aku kembali meneguk sisa air kelapa muda yang tersisa. Kepala yang awalnya terasa pusing dan berat, kini berangsur membaik.
"Izinkan aku bekerja hari ini, Honey. Aku mohon." Aku mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Hmm, apakah kau sudah merasa lebih baik?"
"Sudah, mungkin benar katamu, aku terlalu banyak pikiran jadi sakit kepala."
"Baiklah, tapi kau harus berjanji, jika terjadi sesuatu nanti, langsung hubungi aku."
"Baik, Honey. I love you," ujarku manja, ku lingkarkan tanganku di lengan kekarnya sambil berjalan menuju meja makan.
Sedapnya aroma nasi goreng khas buatan bi Ijah sudah menyebar ke seluruh penjuru rumah, sudah lama sekali aku tidak merasakan masakan rumah ini, meski menunya selalu terbilang sederhana dan itu-itu saja, namun aku tidak pernah bosan menikmatinya.
Aku segera duduk berdampingan dengan suamiku, menu sudah tersaji dengan rapi di depan mata. Namun, sampai saat ini aku belum melihat Safira keluar dari kamarnya.
"Bi, Safira mana?" tanyaku pada bi Ijah.
"Non Safira tadi sudah keluar dari pagi, sepertinya sedang buru-buru, Non."
__ADS_1
"Kemana?" tanyaku, tidak biasanya Safira bepergian sepagi ini, karena dia adalah tipe orang yang susah bangun pagi.
"Tidak tau, saya belum sempat tanya."
"Dia naik apa, Bi?"
"Tadi di jemput taksi online," jawab bi Ijah, dia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kenapa Safira pergi sepagi ini?
Kemana dia?
"Honey, aku akan ambil ponsel sebentar di kamar," ujarku.
"Untuk apa?" tanya suamiku cuek, ia seperti tidak peduli denganku yang khawatir memikirkan Safira.
"Menghubungi Safira."
"Sudahlah, Sayang. Dia sudah besar, sudah dewasa. Dia sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk, jangan terlalu di ambil pusing," ujarnya santai.
"Tapi, Honey. Bagaimana kalau ...."
"Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri, Sayang."
"Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya, Honey. Jika dia pergi dari rumah sepagi ini, artinya dia sedang memiliki masalah," ujarku menepis tangannya yang menahanku.
"Cukup, Sa!"
"Dia saja tidak peduli dan bersikap buruk padamu, untuk apa kau begitu mengkhawatirkan orang yang sudah jelas-jelas tidak menghargaimu sebagai saudarinya."
"Paling tidak, hargailah dirimu sendiri di depannya, agar dia tidak seenaknya berbuat yang macam-macam."
Aku terduduk mendengar kalimat bertubi-tubi yang keluar dari mulut suamiku, entah mengapa, semua yang ia ucapkan memang benar adanya, meskipun terdengar menyakitkan.
"Sayang, maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu," ujar suamiku, kini ia meraih tubuhku.
Aku bergeming, menatapnya dengan pandangan nanar.
"Aku tau dia adikmu. Tapi ku mohon, jangan mengorbankan sendiri perasaanmu demi kepentingannya, biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka. Toh, dia pasti akan kembali," lanjutnya.
Memang benar, dia pasti akan kembali pulang. Karena dia selalu butuh uang untuk memenuhi gaya hidupnya yang glamour.
"Ayo kita sarapan, setelah ini kita berangkat." Dia mengusap bulir bening yang jatuh di pipiku.
Kami melanjutkan sarapan, dan aku berusaha tetap tenang tanpa memikirkan kemana dan kenapa Safira pergi.
...
Setelah sampai di depan butik, aku melambaikan tangan melihat mobil suamiku melaju kencang menuju kantornya, sedangkan bang Bimo sudah lebih dulu sampai.
"Bang, lusa aku mengadakan acara makan-makan di rumah bersama para karyawan butik. Kalau berkenan, aku pesan seratus kotak brownis coklat buatan istrimu," ujarku pada bang Bimo.
"Seratus kotak?" ucap bang Bimo terkejut.
"Sekalian bagi-bagi untuk pelayan di rumah, Bang. Kalau lebih, bisa di bagikan ke pemulung atau pengemis pinggir jalan."
"Wah, saya hubungi istri saya dulu, Non. Kalau terlalu banyak, takutnya tidak selesai tepat waktu," ujarnya.
"Ini sebagai uang muka, Bang. Totalnya nanti ku lunasi kalau pesanan sudah siap, ya." Aku menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah padanya.
"Iya deh, Non."
Aku meninggalkan bang Bimo yang masih berdiri bingung di depan pintu, lalu menyapa semua orang yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
__ADS_1
Waktu, tempat, dan alat yang serba terbatas jumlahnya membuat kami harus bekerja ekstra untuk menyelesaikan semua pesanan tepat waktu.
Riani sudah memiliki lima calon pelamar kerja yang akan datang hari ini untuk interview, meskipun aku belum memiliki rumah jahit, namun sepuluh mesin baru sudah ku pesan. Aku hanya tinggal menunggu kabar dari tuan Joe yang berjanji akan mendapatkan rumah sewa itu sore ini.
...
[Sebentar lagi aku akan menemuimu, Sayang. Love you.]
Sebuah pesan masuk melalui aplikasi hijau di ponselku, tidak lain dan tidak bukan adalah suamiku. Akhir-akhir ini dia selalu bersikap sangat manis bahkan ketika mengirim pesan.
Makan siang kali ini aku dan suamiku di temani tuan Joe, kami makan bertiga di sebuah resto ayam panggang dekat butik.
"Setelah ini, kau akan bersama Joe melihat-lihat rumah sewa yang akan jadi rumah jahitmu, Sayang. Dia akan mengantarmu," ujar suamiku di sela makan siang kami.
"Kau tidak ikut?"
"Ada meeting penting yang tidak bisa di wakilkan, Sayang. Aku harus terjun sendiri," jawabnya.
"Kalau begitu, besok saja aku melihat-lihatnya."
"Jangan, lebih cepat lebih baik."
Ya, memang lebih cepat lebih baik. Tapi rasanya aku berat jika harus pergi berdua dengan si Joe itu. Semenjak aku tau tentang perasaannya padaku, aku seperti merasa canggung jika bersamanya.
Terpaksa, aku menyetujui hal ini. Karena memang aku butuh rumah jahit ini siap dengan cepat, Riani sudah melakukan interview kepada lima pelamar kerja, tinggal menunggu kesiapan tempat saja.
Usai makan siang, suamiku pamit lebih dulu, ia harus datang ke acara pertemuan tepat waktu. Sedangkan aku, mengikuti langkah tuan Joe masuk ke dalam mobil hitam miliknya.
Hening, kami sama sekali tidak bertukar sapa.
Mobil melaju pelan memasuki sebuah perumahan sederhana di belakang butik, tidak terlalu banyak rumah disini, namun lokasinya cukup strategis, mudah di cari dan mampu di lewati kendaraan cukup besar.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil berhenti di depan sebuah rumah bercat putih dengan halaman yang luas. Di depan rumah di tumbuhi pohon mangga dan beberapa tanaman buah srikaya.
"Turunlah," perintahnya. Aku mengangguk, lalu turun dari mobilnya.
Kami memasuki rumah itu berdua, kebetulan tuan Joe sudah memegang kuncinya.
"Rumah ini sebelumya di jadikan tempat usaha pembuatan jajanan tradisional, jadi tidak memiliki kamar. Hanya ruangan ini dan kamar mandi, ada ruangan cukup besar di belakang sebagai gudang," jelasnya.
Rumah ini cukup luas, tidak memiliki sekat tembok pembatas terlalu banyak, karena hanya ada tiga ruangan. Aku merasa cocok, sepertinya ini yang aku butuhkan.
Setelah melihat bagian dalam dan mempertimbangkan semuanya, ku putuskan untuk memilih rumah ini sebagai rumah jahitku yang baru.
Besok, aku akan mulai melakukan renovasi, seperti memperbarui warna tembok dan mendatangkan semua mesin jahit yang sudah ku pesan
Syukurlah, sedikit demi sedikit usahaku akan membuahkan hasil yang luar biasa.
Usai merencanakan dengan matang semua kegiatanku besok bersama tuan Joe, dia bersedia membantu dengan mendatangkan seseorang untuk melakukan pengecatan, setelah itu, aku di antar untuk mendatangi pemilik rumah dan melakukan perjanjian sewa tahunan.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...