
Akhirnya aku memutuskan pulang lebih awal dari biasanya, karena sudah merasa tidak kuat jika berlama-lama berada di butik.
Setelah sampai di rumah, Salimah langsung dengan telaten mengompres keningku dan memijat kepalaku sampai aku tertidur.
Entah sudah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba tuan Arga sudah duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambutku.
"Honey, kau sudah pulang?" Aku menatapnya dengan mata sedikit menyipit, hari masih siang, terlihat dari pancaran sinar matahari yang masuk dari arah jendela kaca, namun tuan Arga ternyata sudah sampai di rumah.
"Ya, Salimah bilang kau sakit, aku langsung pulang ingin melihat kondisimu," ucapnya terlihat khawatir.
"Aku tidak apa-apa, mungkin hanya masuk angin."
"Akan ku panggilkan dokter untuk memeriksamu," lanjutnya.
"Tidak perlu, aku sudah minum paracetamol yang di berikan Salimah, sebentar lagi demamku akan turun." Aku meyakinkan dia.
"Baiklah, jika kau ingin sesuatu, katakan saja."
"Emm, aku ingin makan mie buatan koki di sini," ucapku meringis.
"Makan mie?" tanyanya.
"Iya."
"Sekarang?"
"Tentu saja, tidak mungkin tahun depan."
"Baiklah, aku akan menyuruh pelayan membuatkan mie untukmu," ujarnya lalu beranjak pergi menuju dapur.
Entah mengapa meskipun rasa nyeri di bagian bawah perutku dan sedikit pusing di kepalaku tidak membuatku kehilangan selera makan, sudah beberapa hari ini aku selalu makan lebih banyak dari hari biasanya.
Hampir setengah jam tuan Arga pergi, tiba-tiba dia kembali dengan membawa semangkok mie berukuran jumbo.
"Banyak sekali," kataku saat melihat mangkok besar yang berada di atas nampan.
"Biar kamu puas."
"Tapi, ini terlalu banyak."
"Tidak apa-apa, kalau tidak habis, aku yang akan menghabiskan," jawabnya sambil melepas jas hitamnya dan di gantung di dekat pintu, dia kemudian menggulung bagian lengan kemejanya lalu duduk di sampingku.
"Sini, aku suapi," ucapnya sambil mengambil alih mangkok yang sudah ada di tanganku.
"Tidak perlu, mandilah, aku bisa makan sendiri." Aku menepis tangannya dengan lembut.
"Baiklah, aku akan mandi sebentar," ucapnya lalu segera menuju kamar mandi.
"Oh ya, kemejanya jangan di letakkan di keranjang baju kotor, tinggalkan disini saja," ucapku sambil menepuk kasur di sampingku.
"Ini kotor, memangnya kenapa?" Dia bertanya dengan wajah penasaran.
"Letakkan saja disini, nanti aku sendiri yang akan meletakkannya di keranjang," kataku.
__ADS_1
Dengan raut wajah yang menyelidik, akhirnya tuan Arga tetap melepaskan kemejanya di depanku lalu meletakkannya di sampingku.
Saat dia sudah masuk ke dalam kamar mandi, aku mangalungkan kemeja itu di leherku, aroma tubuhnya yang menggoda bercampur keringat dan bau parfum miliknya membuatku sangat senang, ini seperti aroma terapi yang menenangkan bagiku.
Seketika aku langsung melahap habis seisi mangkok jumbo berisi mie di hadapanku.
Merasa kalau tuan Arga sudah selesai mandi, aku segera meletakkan kemeja itu kembali ke kasur, aku takut dia berpikir yang bukan-bukan karena sikap aneh ku.
Ya, akhir-akhir ini aku memang sangat aneh, aku lebih sering menunggunya pulang sampai tengah malam hanya demi bisa mencium aroma tubuhnya yang bercampur keringat, aneh bukan?
Terkadang, saat pulang dari butik dan aku merasa kesepian, aku diam-diam mengambil kemeja kotor atau bahkan kaos kotor miliknya yang sudah ada di keranjang untuk ku cium-cium sebelum membawanya ke ruangan laundry.
"Kau sudah selesai makan?" tanyanya sambil mengenakan kaos polo berwarna putih di hadapanku.
"Sudah."
"Kau menghabiskan semuanya?" Dia terkejut dengan mulut melongo melihat mangkok besar itu kosong melompong.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Mie semangkok besar habis semuanya? apa perutmu bisa menampung makanan sebanyak itu?"
"Buktinya, aku menghabiskannya."
"Padahal tadi aku berpikir kalau akan meminta sedikit sisa mu, ternyata sudah habis." Raut wajahnya sedikit kecewa.
"Kenapa kau tidak bilang, kalau aku tau pasti akan menyisakan sedikit untukmu, Honey."
"Baiklah, aku akan meminta pelayan membuatnya lagi," ujar ku seraya turun dari tempat tidur.
"Tidak perlu, aku sudah tidak ingin." Dia berjalan menuju sofa favoritnya
Hah, apa dia ngambek?
Kenapa wajahnya berubah seimut itu sih?
Aku memutuskan menghampirinya, entah kenapa dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan kali ini. Wajahnya di tekuk dengan bibir seksi yang sedikit di manyun kan.
"Jangan marah," ucapku duduk di sampingnya.
"Aku tidak marah," jawabnya sambil menatap ke luar jendela kaca.
Kau bilang tidak marah, tapi lihatlah, lubang hidungmu kembang kempis seperti itu. Ah, lucu sekali.
"Aku akan membuatkan mie untukmu," rayuku.
"Tidak perlu, aku hanya ingin makan sisa mu."
"Baiklah, aku akan makan lagi dan menyisakan untukmu, Honey"
"Tidak perlu."
Lihat, kau menggemaskan sekali tuan. Ingin sekali aku memotret wajah lucu mu saat ini dan ku gunakan sebagai wallpaper ponselku.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang jangan marah," ucapku sambil menggenggam tangannya.
"Sudah ku bilang, aku tidak marah." Dia sedikit menaikkan nada suaranya sambil menatap tajam ke arahku.
Tidak marah? Tapi wajahmu jelas-jelas menunjukkan kalau kau marah. Dasar aneh. Lihat, sekarang kau malah melotot ke arahku.
"Baiklah, kalau begitu aku mau pergi menonton Tv." Aku melepaskan genggamanku dan berdiri.
"Pergi saja," Dia melengos sambil melirikku dengan ekor matanya.
"Ya, aku pergi," ucapku datar sambil melangkah sedikit demi sedikit menjauhinya. Aku meliriknya, dia juga melirikku.
Ayolah, aku tau kau tidak ingin aku pergi, cepat katakan kalau kau ingin aku menemanimu disini.
Aku berjalan menuju pintu dengan pelan, sebenarnya aku sendiri tidak berniat untuk pergi ke ruang tengah menonton tv, aku hanya ingin mengetahui apakah tuan Arga masih se-gengsi itu mengungkapkan kalau dia membutuhkanku.
Saat aku sudah memegang gagang pintu, tiba-tiba dia berdiri dari sofa dan melihat ke arahku sambil berdehem.
"Ada apa lagi?" tanyaku datar, tapi hatiku sedang loncat-loncat kegirangan.
"Jangan pergi, disini saja," ucapnya.
"Kau sendiri yang menyuruhku pergi, sekarang kau malah melarangku." Aku berpura-pura kesal.
"Maafkan aku." Dia berjalan mendekat, lalu menggandeng tanganku untuk kembali duduk di sofa.
Saat aku mau menghempaskan bokong bahenolku di sofa, tiba-tiba perutku terasa seperti di aduk-aduk, kerongkongan terasa penuh seperti ada yang mendorong kuat untuk mengeluarkan seluruh isi perut.
Aku berlari kelimpungan sambil menutup mulut dengan kedua tanganku menuju kamar mandi.
"Ada apa, Sabrina?" Wajah tuan Arga terlihat sangat panik.
Aku berdiri di depan kloset kamar mandi sambil mengeluarkan semua isi perutku yang terdorong. Mulutku terus memuntahkan makanan dan minuman yang tadi sudah ku telan, bahkan mie yang baru saja ku makan ikut keluar semuanya.
Wajah panik dan khawatir tuan Arga tidak bisa di sembunyikan, dia memijat tengkuk leherku dengan pelan, berharap aku segera berhenti muntah.
Usai aku merasa lega, tuan Arga memapah tubuhku menuju tempat tidur, dia membantuku duduk sambil meletakkan bantal yang di tumpuk di belakang tubuhku. Aku duduk bersandar dengan mata yang berair dan wajah yang sangat pucat.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1