TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Aku pergi!


__ADS_3

Akhirnya tuan Arga mengizinkan ayah dan ibuku menginap semalam di rumah sakit ini, bahkan ruangan sebelah sudah di sulap bagai hotel bintang lima dengan kasur dipan, sofa, dan peralatan dapur lengkap untuk mempermudah ibu memasakkan makanan untukku.


Hampir semalaman penuh, tuan Arga terjaga, dia duduk di kursi dekat ranjangku sambil terus menggenggam erat tanganku, sesekali dia menciumi punggung tanganku.


Aku tidak tau lagi apa maksudnya begitu peduli padaku, apakah ini hanya bentuk dari rasa kasihan karena aku sudah kehilangan calon anakku?


Sekilas aku memandang netra coklatnya yang memerah, apa mungkin dia menangis, menangisi anak yang belum sempat dia lihat, atau menangis karena aku sakit, entahlah.


"Istirahatlah," kataku saat matahari sudah terlihat keluar dari peraduannya. Karena aku juga tidak bisa tidur, mataku memang terpejam, tapi pikiranku melayang ke mana-mana.


"Aku tidak lelah," jawab tuan Arga.


"Kau tidak bekerja?"


"Tidak, aku akan menjagamu disini."


"Sa, ayah dan ibu harus pulang, hari ini ayah banyak pekerjaan di kantor, dan bi Ijah sedang pulang kampung, jadi ibu harus mengurus rumah dulu," kata ibuku sambil mendekat.


"Pulanglah, Bu. Sabrina sudah membaik," timpal tuan Arga.


"Kalau sudah boleh pulang, kabari ibu, Nak." Akhirnya ayah dan ibu pamit untuk pulang, kini tinggal aku dan tuan Arga yang bungkam dalam keheningan.


...


Siang ini Claire datang mengunjungiku, dia sudah datang jauh-jauh dari Paris hanya karena mendengar kabar aku sakit.


"Sabrina, lekaslah sehat, nanti aku akan mengajakmu berkeliling Eropa," ucapnya tersenyum.


"Aku tidak suka Eropa, bagaiman kalau Korea?"


"Korea? tentu saja, apa kau mengidolakan salah satu artis di sana?"


"Ya, aku suka sekali melihat Kim Jaejoong," kataku antusias.


"Benarkah? kebetulan sekali, aku punya foto beserta tanda tangannya langsung." Claire merogoh tasnya, dia memberikan selembar foto dengan sebuah tanda tangan dari spidol hitam.


"Aku mendapatkannya saat ke Korea beberapa waktu lalu, saat itu kami terlibat dalam satu acara, jadi aku iseng meminta tanda tangannya," lanjut Claire.


"Wah, terimakasih banyak, Claire. Aku suka sekali," ujarku tersenyum.


"Cepatlah membaik, relakan anakmu, kau bisa membuatnya lagi bersama Arga." Kali ini di bumbui dengan tawa cantik yang khas darinya. Sedangkan aku hanya tersenyum kecil menanggapinya.


Tiba-tiba tuan Arga berdiri di belakang Claire, dia menatap foto yang ada di tanganku.


"Siapa laki-laki itu?" tanya tuan Arga.


"Dia seorang artis, Ga. Istrimu mengidolakannya," jawab Claire tanpa di tutup-tutupi.


"Hah, aku lebih tampan darinya," tuan Arga tersenyum miring.

__ADS_1


"Selera orang kan berbeda, lagi pula dia artis terkaya di Korea," lanjut Claire.


"Aku lebih kaya, aku bisa saja membayarnya untuk menjadi tukang kebun di rumahku, dia pasti akan dengan senang hati menerima tawaranku," ujar tuan Arga sombong.


"Percuma berdebat denganmu, pergilah. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Sabrina," usir Claire.


"Dasar wanita!" ejek tuan Arga, sedangkan Claire hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan sahabatnya.


Akhirnya Claire menemaniku di dalam ruangan ini sampai sore, lalu dia pamit untuk segera kembali ke Paris, dia ada beberapa acara yang harus di datangi besok pagi.


"Hubungi aku jika kau butuh sesuatu, Sabrina," ujarnya tersenyum ramah.


Aku mengangguk, begitu senang hatiku mendapatkan teman seperti Claire, dia tidak hanya seorang pendengar yang baik, tapi dia juga bijak dalam memberi nasehat.


Selepas kepergian Claire, papa mertuaku juga datang berkunjung. Dia memberikan kekuatan padaku untuk tetap sabar dan mendoakan yang terbaik untuk calon bayiku.


Raut wajahnya begitu sendu, aku tau laki-laki itu sangat kecewa, cucu yang sudah di nantikannya selama ini sudah kembali pada sang pencipta sebelum dia sempat menimangnya.


...


Pagi ini selang infus dan berbagai peralatan medis sudah terlepas dari tubuhku, nanti sore aku sudah di izinkan pulang jika kondisi tubuhku sudah stabil.


"Selamat pagi, Nona," ucap tuan Joe sambil membawa segebok bunga mawar putih di depan dadanya.


"Untukmu," lanjutnya seraya meletakkan bunga itu di samping ranjangku.


"Sebanyak ini?" Aku mengernyitkan dahi.


"Terimakasih, sekarang dia di mana?" tanyaku, karena dari pagi aku belum melihat laki-laki itu datang melihatku.


"Sedang menemui Hana," jawab tuan Joe.


Sudah ku duga, kau memang memanfaatkan situasi ini, Tuan. Haruskah aku mengalah untuk pergi, atau bertahan dengan rasa sakit yang kian menggerogoti jiwaku.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya tuan Joe membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk.


"Bagaimana kau bisa terjatuh sampai seperti ini? apakah terjadi sesuatu?" tanya tuan Joe dengan tatapan menyelidik.


"Tanyakan saja pada Hana," jawabku singkat lalu berbalik badan membelakanginya.


Tuan Joe hanya mengangguk, sepertinya dia mengerti maksudku. Beberapa saat kemudian tuan Arga masuk untuk menyuapiku sarapan pagi, setelah itu tuan Joe mengajaknya keluar sebentar, sepertinya mereka sedang mendiskusikan sesuatu, aku tidak mengerti.


...


"Sa, aku harus pergi sebentar untuk mengurus sesuatu yang sangat penting, jangan kemana-mana, ada dua pengawal yang menjagamu di depan pintu, kau akan aman," ucap tuan Arga lalu mengecup keningku kilas.


Aku hanya mengangguk.


"Aku akan segera kembali, kau mau pesan sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak."


"Baiklah, aku hanya sebentar," ucap tuan Arga lalu pergi.


Beberapa saat setelah dia pergi, aku memutuskan mengambil ponsel milikku di atas nakas, lalu menghubungi seseorang yang sedang ku butuhkan.


Aku menuruni ranjang dengan masih berpakaian pasien, lalu melangkah membuka pintu.


"Nona, mau ke mana?" tanya seorang pengawal yang sama saat beberapa hari yang lalu membuntutiku berbelanja di mall.


"Aku ingin menghirup udara segar," jawabku.


"Baiklah, kami akan mengikuti nona."


"Ya," jawabku datar lalu berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Kedua pengawal itu berjalan tidak jauh di belakangku.


Aku keluar dari halaman rumah sakit, di depan pintu gerbang rumah sakit aku melihat butik kecil di sebrang jalan.


"Aku akan ke butik itu sebentar, aku ingin membeli baju ganti," ucapku pada pengawal itu. Dia mengangguk.


"Tunggu disini." Aku menunjuk bangku kayu di dekat pintu masuk butik.


Aku memilih satu setel pakaian yang pas di tubuhku, sebuah celana panjang dengan kaos lengan pendek. Aku juga memilih sebuah jaket dan kaca mata, lalu sebuah topi untuk menyempurnakan penampilanku.


Ku buka ponselku, menghubungi seseorang yang sudah berjanji akan datang saat ini juga, beberapa menit kemudian, sebuah mobil putih terparkir di depan butik.


Aku segera membayar semua barang yang sudah ku pilih, lalu bergegas menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian rumah sakit ini dengan baju baru.


Setelah sempurna, aku berjalan keluar butik melewati dua pengawal yang sedang duduk santai menikmati kendaraan yang berlalu-lalang, mereka tidak menyadari kalau aku sudah keluar lebih dulu.


Dengan langkah kaki cepat aku memasuki mobil putih yang sudah menungguku, ku lihat seseorang sudah duduk di kursi kemudi sambil tersenyum simpul menatap penampilanku yang tidak karuan ini.


Aku memutuskan untuk pergi, pergi beberapa saat untuk menata kembali hatiku yang telah hancur berkeping-keping.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2