
Akhir-akhir ini Sabrina tampak lebih bersahabat denganku, entahlah apa yang mendasari sikapnya yang biasa cuek dan enggan menyapa, namun aku tau perubahan istri boss-ku itu sejak kedatangan Claire dan penolakan Claire atas lamaranku.
Aku selalu konsisten pada hati yang telah ku pilih, itulah sebabnya aku tidak mudah menerima orang lain untuk sedikitpun menggeser seseorang yang namanya sudah tertanam cukup dalam di hati ini.
Tidak sekalipun aku pernah tertarik dengan seorang wanita, namun nyatanya pesona anggun dan penampilan Sabrina saat pertama kali kami bertemu membuatku seakan hidup kembali, hidup dengan warna yang baru tentunya.
Kehidupan yang ku jalani semula hanya datar bahkan seperti jalan di tempat, tak sekalipun bergerak untuk membuat perubahan. Selama ini yang ada dalam pikiranku hanya membantu boss semampuku.
Aku seperti sudah menyerahkan hidupku padanya, pada orang yang sudah menolong hidupku yang terpuruk bertahun-tahun lalu, tanpanya aku tidak akan bisa menjadi seperti sekarang, terlintas ingatan masa lalu tentang pertemuan pertama kami.
"Tolong aku, tolong bantu aku, Tuan. Bantu aku untuk membiayai ibuku,, dia sekarat," pintaku pada seorang lelaki gagah dengan pakaian rapi yang duduk dengan angkuh di kursi besar di rumahnya yang saat ini sering ku datangi.
"Apa imbalanmu jika aku menolong?" tanyanya dengan dingin.
"Akan ku serahkan hidupku," ujarku tegas.
Dengan aba-aba untuk semua pengawal yang sedari tadi berdiri tidak jauh darinya membantuku berdiri dari sujudku di dekat kakinya.
Dia berkata dengan tegas untuk menyuruhku menjadi orang kepercayaannya, entah mimpi apa aku semalam, laki-laki itu menerima semua permohonanku dan mempermudah segala urusanku. Aku hanya perlu menuruti perintahnya.
Ibuku, satu-satunya orang yang aku miliki, kian hari kian membaik dan kembali sehat, kehidupan kami menjadi layak bahkan lebih baik setelah aku bekerja dengan boss.
Lima tahun yang lalu, beliau berpulang ke pangkuan sang pencipta dengan bahagia, setelah putra tunggalnya menjadi orang sukses mendampingi penguasa besar, Argadiansyah.
Dia mempercayakan semua urusannya padaku, dan aku tidak akan pernah sekalipun membuatnya kecewa, termasuk menyusup pelan ke dalam hati istrinya, aku tidak akan melakukannya meskipun hatiku berteriak keras untuk memperjuangkan wanita yang menjadi cinta pertamaku itu.
Perasaan aneh timbul saat pertama kali aku melihat gadis itu mengoceh di lampu merah, lalu pertemuan kedua kami, dan aku mencari tau semua tentangnya. Namun harapan akan cinta itu sirna ketika aku menyadari, mustahil aku memilikinya.
__ADS_1
Ya, dia di jodohkan untuk bersanding dengan boss-ku sendiri, orang yang sangat berjasa dalam hidupku dan mempercayaiku selama ini, dengan ikhlas aku membekukan hatiku, menumpulkan cinta yang mulai menajam, mencoba menahan diri menerima semua ini.
Bukankah cinta itu sebuah keikhlasan, ikhlas untuk tidak saling memiliki, karena cinta yang sebenarnya adalah asal dia bahagia, aku? kapan-kapan saja.
...
Claire adalah gadis cantik, baik, wanita mandiri yang karirnya kini sedang meroket.
Sejak lama, aku tau dia menyimpan perasaan padaku, bukan berniat mengabaikan, namun aku selalu konsisten dengan pendirian, menempatkan hanya satu nama di hati, dan tidak membiarkan orang lain menggesernya sedikitpun, nama Sabrina.
Aku harus benar-benar memastikan orang yang mampu mencuri segenap hatiku itu bahagia, sebelum melepasnya pergi dan menerima hati yang lain. Dan, kini wanita itu sudah sangat bahagia, dia sudah memberiku seorang keponakan bernama Chamomile. Aku menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri.
Dan, Calire. Dia menolakku, kini dia sudah memiliki laki-laki lain yang jauh lebih baik dariku, tak apa. Aku baik-baik saja meskipun berkali-kali kecewa.
Aku menyadari bahwa sikapku itu salah, mengabaikannya saat dia sedang sayang-sayangnya. Tak apa, aku akan memastikan sampai ia benar-benar bahagia dulu sebelum aku membuka hati untuk orang lain, begitulah aku.
...
"Sudah, Boss. Tapi, ada yang janggal."
"Jika sesuai dengan tebakan, maka sertifikat perusahaan beserta gedung itu atas nama istrimu secara sah," jawabku ragu, namun aku harus mengutarakan kejanggalan yang ku temui saat mengunjungi perusahaan milik keluarga Sabrina.
"Ah, kejutan sekali, ada main-main di belakang rupanya. Apa mereka merahasiakan sesuatu?"
"Entahlah, tapi dari percakapan yang ku dengar, adik sabrina dan ayahnya sempat cekcok masalah pengalihan nama sertifikat itu, sepertinya adiknya ingin menguasai harta keluarganya," terangku.
"Itu bukan sesuatu yang mengejutkan," jawab boss santai.
__ADS_1
"Aku heran, bagaimana bisa dua wanita bersaudara memiliki perilaku dan sifat yang sangat bertolak belakang, istrimu dan adiknya sama sekali tidak memiliki kesamaan," kataku.
"Kita sepemikiran, Joe. Kau tidak akan percaya betapa liarnya gadis itu jika aku menceritakan suatu rahasia padamu, sangat berbeda dengan kakaknya yang lembut," sergah boss, ia duduk di kursi kebesarannya sambil mengetuk bolpoint ke dahinya berkali-kali.
"Dia liar?" Aku mengernyitkan dahi.
"Ah, sudahlah. Aku tidak suka kita membahas manusia tak berakhlak, aku muak." Boss memijat pelipisnya.
Kami diam, sama-sama tenggelam dalam keheningan. Meskipun tanganku sibuk dengan setumpuk laporan, namun pikiranku masih di penuhi dengan keanehan dua bersaudara itu.
"Joe, kau bisa membantuku?"
"Katakan, akan ku lakukan semampuku, Boss."
"Cari semua informasi pribadi milik keluarga besar istriku, asal usul, keturunan, kelahiran anak-anaknya, bahkan aku ingin bukti kuat atas kelahiran istriku dan adiknya, aku tidak akan hidup tenang jika menyangkut istriku," pinta boss.
"Baiklah, kau meminta pada orang yang tepat, Boss."
Entah, orang di hadapanku ini tau atau tidak jika aku pernah sangat menginginkan istrinya, bahkan sampai mereka menikah. Namun, dia manusia super segalanya, tidak mungkin jika dia tidak mengetahui perasaanku, tapi sepertinya dia tidak menganggapku sebagai halangan.
...
Mencari semua informasi pribadi sebuah keluarga besar bukan merupakan perkara sulit bagiku, namun keluarga Sabrina ini terlihat rumit, karena akte kelahiran yang di miliki keluarga Sabrian sepertinya bukan asli, ada sesuatu yang di rahasiakan disana.
Hampir satu bulan, aku mengorek berbagai informasi tentang keluarga itu, semua garis keturunan bahkan golongan darah setiap anggota keluarga, lagi-lagi aku menemukan kejanggalan, golongan darah Sabrina berbeda dengan kedua orang tuanya, sedangkan Safira, adiknya itu memiliki golongan darah yang sama dengan ayahnya.
Berdasarkan penglihatan, Sabrina memang sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan kedua orangtuanya, bahkan dengan adiknya. Rambut, warna mata, bentuk wajah, hidung, semuanya berbeda, tidak mirip ayah ataupun ibunya.
__ADS_1
Berbeda dengan Safira, gadis yang di juluki 'liar' oleh boss itu memiliki banyak kesamaan dengan kedua orangtuanya.
Sampai akhirnya, aku menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Sabrina dan Safira, ternyata ...