TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Bukan laki-laki idaman


__ADS_3

"Tuan memanggil saya?" tanyaku pada tuan Arga yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


Tubuh sempurnanya terpampang nyata di hadapanku, perut yang berbentuk kotak-kotak itu mengingatkanku pada roti sobek, namun yang ini tidak perlu di makan, hanya cukup memandangnya saja sudah melegakan. Dia melilitkan handuk putih di pinggangnya.


Air yang masih menetes dari tubuhnya mengalir di atas kulit mulusnya, dada bidangnya seakan melambai-lambai ingin ku sentuh. Tuan Arga mengacak-acak rambutnya yang masih basah dengan sebelah tangan.


Pemandangan indah macam apa ini ya Tuhan. Kenapa kau menciptakan laki-laki sesempurna itu, paling tidak berilah dia sedikit kejelekan agar aku punya alasan untuk tidak memandangnya secara berlebihan.


Aku menelan ludah, memandang laki-laki itu berjalan pelan menghampiriku.


"Kau melihat apa?"


"Sa, saya tidak melihat apa-apa, Tuan." Aku gugup.


"Kau terpesona dengan ketampananku?" Dia tersenyum miring.


"Hah, tuan bahkan bukan type laki-laki idaman saya," ucapku beralasan, bohong sekali kata-kataku barusan.


"Kau yakin?"


"Yakin, seratus persen yakin."


"Apa kau masih bilang kalau aku ini bukan laki-laki sesuai typemu jika ku buka handuk ini?" Dia menyentuh ujung handuk yang menutup area pribadinya.


"Apa yang mau tuan lakukan?" Aku mundur beberapa langkah.


Hal gila apalagi yang akan laki-laki ini lakukan.


"Aku hanya mau mengujimu." Tuan Arga semakin mendekat meskipun aku berangsur mundur.


"Saya mohon, jangan berbuat yang tidak-tidak, Tuan." Aku mengatupkan kedua tanganku di dada.


"Berbuat yang tidak-tidak itu seperti apa, lagipula kau sudah menikmatinya berkali-kali, kau pasti suka," ucapnya sambil tersenyum jahat.


"Jangan, Tuan." Aku terus menjauhinya sambil memohon-mohon seperti akan di culik orang jahat.


"Kemarilah." Dia merentangkan kedua tangannya ingin di peluk.


"Tidak mau!"


"Cepat, ini perintah."


"Tidak mau!" Aku menggeleng kuat.


Tanpa aba-aba dia berlari kecil ke arahku dan langsung memelukku begitu erat, dekapan hangat inilah yang membuatku ingin lekas pulang saat berada di butik. Dekapan hangat inilah salah satu hal yang membuatku betah berlama-lama bersamanya.


"Sudah," ucapnya melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju ruang ganti.


"Sudah? apanya?" Aku kebingungan.


"Aku kan hanya ingin di peluk, lalu menurutmu aku akan melakukan apa?" Dia berbalik menatapku.


"Eh, tidak apa-apa," ucapku.

__ADS_1


"Kau memang suka berpikir mesum, Ya." Tuan Arga tertawa jahat sampai di dalam ruang ganti.


Aku tidak berpikir mesum, Tuan. Aku hanya takut kau berbuat macam-macam padaku.


Setelah tuan Arga berganti pakaian, dia memintaku duduk di sofa favoritnya lalu dia meletakkan kepalanya di pangkuanku. Aku tidak ingin terlalu banyak bertanya, aku sudah lelah berdebat dengannya.


Aku menatap wajah tampan dalam diam, hanya memperhatikannya tanpa berniat menyentuhnya, aku tau kalau dia tidak mencintaiku, jadi aku juga berusaha menutup rapat hatiku agar tidak sampai jatuh ke dalam jurang yang belum ku ketahui kedalamannya.


Kedua mata laki-laki itu terpejam erat, nafasnya sangat tenang, dia melipat kedua tangannya di atas dada. Aku sangat menikmati pemandangan ini.


Tiba-tiba tangan kanannya meraih tanganku, lalu meletakkannya di atas kepalanya. Dia memberikan kode agar aku mengelus rambutnya.


"Aku suka," ujarnya dengan mata yang masih terpejam.


"Suka apa?" tanyaku tidak mengerti.


"Suka jika kau melakukan ini." Dia tersenyum simpul, mungkin maksudnya adalah dia suka jika aku mengelus rambutnya.


"Benarkah?" Aku penasaran.


"Ya, sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini, sejak kepergian mamaku," ucapnya pelan.


Aku diam, tidak tau harus berkata bagaimana atau bertanya apa lagi, aku tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya. Bahkan aku sama sekali tidak mengerti maksudnya, pergi kemana mamanya, meninggal kah?


Aku hanya menebak, memandang raut sendu laki-laki itu membuat nyaliku ciut untuk bertanya. Jika memang dia mempercayaiku, tanpa di minta sekalipun, dia akan menceritakannya.


"Mulai besok aku akan sering pulang malam, Sabrina," ujarnya membuka mata menatap lekat kedua mataku.


"Ada apa?"


"Hmm, baiklah." Entah mengapa, namun aku merasa sedikit kecewa mendengar hal ini.


"Kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, Tuan." Aku mencoba menyembunyikan perasaan sedihku dengan melempar pandangan ke luar jendela kaca.


"Mungkin ini akan berlangsung satu bulan, tapi aku akan berusaha agar semua pekerjaan lebih cepat."


Apakah dia berpikir kalau aku tidak bisa jauh darinya?


"Saya benar-benar tidak apa-apa, Tuan. Sungguh," ucapku meyakinkannya.


Bukankah seharusnya aku lebih senang jika dia jarang di rumah, itu akan sedikit membuatku bernafas lega tanpa aturannya, perintahnya, omelannya, dan hal-hal menyebalkan lainnya, tapi kenapa aku malah sedikit kecewa dengan hal ini. Aku sendiri bingung mengartikan perasaanku.


"Baiklah, aku sudah menyuruh sopir itu untuk terus menjagamu."


"Terimakasih banyak sudah membuat saya tetap merasa aman, Tuan." Aku tersenyum tulus, dia membalas senyumku.


Ah, rasanya ada getaran-getaran aneh di tubuhku saat melihatnya bersikap begitu manis padaku, senyum itu bahkan bisa membuat tubuhku lemas dan tenggelam dalam kehangatan. Sungguh kau laki-laki idaman, Tuan.


Akhirnya dia benar-benar terlelap di pangkuanku, aku tetap mengelus rambutnya dengan pelan, harum rambut ini memang lebih wangi dari rambutku, sesekali aku mencium aromanya yang masih menempel di tanganku.


Aku melamun sambil menunggunya sampai terbangun, menatap nanar luar jendela yang sudah mulai menggelap, matahari sudah bersembunyi membawa berkas cahayanya, hanya tertinggal lampu-lampu taman yang berusaha menerangkan sebagian sisinya.

__ADS_1


Kakiku sudah terasa nyeri menahan beban kepala tuan Arga, tapi aku tidak setega itu jika membangunkannya. Aku hanya mencoba menggerak-gerakkan sebagian tubuhku agar tidak kaku.


Namun dia malah mengubah posisinya dari terlentang menjadi miring, wajahnya tepat menghadap perutku, dia melingkarkan lengannya di sana.


Beberapa kali terdengar suara ponsel yang bergetar dari atas meja tidak jauh dariku, entah sudah berapa kali, namun getaran itu terus menerus tak berhenti.


Tangan kananku mencoba meraih ponsel itu, aku sedikit menggeser dudukku agar bisa meraihnya.


Hana, itulah nama yang tertulis di layar ponsel yang sedang bergetar cukup lama.


Ada apa wanita ular itu menelpon terus menerus seperti ini, mengganggu saja.


Aku reject panggilannya, meletakkan ponsel itu kembali di atas meja, namun hanya beberapa detik, ponsel itu kembali bergetar.


Menyebalkan sekali, apa sih mau wanita itu?


Aku mendengus kesal.


"Siapa?" tanya tuan Arga sambil semakin membenamkan wajahnya di perutku.


"Tidak tau." Aku malas menyebut namanya.


"Memangnya siapa nama yang tertulis di layarnya?" tuan Arga kembali bertanya.


"Hmm, nona Hana," jawabku malas.


"Oh, Hana. Biarkan saja dia."


"Memangnya kenapa dia menelpon berkali-kali, apakah ada hal penting?" tanyaku begitu penasaran.


"Dia memang selalu begitu, terkadang hanya menanyakan apakah aku sudah makan atau belum."


"Hah, hanya itu?" Aku sedikit terkejut.


"Ya, dia begitu perhatian padaku." jelasnya.


Kau ini sama sekali tidak mentoleransi perasaanku, Tuan. Dengan entengnya kau bilang bahwa ada wanita lain yang begitu perhatiannya padamu, sedangkan selama ini aku bahkan tidak tau berapa nomor ponselmu. Aneh bukan?


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2