TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Penggoda


__ADS_3

Suamiku menggandeng tanganku menuruni anak tangga, aku berpamitan pada Riani untuk pergi makan siang sebentar.


"Titip butik dulu, ya, Ni."


"Iya, Sa."


Aku keluar dari butik dan masuk ke dalam mobil bersama suamiku, kami menuju sebuah restoran Jepang yang letaknya tidak jauh dari sini, hanya sekitar lima menit ke arah selatan butik.


Kami memilih tempat duduk di bagian paling pojok dan dekat dengan jendela, ini seperti sudut favoritku ketika mengunjungi resto atau caffe manapun.


Seorang pelayan wanita memakai seragam berwarna hitam dengan corak merah itu menghampiri kami, memberikan buku menu dan menunggu kami untuk memilih. Ia memakai rok yang super mini dengan atasan yang sangat ketat hingga menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi, kaki jenjang yang mulus terlihat memakai high heels berukuran sepuluh centimeter, rambut bercat pirang sebahu membuatnya terlihat menggoda.


Sesekali ku lirik wanita itu menatap suamiku dengan tatapan aneh, ia seperti mesin yang sedang memindai barang di hadapannya, menatap lekat suamiku tanpa berkedip.


"Ehem." Aku berdehem, membuat wanita itu terkejut dan menyadari ada sosok wanita yang membersamai laki-laki yang sedang ia perhatikan dengan seksama.


Jujur, aku sendiri sangat tidak suka jika ada mata wanita lain yang terlalu mengagumi suamiku, bagaiamanapun aku ini normal, aku juga memiliki rasa cemburu yang begitu besar.


Usai memilih beberapa menu, suamiku kembali menyerahkan buku menu itu dan si pelayan segera pergi dari hadapan kami.


"Pelayan tadi, sepertinya tertarik padamu, Honey," ujarku membuang muka.


"Benarkah? mungkin hanya perasaanmu saja," jawabnya.


"Hah, dia bahkan sampai lupa berkedip saat melihatmu." Aku sedikit kesal.


"Itulah resiko memiliki suami setampan aku, Sayang," katanya dengan nada sombong, ia tersenyum kecil melihat wajahku yang muram.


"Hah, ternyata kau juga suka jika diam-diam di perhatikan begitu, ya." Aku mencebik.


"Semua orang suka mendapatkan perhatian. Sudahlah, jika kau tidak suka kita makan disini, aku akan dengan senang hati mengajakmu berpindah ke resto lain," ungkapnya.


"Sudah terlanjur pesan makanan, aku mau ke toilet dulu," ujarku lalu berdiri meninggalkan suamiku duduk menatap ke arah luar jendela kaca.


Aku melihat pelayan wanita yang baru saja melayani kami sedang berbisik-bisik dengan teman sesama pelayannya, sesekali ia menunjuk-nunjuk ke arah meja yang kami tempati.


Aku berusaha cuek dan tidak peduli, lalu menghampiri mereka dan menanyakan letak toilet di tempat ini. Mereka menunjuk sebuah lorong ke arah belakang bagian dapur.


Usai buang air kecil dan kembali merapikan pakaianku, aku kembali berjalan menuju meja makan.


Dari kejauhan, aku melihat dua wanita sedang bergantian membawa pesanan kami menuju meja di hadapan suamiku. Aku berdiri mematung memperhatikan, menunggu mereka selesai menata sajian di atas meja.


Wanita itu menjatuhkan sebuah sendok, ia mengambilnya dengan menungging membelakangi suamiku, rok mini yang panjangnya hanya beberapa centimeter di bawah bokongnya, sedikit tersingkap, memperlihatkan isi di dalamnya. Namun, suamiku sepertinya tidak tertarik melihat si penggoda itu.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja menjatuhkannya, akan saya ambilkan yang baru," ujar si pelayan sambil mengelus pelan punggung tangan suamiku, dengan cepat ia menepis tangan nakal wanita itu.


"Heh, kamu yang sopan, ya!" bentak suamiku dengan mimik wajah kesal.


"Eh, maaf, Tuan. Maaf," kata pelayan itu ketakutan seketika. Ia berlalu pergi dengan wajah merah padam.


Ah, kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa, Nona penggoda. Dia memang singa, singa lapar. Namun dia tidak mudah di takhlukkan dengan hanya memberi umpan secuil daging.


Aku melangkah mendekati suamiku, berpura-pura tidak tau apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Ada apa, Honey?" Aku bertanya dengan santai, sambil duduk merapikan gaun selutut milikku.


"Hah, aku tidak suka tempat ini."


"Memangnya kenapa?" tanyaku.


"Sudah, tidak apa-apa. Ayo makan, sebelum selera makanku hilang," ujarnya menghela nafas panjang, ia meneguk segelas jus jeruk yang terhidang.


"Apakah pelayan wanita itu menggodamu?" tanyaku memancing.


"Dia tidak hanya menggodaku, dia .... Ah, sudahlah."


"Dia kenapa?" Aku menatapnya dengan menampakkan mimik wajah penasaran. Namun ia tidak menanggapi, melanjutkan makannya lebih dulu dengan wajah di tekuk.


Beberapa menu yang di pesan tidak di habiskan, entah karena sudah kenyang atau dia sudah kehilangan selera makan, ia hanya mencicipinya sedikit.


Selesai makan, kami menuju meja kasir untuk membayar.


"Bisa panggilkan manager resto ini?" pinta suamiku pada laki-laki muda yang duduk di depan layar komputer.


"Ada apa, ya. Sebaiknya di bicarakan baik-baik dulu jika ada keluhan, sebelum langsung menemui manager kami, Tuan," ujar petugas kasir.


"Tidak, aku mau langsung bicara padanya. Aku tidak punya banyak waktu, cepat panggilkan," perintah suamiku dengan nada suara yang semakin meninggi.


Aku menggandeng lengannya sambil mengelusnya, mencoba menenangkan ia yang di lahap emosi, sepertinya ia memang tidak mau menerima sebuah kesalahan, sekecil apapun itu.


Tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya keluar dari sebuah ruangan di dekat meja kasir. Ia terlihat tergesa-gesa menghampiri kami, wajahnya begitu khawatir.


"Maafkan saya, Tuan Wijaya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi sampai tuan berteriak?" tanya laki-laki berjas hitam dengan rambut yang sudah di sisir rapi itu, sepertinya ia manager resto ini.


"Ba, baik, Tuan. Maafkan keteledoran saya dalam hal ini."


"Kalau sampai aku melihat ada pelayan yang bersikap tidak sopan dan berusaha menjadi penggoda, maka aku tidak akan segan-segan menutup resto ini. Dengar!"


"Baik, Tuan. Baik, maafkan kesalahan kami, kami berjanji akan memperbaikinya." Manager resto itu mengusap peluh yang mengucur dari dahinya, ia terlihat sangat khawatir sekaligus takut.


Dengan langkah cepat, suamiku menggandeng tanganku keluar dari resto. Aku hanya mengikuti langkahnya sampai di mobil, aku tidak bernyali jika harus ikut campur dalam masalah seperti ini.


Kami memasuki mobil, ia diam sesaat sebelum menyalakan mesin mobil, aku menyodorkan sebotol air mineral padanya.


"Minum dulu, Honey. Jangan terlalu keras pada orang lain, seharusnya semua bisa di bicarakan baik-baik," ujarku hati-hati, aku takut salah bicara jika dia dalam keadaan emosi.


"Manusia-manusia seperti itu adalah penghancur kehidupan orang lain, untuk apa pelayan bertingkah macam-macam? menggoda laki-laki kaya, menidurinya, lalu merampas hartanya?"


"Sudah, apa yang kau lakukan akan menjadi pelajaran untuk mereka. Sekarang kita kembali ke butik dulu," ajakku sambil menggenggam tangannya.


Mobil melaju pelan menuju butik, ia tidak langsung kembali ke kantornya, melainkan ikut masuk ke dalam butik terlebih dahulu.


"Tidak langsung kembali? kau sedang tidak ada pekerjaan, Honey?" tanyaku. Ia duduk di sofa dan menepuk pahanya, mengisyaratkan jika aku harus duduk di pangkuannya.


"Aku lebih suka dengan pekerjaanku saat ini," jawabnya tersenyum.


"Pekerjaan apa?"

__ADS_1


"Mencumbumu setiap waktu."


"Hah, sudah. Kembalilah ke kantor, Joe pasti sudah mencarimu, Honey."


"Aku akan kembali, jika kau memberiku waktu sepuluh menit sebagai hidangan pencuci mulut."


"Jangan macam-macam, kita sedang di butik, Honey." Aku menggeser tubuhku dari pangkuannya, namun ia malah membuatku duduk menghadap tubuhnya.


"Aku tidak tahan jika melihatmu seperti ini," katanya sambil membelai wajahku, ia menyelipkan anak rambut ke belakang telingaku.


"Kau pasti sudah tegang sejak melihat pelayan wanita tadi menggodamu, kan?"


"Tidak, tidak ada yang lebih menggoda selain dirimu."


"Bohong!"


"Sungguh, aku akan membuktikannya."


Ia mendekatkan tubuh kami hingga tak lagi berjarak, kecupan demi kecupan menghujani wajahku, tangan nakalnya sudah mulai bermain, membelai setiap jengkal kulit di tubuh ini.


"Kita akan melanjutkannya nanti, Honey. Ku mohon, jangan sekarang." Aku mendorong dadanya.


"Ah, kau tau rasanya, Sayang. Ini seperti sudah terbang tinggi-tinggi, belum sampai puncak sudah di hempaskan begitu saja, sakit tapi tak berdarah."


"Aku berjanji, kita akan melakukannya nanti."


"Baiklah, jangan salahkan aku jika kau sampai tak bisa bernafas. Itu akan jadi hukuman karena sudah membuatku menundanya siang ini."


"Baiklah, baiklah. Ayo, ku antarkan kau sampai ke depan."


Aku merapikan rambut dan bajuku yang betantakan karena ulahnya, ku dorong tubuhnya keluar dari ruanganku dan mengantarnya sampai depan pintu.


"Ku jemput kau jam tiga, Sayang." Ia masuk ke dalam mobil meninggalkan butik.


Hah, lega rasanya melihat harimau kelaparan itu sudah pergi. Setidaknya aku selamat siang ini. Urusan nanti, ya di pikir nanti.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2