TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Merubah penampilan


__ADS_3

Hari ini Claire membatalkan semua acaranya demi menemaniku berdiam diri di apartemen miliknya.


Tempat yang tidak begitu mewah, tapi sangat rapi dan nyaman, tidak banyak barang yang ada di dalam ruangan ini, tapi Claire menatap semuanya dengan begitu cantik.


"Kau mau jalan-jalan, Sa?" tanya Claire saat selesai sarapan pagi bersama.


"Aku sedang tidak ingin pergi kemanapun, Claire."


"Ayolah, bagaimana kalau menemaniku ke salon atau tempat spa?"


"Tapi---."


"Ayo kita memanjakan diri sejenak, Sa. Wanita juga butuh me time. Lihatlah, sekarang tubuhmu sangat kurus, jauh berbeda dari pertama kali kita bertemu dan saat aku berkunjung ke rumah sakit," ucap Claire sambil mengarahkan jari telunjuknya ke tubuhku.


"Apa kau sedang diet?" tanya Claire.


"Tidak, aku hanya sedang tidak berselera makan akhir-akhir ini," kataku pelan.


"Baiklah, tapi kau sukses membuat bentuk tubuh ramping bak gitar spanyol, Sa. Arga akan semakin klepek-klepek melihatmu," ujar Claire sedikit tertawa.


Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Tidak ada niat sama sekali dalam hatiku untuk diet, namun masalah yang menimpaku saat ini membuat selera makanku hilang bagai di telan bumi.


"Bersiaplah, kita akan jalan-jalan. Pakai baju ini," ucap Claire sambil memberikan sebuah gaun merah yang masih terlipat di dalam kotak kardus.


"Aku pakai baju biasa saja, Claire. Ini terlalu kecil untukku," kataku saat merentangkan gaun itu di depanku, warna merah mencolok dengan aksen mutiara di bagian lehernya, potongan gaun ini sangat ramping, mana mungkin muat di tubuhku yang berisi ini.


"Itu akan muat, Sa. Kau kira tubuhmu sekarang sebesar apa, ukuranmu hampir sama denganku."


"Tapi, Claire."


"Coba dulu, jika tidak muat, aku akan menggantinya dengan yang lain. Aku punya banyak koleksi gaun yang cocok untukmu," ucap Claire lalu mendorong tubuhku ke kamar mandi.


Akhirnya aku menurut, lalu mengganti bajuku. Pertama kali melihat tubuhku dengan balutan gaun merah tanpa lengan seramping ini, aku begitu terkejut, mungkin berat badanku sudah menyusut berkilo-kilo, sampai gaun seramping ini pas di tubuhku.


"Lihat, kau sangat cantik, aku tidak pernah salah dalam memilih pakaian untuk orang lain," ujar Claire memuji.


"Ya, benar. Kau memang ahlinya, Claire," timpalku.


Setelah semuanya siap, Claire mengajakku menuju ke sebuah tempat spa di tengah kota Paris. Sebuah tempat yang hampir tidak pernah aku datangi, karena seumur hidup aku tidak terlalu suka memanjakan diri di tempat-tempat seperti ini.


Usai melakukan spa bersama, kami menuju sebuah salon yang menjadi langganan Claire. Tempatnya sangat ramai pengunjung, luasnya jauh lebih besar dari butikku, semua pegawainya adalah laki-laki.


Di depan salon banyak berjejer laki-laki yang duduk membaca koran sambil di temani secangkir kopi, mungkin mereka sedang menunggu pasangan mereka melakukan perawatan diri di dalam salon.


Sampai di dalam salon, kami di sambut ramah oleh seorang wanita yang mungkin sudah berumur, namun wajahnya masih cantik dan mulus, keriput-keriput halus di wajahnya tidak terlalu nampak.

__ADS_1


"Selamat datang, Nona Claire," sapa wanita itu sambil memeluk tubuh ramping Claire.


"Perkenalkan, Miss. Dia adalah Sabrina, dia sahabatku," ujar Claire lalu menatapku.


"Oh, senang berjumpa denganmu, Nona. Silahkan nikmati fasilitas kami, selamat menikmati." Wanita itu mengangguk lalu berlalu pergi.


Setelah itu, kami melakukan berbagai perawatan bersama, dari facial wajah sampai luluran, tidak lupa untuk merawat kuku-kuku kami dengan manicure dan pedicure. Claire mewarnai kukunya dengan warna biru muda yang di hiasi pernik-pernik berbentuk bintang. Sedangkan aku mewarnai kuku tanganku dengan warna merah mencolok sesuai warna gaun yang aku kenakan.


"Sa, aku mau mewarnai rambutku," kata Claire.


"Bukankah ini warna yang bagus, Claire?"


"Aku bosan, aku akan meminta ganti warna yang bagian ujung dengan warna biru gelap."


"Hmm, bagus juga. Aku akan menunggumu kalau begitu," ujarku.


"Kau juga harus ikut, apa kau tidak ingin meluruskan rambutmu?" tanya Claire.


"Kenapa harus di luruskan? aku suka rambutku."


"Terkadang kau juga harus keluar dari zona nyamanmu, Sa. Banyak hal yang harus kau coba," ujar Claire tersenyum.


"Akan aku pikirkan," kataku belum yakin.


"Baiklah, baiklah. Kau selalu saja memaksa."


Akhirnya aku menuruti nasehat Claire, meluruskan rambut keriting yang selama ini aku banggakan. Entah mengapa, aku merasa tertarik kali ini, padahal sebelumnya aku tidak pernah punya niat untuk meluruskan rambut.


"Sempurna!" teriak Claire sambil menggoncangkan bahuku.


"Ah, kau cantik sekali, Sa. Aku sampai terkagum-kagum melihatmu."


"Jangan berlebihan, Claire. Aku malu," ujarku mengedipkan mata, karena teriakan Claire membuat semua mata pengunjung yang ada di salon ini menatap kami dengan tatapan aneh.


"Aku saja sampai terpesona melihatmu, Sa. Aku semakin penasaran jika Arga yang melihat perubahanmu yang fantastis ini," ujar Claire.


Aku bahkan tidak bisa memprediksi bagaiman reaksi tuan Arga saat aku kembali, dengan penampilan yang berbeda tentunya.


...


Setelah puas memanjakan diri, Claire mengajakku berjalan-jalan di sebuah taman yang terletak di tengah kota Paris, Jardin Du Luxembourg. Taman ini sangat luas, berbagai arena bermain anak-anak juga tersedia disini, ada kebun apel yang terbentang luas di depan mata, patung-patung besar tersebar di setiap sudut taman sebagai media edukasi.


Di taman ini, pengunjung juga bisa mendapatkan pembelajaran tentang cara memelihara lebah, di sini juga terdapat rumah kaca berukuran besar yang di dalamnya tersedia koleksi berbagai macam tanaman anggrek dan mawar. Kami memutuskan berjalan-jalan melihat isi rumah kaca itu.


"Kau suka bunga mawar, Sa?" tanya Claire lalu memeberiku setangkai mawar putih.

__ADS_1


"Bagaiman kau tau?"


"Joe, dia yang mengatakannya."


"Hah, untuk apa dia bercerita hal-hal yang tidak penting seperti itu," ujarku kaget.


"Bagi seorang laki-laki yang dimabuk asmara, hal sepele apapun akan menjadi berarti, Sa." Claire tersenyum, tapi air muka sedihnya tidak dapat ia tutupi begitu saja.


"Maksudmu?" Aku mendelik, bingung. Tidak mengerti dengan apa yang baru saja Claire katakan.


"Apa kau tidak merasa, ada laki-laki yang menjatuhkan cintanya terlalu dalam padamu selain Arga?"


"Jatuh cinta? tuan Joe jatuh cinta padaku?" ujarku terkejut.


"Kau yakin tidak tau soal ini?" tanya Claire lagi, dia kemudian mengajakku duduk di ujung taman, di sebuah kursi kayu panjang menghadap ratusan tanaman anggrek.


"Aku tau dia begitu baik padaku, Claire. Tapi, aku berpikir semua yang dia lakukan hanya karena aku adalah istri dari boss-nya. Aku tidak berpikir sejauh itu," ucapku menjelaskan.


"Kau beruntung, Sa. Kau mendapatkan sebongkah hati yang selama ini aku dambakan," ujar Claire menatap nanar ke langit.


"Kau, mencintai Joe?" tanyaku ragu.


"Aku tidak hanya mencintainya, aku lebih dari itu."


Kali ini aku benar-benar di buat tidak mengerti, orang yang selama ini berbaik hati padaku, ku pikir dia melakukan semua ini atas dasar perintah dari boss-nya, tapi nyatanya dia melakukan hal-hal baik karena sebuah perasaan.


Dan, bagaiman bisa seorang Claire, wanita sukses, mandiri, berkarir tinggi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Padahal, paras cantik dan tubuh tinggi sempurna itu bak bidadari turun dari langit, masih ada laki-laki yang lebih memilih mencintai wanita gemuk dengan rambut keriting sepertiku.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2