TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
POV Si tampan


__ADS_3

Hari demi hari ku lalui dengan penuh rasa haru dan bahagia, kabar kehamilan Sabrina membuatku semakin bersemangat menjalani hari-hariku yang tidak lagi mudah.


Aku terbiasa mendapatkan kemudahan dalam segala urusan sebelumnya, namun ini adalah hal lain yang jelas berbeda, sebanyak apapun kekayaan dan harta yang aku miliki, rasanya tidak akan bisa mengimbangi seluruh kebahagiaan yang telah Sabrina berikan.


Aku menjalaninya dengan tidak mudah, aku selalu rutin mengunjungi dokter kandungan untuk mempelajari hal-hal tentang wanita hamil, makanannya, kebiasaannya, dan semua hal yang mungkin di rasakan oleh istriku.


Jika biasanya aku selalu mengandalkan orang lain untuk membereskan urusanku, kali ini aku turun tangan sendiri dan menjalaninya dengan sepenuh hati.


Aku tidak pergi bekerja setiap hari, hanya beberapa kali dalam seminggu hanya untuk kepentingan yang mendesak, aku tidak mau meninggalkan Sabrina menghadapi hari-harinya sendirian.


"Salimah, apa istriku sudah makan siang?" tanyaku kepada seseorang di sebrang telpon sana. Aku tidak hanya menanyakan keadaan Sabrina secara langsung, tapi aku juga memantaunya melalui orang-orang terdekat.


"Emm, sudah, Tuan. Tapi ...." jawabnya.


"Ada apa? apa dia tidak suka masakan yang sudah kalian siapkan?" tanyaku lagi.


"Nona ingin makanan yang di masak langsung oleh bibi di rumah orangtuanya, bi Ijah," kata Salimah.


"Apa kalian tidak bisa masak masakan yang di inginkan istriku?"


"Kami sudah melakukan yang terbaik, Tuan. Tapi, nona sepertinya kurang suka, dia hanya mencicipi lalu tidak melanjutkan makan siangnya," jelas Salimah.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih Salimah."


Ku tutup panggilan dengan perasaan resah, bagaimana bisa koki terbaik andalan resto-resto ternama di kota ini yang ku pekerjakan di rumah tidak bisa membuat masakan yang di inginkan istriku.


Sepertinya tidak ada jalan lain, aku harus datang ke rumah orang tua Sabrina dan meminta orang yang di maksud untuk memasak masakan itu.


Lagipula, makanan seperti itu akan sulit di temukan di daerah kota seperti ini. Kebanyakan makanan khas daerah hanya bisa di masak oleh orang-orang tertentu yang berasal dari daerah tersebut.


Karena perasaan yang gelisah memikirkan istri tercintaku tidak berselera makan siang, akhirnya aku mengakhiri pekerjaan dan segera melajukan mobil kencang menuju kediaman orang tua Sabrina.


"Selamat sore, ibu," sapaku kepada ibu mertua yang sedang duduk di teras.


"Loh, ada apa nak Arga datang kesini? kenapa tidak memberi kabar lewat telpon dulu? Ayo, masuk," ujar ibu terkejut. Lalu aku pun berlalu mengikuti langkahnya menuju ruang tamu.


"Apa bi Ijah ada, Bu?" tanyaku langsung to the point agar keinginan istriku cepat terwujud.


"Kenapa tiba-tiba cari bi Ijah. Orangnya mudik, Nak. Hari ini adalah hari pernikahan anak sulungnya, sudah mudik seminggu yang lalu," jawab ibu penasaran


Gawat! Bagaimana jadinya kalau seperti ini.


"Sabrina, mau makan mie ongklok dan garang asam buatan bi Ijah, Bu." Aku menelan ludah, membayangkan wajah istriku yang mungkin sedang kecewa.

__ADS_1


"Apa koki di rumah tidak bisa memasaknya?" tanya ibu.


"Sudah, Bu. Tapi rasanya tidak cocok dengan lidah Sabrina, sepertinya dia cuma mau makanan itu di buat langsung oleh bi Ijah."


"Bi Ijah baru akan kembali kesini lusa, Nak. Bagaimana kalau ibu minta ART tetangga sebelah untuk membuatnya, dia juga orang asli jawa, masih kerabat jauhnya bi Ijah."


Wah, ide bagus. Seruku dalam batin girang.


"Boleh, Bu. Nanti aku akan kasih imbalan buat orang itu, tapi bisakah secepatnya?"


"Sebentar, ibu telpon teman ibu dulu, dia majikannya," jawab ibu sambil berlalu menuju kamarnya.


Selang beberapa saat, ibu mertuaku itu kembali dari dalam kamar membawa kabar bahagia, ART yang di maksud pun setuju untuk memasak mie ongklok dan garang asam yang ku maksud.


Karena proses memasak dan harus membeli sebagian bahan-bahan masakan yang kurang, aku memutuskan untuk pulang lebih dulu, pasti Sabrina sudah resah menungguku, biarkan masakan ini nanti ku suruh sopir mengambilnya.


Usai mengutarakan maksudku, aku segera pamit kepada ibu mertua dan memacu mobilku dalam kecepatan sedang untuk pulang.


...


"Honey, kenapa pulang terlambat?" tanya Sabrina, aku memang tidak pernah pulang lebih dari jam dua siang semenjak ia hamil.


"Tadi, aku ada urusan penting, Sayang. Maaf jika membuatmu cemas," ujarku lalu memeluk wanitaku yang kini semakin gendut itu.


"Baik, Sayang. Maaf ya." Aku mengacak pelan rambutnya yang tersisir rapi.


"Oh ya, bagaimana makanan yang kau minta? koki sudah memasaknya?" tanyaku pura-pura tidak mengetahui.


"Emm, aku ...."


"Kenapa, Sayang? kau tidak suka, ya?"


"Aku ingin masakan itu di masak langsung oleh bi Ijah, bukan buatan koki di rumah ini," jawabnya sambil mengetuk-ngetuk pelan dadaku dengan jemarinya.


"Memangnya masakan koki tidak enak, Sayang?"


"Enak, tapi entah mengapa aku pengennya yang di buat bi Ijah," ujarnya sambil menunduk, mungkin ia takut jika aku marah karena menolak masakan yang sudah di buat oleh koki.


Ah, mungkin ini adalah salah satu hal yang di alami oleh ibu hamil yang pernah ku baca di beberapa artikel, hal ini lebih familiar di sebut Ngidam. Benar tidak?


Aku memang baru pertama kali berhadapan langsung dengan wanita hamil, namun berbekal beberapa kenalan dokter dan sahabat, terutama internet yang bisa ku akses dengan mudah, aku selalu mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang apa-apa yang di alami ibu hamil.


Aku tidak mau menjadi suami yang miskin ilmu dan fakir pengetahuan tentang wanita di masa-masa kehamilannya, setidaknya aku memberikan yang terbaik untuk istriku saat menjalani hari-harinya membawa buah hati kami di dalam rahimnya.

__ADS_1


...


Hari sudah hampir malam, sopir yang ku suruh untuk mengambil masakan yang di maksud Sabrina sudah sampai, aku meminta pelayan untuk menyiapkan semuanya di meja makan saat makan malam nanti.


"Honey," ujarnya tiba-tiba manja, memelukku dari belakang saat aku baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanyaku sambil berbalik badan.


"Tadi siang kau ke rumah ibuku untuk meminta bi Ijah memasak mie ongklok dan garang asem?" Dia bertanya dengan mata berkaca-kaca.


"Dari mana kau tau, Sayang?"


"Ibu baru saja menelpon, memberitahuku."


Apa jangan-jangan ibu juga memberitahunya jika masakan itu bukan bi Ijah yang memasak ya?


"Terimakasih, Honey. Aku mencintaimu," ujarnya meneteskan air mata. Lucu sekali istriku, dia mudah sekali menangis tersedu-sedu karena bahagia meskipun aku hanya memberinya hadiah sebatang coklat.


Setelah melow drama yang terjadi beberapa saat, aku segera memakai baju dan mengajaknya menuju meja makan, dia sudah terlihat sangat tidak sabar untuk segera menyantap masakan yang sudah di kirim oleh ibunya.


"Bagaimana, Sayang?" tanyaku penasaran, karena wajahnya yang penuh semangat beberapa detik lalu kini sudah berubah hilang selera.


Ada apa?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2