TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Senyum kemenangan


__ADS_3

Aku makan dengan begitu lahap, rasanya sudah berhari-hari tidak makan, entah karena aku memang sedang kelaparan, atau makanan ini yang begitu nikmat sehingga membuatku enggan berhenti mengunyah, menambahkan yang ini dan yang itu ke dalam piringku, melahabnya habis, kemudian minum, lalu mencicipi yang lain, mungkin inilah yang membuatku tidak bisa selangsing Safira, aku benar-benar tidak bisa mengontrol makanan yang masuk ke dalam mulutku, nikmatnya makanan sering kali mengalahkan hasratku untuk berdiet.


"Enak?" tanya tuan Arga sembari melihatku mengunyah tanpa jeda.


"Enak, Tuan."


"Kalau begitu, habiskan."


"Terimakasih," ucapku sembari mengunyah makanan dalam mulutku.


Laki-laki di depanku ini hanya makan satu piring dengan porsi yang tidak banyak, hanya sedikit nasi dan beberapa macam sayuran, tidak lupa menambahkan sedikit irisan daging sapi yang di masak bumbu merah dengan kepedasan yang luar biasa, pedas inilah yang membuat nafsu makanku semakin menggebu.


Dia mengelap mulutnya dengan tisu, lalu mengambil potongan buah sebagai penutup menu makan malamnya, aku yang sudah merasa begah dengan perut yang sedikit membuncit, ikut mengambil tisu dan mengelap mulutku yang masih belepotan sisa sambal.


"Apa kau sudah kenyang?" dia bertanya sambil mendekatkan wajahnya padaku.


"Sudah, terimakasih," jawabku tersenyum penuh ketulusan.


"Kau tau, semua ini tidak gratis," ucapnya dengan menatap lekat kedua bola mataku, bibirnya tersenyum miring.


Seketika aku melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja dia ucapkan, aku mengepalkan tanganku di bawah meja, mengontrol emosi agar sumpah serapahku tidak terlontar begitu saja.


"Kau harus membayar," lanjutnya.


Apa lagi ini, jika aku tau kalau kau menyuruhku membayar, aku lebih memilih langsing kelaparan dari pada harus membayar makanan ini.


"Bagaimana kalau saya muntahkan saja makanan yang baru saja saya makan, Tuan?" ucapku dengan menahan emosi.


"Jika kau memuntahkannya, kau harus membayar dua kali lipat, karena kau tidak menghargai pemberianku."


"Baiklah, saya baru saja menerima transferan dari hasil penjualan di butik, saya akan segera membayar," ucapku kesal.


"Hahaha, siapa yang mau kau membayarku dengan uang, aku sudah banyak uang, aku tidak butuh uangmu" ucapnya sambil tertawa.


"Lalu?"


"Aku akan meminta bayaran sesuai keinginanku, lihat saja nanti," ujarnya langsung berdiri dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Aku kesal sekaligus di buat keheranan dengan laki-laki ini, aku bangkit lalu duduk di sofa dekat jendala, tempat biasa dia duduk santai dengan bermain ponsel, melihat keluar jendela rasanya sedikit ada kenyamanan masuk melalui sela-sela hatiku, terlihat lampu-lampu kecil yang mencoba menerobos gelapnya malam, aku melihat nanar langit gelap tanpa bintang, mendung menyembunyikan keindahan malam yang di rindukan setiap orang, bahkan bintang-bintang saja sedang enggan menampakkan diri padaku yang lemah tanpa kekuatan untuk melawan setiap penghinaan yang tuan Arga lakukan.


Kenapa setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu saja menyebalkan, apakan dia tidak bisa bersikap baik sedikit saja padaku, baru tadi siang dia ingin membunuhku, malam ini dia memintaku membayar makanan yang sudah menjadi hak ku saat tinggal di rumah ini, entah sampai kapan aku harus hidup sekandang dengan harimau gila ini.


...


Entah sudah berapa jam aku duduk termenung disini, namun tidak terlihat tanda-tanda tuan Arga memasuki kamar, perasaan kesalku sudah sedikit menghilang, aku memutuskan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaianku.


Sejak malam pertama aku tinggal di rumah ini, aku harus membiasakan diri memakai baju tidur kurang kain seperti ini, aku sudah lelah dimaki dan perintah ini dan itu, lebih baik aku melakukan saja apapun yang dia inginkan tanpa membantah, setidaknya itu akan menyelamatkan hidupku.


Saat pintu ruang ganti terbuka, aku melihat tuan Arga sudah duduk di sofa tempatku duduk tadi, aku berjalan berlenggak-lenggok menaiki tempat tidur tanpa meliriknya sama sekali, melihat wajah menyebalkannya sungguh akan membuat tekanan darahku naik.


Beberapa detik setelah aku merebahkan diri diatas tempat tidur, dia ikut-ikutan terlentang di sebelahku. Aku berbaring membelakanginya, masih ada sisa perasaan kesal ketika melihatnya.


...


Sudah hampir satu jam aku tidak bergerak, tetap mempertahankan posisiku untuk tidak terlentang atau menghadap ke arahnya, dia juga tidak terlihat gelisah, sepertinya dia sudah tidur, namun berbeda denganku, sepertinya aku terlalu banyak makan pedas, sehingga perutku terasa sedikit panas dan tidak nyaman.


Aku berpikir dia sudah tidur, jadi aku bisa bebas bergerak untuk mencari posisi yang nyaman, perutku terasa melilit tidak enak, aku memutuskan berbalik dan menghadap ke arahnya, dia masih tidur terlentang tidak bergerak sama sekali, hanya gerakan naik turun di dada dan perutnya yang terlihat.


Aku memandangi wajah tampannya, seperti ada hembusan angin lembut yang menyeruak di dalam hatiku, memang, kesempurnaan laki-laki di hadapanku ini sudah tidak di ragukan lagi. Wajah tampannya bisa membius setiap pasang mata wanita yang melihatnya, aku sedikit mendekatkan wajahku padanya, aroma tubuh yang aku nikmati siang tadi rasanya seperti candu, sehingga membuatku ingin terus menerus menciumnya.


"Ti, tidak," ucapku menahan malu karena sudah tertangkap basah mendekatkan wajahku padanya.


"Lalu apa yang kau lakukan tadi?"


"Saya tidak melakukan apa-apa."


"Baiklah, kau sudah membangunkan sesuatu, jadi kau harus bertanggung jawab menuntaskan pekerjaanmu," ucapnya sambil tersenyum licik.


Aku bergeser menjauhinya, namun dia menahanku dengan melingkarkan lengan besarnya di pinggulku, keringat dingin membasahi tubuhku, tanganku bergetar, jantungku berdetak kencang merasakan ada sesuatu yang berada di bawah sana sedang menegang, mencoba menerobos dinding pertahanannya.


Ya Tuhan, sepertinya aku tidak siap melakukannya malam ini, sungguh aku belum siap melepas keperawanku pada laki-laki sepertinya, apa lagi aku tidak mencintainya, dan bahkan dia hanya menganggapku seperti pelayan pribadinya di rumah ini, lalu bagaimana caraku untuk menolaknya.


Aku meletakkan kedua tanganku menempel di dadanya, sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya agar menjauh, namun kekuatan tubuhku tidak ada apa-apanya di bandingkan kekuatan otot-otot lengan besarnya, dia terus merengkuhku di dalam dadanya.


"Aku sudah menahannya berhari-hari, aku ini laki-laki normal, bagaimana bisa aku tidak tertarik melihatmu tidur di sampingku memakai baju yang begitu menggoda," ucapnya mesra, nafasnya memburu terasa begitu jelas menerpa wajahku, tatapan matanya seakan siap menerkam mangsanya, dadanya naik turun menahan gejolak hasrat berbahaya yang sedang menggebu-gebu.

__ADS_1


"Saya tidak bisa, Tuan," ucapku memberanikan diri.


"Apa? kau menolakku?" dia semakin mempererat dekapannya.


"Maaf, tapi saya tidak bisa." Dadaku terasa begitu sesak mengatakannya.


"Katakan alasanmu, jika itu bukan alasan bagus, maka aku tidak akan melepaskanmu," ucapnya sembari mulai memainkan tangannya merambat ke seluruh bagian tubuhku.


Tiba-tiba terdengar suara perutku yang bergemuruh, tanda keinginan ke kamar mandi sudah muncul, ini seperti penyelamat hidupku malam ini.


"Bunyi apa tadi?" dia bertanya sambil mengendorkan dekapannya.


"Perut saya, Tuan," ucapku sedikit meringis menahan ketidaknyamanan dalam perutku.


"Baiklah, malam ini kau selamat, pergilah ke kamar mandi," ucapnya dengan raut wajah yang di penuhi rasa kecewa luar biasa.


Aku menuruni tempat tidur dengan senyum penuh kemenangan, setidaknya sakit perutku malam ini bisa menyelamatkan keperawananku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung dulu yaa 😂😂


__ADS_2