TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Merayunya


__ADS_3

Mimpi apa aku semalam, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa kembali haid. Bagi sebagian wanita, tidak mengalami datang bulan yang rutin membuat tubuh terasa sangat berat, sering merasakan nyeri di area bawah perut yang datang dan pergi tiba-tiba, itu di sebabkan karena darah kotor yang tidak bisa luruh dari dinding rahim.


Tidak sedikit wanita akan merasakan gejala-gejala mencurigakan saat ia tidak datang bulan secara rutin, dan semuanya bisa berakibat pada datangnya penyakit yang serius.


Semenjak aku mengalami keguguran beberapa bulan lalu, ku putuskan untuk berhenti mengkonsumsi pil kontrasepsi, aku sudah membuang benda itu jauh-jauh dari hidupku, biarkan semua mengalir sesuai rencana-Nya.


Anak adalah titipan, amanah, dan itu rejeki bagi kita. Aku tidak mau kejadian menakutkan itu kembali terulang, aku ingin segera hamil lagi, suamiku pun menginginkannya, kami berdua menanti keajaiban itu datang.


Salah satu cara yang mulai ku terapkan agar bisa cepat hamil adalah dengan memeriksakan diri ke dokter kandungan, menerapkan pola hidup sehat, tidur teratur dan mengurangi begadang. Kecuali, saat jadwal olahraga malam.


Satu hal itu memang tidak bisa di tunda, sebuah kewajiban bagiku untuk memberikan hak untuk suamiku.


...


Bagaimana aku tidak terkejut, mendapati suamiku yang gagah perkasa dengan tampang cool nan macho itu pergi berbelanja pembalut wanita dengan jumlah yang sangat banyak, bahkan bisa di pakai persediaan sampai beberapa tahun ke depan.


Mungkin salahku karena tidak mengatakan jumlah, merk dan ukurannya secara spesifik. Lagipula, meskipun membeli dua kantong besar yang hanya berisi pembalut, tidak akan membuat laki-laki itu bangkrut. Biarkan saja dia melakukan apapun yang ia suka.


Satu box kulkas besar berisi ratusan es krim terhidang di ruang tengah dengan berbagai macam varian dan rasa. Aku memang menyukai es krim, tapi mungkin semua ini terlalu berlebihan.


Aku mengajak suamiku tercinta itu duduk di depan tv, sambil menikmati satu cup es krim rasa coklat berdua. Entahlah, meskipun masih tersedia ratusan es krim di depanku, aku lebih suka berbagi dan menikmati ini berdua.


Sekelebat masa lalu muncul di benakku. Saat kecil, aku dan Safira sangat sering berebut es krim, meskipun papa membeli dua es krim dengan merk dan rasa yang sama, entah mengapa Safira selalu ingin merebut milikku, dia selalu berfikir bahwa apa yang ku punya lebih baik dari apa yang ia miliki.


"Jangan melamun, Sayang," ujar suamiku membuyarkan apa yang ada di pikiran.


"Ah tidak, aku hanya ingat Safira, Honey," kataku.


"Kau merindukan saudramu?"


"Sedikit," jawabku.


"Kau tau, Honey. Apa persamaan dirimu yang dulu dengan satu box es krim ini?" tanyaku memberi tebakan.


"Sama-sama manis," jawabnya dengan rasa penuh percaya diri.


"Ih, bukan!"


"Lalu, apa?"


"Sama-sama dingin."


"Tapi, kau suka kan?"


"Dulu aku tidak menyukaimu, Honey. Aku bahkan sangat membencimu. Sikapmu yang semena-mena dan menganggapku seperti pelayan pribadimu membuat aku frustasi."


"Aku mengujimu, hanya ingin tau seberapa kuat kau bertahan dan berusaha. Aku penasaran, apakah tujuanmu datang dalam hidupku hanya soal uang dan kekayaan," jelas suamiku.


"Lalu?" lanjutnya.


"Lama kelamaan, aku menaklukkan es dingin itu hingga mencair, lalu hanya rasa manis yang tersisa." Aku tersenyum, menyuapkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya.


"Sekarang, kau mencintaiku?" Dia bertanya, memposisikan dirinya sejajar denganku hingga kedua mata kami saling bertatapan.


Setiap kali ia melakukan hal ini, degup jantungku seakan tak terkendali, suaranya bahkan mampu menembus hingga ke permukaan kulit, bahkan bisa mengalahkan suara jam dinding yang berdetak tidak jauh dari kami.


"Katakan, katakan kalau kau mencintaiku, Sayang?" tanya suamiku lagi.


"Benarkah kau tidak merasakan apa yang aku rasakan, Honey?"


"Aku hanya ingin mendengar kalimat itu setiap saat, kalimat yang membuatku jatuh cinta padamu berkali-kali."


"Cinta itu tidak melulu soal ucapan, ada hal yang lebih utama dari sekedar kata-kata, yaitu pembuktian," ujarku.


"Sejak kapan kau pandai berkata-kata seperti itu, Sayang?" tanya suamiku sambil membersihkan ujung bibirku dengan jemarinya.


"Sejak kita menjadi komplotan perampok, Honey."


"Komplotan perampok?" Ia mengerutkan dahi.


"Aku merampok hatimu, kau merampas hatiku. Ciyeee ...."

__ADS_1


Ah, kena kau!


Wajah si tampan itu kini bersemu merah, di gombalin sedikit saja dia langsung klepek-klepek. Dia menahan senyum sambil memalingkan pandangan dariku.


...


Cuaca yang awalnya cerah dan terik, entah mengapa berubah mendung, sepoi angin menerpa tubuh saat kami duduk berdua di taman samping, ia menemaniku memotong tangkai-tangkai mawar yang mulai mengering dan tua.


"Sepertinya ada beberapa mawar yang kurang sehat, Honey. Bunganya tidak bisa mekar dengan sempurna, akarnya mulai membusuk," keluhku sambil menata barisan pot mawar sesuai warna bunganya.


"Ada berapa?" tanya suamiku mendekat.


"Tiga, tapi ini mawar merah hati mix putih, ini cantik sekali, Honey."


"Tidak apa-apa, besok kita akan membelinya sebagai ganti," ujar suamiku.


"Dari empat puluh lima tanaman mawar, tiga yang hampir mati. Sebelumnya sudah ada satu yang busuk," kataku, lalu kembali duduk di kursi sampingnya.


"Kau menghitung tanaman sebanyak ini?" tanyanya.


"Tentu saja, hanya ada tiga hal yang tidak bisa ku hitung, banyaknya bintang di langit, ikan di laut, Dan ...."


"Dan apa?"


"Dan, banyaknya cintaku padamu."


"Kau sekarang pandai sekali merayuku, ya." Suamiku mendekat, kini dia membawa tubuhku ke dalam pangkuannya.


Aku sangat suka melihat laki-laki tampan itu tersenyum malu dengan wajah bersemu merah karena kata-kataku. Sepertinya merayu dirinya adalah hobby baruku.


Semakin lama, angin semakin kencang, harum tanah semakin tajam tercium indra, menandakan hujan akan lekas turun.


Sudah berapa lama hujan tak mengguyur kota ini, bahkan aku sangat merindukan saat-saat aku masih pulang pergi ke butik menaiki sepeda motor matic milikku, sambil menikmati rintik hujan yang membasahi tubuh.


"Ayo masuk, sebentar lagi hujan akan turun," ajak suamiku.


Dia menggandeng tanganku, lalu mengajakku masuk ke dalam kamar.


"Kau tidak merasakan sakit di area-area tertentu?" tanya suamiku lagi.


"Hanya sedikit nyeri di bagian perut, Honey. Tidak apa-apa, ini wajar."


"Mau ku pijat?"


"Tidak perlu, aku sudah terbiasa merasakan ini, Honey. Jangan khawatir."


"Ayo kita istirahat," ujarnya, kini ia menggendongku ala bride style menuju tempat tidur.


Di atas kasur, ia memelukku dengan erat, sesekali mencium pucuk kepalaku. Rasa tidak nyaman di tubuh membuatku enggan tertidur, jadi aku hanya merebahkan diri sambil menikmati pelukan hangatnya.


Ku rasakan laki-laki itu menghela nafas berat beberapa kali, ia gelisah, tangannya melingkar di atas perutku, namun tubuhnya terus menerus bergerak, seperti mencari posisi nyaman yang belum ia dapatkan.


"Ada apa, Honey?" tanyaku ragu.


"Bolehkah aku menciummu?" Dia balik bertanya.


"Tentu saja boleh. Memangnya kenapa kau menanyakan ini?" tanyaku heran, sudah hal yang biasa kami berciuman setiap saat, mengapa masih di pertanyakan.


"Tapi, kalau aku jadi ingin, bagaimana?"


"Ingin apa?"


"Ingin yang iya-iya."


"Hah, kau harus puasa sampai masa haid ku selesai, Honey. Paling tidak selama tujuh hari."


"Apa tidak bisa di percepat, Sayang. Kenapa lama sekali, aku mana tahan," ujarnya sambil mengusap wajahnya kasar. Aku tau dia sedang berusaha menahan sesuatu di dalam sana.


"Normalnya memang tujuh hari, Honey. Ada juga yang sampai lima belas hari," kataku.


"Lima belas hari? Dua minggu lebih sehari?" Dia melihatku dengan mulut menganga.

__ADS_1


"Ya, aku pernah mengalaminya. Itu hanya sebentar, kau kan kuat." Aku tersenyum mengejek.


"Apa kau tidak kasihan pada juniorku ini, Sayang? Tolong kasihanilah kami," ujar suamiku dengan wajah di tekuk, ia terlihat sangat menggemaskan.


"Lalu aku harus berbuat apa, Honey. Semua wanita akan mengalami masa-masa seperti ini, bersabarlah. Ini hanya terjadi satu bulan sekali," kataku menjelaskan.


Suamiku diam, ia memilih turun dari kasur dan keluar kamar.


"Ah, bisa gila aku kalau terus-terusan seperti ini," gumamnya pelan sebelum hilang dari balik pintu.


Hah, syukurin!


Akhirnya, aku bisa beristirahat dengan tenang dan tidur dengan nyenyak selama satu minggu ke depan.


Biarkan laki-laki itu belajar untuk bertahan.


...


Aku terkejut saat tangan dingin mengusap pipiku dengan lembut. Sepertinya hujan sudah reda, suamiku duduk di tepi kasur sambil memperhatikanku.


"Tidurmu sangat nyenyak," ujarnya.


"Benarkah? Cuacanya dingin, jadi aku merasa ngantuk dan ketiduran." Aku bangkit, duduk bersandar di dekatnya.


"Memang, cuaca hujan gerimis seperti ini, sangat mendukung proses berkembang biak."


"Sayangnya .... Ah, sudahlah." Dia mengusap wajahnya kasar.


"Ku bawakan coklat hangat untukmu, Sayang."


Aku menerima secangkir coklat hangat dari tangannya, ku sesap perlahan, seakan menghangatkan tubuhku dari dalam.


"Kau mau melihat pelangi, Sayang?" Dia menggandeng tanganku, mendekati jendela kaca.


Tampak pelangi setengah lingkaran terpampang indah di langit, pohon-pohon dan tumbuhan yang terlihat dari sini masih basah, menandakan hujan baru saja mengguyur tanah.


"Kau tau, kenapa pelangi hanya terlihat setengah lingkaran?" tanyanya sambil memeluk tubuhku dari belakang, kami sama-sama menikmati pemandangan langka ini.


"Kenapa?"


"Karena setengahnya lagi ada di matamu, indah." ujarnya tersenyum simpul.


"Ah, dasar gombal!" Ku cubit gemas pinggangnya.


"Aku juga bisa merayumu, Sayang. Jangan meremehkanku." Dia mencium tengkuk leherku, mengibaskan rambutku ke depan, dan dengan leluasanya menenggelamkan wajah di sana.


Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Biarkan dulu kami menikmati madu pernikahan yang belum habis di sesap ini, semoga hanya rasa manis yang ada, yang lalu biarlah berlalu, pelangi selalu datang dikala hujan dan badai usai menerjang.


"Berjanjilah, Honey. Kau harus bisa merubah sifat-sifat buruk mu menjadi lebih baik, aku akan setia mendampingi mu," ujarku pelan.


"Aku sedang berusaha."


"Biarkan masa lalu menjadi pelajaran berharga untukmu. Lihatlah, dunia itu berubah, tidak semua yang terlihat buruk itu buruk. Kau harus tau itu."


Akhirnya kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ku biarkan ia merenungi setiap kata-kataku, aku akan terus berusaha membuatnya menjadi Arga yang lebih baik, terutama untuk memaafkan masa lalunya.


Tidak akan ku biarkan masa lalu itu menghantui dirinya dan menjadikan ia laki-laki dingin tak berperasaan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2