TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Sifat Safira


__ADS_3

Hari ini aku dan suamiku berangkat lebih pagi dari biasanya, karena aku ingin menemui ayah dan ibuku dulu sebelum mereka berangkat.


Cuaca yang biasanya terik di pukul tujuh pagi akhir-akhir ini menjadi lebih teduh, mendung yang sering datang tiba-tiba di sertai gerimis membuatku harus memakai jaket tebal kemanapun aku pergi, aku memang memiliki alergi dingin dari kecil.


"Sayang, kenapa ayah dan ibumu memilih berlibur di musim hujan seperti ini?" tanya suamiku sambil mengemudikan mobilnya.


"Mungkin karena cuacanya yang dingin, jadi bikin tambah mesra, Honey."


"Begitu kah?"


"Ya, hujan-hujan seperti ini kan paling cocok berkembakbiak, bikin anak," kataku.


"Apa hubungannya hujan dengan anak? memangnya kalau musim panas, nggak bisa bikin anak?" tanya suamiku.


"Sudahlah, jangan membahas yang bukan-bukan." Aku menimpali.


"Sebenarnya pikiranmu saja yang mesum, Sayang. Maksudku aku bertanya kenapa berlibur di saat hujan itu, karena musim seperti ini rawan banjir, becek di mana-mana, tidak semua tempat wisata bisa di datangi di musim hujan, apalagi wisata alam."


Mendengar penjelasan suamiku, wajahku seketika bersemu merah, merutuki diri sendiri karena terlalu berfikir ke hal yang iya-iya. Daripada harus malu, aku memilih diam dan tidak melanjutkan perdebatan aneh ini.


Ah, rasanya kepalaku hanya di isi dengan hal-hal semacam itu, memalukan.


Setelah perjalanan tiga puluh menit terlewati, kami akhirnya sampai di depan gerbang rumah ayah dan ibuku.


Terlihat bi Ijah yang sedang menyapu halaman berlari kecil membuka pintu gerbang.


"Selamat pagi, Non. Wah, tumben sekali mampir," sapa bi Ijah.


"Iya, Bi. Mau ketemu ibu sama ayah dulu," kataku.


"Kebetulan mereka sedang bersiap, Non. Sebentar lagi sudah mau berangkat."


Setelah masuk ke dalam rumah, ku lihat Safira sedang duduk di kursi ruang tamu sambil memainkan ponselnya, dia tidak menyadari kedatanganku dan suamiku.


"Fira," sapaku lembut.


"Kak, tumben kau pulang? ku kira sudah lupa kalau punya rumah," jawab Safira ketus. Seperti itulah dia, selembut dan sebaik apapun aku padanya, dia enggan membalasnya dengan baik pula.


"Jaga ucapanmu, Bocah!" sergah suamiku tidak terima.


"Tidak apa-apa, Honey. Biarkan saja." Aku menggandeng lengan suamiku menaiki anak tangga menuju lantai atas, meninggalkan Safira yang menatapku tidak suka.


Belum sampai di depan pintu kamar ayah dan ibuku, mereka sudah keluar membawa dua koper berukuran besar berwarna hitam.


Aku berlari kecil menghampiri mereka, mencium punggung tangan kedua malaikatku dan memeluknya secara bergantian. Sungguh aku rindu moment kebersamaan seperti ini.


"Kalian mampir pagi sekali," kata ayah.


"Iya, kami menyempatkan mampir sebelum berangkat kerja, Yah," jawab suamiku. Aku begitu terkejut mendengar suamiku memanggil papa mertuanya dengan sebutan ayah, sebelumnya dia tidak seramah ini.


"Terimakasih, Nak Arga." Ayah merangkul pundak suamiku sambil tersenyum.


"Safira di rumah selama satu minggu, dia libur kuliah. Ibu titip adikmu, ya, Nak," ujar ibu.


"Selama kalian pergi, Sabrina akan menginap disini, Bu."


"Apakah suamimu tidak keberatan?" tanya ibu.


"Tidak," jawab suamiku singkat.


Setelah mengobrol beberapa saat, kami mengantar ayah dan ibu sampai di depan gerbang, mereka sudah di tunggu oleh sopir yang akan mengantarkan mereka ke bandara.


"Safira, kakak berangkat kerja dulu. Kamu jaga rumah, jangan kemana-mana," ujarku saat mobil yang di tumpangi ayah dan ibu sudah melaju pergi.

__ADS_1


"Jangan mengaturku, Kak. Aku sudah dewasa," jawab Safira angkuh, selalu begitu.


"Jika tidak ada kepentingan, sebaiknya jangan keluyuran. Kasian bi Ijah sendirian di rumah."


"Aku mau nge-mall bareng temen-temenku, bukan urusan kakak!"


"Baiklah, tapi jangan pulang larut malam, nanti kakak akan menginap disini."


"Kakak menginap? apakah kakak ipar juga ikut?" tanya Safira.


"Ya, kami menginap disini."


"Emm, bolehkah aku minta uang kak?"


"Kebetulan kakak tidak punya uang cash, pakai saja ATM kakak, ambil secukupnya, jangan berlebihan." Aku membuka tas dan menyerahkan kartu ATM ku pada Safira.


Setelah berpamitan pada Safira dan bi Ijah, aku dan suamiku langsung berangkat bekerja. Dia mengantarku lebih dulu ke butik, setelah itu dia langsung menuju kantornya.


...


"Sa, pesanan yang cukup banyak, membuat kita kewalahan, tidak mungkin lima puluh kebaya dan lima puluh kemeja selesai dalam waktu satu bulan hanya dengan mengandalkan lima penjahit," keluh Riani.


Aku sudah memikirkan semua ini, aku harus segera mencari tempat baru, setidaknya rumah sederhana sebagai rumah jahitku, butik ini tidak cukup luas jika menampung lima belas mesin jahit bersama pemakainya.


Tentu saja aku juga harus memikirkan gudang kain yang cukup luas.


"Aku akan segera mencari rumah jahit sendiri, Ni. Kalau ada teman atau kenalanmu yang bisa jahit, ajak kerja disini saja," ujarku pada Riani.


"Butuh berapa orang?"


"Kira-kira sepuluh orang, Ni."


"Baiklah, aku akan memposting lowongan pekerjaan di media sosial milikku," jawab Riani.


Ku hitung seluruh jumlah pengeluaran yang harus aku siapkan untuk membeli beberapa mesin jahit, stok kain di gudang dan perlengkapan penting lainnya.


Sepertinya aku butuh bantuan orang lain dalam hal mencari tempat sebagai rumah jahitku, aku bukan orang yang pandai bergaul, jadi teman-teman terdekatku hanya berjumlah sedikit, aku tidak cukup koneksi untuk membangun usaha yang lebih besar.


...


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, aku membereskan semua barang-barang milikku dan menunggu suamiku menjemput.


Hari ini semua karyawan lembur sampai jam tujuh malam, karena harus kejar target untuk menyelesaikan pesanan selagi aku mencari tempat baru dan menunggu ada orang yang melamar kerja padaku.


Aku memutuskan turun di lantai bawah sambil menunggu dan menemani tim penjahit memotong kain.


"Sa, suamimu itu tampan sekali sih," ujar Diana, salah satu penjahit di butikku.


"Dapet dari mana suami begitu? aku juga mau dong," timpal yang lain.


"Kalian ini bisa aja," ujarku tersenyum kecil.


Memang benar, tidak ada seorangpun yang bisa mengelak dari ketampanan laki-laki yang bernama Arga itu, mata coklat, tubuh tinggi tegap, dada bidang dengan rambut yang klimis, mempesona sekali.


Jangan lupa rambut-rambut halus di area dagu dan sisi kanan kiri wajahnya. Kalian tau rasanya saat ia menempelka wajahnya di permukaan kulitku?


Rasanya membuat seluruh syaraf di tubuhku menegang. Degupan jantung bagaikan sedang naik roaller coaster, naik turun tak karuan.


Sekelebat bayangan laki-laki tampan itu menghiasi kepalaku, tidak bertemu dengannya selama beberapa jam saja membuatku teramat rindu. Aku sangat beruntung memilikinya.


"Sa, dia datang," ujar Riani sedikit berbisik.


Tanpa menjawab, aku langsung menoleh ke arah pintu. Benar, laki-laki itu sudah berdiri di sana, menyambutku dengan senyuman yang begitu menggoda. Andai saja aku sedang tidak datang bulan, mungkin sudah ku gandeng ia bermesraan di ruanganku saat ini juga.

__ADS_1


Aku berdiri, lalu mendekatinya.


"Di luar gerimis, pakai jaketmu, Sayang."


"Sebentar, aku akan mengambilnya dulu," ujarku lalu kembali ke ruangan atas mengambil jaket yang tertinggal. Jaket berwarna merah dengan bulu-bulu halus di pergelangan tangan dan lehernya, adalah jaket yang sudah tersedia di lemari pakaianku sejak pertama kali kami menikah.


Setelah mengambil jaket dan pamit pada semua orang di ruangan ini, aku bergegas keluar dari butik. Suamiku memayungi kepalaku dengan tangannya karena tetesan gerimis yang turun cukup besar, kami masuk ke dalam mobil.


Jika semua orang di butik sedang lembur, maka bang Bimo akan tetap menunggu sampai mereka usai bekerja. Setidaknya aku percaya pada bang Bimo untuk memastikan keadaan butik aman dan tidak ada hal-hal buruk yang menimpa teman-temanku.


"Sayang, apakah adikmu selalu bersikap seperti itu padamu?" tanya suamiku, kalimat itu membuyarkan lamunanku saat menatap jendela kaca yang di basahi derasnya hujan.


"Bersikap bagaimana?" tanyaku.


"Ya, kurang ajar seperti itu. Aku tidak kuat melihat orang lain bersikap tidak sopan padamu, meskipun itu adikmu sendiri," ujarnya.


"Dia memang seperti itu, Honey. Sejak dulu kami memang jarang akur, sebaik apapun aku padanya, dia selalu merasa apa yang aku lakukan salah."


"Lalu kenapa kau berikan dia ATM milikmu? biarkan saja dia menggelandang di mall tanpa uang," protes suamiku, mungkin dia tidak merasakan bagaimana rasanya memiliki adik, makanya dia tidak paham perasaanku.


"Dia adikku, Honey. Akan ku berikan apapun asalkan dia bahagia."


"Adik kurang ajar sepertinya tidak cocok memiliki kakak sebaik dirimu, Sayang. Jangan terlalu memanjakannya, bisa-bisa dia besar kepala." cetus suamiku. Sepertinya dia memang benar-benar tidak suka dengan sikap Safira.


Mungkin Safira bersikap seperti itu karena dari kecil dia selalu di manja oleh ayah dan ibuku, apapun yang dia inginkan, sekejap mata akan terwujud, sekalipun hal-hal yang tidak penting.


Dari kecil, aku memang selalu mengalah pada Safira, membiarkan semua barang-barang milikku menjadi miliknya, aku tidak peduli meskipun setelah itu dia akan merusaknya.


Berbeda dengannya, aku bahkan tidak di izinkan untuk menyentuh mainan miliknya, terkadang aku harus menunggunya tertidur untuk bisa meminjam beberapa boneka miliknya.


...


Setelah sampai di rumah, suasana masih tampak sepi. Sepertinya Safira belum pulang dari acara jalan-jalan bersama temannya.


"Dimana kamar kita?" tanya suamiku, dia bahkan belum pernah masuk ke dalam kamarku, ini adalah pertama kalinya.


Aku menggandeng lengannya menuju lantai atas, ada empat kamar di rumah ini, tiga kamar di lantai atas, dan satu kamar di lantai bawah. Di lantai atas terdiri dari kamarku, Safira, dan kamar ibu. Lalu satu ruang untuk bersantai dan menonton tv. Sedangkan kamar bawah khusus untuk bi Ijah.


Setelah sampai di kamar, aku membersihkan diri lebih dulu, lalu menyiapkan pakaian ganti untuk suamiku.


"Aku akan ke dapur sebentar, Honey. Kau istirahat saja disini," ujarku.


"Mau apa ke dapur?"


"Aku mau bantu bi Ijah menyiapkan makan malam, sebentar saja."


"Baiklah, jangan lama, Sayang."


Aku bergegas, melangkahkan kaki menuju dapur dan membantu bi Ijah memasak untuk persiapan makan malam. Aku sengaja memasak sendiri khusus untuk suamiku, karena jika di rumahnya, aku tidak akan di izinkan untuk ikut memasak, dengan alasan takut aku kelelahan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2