TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
POV Tuan Arga 2


__ADS_3

Mobil sudah memasuki halaman besar kediaman keluarga Alan, aku langsung membuka pintu mobil dengan kasar dan berjalan menuju rumah itu.


"Hana, Hana!" teriakku menggedor-gedor pintu utama.


"Hana!"


"Boss, tenang," ucap Joe.


Seketika para security yang awalnya duduk manis di gerbang utama berlari menghampiri kami.


"Maafkan kami, Tuan. Bersikaplah sopan di rumah ini," ucap salah seorang security itu.


"Jangan ikut campur! atau akan ku robek mulut kalian!" Emosi sudah sampai di ubun-ubun, aku tidak peduli lagi dengan sikap sopan yang biasa aku junjung tinggi.


"Dimana Hana? panggil wanita ****** itu!"


"Jika hanya ingin membuat keributan, silahkan pergi dari sini!" ujar security itu lagi dengan nada membentak.


Tidak perlu menjawab dan berbasa-basi, aku langsung mendaratkan bogem ke wajahnya tanpa aba-aba.


Joe yang melihatku seperti kesetanan terus berusaha menahan badanku agar menjauh dari orang-orang itu.


"Ada apa ini ribut-ribut?" ucap paman Alan tiba-tiba membuka pintu.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya dan menyerobot masuk ke dalam rumah besar bernuansa Eropa klasik itu.


"Hana, keluar!"


"Hana!" Aku terus berteriak-teriak di ruang tamu, sedangkan paman Alan berusaha menenangkan diriku dan memintaku berbicara dengan baik.


"Kau ini, kenapa Arga?" tanya Hana menuruni anak tangga tanpa rasa bersalah.


"Kau!" Aku langsung menghampiri wanita sialan itu, ku letakkan tangan kananku di lehernya sampai tubuhnya terangkat.


Wajah cantik wanita itu berubah memerah dengan nafas yang tersenggal-senggal, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkraman tanganku di lehernya, sedangkan kakinya berontak mencari pijakan.


Jika dia bukanlah teman dan anak dari sahabat keluargaku, mungkin sudah ku mutilasi tubuhnya sebagai pakan buaya di kebun binatang.


"Arga! apa yang kau lakukan?" teriak paman Alan. Istrinya juga berlari sambil menangis melihat anaknya tergantung ditanganku.


"Boss, lepaskan dia, kau bisa membunuhnya," ucap Joe sambil menggoyangkan tubuhku.


"Lepaskan putriku, Arga! kau gila!" maki paman Alan.


Mereka mencoba melepaskan cengkraman kuat tanganku dari leher Hana, tapi rasa sakit hati dan emosi yang menguasai diriku membuat kekuatan tanganku tak terkalahkan.


"Ar-ga!" ucap Hana terbata-bata, matanya memerah mengucurkan deras air mata. Dia bahkan kesulitan bernafas.


"Aku sudah berbaik hati, memberikan tempat dalam sebuah hubungan sebagai teman, tapi sepertinya kau terlalu serakah, Hana," ucapku penuh amarah.


"Lepaskan, Boss. Dia akan mati kalau kau terus seperti ini," ujar Joe panik.


"Arga!" paman Alan mendaratkan pukulan di pipiku, seketika cengkraman tanganku terlepas dari leher Hana, dan wanita itu jatuh terbatuk-batuk sambil memegang dada dan lehernya.

__ADS_1


Emosiku semakin menjadi-jadi, tanganku meraih sebuah guci besar di samping kiriku dan hampir saja mendaratkan benda besar itu di atas kepala Hana kalau saja Joe tidak menahannya.


"Tahan dirimu, Boss. Tahan!" teriak Joe.


Lalu aku melemparkan guci itu tepat di samping Hana terduduk sampai dia terperanjat kaget dan ketakutan. Aku hampir kehilangan kendali.


"Kau mau membunuh putriku?" tanya paman Alan penuh emosi.


"Beruntung sekali dia tidak mati, Paman. Karena apa yang di lakukan putrimu itu lebih kejam daripada apa yang baru saja aku lakukan padanya."


"Apa yang di lakukan Hana sampai kau segila ini?"


"Apakah paman tidak tau? putrimu itu sudah membunuh anakku!" Aku berteriak tepat di depan wajah laki-laki yang selama ini aku hormati dan ku anggap sebagai keluargaku sendiri, namun karena ulah anaknya, semua rasa hormatku pada keluarga ini seakan lenyap.


"Anakmu?"


"Istriku sedang hamil, dan Hana dengan sengaja membuatnya terjatuh dari atas tangga sampai mengalami keguguran."


"Jangan mengarang cerita, Arga!" bentak paman Alan masih tidak terima, dia pikir aku sedang memfitnah wanita jahanam itu.


"Aku sudah punya bukti rekaman CCTV dimana putrimu berkata hal-hal buruk pada istriku, dan saat dia mengetahui bahwa istriku hamil, dia dengan sengaja mencelakainya."


"Benar yang dikatakan oleh Arga, Hana?" Paman Alan menatap putrinya yang menangis dalam pelukan mamanya.


"Memangnya kenapa? aku tidak mau siapapun memiliki Arga, dia hanya milikku seorang!" ucap Hana ketus dengan mata berair.


"Jadi benar, kau mencelakai istri Arga?"


Plak!


"Papa kecewa padamu, Hana!" hardik paman Alan pada putrinya.


"Tapi aku mencintai Arga, Pa. Kalian tidak mengerti perasaanku," ujar Hana tersedu-sedu.


"Cinta apa yang kau maksud sampai-sampai membuatmu mencelakai orang lain, kau di perbudak nafsu!" bentakku.


"Aku mencintaimu, Ga!" Hana merengek, kini dia duduk sambil memeluk kakiku.


"Aku jijik padamu, Hana!"


"Maafkan aku, Arga. Tapi aku tidak mau ada orang lain di hatimu selain diriku."


"Jadi kau berniat membunuh istriku?"


"Aku akan melakukan apapun asal kau menerima cintaku."


"Pergi! jangan sentuh kakiku dengan tangan kotormu itu!" Aku menendang wanita itu sampai terguling, dengan cepat bibi Alan membantunya berdiri.


Bibi Alan hanya menangis melihat putrinya, dia terus memeluk Hana dalam dekapannya, tapi dia tidak pernah berusaha membantah perkataanku ataupun membela putrinya. Dia seorang wanita, dia pasti tau bagaiman rasa sakit kehilangan calon buah hati akibat kejahatan wanita lain.


"Saat ini Sabrina hilang, jika dalam waktu dekat dia tidak di temukan, maka kau akan membusuk di dalam penjara, Hana!" Aku menuding wanita itu dengan jari telunjukku.


"Kami akan membantu mencarinya, Ga," kata paman Alan dengan wajah melunak.

__ADS_1


"Bagus. Jika istriku tidak pulang dalam dua hari kedepan, makan putrimu yang harus bertanggung jawab, Paman."


"Ba, baik, Arga."


Aku memutuskan mengajak Joe pulang, sebelum aku benar-benar berpikir membunuh wanita itu dengan tanganku, karena ketika melihat wajahnya, emosi dan rasa sakit di dadaku seakan mendorongku berbuat kasar pada siapa saja.


Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku berlaku kasar pada wanita, aku memang bersikap dingin pada siapa saja wanita yang mendekatiku, tapi tidak sekalipun aku menyentuh mereka dengan kasar.


...


"Apakah tidak sebaiknya kita menemui orang tua Sabrina, Boss?" tanya Joe saat kami sampai di rumah.


"Aku sudah menghubungi Sabrina berkali-kali, tapi sepertinya dia memblokir nomorku," lanjut Joe.


"Bolehkah aku meminta nomor ponselnya, Joe?"


"Nomor siapa?"


"Sabrina," jawabku lesu.


"Hah, kau benar-benar tidak waras, Boss. Hampir enam bulan menikah, tapi kau sama sekali tidak tau nomor ponselnya." Joe menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tidak membela siapapun disini, Boss. Tapi kali ini kau juga salah, kau membiarkan wanita yang setiap hari menemani hidupmu, tapi kau bahkan tidak berniat saling bertukar kabar saat jauh. Pantas saja Sabrina mudah termakan omongan Hana," lanjut Joe.


"Aku tidak tau kalau akan terjadi hal seburuk ini." ujarku.


"Catat nomornya," kata Joe, aku langsung mengeluarkan ponsel dari saku celanaku.


Setelah nomor yang ku minta lengkap, aku menekan tombol hijau bergambar gagang telepon pada layarnya.


Perasaan was-was menjalar sampai ulu hati, aku berharap Sabrina mengangkat panggilanku, meskipun terdengar bunyi tersambung disana, tapi tidak pernah ada jawaban.


Sabrina, aku tau kau mencintaiku, aku tau kau akan segera pulang. Kembalilah, aku tidak bisa hidup tanpamu, maafkan aku jika semua ini terlambat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Info: POV Tuan Arga, artinya yang menjalankan peran sebagai "Aku" disini adalah tuan Arga ya teman-teman 😊


iLY 3000 🥰


__ADS_2