
Setelah waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, aku bergegas mengajak tuan Arga keluar dari butik, aku sudah berjanji akan menemui tuan Joe dan seseorang di sebuah caffe dekat taman kota.
"Kita mau kemana?" tanya tuan Arga.
"Jalan-jalan."
Bang Bimo sibuk menyetir dengan hati-hati, sedangkan tuan Arga sesekali mencuri kesempatan untuk mencium pipiku saat aku melamun memandang ke arah luar jendela kaca mobil.
Perasaan khawatir menjalar ke seluruh tubuhku, aku benar-benar takut jika ada masalah serius yang terjadi pada tuan Arga.
"Kau memikirkan apa?" tanya tuan Arga menyentuh daguku, dia mengangkatnya sedikit sampai pandangan kami saling bertemu.
"Tidak apa-apa, aku hanya memikirkanmu."
"Aku disini, kenapa kau terlihat cemas?"
Kau memang terlihat sehat, tuan. Tapi aku tidak tau apa yang terjadi di dalam jiwamu, kau memang membuatku merasa sangat di cintai, tapi semua itu berasal dari ketakutanmu yang berlebihan.
"Kita akan datang ke caffe, disana sudah ada tuan Joe dan Claire," ujarku tersenyum.
"Benarkah? apakah ini kencan rame-rame?"
"Bisa jadi."
Beberapa menit kemudian mobil sudah terparkir di halaman caffe, tuan Arga turun lebih dulu untuk membuka pintu, sedangkan bang Bimo tetap duduk di kursi pengemudi.
"Bang Bimo mau ikut masuk juga?" tanyaku.
"Tidak, Non. Saya tunggu di mobil saja."
"Baiklah, Bang. Jika ingin minum atau makan sesuatu, pesan saja, aku yang akan membayarnya."
"Wah, terimakasih banyak, Non."
Aku pun berlalu masuk menggandeng lengan suamiku yang terlihat gagah nan rupawan ini, mata wanita mana yang tidak terpesona saat orang ini lewat di depan mereka, tubuh tegap sempurna dengan wajah yang sudah tampan dari sananya ini membuat hati setiap wanita tergelitik ingin mendekat, begitupun aku saat pandangan pertama dulu.
Di sudut caffe sudah terlihat tuan Joe, Claire dan seorang wanita lain yang memakai dress putih selutut dengan rambut yang di sanggul rapi, mereka melambai ke arah kami.
"Sudah lama menunggu?" tanyaku duduk di samping Claire.
"Belum ada sepuluh menit kok," jawab Claire.
"Perkenalkan, saya Hanum," sapa wanita cantik itu dengan mengulurkan tangan.
"Saya Sabrina," ujarku memperkenalkan diri.
"Ini istrinya Arga?"
"Ya, saya istrinya." Aku mengangguk. Pasti di pikiran wanita itu merasa aneh, bagaimana bisa seorang Arga memiliki istri yang tidak cantik sepertiku, lelaki tampan mapan dengan kekayaan yang super melimpah memilih istri sepertiku, dan anehnya lagi laki-laki itu hampir gila hanya karena aku meninggalkannya.
"Kau sangat cantik, Nona. Kalian pasangan yang sangat serasi," ucap wanita itu tersenyum ramah, dia seperti bisa membaca pikiranku.
"Terimakasih, Hanum. Ngomong-ngomong kenapa kau bisa ada disini?" tanya tuan Arga.
__ADS_1
"Ah, tadi aku mampir membeli makanan ringan, dan Joe mengajakku bergabung untuk sekedar mengenang masa sekolah," jawab Hanum beralasan.
Aku memang merencanakan pertemuan dengan Hanum ini tanpa sepengetahuan tuan Arga, Hanum adalah teman sekolah tuan Arga dan tuan Joe saat duduk di bangku SMP, sekarang Hanum adalah seorang psikiater yang biasa menangani pasien yang mengalami trauma ringan bahkan berat, dia adalah ahlinya.
Kami mengobrol banyak siang ini, tuan Arga dan Hanum sepertinya sangat senang bertukar cerita tentang masa sekolah mereka, sesekali tuan Joe menimpali dengan candaan yang jenaka untuk membuat suasana semakin nyaman, sedangkan aku dan Claire hanya menjadi pendengar yang baik.
Beberapa kali Hanum memberi pertanyaan-pertanyaan pribadi pada tuan Arga, dan tuan Arga menjawab tanpa menaruh curiga meskipun pertanyaan itu bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan mentalnya saat ini.
"Aku pergi sebentar, ya," ucapku saat ingin buang air kecil ke kamar mandi.
"Jangan pergi lagi, Sayang. Aku mohon, kita sedang berkumpul bersama sekarang, jangan tinggalkan aku," ujar tuan Arga menahan tanganku.
Suasana ceria yang awalnya sangat riuh dengan canda dan tawa seketika berubah hening saat mereka melihat tuan Arga yang mulai menampakkan sikap anehnya.
"Aku hanya ke toilet sebentar, Honey. Kau tunggu saja disini," ujarku pelan, ku tatap kedua bola mata yang sudah mengembun itu.
"Jangan lama-lama," katanya.
"Baiklah, hanya lima menit."
Aku pun berlalu pergi ke toilet, minum terlalu banyak es membuatku tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecil.
Setelah selesai, aku kembali menghampiri mereka.
"Sudah?" tanya tuan Arga.
"Sudah."
"Sekarang aku yang mau ke toilet. Joe, tolong jaga Sabrina, jangan biarkan dia pergi kemana pun," ujar tuan Arga, tuan Joe mengangguk cepat sambil melirikku.
"Tidak ada obat untuk hal semacam itu, hanya kamu yang bisa menjadi obatnya, Nona," kata Hanum.
"Apakah dia akan terus seperti itu?" tanyaku penasaran.
"Tidak, kau hanya perlu membuatnya percaya padamu, bahwa kau tidak akan pernah lagi meninggalkannya, buat dia nyaman, tanamkan dalam hatinya bahwa kalian akan selalu bersama meskipun tidak saling bertatap muka."
"Aku tau kau akan kesulitan jika Arga terus mengekangmu sampai kau tak bisa melakukan aktifitas seperti biasa, tapi semoga ini tidak akan berlangsung lama," lanjut Hanum.
Setelah Hanum menjelaskan banyak hal yang harus aku lakukan, dia memberiku sebuah obat sebagai penenang untuk tuan Arga, meskipun dia tidak pernah histeris seperti orang dalam gangguan mental pada umumnya, tapi obat ini bisa membuat keseimbangan emosinya terkontrol, ini akan mempercepat proses pemulihannya.
Usai tuan Arga kembali dari toilet, Hanum pamit untuk segera pulang, karena hari sudah semakin sore. Tidak berapa lama, kami semua juga bergegas untuk pulang ke rumah tuan Arga.
Aku bersama tuan Arga masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh bang Bimo, sedangkan tuan Joe dan Claire berada di mobil yang sama milik tuan Joe.
Setelah sampai di rumah, aku bergegas mandi dan berganti pakaian untuk persiapan makan malam.
"Honey, kau tau perasaan Claire?" tanyaku pada tuan Arga yang sedang bermain ponsel di sofa, sedangkan aku sibuk menyisir rambutku.
"Kenapa kau tanya hal itu, Sa?"
"Tidak apa-apa, jika kau tidak tau, aku akan memberitahumu."
"Aku sudah tau," jawab tuan Arga datar.
__ADS_1
"Perasaan Claire terhadap tuan Joe?"
"Ya, aku tau semuanya, Sayang." Tuan Arga mendekat, dia memeluk pinggangku, menempelkan tubuh kami hingga tiada jarak yang menghalangi gesekan kain baju kami.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak perlu lagi repot-repot memberitahumu," ujarku.
Tuan Arga hanya diam, terus menatap mataku tanpa berkedip, tangan kanannya kini beralih ke tengkuk leherku, dia mendorongnya agar wajah kami semakin berdekatan.
"Kenapa kau selalu membuatku tergoda?" tanya tuan Arga saat bibir kami hanya berjarak beberapa centimeter.
"Siapa yang menggoda? aku?"
"Ya, kenapa semakin hari kau semakin cantik, dan aku semakin tidak bisa mengontrol keinginanku," ujar tuan Arga. Kali ini bagian bawah tubuhku yang menempel padanya merasa ada sesuatu yang bergerak menegang.
"Benarkah? apa kau tidak pernah puas melakukannya?" tanyaku semakin menggoda.
"Aku selalu puas bersamamu, tapi keinginan itu selalu muncul setiap saat, seperti tidak ada hentinya untuk meluapkan rasa ini."
Membuatmu selalu bahagia dan menjaga emosimu agar tetap baik adalah hal yang harus aku lakukan demi pemulihamu, itulah yang di sampaikan Hanum padaku.
"Kita akan melakukannya usai makan malam, Honey, bertahanlah." Aku sedikit mendorong dadanya agar pelukan kami terlepas.
"Bagaimana kalau sekarang?" Tuan Arga menarik kembali tubuhku.
"Ini sudah hampir waktunya makan malam," tolakku.
"Lihat, senjataku sudah siap bertempur, jangan membuatnya marah, Sayang." Tuan Arga menunjuk sesuatu disana.
"Bertahanlah, satu jam lagi," ujarku menolak.
Tok ... Tok ... Tok ...
yes! Aku terselamatkan.
Suara ketukan pintu membuat tuan Arga melepaskan tubuhku dengan terpaksa, wajahnya kini sudah di tekuk dengan bibir yang mengerucut. Dia pasti sangat kesal karena gagal bertempur saat ini.
Keinginannya memang tidak pernah bisa ku tolak, tapi aku bisa mengulur waktu sejenak untuk mempersiapkan diri, karena tenaga laki-laki itu tidak pernah bisa ku imbangi.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...