
Sesampainya di kamar, aku sudah melihat tuan Arga keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk putih, dia meraih handuk berukuran kecil di dekat meja rias lalu mengeringkan rambutnya.
"Bisa ku bantu?" tanyaku sambil mengulurkan tangan.
"Ah, kau memang yang terbaik, Sayang," ujarnya memberikan handuk kecilnya padaku. Kini dia duduk di depan meja rias selagi aku menggosokkan handuk di kepalanya.
"Pelayan bilang, mereka tidak menyediakan coklat di sini, tapi sekarang sudah di belikan, kita tunggu saja," ucapku.
"Aku sudah tau, sudah lama tidak ada yang minum coklat hangat di rumah ini," ujarnya menatap diriku di bayangan cermin.
"Memangnya kenapa?"
"Saat aku kecil, mama selalu membuat coklat hangat untukku setiap pagi ketika sarapan, dan setiap malam sebelum tidur. Semenjak kepergiannya, aku benci sekali dengan coklat, aku sangat membenci minuman itu, jadi aku melarang siapapun di rumah ini minum coklat hangat, aku tidak suka," jelasnya, matanya menatap kosong, menerawang peristiwa yang ia alami di masa lalu.
"Lalu, sekarang kau sangat suka, kenapa?"
"Aku kembali menyukai coklat hangat sejak kepergianmu waktu itu, aku sering melihatmu meminumnya, aku juga mendapat laporan dari Salimah kalau setiap hari kau selalu minta di buatkan minuman kesukaaanmu itu."
"Lalu, setelah kau pergi, aku kesepian, frustasi, Salimah menawarkan coklat hangat padaku, saat aku meminumnya, aku merasakan kenyamanan, aku merasakan perubahan suasana hatiku, aku menyukai apa yang kau sukai," lanjutnya.
"Maafkan aku, saat itu aku benar-benar marah. Kau bersikap begitu manis pada Hana, seolah-olah dia adalah wanita yang berarti untukmu, aku cemburu."
"Tidak apa, biarkan semuanya menjadi pelajaran untuk kita. Kita akan memperbaiki semuanya, aku berjanji untuk tidak akan pernah menyakiti hatimu," ujarnya berbalik badan, kini dia mendekap tubuhku di deoan dadanya.
...
Hari sudah malam, pelayan mengingatkan kami untuk segera turun karena waktu makan malam telah tiba. Aku dan tuan Arga bergegas menuju meja makan.
Papa sudah sampai di sana lebih dulu, papa duduk di kursi utama, tuan Arga di sebelah kirinya, sedangkan aku di sisi kanannya.
Sangat jelas terlihat jika tuan Arga sama sekali tidak bersemangat selama berada di rumah ini, dia yang biasanya suka jahil dan mengatakan hal-hal yang tidak perlu ku dengar, kini ia lebih banyak diam dan merenung.
Suasana makan malam yang canggung membuat selera makan ku kurang baik, papa hanya sesekali bertanya pada tuan Arga tentang perkembangan bisnisnya, sedangkan tuan Arga hanya menjawab seperlunya, tidak basa basi atau menambahi percakapan agar lebih menyenangkan, ia sangat irit bicara malam ini.
Sesekali ku lirik papa yang memperhatikan gerak gerik putra semata wayangnya, aku tau laki-laki itu punya harapan besar terhadap tuan Arga, hanya saja sifat tuan Arga yang selalu merasa benar dan enggan menerima nasehat membuat papa melangkah mundur jika harus memulai perdebatan.
"Ga, besok papa akan berkunjung ke makam mamamu bersama Sabrina," ujar papa saat makanan di atas piringnya telah habis.
"Pergilah," jawab tuan Arga datar, ia sama sekali tidak ingin melihat wajah papanya.
"Kau tidak ingin ikut? kali ini saja," tawar papa, sepertinya papa sangat berharap anak laki-lakinya ikut.
"Tidak!"
"Kali ini saja, Nak. Papa mohon," lanjut papa.
"Aku tidak suka di paksa, Pa. Ini sudah menjadi keinginanku." Tuan Arga sedikit menaikkan volume suaranya, aku melihat raut wajah yang tidak bisa di artikan, dia marah, tapi ada gurat kesedihan di matanya.
"Baiklah, maafkan papa."
__ADS_1
Tuan Arga beranjak dari kursinya, kini dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar tanpa memperdulikan aku yang masih diam mematung di samping papa.
Ku lihat papa mengusap bulir bening yang menetes di ujung kelopak matanya, kini ia tidak bisa lagi menahan perasaan kecewa itu.
"Sabrina akan membujuknya, Pa," kataku.
"Dia tidak akan pernah mau, Nak. Papa tau betul sifatnya, sekali tidak, tetap tidak."
"Sabrina akan mencobanya dulu, Pa."
"Terimakasih, Nak. Semoga dengan hadirnya kamu di kehidupan Arga, akan membuat dia berubah, mungkin sifat keras kepalanya sedikit melunak, tapi egonya masih terlalu tinggi," ujar papa mengusap buliran bening yang terus berjatuhan di pipinya.
"Doakan kami, Pa. Sabrina akan berusaha menjadi istri yang baik bagi tuan Arga."
"Doa papa tidak pernah putus untuk kalian, sekarang istirahatlah, temani suamimu."
"Baik, Pa. Papa juga harus istirahat, selamat malam."
"Selamat malam, Nak."
Setelah itu aku bergegas menyusul tuan Arga ke dalam kamar, rasanya aku sudah tidak tahan ingin mengintrogasi laki-laki itu, bagaimana bisa dia begitu egois sampai-sampai tidak mau berkunjung ke makam mamanya, apakah yang membuatnya seperti itu?
Ku buka pintu kamar yang memang tidak di tutup dengan rapat, laki-laki itu duduk di atas ranjang sambil bersandar di dipan, dia sibuk memainkan ponselnya.
"Honey," sapaku sambil duduk di sampingnya.
"Kenapa? kau mau membujukku untuk ikut denganmu ke makam mama?" jawabnya sambil menatapku tajam, seolah benar-benar tau apa yang akan aku lakukan.
"Aku tau kau, Sabrina. Tolong, untuk urusan ini, jangan pernah membujukku atau bahkan memaksaku, aku benar-benar akan marah padamu," tukasnya tajam.
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya, Honey." Ku dekati tubuhnya, berbaring di sampingnya. Aku melingkarkan lenganku di perutnya yang bermotif kotak-kotak itu, kebetulan dia melepas kaosnya dan hanya memakai celana pendek berwarna hitam. Dia hanya diam, tidak meresponku, matanya kembali fokus ke layar ponsel.
"Kau tidak ingin menceritakan sesuatu padaku?" tanyaku pelan, ku mainkan jamariku di dekat pusarnya.
"Hentikan! itu geli," ujarnya menepis tanganku.
"Berceritalah dulu. Jika tidak, aku akan menggelitik perutmu."
"Aku tidak mau!"
"Kenapa? bukankah aku ini istrimu, seharusnya kita tidak hanya berbagi tawa," lanjutku, kini jemariku membelai lembut dada bidangnya. Dia enggan menjawab, tangan dan mata masih fokus pada ponselnya.
"Ceritakan, apa yang tidak aku tau tentangmu, Honey."
"Itu tidak perlu, kau hanya perlu tau bahwa aku mencintaimu, itu saja."
"Bukankah seharusnya kita saling terbuka?"
"Cukup! jangan membuatku marah, sekarang tidurlah," ucapnya tegas, kali ini aku benar-benar takut untuk kembali merayunya.
__ADS_1
Ku lepaskan pelukanku dengan kasar, kini aku menjauhinya, menempatkan diriku di bagian ujung kasur dan membelakanginya.
Berbulan-bulan aku tidak pernah lagi mendengarnya berkata keras dan membentakku, kali ini dia kembali melakukannya, seperti saat pertama kali kami menikah.
Entah apa yang membuatnya benar-benar enggan bercerita, tapi rasa penasaranku begitu besar, aku tidak akan menyerah sampai mengetahui tentang apa yang dia sembunyikan dariku.
Tidak percayakah dia padaku?
Aku pura-pura tidur membelakanginya, meskipun ku pejamkan erat mata ini, namun kantuk belum juga menyerang, hati yang gelisah membuat pikiranku melayang kemana-mana.
Hampir satu jam berlalu, tuan Arga masih tidak bergerak, sepertinya dia masih berada di posisi yang sama sambil memainkan ponselnya, sedangkan aku belum juga tertidur.
Tuan Arga menarik selimut tebal di kakiku, lalu menutupi tubuhku agar tidak kedinginan, karena udara di tempat ini lebih dingin dari pada di kota tempat kami tinggal.
Tiba-tiba tangan hangat itu menyentuh pundak ku, aku rasakan tubuhnya mulai mendekat, kini dia memelukku dari belakang, tangannya melingkar di perutku, lalu menenggelamkan wajahnya di tengkuk leherku.
Beberapa kali dia menghela nafas panjang, seakan menenangkan dirinya sendiri yang sedang di landa kegelisahan. Cukup lama dia memelukku, lalu kembali ke posisi tidurnya semula, aku membiarkannya, sepertinya dia benar-benar tidak ingin di ganggu.
Ku lirik jam dinding yang tergantung di atas meja rias, waktu sudah menunjukkan tengah malam, sepertinya tuan Arga sudah tidur, karena aku tidak merasakan kasur ini bergoyang, ku balikkan tubuhku menghadap dirinya dengan percaya diri.
"Kenapa kau belum tidur?" tanyanya tiba-tiba. Ternyata dia tidur terlentang sambil memandang langit-langit kamar ini.
"Aku hanya terbangun, tadinya sudah tidur," jawabku berbohong, padahal sama sekali mataku tidak bisa merem.
"Bohong!"
"Aku tidak bohong, aku benar-benar tidur, Honey."
"Aku tau kau hanya pura-pura tidur," ucapnya lalu berbaring menatapku.
"Hmm, terserah kau saja."
"Baiklah, sekarang ayo kita tidur, aku akan memelukmu," ujarnya lembut, kini tangan kanannya sudah di letakkan di bawah kepalaku sebagai bantal.
Aku mengangguk, mengikuti keinginannya.
Setelah cukup lama kami saling memeluk, akhirnya aku bisa tertidur dengan pulas.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...