TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Sate Kambing


__ADS_3

Aku bersyukur, setidaknya ada untaian benang yang menutupi maluku meskipun kain tipis transparan berbahan satin, ini lebih baik daripada tidak memakai apapun untuk menuruti ide gila tuan Arga.


Karena di kamar ini tidak ada sofa panjang seperti yang terlihat di adegan film, tuan Arga memilih untuk menggantinya dengan kasur lebar ini, ia menyuruhku berbaring terlentang di atas kasur dengan posisi tangan dan kaki yang di posisikan sesempurna mungkin agar menghasilkan gambar yang bagus, bisa di bilang pose ini lebih hot dari pose sang aktris di film itu.


Tuan Arga duduk di sebuah kursi kayu yang biasa di pakai di depan meja rias, tidak jauh dariku. Berbagai jenis warna cat air sudah ia siapkan dalam wadah berbentuk bulat-bulat, kanvas putihnya kini membentang di hadapannya, dia telah siap memulai gerakan tangannya.


"Berapa lama aku harus berpose seperti ini, Honey?" Akhirnya kata-kataku muncul setelah hampir dua puluh menit aku seperti menahan nafas agar tidak bergerak.


"Sebentar lagi, bersabarlah, Sayang," ucapnya sambil terus fokus dengan tangannya. Dia memandangku sekilas, kemudian kanvasnya, kembali memandangku lagi, lalu kanvasnya, begitu terus menerus. Untung kepalanya tidak copot, pikirku.


"Kaki dan tanganku rasanya sudah kesemutan, Honey."


"Sedikit lagi," ujarnya begitu.


Huh, aku bahkan sudah seperti putri duyung terdampar.


"Hampir selesai, bersabarlah," ucapnya beberapa menit kemudian.


"Badanku sampai kaku rasanya," ujarku sedikit kesal.


"Kau sendiri yang memintaku melukismu, jadi jangan cerewet!"


"Aku tidak cerewet, hanya mengeluh sedikit saja di bilang cerewet!"


"Baiklah, sudah jadi." Tuan Arga berdiri dari kursinya, ia memperlihatkan padaku hasil dari goresan cat air yang ia tuangkan.


Wah, bagus sekali. Aku terlihat cantik di sana.


"Bagus?" tanya tuan Arga.


"Bagus, Honey. Aku suka sekali," ujarku sambil meregangkan badan yang terasa sangat nyeri karena tidak bergerak selama hampir satu jam.


"Ah, badanku kaku, sakit semua," lanjutku sedikit merengek.


"Aku akan melemaskan kembali otot-ototmu yang kaku itu, Sayang," ujar tuan Arga sambil menaiki ranjang tempatku berbaring, tatapannya seolah-olah menginginkan sesuatu, aku tau betul niat laki-laki ini.


"Tidak! Kita sudah melakukannya semalam, pagi tadi juga sudah, jangan lagi, Honey. Kau mau membunuhku?" ujarku menepis tangan yang mulai meraba di area pinggangku.


"Melakukan apa? aku kan hanya mau memijatmu," ujar tuan Arga.


"Memijat?"


"Tentu saja, lalu menurutmu aku akan melakukan apa?" Tuan Arga mendengus kesal, aku yang salah sangka kini malu sendiri.


"Dasar, sedikit-sedikit mikir yang iya-iya," gumamnya lirih, namun aku masih bisa mendengarnya.


"Ngomong apa tadi?"


"Jadi mau di pijat atau tidak?"


"Mau deh, mau."


Terkadang aku juga membenci pikiranku ini, kenapa setiap tuan Arga bersikap begitu manis padaku, pikiran kotor ini selalu menebak kalau dia akan meminta jatah tambahan yang iya-iya.


"Sebelah sini, Honey. Sakit sekali," kataku sambil menunjuk betis kaki kanan.


"Sini?"


"Ya, sedikit keatas."


Tepat sekali, pijatan laki-laki ini memang sangat enak, ternyata keahlian tangannya tidak hanya dalam bidang seni, namun juga dalam bidang pijat memijat, multi talent sekali.


Namun, sesaat ku rasakan tangan laki-laki itu sedikit naik dari betisku, tangannya seperti merambat naik, dan semakin naik mencapai pahaku, kini semakin naik sampai di pangkalnya.


"Honey, hentikan! itu geli!" ujarku menepis tangannya yang hampir sampai di atas pahaku.


"Aku kan hanya memijat, mana mungkin memijat hanya di satu tempat, sebaiknya di bagian yang ini juga," ucapnya sambil tersenyum nakal.


"Sudah, aku tidak mau pijat lagi, badanku sudah enakan."


"Tidak, Sayang. Kau harus pijat seluruh badan sampai rata, jika tidak, maka akan membuatmu lebih terasa pegal."

__ADS_1


"Cukup! kau memang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan!"


"Aku memang sangat suka yang sempit-sempit, Sayang."


Hah, kau ini pikiranmu kotor sekali sih, menyebalkan.


"Aku mau mandi, Honey. Tolong lepaskan tanganmu yang menempel disitu." Ku tunjuk tangannya yang sedang memijat sesuatu yang bukan seharusnya.


"Dasar pelit!" Dia mendesah. Aku langsung turun dari tempat tidur dan menyambar handuk yang terletak di atas meja rias.


Kalau sampai adegan pijat memijat ini di teruskan, maka sudah pasti akan terjadi hal yang iya-iya. Laki-laki seperti tuan Arga memang tidak pernah merasa lelah, sedangkan dia tidak memikirkan tubuhku yang hampir remuk siang malam bertempur bersamanya.


Usai mandi dan mengganti pakaianku dengan yang lebih pantas di lihat, aku duduk di tepian kasur sambil memainkan ponsel. Sekilas ku lihat lukisan yang catnya kini belum benar-benar kering.


Pandai sekali tuan Arga melukis, setiap tetes cat yang di torehkan sangat detile, gambarannya terlihat sangat nyata.


"Bagus bukan? aku pikir karena sudah lama tidak melukis, maka hasilnya tidak akan sebagus itu," ujar tuan Arga sambil merapikan peralatan lukis yang sudah selesai ia gunakan.


"Ah, aku suka sekali, Honey. Kau memang benar-benar berbakat," pujiku.


"Tentu saja, wajah tampan saja tidak akan cukup membuat seseorang memiliki harga," katanya sambil tersenyum miring.


"Begitukah?"


"Ya, jika seseorang punya banyak uang, seburuk apapun rupa wajahnya, itu mudah untuk mengubahnya sesuai keinginan. Tapi bakat dan ketrampilan, butuh banyak usaha dan kegigihan untuk mencapai hasil maksimal."


"Hmm, betul betul betul. Apakah lukisan ini kita bawa pulang atau di letakkan di sini?" tanyaku.


"Aku akan membawanya pulang, jika di letakkan di ruangan kantorku pasti bagus."


"Hah, tidak! itu sangat memalukan."


"Memangnya kenapa, aku pasti akan sangat bersemangat kerja karena bisa memandangmu selama yang aku mau."


"Bagaimana kalau orang lain yang melihatnya, Hah?"


Laki-laki ini pasti sudah benar-benar gila, ku pikir dia sudah kembali waras.


"Menyebalkan!" Aku melengos pergi.


"Maaf, Sayang. Aku hanya menggodamu," ujarnya menarik lenganku.


"Tentu saja aku tidak mau tubuh istriku di lihat banyak orang, kau hanya milikku. Jika ada orang lain yang berani menatapmu secara berlebihan, aku tidak akan segan-segan mencongkel matanya," lanjutnya.


"Baiklah, kita simpan lukisan ini di kamar kita," saranku.


"Lebih baik jika di gantung di ruang ganti. Kalau di kamar, pelayan dan orang-orang terdekat bisa saja melihatnya," ujar tuan Arga.


"Hmm, baiklah. Terserah kau saja, Honey."


...


Malam ini tuan Arga mengajakku makan malam ke sebuah resto terkenal di sekitar wilayah ini, di sana terkenal dengan seafoodnya yang sangat lezat dengan cita rasa khas Jepang.


Usai makan malam, kami menghabiskan waktu jalan-jalan mengelilingi daerah ini, mungkin bukan termasuk wilayah yang ramai seperti di ibu kota, namun suasana yang tenang dan nyaman membuatku semakin bisa menikmati malam yang indah ini.


Tuan Arga sengaja mengemudikan mobil ini sendiri, agar kita bisa menikmati waktu berdua tanpa ada yang mengganggu. Karena ku rasa laki-laki ini sedikit sensitif dengan bang Bimo.


"Kau suka sate kambing, Honey?" tanyaku.


"Tidak begitu, memangnya kenapa?"


"Kita makan sate kambing, yuk. Di sana," ujarku menunjuk seorang pedagang kaki lima penjual sate yang sedang beristirahat di trotoar, mungkin ia lelah mendorong gerobak satenya.


"Kita akan cari restoran sate yang lebih bagus, Sayang. Jangan yang itu," tolak tuan Arga.


"Memangnya kenapa? pokoknya aku mau yang itu!"


"Baiklah, baiklah. Jangan marah, ayo kita kesana."


Tuan Arga menepikan mobilnya di dekat penjual sate itu, kini aku berjalan lebih dulu menghampirinya.

__ADS_1


"Ada sate kambing, Pak?" tanyaku ramah.


"Oh, ada, Non. Mau berapa tusuk?"


"Kau mau berapa, Honey?" tanyaku melempar pandangan pada tuan Arga.


"Aku terserah kau saja," ujarnya pasrah.


"Baiklah, lima puluh tusuk ya, Pak."


"Hah, lima puluh tusuk?" Tuan Arga terkejut.


"Kau bilang tadi terserah padaku, jangan protes!"


Akhirnya bapak penjual sate itu mempersiapkan tempat duduk untuk kami, ia menggelar sebuah tikar sebagai tempat kami duduk dan meminta kami menunggu dengan sabar.


Setelah sepuluh menit berlalu akhirnya lima puluh tusuk sate di hidangkan di depan kami dengan bumbu kacang yang terlihat sangat nikmat.


"Silahkan di nikmati, Tuan dan Nona. Maaf jika tempatnya kurang nyaman," ujar penjual sate sambil menaruh piring di depan kami.


"Tidak apa-apa, Pak. Terimakasih," jawabku.


"Semoga cepat mendapat momongan ya, Non. Bapak perhatikan dari tadi kalian mesra sekali." Bapak itu mengulum senyum.


"Eh iya, Pak." Aku sedikit terkejut mendengar penuturannya. Lalu bapak itu kembali duduk di samping gerobaknya.


"Jangan terlalu banyak, nanti kau terkena darah tinggi." Tuan Arga mengingatkan.


"25 tusuk untukmu, 25 tusuk untukku."


"Kau cukup sepuluh saja, ini tinggi kolesterol," usulnya.


"Tidak, itu tidak adil, kau curang. Harus bagi rata!" seruku menolak sarannya.


Akhirnya dia mengalah, aku tetap membagi semua sate menjadi dua, separuh untukku, separuh lagi untuknya. Usai semua isi piring habis dan tinggal menyisakan tusuknya saja, tuan Arga segera membayar kepada si penjual.


Karena hari sudah semakin malam, kami memutuskan langsung pulang ke rumah papa. Setelah sampai kami langsung menuju ke kamar dan membersihkan diri, lalu beristirahat merebahkan diri di atas kasur.


"Honey, kau mendengar bapak penjual sate tadi mendoakan kita agar cepat di beri momongan?" tanyaku sambil bersandar di dadanya.


"Aku mendengarnya, kenapa?"


"Memang apa hubungannya makan sate kambing dengan cepat dapat momongan?"


"Apa kau tidak tau? sate kambing bagus untuk meningkatkan libido laki-laki, itu membuat tubuh semakin panas ingin yang iya-iya," jelas tuan Arga.


"Hah? masa?"


"Kau tidak percaya?"


"Tidak."


"Mari kita buktikan, sepanas apa hasratku setelah makan 25 tusuk sate tadi," tantang tuan Arga.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2