
Kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit mengikuti langkah dokter Budi, sepanjang jalan, dokter Budi terus saja menggoda suamiku yang terlihat tidak sabar.
Dokter Budi mengetuk pintu hanya sekali, kemudian pemilik ruangan langsung membukanya dan mempersilahkan kami bertiga untuk masuk.
Wajah dokter laki-laki yang mungkin usianya memasuki tiga puluhan itu terlihat terkejut dan seolah-olah sedang mengingat sesuatu saat pertama kali melihat suamiku.
"Apa aku mengenalmu?" tanya dokter itu sambil menyipitkan mata, memperhatikan suamiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kau seharusnya memang mengenalku, karena aku adalah anak dari pemilik rumah sakit ini," jawab suamiku menyombongkan diri.
Hah, rumah sakit ini milik papa mertuaku? Aku membatin karena terkejut.
"Kau, Arga? ya, kau Arga?" ujar dokter itu dengan tersenyum sumringah setelah menemukan jawaban di dalam pikirannya.
"Tunggu, aku sepertinya juga mengenalmu," kata tuan Arga menatap ke arah dokter itu seakan sedang mencerna hasil penglihatannya.
"Aku Daren, kau melupakanku?"
"Daren? Daren si bajing*n tengik itu?"
"Ah, jangan memujiku seperti itu, Ga. Dulu kau lebih tengik dariku. Hahaha," ujar dokter bernama Daren itu sambil tertawa lepas menepuk punggung suamiku.
"Ayo, silahkan duduk semua. Jadi, ini istrimu?" tanya dokter Daren.
"Tentu saja dia istriku, tidak mungkin aku membawa pembantuku ke dokter kandungan," jawab suamiku.
Sebelum pemeriksaan di mulai, aku sedikit berbincang dengan dokter Budi sambil memperhatikan dua sekawan yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa itu, sepertinya mereka pernah sangat dekat sebelumnya.
"Jadi, pasca keguguran kau belum pernah kembali cek kesehatan, Nona?" tanya dokter.
"Belum," jawabku jujur.
"Kau ini bagaimana, Ga. Apakah kau tidak mendapatkan informasi dari dokter yang menangani istrimu jika pasca keguguran harus rutin kontrol, setidaknya untuk memastikan bahwa rahimnya sudah benar-benar bersih," kata dokter menatap suamiku.
"Mana ku tau," jawab suamiku mengangkat bahu.
"Kau ini benar-benar, ya!" Dokter itu langsung memanggil seorang suster melalui teleponnya dan menyuruhnya datang ke ruangan ini.
"Bersabarlah, kau memiliki suami yang tidak peka seperti Arga ini, Nona," ujar dokter menatapku seperti prihatin, aku hanya tersenyum membalasnya.
"Hah, dasar tukang fitnah!" desis suamiku.
Beberapa saat kemudian seorang suster datang dengan pakaian serba putih rapi dengan rambut di sanggul.
Dokter Daren menyuruhku tidur terlentang di sebuah ranjang, lalu suster tadi memintaku untuk membuka sedikit bajuku ke atas, dari ujung kaki sampai di atas vaginaku di tutup dengan selimut berwarna hijau.
Untung saja aku memakai celana hari ini, jika memakai dress, mungkin akan lebih rumit.
"Hey, kau mau apa?" ujar suamiku menghentikan langkah dokter Daren mendekat ke arah ranjang.
__ADS_1
"Tentu saja aku mau memeriksa istrimu, Ga." jawab dokter.
"Sayang, cepat tutup perutmu, jangan biarkan dokter mata keranjang ini melihat itu," perintah tuan Arga.
"Hey, gila! kalau perut istrimu di tutup, lalu bagaimana aku melakukan pemeriksaan USG?" sahut dokter.
"Kau duduk disini saja, Ga. Dokter Daren akan memeriksa istrimu," ujar Dokter Budi menenangkan.
"Memangnya kenapa harus membuka baju seperti itu?" tanya suamiku lagi, sepertinya ia benar-benar tidak paham prosedur pemeriksaan terhadap wanita.
"Honey, tenanglah." Aku meliriknya tajam. Malu sekali rasanya melihat suamiku bertingkah bodoh seperti ini.
"Bagaiamana aku bisa tenang kalau dokter mesum ini membuka-buka bajumu."
"Arga, ini hanya sebentar. Dengar, aku hanya meminta bagian perutnya saja yang dibuka, tidak semuanya, Ga. Setelah itu aku mengoleskan gel ini di perut istrimu, lalu memakai alat ini untuk mengetahui kondisi rahim istrimu," jelas dokter Daren sambil memperlihatkan peralatan-peralatan USG di depan suamiku yang tidak tau apa-apa itu.
"Setelah itu, gambar kondisi rahim istrimu akan terpampang di layar monitor ini," lanjut dokter.
"Apakah tidak ada cara lain selain membuka bajunya dan memperlihatkan perut istriku di depanmu?"
"Ada, dengan cara membuka celana. Kau pilih yang mana?" jawab dokter dengan menahan senyum.
"Membuka celana? kau mau macam-macam dengan istriku, Daren?" Suamiku terlihat marah, dia menggebrak meja.
"Arga, dengarkan penjelasan dokter. Kau ini mengacau saja." Dokter Budi mulai kesal.
"Disini aku memakai dua metode USG, yang pertama di lakukan dengan menggunakan alat ini lalu di geser-geser di area kulit perut, dan yang kedua secara transvaginal, memasukkan alat di anu istrimu, Ga," jelas dokter Daren dengan penuh kehati-hatian. Ia terlihat begitu sabar menghadapi kepolosan suamiku.
"Dinding rahim mengalami penebalan, Nona," kata dokter sambil tangan kanan menggeser alat di atas perutku, dan tangan kiri menggeser mouse komputer di hadapannya.
"Artinya apa, Dok?"
"Ada dua kemungkinan, jika penebalan itu dalam waktu dekat luruh, maka nona akan mengalami haid, tapi jika tetap seperti ini, maka ada kemungkinan dinding rahim menebal untuk persiapan calon janin yang akan segera terbentuk disana," jelas dokter.
Aku mengangguk paham, lalu dokter menghentikan pemeriksaan dan suster membersihkan lapisan gel yang tersisa.
Padahal pemeriksaan di lakukan tidak sampai memakan waktu lebih dari sepuluh menit, tapi perdebatan panjang hampir saja memakan waktu setengah jam.
Ku perhatikan wajah suamiku di tekuk, bibirnya di majukan lima centimeter dengan tatapan mata tidak suka.
"Lihat, aku tidak macam-macam pada istrimu, Ga," ungkap dokter Daren sambil memperhatikan suamiku yang bergeming di kursi sebelah dokter Budi.
"Aku akan meresepkan vitamin untukmu, Nona. Rahimmu juga sudah bersih, sepertinya sudah siap pada kehamilan selanjutnya."
"Jika dalam beberapa hari kedepan nona tidak mengalami haid, maka bisa datang kembali untuk melihat kondisi rahim nona," lanjut dokter sambil menulis resep di sebuah kertas putih.
"Baik, terimakasih banyak, Dok. Maaf jika suamiku membuat keributan disini," kataku sopan.
"Ah, aku mengenalnya, Nona. Tenang saja," ungkap dokter.
__ADS_1
"Baiklah, Kakak. Minggu depan jika istrimu tidak haid, segera bawa kembali kesini ya, Kakak," tegas dokter pada suamiku yang bergumam komat-kamit.
"Kakak, kakak! sejak kapan ibuku melahirkan bocah tengik sepertimu," sergah suamiku sambil menarik lenganku, kami beranjak keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan.
Saat di luar ruangan, wajah si pencemburu itu kembali ceria, ia menanyakan resep yang dokter berikan dan segera menuju ruang penebusan obat.
Meskipun antrian di ruangan itu sangat panjang, tapi tuan Arga dengan cepat mendapatkan obat yang di butuhkan. Dia kembali lalu menyerahkan bungkusan plastik kecil padaku.
"Ayo pulang," ajaknya menggandeng lenganku.
"Kau tidak kembali ke kantor?"
"Tidak, aku ingin menemanimu di rumah."
Kami melangkah meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju ke rumah. Meskipun sebenarnya aku masih banyak pekerjaan di butik, tapi aku tidak ingin membantahnya, terlebih hari ini aku sangat bahagia dengan hadiah pemberiannya.
Jika ada dua kemungkinan antara hamil dan haid, semoga kemungkinan terbesar adalah kehamilan. Aku sungguh sangat berharap impian kami segera terwujud.
"Siapa sebenarnya dokter Daren itu, Honey?" tanyaku saat kami sudah sampai di kamar dan selesai berganti pakaian.
"Teman lama," jawabnya cuek.
"Kalian terlihat sangat dekat."
"Ya, dulu kami memang sangat dekat. Meskipun dia mesum dan menyebalkan, dia adalah teman yang sangat baik."
Suamiku menceritakan kisah pertemanan mereka saat masih duduk di bangku sekolah dulu, mereka saling kenal sejak kelas satu SMP lalu berlanjut sampai ke SMA, mereka berpisah saat saling memutuskan kuliah di universitas yang berbeda.
"Kami sering mengamen bersama. Nasibku lebih baik darinya saat itu, dia di tinggal mati oleh ibunya dan ayahnya, dia semangat sekolah dan mengamen untuk membiayai hidupnya bersama adik perempuannya yang saat itu masih kecil," ujarnya menerawang ke masa lalu.
"Setelah papaku sukses, papa membiayai dia untuk kuliah kedokteran di luar negri. Dia bilang, cita-citanya menjadi dokter agar bisa menyelamatkan nyawa orang lain, dulu ibunya meninggal karena dokter menolak mengobati ibunya yang sedang sakit keras, mereka tidak memiliki biaya."
Aku menjadi pendengar baiknya, selalu mendengarkan setiap kisah yang ia ceritakan. Aku bahagia, jika dia sudah terbuka tentang masa lalu dan teman-temannya, artinya dia mempercayaiku sebagai penadah keluh kesahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...