TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Aku Berjanji


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan Duhan, aku merasa tidak enak hati karena merepotkannya, apalagi jika sampai dia mendapatkan masalah besar hanya karena diriku.


Untuk apa tuan Arga sampai mengadakan sayembara bagi siapa saja yang menemukanku?


Agar aku kembali pulang?


Kenapa?


Apakah dia kehilanganku?


Pikiranku di penuhi banyak hal yang membingungkan, selama satu bulan penuh disini, aku hanya menghabiskan waktu untuk merenung, menggambar, dan membaca buku di perpustakaan pribadi milik Duhan.


Akhirnya aku memutuskan untuk membuka ponselku, menyalakan lagi layar yang sudah lama padam.


Beberapa detik setelah ponsel menyala, ratusan pesan datang bertubi-tubi, puluhan pesan dari Claire, dan seratus lebih pesan dari beberapa nomor asing yang berbeda.


Aku sengaja tidak mengganti nomorku, karena aku merasa itu tidak perlu. Dari sekian nomor yang sudah aku blokir, hanya milik Claire yang masih aku biarkan tetap bisa menghubungiku.


Ku baca semua pesan dari Claire terlebih dahulu, setiap hari dalam sebulan ini dia rutin mengirim pesan untuk menanyakan kabar dan mengungkapkan kekhawatirannya padaku. Setelah semuanya terbaca, aku menekan tombol hijau berbentuk gagang telepon disana.


Beberapa kali panggilan tidak terjawab, aku mencobanya untuk yang ke sekian kali.


"Sabrina, ini sungguh kamu?" Suara Claire terdengar panik setelah beberapa detik panggilan tersambung.


"Ya Tuhan, kau pergi ke mana, Sa. Semua orang hampir sekarat mencarimu," lanjutnya.


"Aku, butuh bantuanmu, Claire." Aku tidak menjawab pertanyaannya dan langsung kepada point yang menjadi tujuanku menghubunginya.


"Tentu saja, apapun akan aku lakukan untukmu, Sa."


"Aku ingin pergi menemuimu, Claire."


"Kau mau ke Paris?"


"Kemana saja asal bersamamu," ucapku sedikit memelas.


"Kau mau berangkat kapan?" tanya Claire bersemangat.


"Secepatnya."


"Besok? aku akan segera mengurus semua keperluanmu, kau tinggal berangkat saja."


"Baiklah, tapi aku punya satu permintaan."


"Apa? katakan saja."


"Tolong jangan beri tau siapapun jika aku menghubungimu atau berniat ingin menemuimu, Claire."


"Tapi kenapa? kau membuat semua orang takut, Sa. Arga khawatir, dia hampir gila mencarimu," ujar Claire meledak-ledak.


"Aku belum siap menemuinya, Claire. Tolong, kali ini bantu aku, rahasiakan ini dari siapapun." Aku semakin memelas.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kau harus punya alasan yang bagus untukku, besok aku akan menagihnya."


"Terimakasih, Claire. Kau benar-benar bisa di andalkan." Aku tersenyum mengakhiri panggilan.


Akhirnya aku punya tempat berlindung setelah ini, aku tidak lagi merepotkan Duhan. Aku tau dia begitu takut kehilangan karir dan pekerjaannya, tapi dia juga tidak sampai hati membiarkan nasibku terombang-ambing sendirian.


...


Pagi ini aku pamit kepada Bu Ningsih dan suaminya, lalu Duhan mengantarkanku ke bandara.


Dia begitu khawatir melihatku bepergian jauh seorang diri, seumur hidup aku memang belum pernah pergi ke luar negri sebelum menjadi istri seorang Argadiansyah Wijaya, ini adalah pengalaman pertamaku pergi sendirian.


"Apa aku perlu mengantarmu, Sa?" tanya Duhan dengan mata sendu.


"Tidak perlu, Han. Temanku akan menjemputku nanti," ujarku menenangkannya.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Berhati-hatilah, beri kabar padaku jika sudah sampai di Paris."


"Siap!" ucapku sambil tersenyum.


Setelah mendengar pengumuman pesawat yang akan aku tumpangi segera berangkat, aku pamit pada Duhan dan meninggalkannya duduk sendirian di depan tempat informasi.


Dia masih melihatku dari kejauhan, melambaikan tangan dengan senyum yang di paksakan.


Aku tau kau berniat membantuku dan tidak rela aku pergi lebih jauh, tapi aku juga tidak ingin kau menanggung resiko hanya karena diriku, Han.


...


Setelah pesawat landing, aku langsung menghubungi Claire, dia memintaku untuk menunggu di depan ruangan informasi.


Awalnya aku sangat bingung, bukan karena aku tidak menguasai bahasa asing, malainkan karena bandar udara ini sangat besar dan luas, aku harus bolak balik bertanya pada para security yang aku temui untuk menunjukkan tempat yang di maksud Claire.


Setelah hampir satu jam berputar-putar, akhirnya aku menemukan wanita cantik bergaun hitam selutut dengan rambut panjang tergerai indah sepinggang, kali ini ujung rambutnya bukan lagi berwarna merah, melainkan pirang.


"Claire," sapaku girang setelah lelah mencari dan akhirnya bisa menemukannya


"Hai, Sabrina. Apa kau tersesat?" ucapnya lalu memeluk erat tubuhku.


"Ya, aku butuh lebih dari sepuluh kali bertanya pada security, tempat ini sangat membingungkan."


"Itu karena kau belum terbiasa bepergian jauh, Sa. Ini adalah bandar udara terbesar di Paris, juga di Eropa, karena ini juga paling dekat dengan pusat kota," ucap Claire tersenyum. Aku hanya mengangguk menanggapinya.


"Ayo kita cari makan dulu, kau pasti lapar," lanjutnya.


Setelah itu kami memesan taxi online dan menuju sebuah restoran sederhana tidak jauh dari bandara.


"Bolehkah aku tinggal bersamamu untuk sementara waktu, Claire?" tanyaku sedikit ragu.


"Aku sangat senang jika memang itu yang kau inginkan, Sa. Tapi, aku ingin kau memberiku alasan kenapa aku harus merahasiakan ini."


"Aku ingin menenangkan hatiku, aku sudah hancur, Claire. Anak yang ada dalam kandunganku sudah pergi, Arga tidak mencintaiku, dan wanita lain berusaha mencelakaiku demi bisa bersama Arga."

__ADS_1


"Aku sudah mendengar semua ini dari Arga. Kau salah, Arga sangat mencintaimu," ucap Claire dengan tatapan serius


"Bohong! Dia bahkan tidak pernah mengatakan perasaannya padaku, Claire."


"Apakah setiap cinta harus di ucapkan? bukankah sikap mencintai yang harus di realisasikan?" Claire berkata dengan penuh penekanan.


Aku tertunduk, aku menyadari bahwa tuan Arga tidak pernah mengatakan perasaannya padaku, tapi sikapnya sudah mulai berubah sangat lembut dan perhatian sejak beberapa bulan terakhir sebelum hal mengerikan itu terjadi, semua itu yang awalnya membuatku yakin dia mencintaiku. Tapi saat aku tau isi video yang di perlihatkan oleh Hana, hatiku benar-benar hancur, kepercayaan akan cinta itu ikut tergerus di dalamnya.


"Arga tidak pernah putus asa mencarimu, Sa. Dia bahkan hampir gila memikirkanmu."


"Aku tau betul perasaanmu, tapi aku juga tidak membenarkan tindakanmu untuk pergi tanpa kabar selama ini," lanjut Claire, kali ini matanya berembun.


"Aku akan kembali memikirkan semuanya, Claire. Aku butuh waktu sedikit lagi," jawabku lirih.


Benarkah apa yang dikatakan Claire?


Tuan Arga mencintaiku? sungguh?


Lalu kenapa dia menggantungkan perasaanku, kenapa dia tidak mengakuinya?


"Lihat ini," ucap Claire lalu menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya.


Aku tergugu melihat pemandangan yang memprihatinkan itu, tuan Arga duduk di bawah anak tangga sendirian, tatapannya kosong. Laki-laki itu sangat berantakan, entah sudah berapa lama dia tidak merapikan rambut-rambut halus di area wajahnya, tapi kini dia tampak sangat kacau.


"Kau lihat? dia sekarat tanpamu, Sa."


"Aku berjanji akan kembali, Claire. Tapi tidak untuk saat ini."


"Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri, Sa? aku yakin kau juga sakit meninggalkannya, tapi kau egois," Claire menghela nafas panjang. Aku tau dia juga memikirkan sahabatnya yang sedang di rundung kehilangan, tapi dia juga resah karena aku tidak bisa di nasehati.


Aku berjanji akan kembali, semoga kau menyadari arti sebuah hubungan dan kepercayaan setelah apa yang aku lakukan padamu saat ini, Arga.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2