
"Bawa semua barang ini ke kasir, kami akan membayarnya!" perintah Salimah kepada kedua pramuniaga itu.
"Semua?" tanya salah satunya berniat memastikan.
"Semua, cepat!" ujar Salimah tegas. Kedua wanita yang awal mulanya bermuka judes dan masam itu, kini berganti menjadi merah menahan malu.
Kami akhirnya berjalan menuju meja kasir, sedangkan kedua pramuniaga yang sedari tadi mengikuti kami sekarang sibuk menjumlah total harga barang yang sudah di pilih oleh Salimah.
Aku menatap kuatir dengan jumlah yang harus aku bayar, bagaimana jika totalnya sampai berjuta-juta, ini akan menguras semua tabunganku.
"Total semuanya ada tujuh gaun, lima pasang sepatu, lima pasang lingerie, dua celana, dan tiga blus," ucap petugas kasir memastikan.
"Ya, totalnya berapa?" tanya Salimah dengan entengnya, sedangkan aku gugup setengah mati.
"Totalnya, 87.500.000 rupiah."
Jantungku rasanya lompat-lompat mau salto dari dalam tubuhku.
Gila, apa itu semua di bayar pakai uang?
"Nona, mana kartu hitam yang pernah di berikan oleh tuan Arga?" tanya Salimah membuyarkan lamunanku.
"Kartu hitam? yang mana?" Aku bergegas membuka dompet dan mencari-cari kartu hitam.
"Yang ini bukan?" tanyaku sambil memperlihatkan kartu kredit berwarna hitam mengkilat di depan Salimah.
"Betul, Nona." Salimah mengambil alih kartu itu dan menyerahkannya pada penjaga kasir.
Sontak, wanita yang berpakaian minim dengan rambut di sanggul tinggi itu terkejut bukan main melihat kartu kredit yang di berikan oleh Salimah. Kartu kredit berwarna hitam mengkilat seperti itu ternyata hanya di miliki oleh pengusaha kaya dengan aset yang sangat besar, dan tuan Arga memilikinya, tentu aku juga tidak kalah kaget.
Seketika suasana di dalam toko ini berubah drastis, kedua pramuniaga yang awalnya bermuka sinis kini benar-benar menunduk menahan malu melihatku dan Salimah. Bahkan mereka meminta maaf berkali-kali karena telah memperlakukan kami dengan kurang sopan.
Tiba-tiba sang manager toko datang dengan wajah sumringah menghampiri kami, lalu menawarkan padaku untuk membuat sebuah kartu member, dia akan memberikan diskon besar jika aku bersedia membuat kartu member khusus hari ini.
Salimah memberikan isyarat padaku untuk menerima tawaran sang manager toko, akhirnya aku meng-iya kan tawarannya dan duduk menunggu di sofa panjang dekat kasir, lalu seorang penjaga toko dengan wajah cerah secerah mentari membawakan dua cangkir teh hangat untuk kami.
Setelah selesai membayar dan menerima kartu member yang sudah jadi, kami berlalu meninggalkan toko. Salimah menyerahkan tumpukan kardus berisi sepatu dan kantong belanjaan yang menggunung kepada dua pengawal yang berdiri tidak jauh dari toko yang kami masuki.
"Salimah, aku lapar," ucapku sambil mengelus perut.
"Nona mau makan apa?"
"Ramen."
__ADS_1
"Baiklah, di lantai tiga ada restoran yang sangat enak, ayo kita ke sana, Nona," ajak Salimah.
Sebelum beranjak pergi, Salimah memerintahkan kedua pengawal itu untuk meletakkan semua barang di mobil dan menyusul kami ke restoran yang akan kami tuju.
Usai sampai di tempat yang kami maksud, aku langsung duduk meregangkan otot-otot kakiku yang mulai nyeri karena terlalu lama berdiri, sedangkan Salimah memesan makanan untuk kami.
Setelah makanan yang di pesan datang, aku makan berdua bersama Salimah, sedangkan dua pengawal hanya berdiri mengintai kami dari kejauhan.
"Sa, Sabrina," ucap seorang laki-laki menepuk pundakku.
"Eh." Aku menoleh dengan wajah terkejut, aku tidak mengenali sosok laki-laki yang kini berdiri di hadapanku.
"Kau tidak mengenaliku?" kata laki-laki itu, dia tersenyum menampakkan dua lesung pipit yang begitu dalam.
"Kau---."
"Aku ini Duhan, kau benar-benar lupa padaku?"
"Duhan? aku bahkan tidak mengenalimu, sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucapku tersenyum girang hampir saja melompat memeluknya.
Dia adalah kakak kelasku sewaktu masih sekolah menengah pertama, dia satu-satunya laki-laki yang tidak pernah mengejek tubuh gemukku atau rambutku yang keriting, dia adalah satu-satunya laki-laki yang membelaku saat semua laki-laki di sekolah kami membully ku.
Dulu kami sangat dekat, kami bersahabat baik, namun kami putus komunikasi sejak dia lulus dan berpindah sekolah ke negara tetangga untuk mengikuti ayahnya yang berdinas di sana.
Belum sempai aku menjawab celotehnya, dua pengawal yang tadinya berdiri agak jauh dari kami sekarang mendekat, mereka memegang lengan Duhan dengan kuat.
"Ada apa ini? lepaskan aku!" Duhan berontak.
"Tolong lepaskan teman saya," ucapku pada dua pengawal itu, namun dia tak menghiraukan, tetap meremas lengan Duhan dengan kuat sampai laki-laki itu meringis kesakitan.
"Maafkan kami, Nona. Tuan Arga tidak mengizinkan laki-laki asing mendekati nona," ucap salah satu pengawal.
"Hah, dia teman saya, tolong lepaskan!" Aku sedikit menaikkan nada suaraku.
"Laki-laki ini kurang ajar, Nona," lanjutnya.
"Siapa yang kurang ajar? memangnya aku melakukan apa?" tanya Duhan dengan wajah memerah menahan malu, semua mata pengunjung restoran ini menatap ke arah kami, Duhan bagai tersangka tindak pembunuhan yang tertangkap tangan.
"Kau sudah memuji nona kami dengan memanggilnya cantik," ucap pengawal itu dengan wajah sangar.
"Hah, kalian gila, Ya?" Aku terkejut mendengar penuturan pengawal itu, dari mana asalnya dia berpikir kalau ada laki-laki yang memujiku cantik artinya dia kurang ajar.
"Maafkan kami, Nona. Hanya tuan Arga yang boleh memuji kecantikan nona," lanjut pengawal itu.
__ADS_1
"Salimah, tolong temanku," ujarku menatap Salimah yang hanya berdiri mematung.
"Maafkan saya, Nona. Jika ini adalah perintah tuan Arga, maka tidak ada yang lebih baik daripada menurutinya," jelas Salimah.
"Baiklah, aku akan pergi, cepat lepaskan aku!" ucap Duhan berteriak dan memberontak.
"Lapaskan dia!" Aku ikut darah tinggi melihat situasi memalukan ini.
Akhirnya kedua pengawal itu melepaskan lengan Duhan dengan kasar, lalu Duhan merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu.
"Sampai jumpa lagi, Sabrina," ucap Duhan mengulurkan tangan ingin berjabat, aku menerima uluran tangannya dengan perasaan tidak enak karena dia sudah di perlakukan tidak baik oleh pengawal itu.
"Maafkan mereka, Duhan."
"Tidak apa-apa." Duhan berlalu pergi meninggalkan restoran ini, tangannya tampak mengepal melihat sekeliling tempat ini yang sudah ramai orang-orang berkerumun dengan sorot mata penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi.
Betapa tidak enaknya hatiku atas kejadian ini, membuatku segera ingin pulang, makanan yang masih setengah ku tinggalkan begitu saja dan mengajak Salimah menuju mobil.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku terus saja mengomel tanpa henti, entah siapa yang harus aku salahkan dalam hal ini, tapi tentu saja tuan Arga yang maha benar itu tidak akan pernah salah.
Salimah hanya diam sambil sesekali tersenyum menatapku. Memangnya apa yang lucu? aku bahkan ingin sekali memukul wajah dua pengawal itu sampai babak belur, menyebalkan sekali mereka ini.
Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk kea dalam kamar, semua barang belanjaan ikut di letakkan bang Bimo di dekat pintu ruang ganti.
Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur, membuka tas dan menemukan secarik kertas berukuran kecil yang tadi Duhan selipkan di tanganku saat kami berjabat tangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...