
Hari ini adalah hari yang penuh dengan adegan yang dramatis, bagaimana tidak, pagi-pagi buta aku mendapati istriku bangun tidur dengan bagian tubuh yang mengeluarkan darah segar, bisa di bilang dengan jumlah banyak, karena selimut yang ia kenakan sampai tergambar peta-peta dunia dengan darah tersebut.
Seperti di sambar petir di siang bolong, aku panik dan ketakutan, menghubungi dokter kandungan yang sebelumnya kami datangi di rumah sakit kemarin untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap Sabrina.
Namun apa yang ku dapat? Malu teramat malu aku mendengar penjelasan dari Daren, dokter spesialis kandungan rekomendasi dokter Budi. Ternyata Sabrina hanya mengalami haid atau datang bulan, aku pikir dia pendarahan.
Sekilas, ketakutan ku karena semalam kami melakukan peperangan selama beberapa ronde, karena kemarin sempat libur semalam, jadi aku memuaskan diri mengajaknya bersenang-senang. Aku begitu takut dia mengalami pendarahan karena keserakahan ku, namun ternyata tidak.
Ah, rasanya bagai di guyur air es di tengah padang pasir nan tandus.
"Kau sungguh tidak apa-apa, Sayang?" tanyaku pada Sabrina saat ia menggandeng lenganku menuju meja makan.
"Aku sehat, Honey. Butuh berapa kali lagi aku mengatakan ini sampai kau percaya?" jawab Sabrina dengan bibir mengerucut.
Aku tau mungkin kekhawatiranku ini berlebihan, aku juga bodoh karena tidak paham tentang apa-apa yang di alami oleh sebagian besar wanita.
Sewaktu sekolah, pelajaran seperti ini memang pernah di terangkan. Tapi di masa remaja seperti itu membuatku tak acuh, kami sebagai kaum laki-laki merasa risih membahas hal-hal seperti itu terkait organ reproduksi wanita, kami membuatnya sebagai bahan ejekan saat ada teman sekelas yang sedang datang bulan sampai menimbulkan bercak darah di rok sekolahnya.
Aku pikir, darah yang di keluarkan tidak sebanyak itu. Namun aku salah, Sabrina bahkan sampai meninggalkan peta dunia di selimut berwarna abu-abu miliknya.
"Honey, aku mau ke supermarket sebentar, boleh?" rengek Sabrina bergelayut manja di leherku, aku sangat menyukai adegan seperti ini.
"Kau sedang tidak sehat, Sayang. Suruh saja pelayang pergi, kau tinggal catat apa-apa yang ingin kau beli," jawabku sambil mengusap pucuk kepala wanita yang sudah melelehkan bongkahan es di hatiku.
"Sudah ku bilang, aku ini sehat!" seru Sabrina mengeluh, ia menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali.
Meskipun aku mendengar penuturannya bahwa ia sehat berkali-kali, aku tidak percaya begitu saja. Tidak mungkin ada manusia sehat dan baik-baik saja saat tubuhnya terus menerus mengeluarkan darah dengan jumlah tidak sedikit.
"Memangnya kau ingin membeli apa, Sayang?" tanyaku menghentikan rengekannya. Meskipun aku menyukai saat dia merengek dengan manja, namun aku tidak akan membiarkannya berlama-lama, karena itu bisa menimbulkan perang dunia ke sekian nantinya.
"Aku pengen es krim, dan ...."
"Dan apa? aku akan pergi membelinya untukmu."
"Beli pembalut."
"Pembalut? makanan jenis apa itu?" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, entah makanan apa yang sedang di inginkan istriku ini.
"Pembalut itu bukan makanan, Honey."
"Lalu?"
"Pembalut itu, sejenis benda yang di pakai wanita untuk menampung darah yang keluar, bentuknya tipis dengan bagian dalam yang lembut," jelasnya.
"Lalu, di letakkan dimana?" tanyaku penasaran, sungguh aku tidak tahu menahu dengan hal seperti ini, mungkin saja jika aku benar-benar memiliki seorang ibu yang peduli, dia pasti akan mengajarkanku hal-hal penting perihal wanita.
"Tidak perlu banyak tanya, aku butuh segera, Honey." Sabrina kembali merajuk.
"Baiklah, setelah ini aku berangkat."
Aku tidak pernah bergaul dengan wanita, hanya Claire wanita yang aku kenal menurutku, aku selalu menganggap semua wanita itu sama, merayu laki-laki hanya demi kesenangannya semata, demi harta dan jaminan hidup yang mewah.
Mengenal Sabrina, mematahkan semua anggapan buruk yang tertanam dalam benakku, dia gadis baik, mandiri. Tidak peduli sebanyak apapun kekayaan yang aku miliki, dia tetap berusaha membahagiakan dirinya sendiri dengan hasil keringatnya.
Semua mimpi buruk dalam hidupku seakan lenyap, dia wanita terbaik. Semua sikap dan sifatku, adalah hasil dari kenangan masa lalu yang buruk tentang wanita, yaitu ibuku sendiri. Dia adalah kuncinya.
Usai menyelesaikan sarapan, aku mengantarkan Sabrina kembali ke kamar, lalu segera melajukan mobil menuju supermarket terdekat.
Ah, aku lupa menanyakan es krim rasa apa yang dia inginkan, hmmm.
Aku mengurungkan niat menuruni mobil, berusaha menghubungi ponsel miliknya, namun tidak aktif. Ku putuskan menghubungi orang lain.
"Joe, kau sibuk?" tanyaku cepat saat seseorang di sebrang sana sudah menjawab panggilanku.
__ADS_1
"Ada apa, Boss? Kau tidak ke kantor?"
"Tidak, Sabrina sedang kurang sehat. Bolehkan aku minta tolong?"
"Minta tolong apa?"
"Pesankan satu box es krim semua rasa, langsung kirim ke rumah sekarang juga," ujarku.
"Sekarang? Apakah kau beralih profesi jadi penjual es krim, Boss?" Terdengar gelak tawa dari sebrang sana.
"Jangan menertawaiku, Joe. Makanya, kau harus menikah agar tau rasanya menjadi laki-laki aneh sepertiku," jawabku meledeknya.
"Baiklah, baiklah. Apakah kau yakin hanya butuh satu box? Bagaimana kalau satu kontainer?"
"Cukup satu box, usahakan di kirim saat ini juga." Ku tutup panggilan tanpa menunggu jawabannya.
Aku tau, Joe tidak pernah mengecewakanku dalam hal sekecil apapun, dia adalah orang kepercayaanku. Jika mengingat bagaiman pertemuan pertama kami, itu sungguh membuatku menjadi manusia paling beruntung selama ini.
Aku masuk ke supermarket dengan nafas lega, satu keinginan segera terwujud, tinggal satu hal lagi yang harus aku beli, pembalut.
Bagaimana bentuk pembalut?
Di bagian mana aku menemukan benda itu?
Aku bolak-balik mengitari lorong yang menyediakan produk-produk kewanitaan, jika membeli sabun, shampoo atau celana dalam, aku tau pasti wujud dan tempatnya, tapi jika pembalut? Entahlah.
Seorang petugas wanita berjalan-jalan sambil melakukan pengecekan barang di atas rak, rasanya ingin sekali bertanya, tapi harga diriku seakan enggan di turunkan begitu saja.
Ku rain ponsel dalam saku, berseluncur sejenak di kolom pencarian internet, mencari merk-merk dan jenis pembalut yang bisa aku temukan disini.
Ku sisir setiap sisi rak, membaca setiap produk yang ku lihat, mengamatinya dengan seksama.
Kenapa banyak sekali merk dan jenis pembalut?
Aku bingung melihat banyak sekali merk dengan berbagai ukuran yang berbeda, ada yang dengan panjang 23 centimeter, 29 centimeter, bahkan ada yang lebih panjang, 35 centimeter.
Dan ini, apalagi hah?
Ada juga yang bersayap?
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Seorang petugas wanita berdiri di sampingku, sepertinya ia memang sudah memperhatikan gerak gerikku yang kebingungan.
"Oh, iya. Saya sedang mencari pembalut untuk istri saya," kataku sambil meletakkan kembali bungkusan yang aku pegang.
"Mau yang merk apa dan panjang berapa?" tanya petugas itu tersenyum ramah.
"Emm, anu, saya tidak tau." Benar-benar memalukan.
"Wah, kalau begitu saya tidak bisa membantu, Pak. Setiap wanita biasanya punya merk-merk tertentu yang menjadi favorit dan ukuran tertentu sesuai kebutuhannya."
"Baiklah kalau begitu," kataku meninggalkan petugas itu lalu berjalan mengambil troli belanjaan.
Mau sampai kapan aku memilih barang-barang yang tidak aku pahami, akhirnya ku putuskan untuk mengambil tujuh merk yang tersusun di rak, satu bungkus setiap ukuran dengan merk yang berbeda, total semuanya lebih dari tiga puluh lima bungkus.
Ku dorong troli menuju meja kasir, tidak memperdulikan pandangan orang-orang sekitar yang melihatku dengan tatapan aneh.
Entah apa yang ada di kepala mereka, Terserah. Ini semua demi istriku, aku tidak lagi punya malu tentang apa-apa yang menyangkut kebahagiaan istriku.
Setelah membayar, ku bawa dua kantong besar dengan berat yang tidak seberapa ini ke dalam bagasi mobil.
Dengan kecepatan sedang aku memacu mobil menuju rumah, tempat istriku menunggu.
...
__ADS_1
"Honey, kau membeli semua ini untuk apa? Apakah kita akan berdagang pembalut di tepi pantai?" Reaksi Sabrina saat pertama kali melihatku masuk ke dalam kamar membawa dua kantong plastik berukuran besar.
"Aku bingung, kau memintaku membeli tanpa memberitahuku secara spesifik, jadi aku membeli semuanya." Aku sedikit kesal, padahal aku sudah berusaha menyenangkan hatinya, tapi reaksinya malah seperti itu.
"Aku hanya butuh 25 sampai 30 biji selama satu minggu, dan kau ...."
"Kalau kau tidak mau, akan ku jual lagi," sergahku, dia tidak berterimakasih sama sekali dengan usahaku.
"Baiklah, jangan marah, Honey. Tidak apa-apa, ini semua bisa di simpan untuk persediaan selama beberapa tahun kedepan," ujarnya sedikit tertawa.
"Begitu saja? Kau tidak berterimakasih padaku?" Aku mengerucutkan bibir.
Muach, dia mencium pipiku.
"Itu sebagai tanda terimakasihku, Honey."
Ah, dia selalu bisa membuat hati yang kesal ini mendadak luluh dengan sikap manisnya. Betapa cute-nya istriku.
"Oh ya, es krim ku mana?" tanyanya lagi, kini dia kembali memasang wajah yang sangat menggemaskan.
Ah lupa, aku belum menghubungi Joe lagi
Belum sempat ku raih ponsel di saku, terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar. Sabrina dengan cepat membukanya.
"Ada apa, Salimah?" tanya Sabrina, khas dengan suara kalemnya.
"Es krim yang di pesan sudah datang, Nona. Mau di letakkan dimana?" tanya Salimah, sedangkan yang di tanya clingak-clinguk kebingungan.
"Letakkan di dekat ruang tengah," jawabku.
"Baik, Tuan."
Ku rangkul pinggang istriku yang kini sudah lebih ramping, dan membawanya menuju ruang tengah, dimana satu box es krim di letakkan.
"Ya Tuhan, Honey. Kau membeli es krim sebanyak ini untukku?" tanya Sabrina dengan mata berbinar, ia begitu bahagia sampai mencium pipiku beberapa kali.
"Tentu saja, kau bisa memilih sendiri rasa yang kau suka."
"Ah, senangnya. Aku bisa makan es krim setiap hari, terimakasih, Honey."
Jika aku tau dari awal bahwa membeli satu box es krim membuat wanitaku itu sebahagia ini, mungkin aku tidak hanya akan membeli satu box, lain kali aku akan membeli pabriknya jika perlu.
Dia mengambil satu buah es krim cup, lalu mengajakku duduk di depan tv. Kami menikmatinya bersama, saling berbagi meskipun ratusan es krim masih tersisa, namun makan satu cup berdua rasanya akan lebih nikmat.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Tinggalkan banyak komentar, Author kasih 2 bab tiap hari 😁
__ADS_1