TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Kebahagiaan yang terselip


__ADS_3

Seumur hidup, aku tidak pernah merasakan rasa sakit, kecewa, marah dalam satu waktu bersamaan, semua rasa itu menggunung dan hampir meletus dalam diriku saat suamiku mengungkapkan kebenaran atas jati diriku.


hampir 25 tahun, aku menganggap ayah dan ibuku adalah orang tuaku yang sesungguhnya, namun aku salah, benar-benar salah. Mereka bukan orang tuaku.


"Sayang, ayo berangkat," ucap lembut suamiku. Hari ini kami berencana datang ke rumah sakit. Satu bulan terakhir aku demam berkali-kali, paracetamol memang ampuh meredakan demamku, namun hanya bertahan tiga sampai lima hari, setelah itu demam lagi.


Nafsu makanku menurun drastis, padahal aku butuh banyak asupan sebagai bekal memberikan ASI untuk Chamomile.


"Bulan depan hari ulangtahun mu, Sayang. Kau ingin hadiah apa?" tanya suamiku, ia begitu antusias mengajakku berbicara meskipun aku sering mengabaikannya.


"Tidak perlu, tidak penting." Aku menoleh ke arah jendela kaca mobil, mengamati kendaraan yang berlalu lalang di siang hari.


"Ayolah, kau harus bahagia, Sayang. Demi aku, demi Chamomile, jangan menyiksa diri sendiri," lanjutnya, aku tetap bergeming, seolah tak mendengar kalimat yang sama yang setiap hari ia lontarkan.


Bagaimana aku harus bahagia, sedangkan orang yang selama hidupku sangat ku percaya, ternyata menyimpan suatu rahasia besar.


Bahkan sampai saat ini, ayah dan ibuku belum mengatakan hal itu, aku pun enggan menanyakan langsung.


Setelah sampai di depan rumah sakit, suamiku menggenggam erat tangan ini sebelum turun dari mobil.


"Lihat aku, Sayang." Dia meraih wajahku, di dekap dengan kedua telapak tangannya.


"Apa kau mencintaiku? mencintai Chamomile?"


"Jika iya, maka kau harus kuat, kau adalah kekuatan kami, kau harus lebih kuat dari kami," ujarnya sendu, netra coklat itu berkaca-kaca.


"Anggap saja semua ini cobaan hidupmu, hidup kita. Jika kau terus seperti ini, bukan hanya kau yang menderita, aku dan Chamomile juga akan merasakan sakit,"


"Dia membutuhkan ibu yang kuat, yang tangguh. Dimana Sabrinaku yang ceria?"


Ku coba untuk tersenyum, meraih pergelangan tangannya.


"Aku akan berusaha menerima semua ini, Honey. Maaf jika aku membuat kalian menjadi korban atas sikap lemahku" jawabku pelan.


"Tidak, jangan bicara seperti itu. Aku sangat paham apa yang kau rasakan, tapi kau harus tegar, itu adalah kenyataannya, dan kau harus tau."


"Terimakasih, Honey. Terimakasih telah begitu mencintaiku." Aku memeluknya, menahan tangis yang hampir tumpah.

__ADS_1


Secara tidak langsung, aku merasakan perubahan tubuh suamiku yang semakin hari semakin kurus, dia lebih sering mengambil cuti dari kantor, membiarkan Joe melakukan semua pekerjaannya.


Demi membuatku kembali bahagia, dia selalu memberiku hadiah setiap hari, bunga, cincin berlian, kalung, dan berbagai perhiasan lainnya.


"Sudah jangan menangis, dokter Budi menunggu kita," ujarnya sambil mengusap pipi basahku.


Kami langsung menuju ruangan milik dokter Budi, dan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.


"Bagaimana, Paman?" tanya suamiku.


"Entahlah, Ga. Tapi paman rasa ini bukan sakit biasa," ujar dokter Budi, membuatku sedikit terkejut sekaligus penasaran.


"Bukan sakit biasa? lalu?"


"Kapan terakhir kau datang bulan, Nak?" tanya dokter padaku.


"Sejak kelahiran Chamomile, aku tidak pernah datang bulan, Paman. Setahuku, ibu menyusui yang tidak bisa datang bulan bisa menjadi KB alami," jawabku ragu, informasi ini ku dapatkan dari mesin pencarian di internet.


"Benar, tapi bisa saja ...."


"Bisa saja apa, Paman?" tanya suamiku tidak sabaran.


Bagaimana jika aku hamil lagi. Aku mendesah pelan.


Saat pintu ruangan dokter Daren di ketuk, pria itu langsung membukanya, menyambut kunjungan kami dengan gembira.


"Hai, apa kabar? bukankah baru beberapa hari lalu aku datang ke rumah kalian, sekarang kalian mengunjungiku, apa ... kangen?" Dokter Daren menyambut dengan gelak tawa menggelegar.


"Silahkan duduk, ada apa? tegang sekali," imbuhnya.


"Sabrina, sepertinya hamil lagi," jawab dokter Budi sambil tersenyum.


"Hah? hamil?" Aku dan suamiku berucap berbarengan tanpa komando.


Sudah kuduga. Lihat, kali ini suamiku itu memasang wajah imut dan berseri-seri, ia tampak sangat bahagia meski tebakan dokter Budi belum terbukti.


"Ayo, naiklah, ku periksa," dokter Daren langsung menunjuk ranjang pasien yang sudah sering ku gunakan saat berkunjung. Dia memanggil seorang suster di ruang jaga.

__ADS_1


Sudah terlanjur berada di rumah sakit yang lengkap segala alatnya, aku langsung melakukan USG untuk memastikan kebenaran dugaan ini.


"Wah, kau hebat, Bro!" seru dokter Daren, ia bertepuk tangan keras sambil memutar kursinya menghadap suamiku.


"Ayo, katakan padaku jurus apa yang kau gunakan sampai istrimu begitu cepat hamil lagi," lanjutnya.


Aku terperangah, kaget, aku melongo, menatap layar monitor. Kebahagiaan di tengah-tengah rasa sakitku ini seakan menjadi obat mujarab kekecewaan yang berat.


Dengan langkah cepat suamiku mendekat, ia membantuku turun dari atas ranjang sambil menciumi pucuk kepalaku.


"Terimakasih, Sayang. Terimakasih," ujarnya, ciuman ia daratkan bertubi-tubi di wajahku, ia tak segan meskipun banyak mata menatap ke arah kami.


"Keren! usia kandungannya sudah 7 minggu. Kau keren, Bro!"


"Sepertinya aku harus kursus padamu," ujar dokter Daren tertawa, entah ia memang berniat memuji atau sedang mengejek kemujaraban jurus suamiku.


"Aku memang pejantan tangguh, kekuatanku tidak hanya di fisik, melainkan di senjataku," jawab suamiku menimpali. Seketika ruangan berubah menjadi ajang adu kekuatan batin, atau kekuatan senjata, sepertinya.


Dokter Daren kembali meresepkan obat-obatan dan vitamin seperti kehamilanku sebelumnya, namun di kehamilan keduaku ini tampaknya tidak serewel saat hamil Chamomile, aku jarang sekali muntah, hanya mual-mual biasa.


...


Setelah sampai di rumah, aku langsung mengambil Claire dari ruangan bermainnya, gadis kecilku itu sedang belajar berjalan di bantu dua orang pengasuhnya.


"Terimakasih, Mbak. Ku bawa Chamomile ke kamar dulu, ya," pamitku pada mereka.


Setelah sampai di kamar, suamiku terkejut dan langsung mengambil alih Chamomile dari gendonganku.


"Ada apa?" tanyaku heran.


"Kau harus istirahat, Sayang. Jangan menggendong Chamomile, dia terlalu berat, aku takut ...."


"Takut apa? aku tidak apa-apa, Honey."


"Istirahatlah, aku akan mengajak gadis kecil kita bermain," lanjutnya.


Memang benar, di usia Chamomile yang belum genap satu tahun, berat badannya hampir 17 kilogram, tubuhnya montok dengan pipi mengembang seperti bakpao.

__ADS_1


Dokter Daren tetap mengizinkanku mengASIhi Chamomile, asalkan tidak mengalami kontraksi selama proses menyusui, maka aku tetap bisa memenuhi hak Chamomile ASI sampai umur 2 tahun.


Mulai hari ini, aku akan kembali mengatur semua kegiatanku, merubah pola makan dan berusaha mencukupi kebutuhan nutrisi harianku, karena bukan hanya Chamomile yang membutuhkanku.


__ADS_2