TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Semakin?


__ADS_3

"Jika kau mengaku, aku akan memaafkanmu," ujar tuan Arga merapatkan tubuhnya padaku.


"Mengakui apa?" kataku.


"Jujurlah, kalau kau sedang menungguku."


"Baiklah, baiklah, saya memang menunggumu, Tuan."


"Sudah ku duga! kau pasti sudah tidak tahan berlama-lama jauh dariku, hahaha." Dia memeluk tubuhku dengan gemas.


"Baiklah, sekarang ayo kita tidur," ujarku membalikkan badan membelakanginya.


"Apa? tidur?"


"Lalu tuan mau apa?"


"Memakanmu," ujarnya sambil tersenyum penuh gejolak nafsu.


"Taun sedang lelah, sebaiknya beristirahat dulu," ucapku mencari alasan.


"Aku tidak lelah, aku masih kuat kok."


"Tidak, kalau tuan lelah, nanti sebelum sampai di puncaknya sudah loyo, tuan mau?"


"Apa benar begitu?"


"Tentu saja." Aku tersenyum licik.


"Dari mana kau tau kalau saat lelah bisa cepat bikin loyo," ujarnya sambil membalikkan badanku.


"Rahasia, sekarang ayo kita tidur, kalau sudah bugar kembali, kita akan melakukannya." Aku mengedipkan kedua mataku padanya.


"Baru dua bulan menikah, kau sudah tau banyak tentang adegan ranjang, Ya." Laki-laki tampan itu manggut-manggut, sedangkan aku tersenyum licik membelakanginya.


Aku segera memejamkan mataku erat, sebelum tuan Arga berubah pikiran.


...


Pagi ini aku bangun lebih awal, karena aku ingin memberitahukan pada Salimah kalau aku ingin makan mie lagi untuk sarapan pagi ini.


Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, aku langsung mengganti lingerieku dengan piyama panjang dan beranjak menuju dapur dan menemui Salimah.


"Salimah," sapaku saat wanita itu sedang duduk di meja dapur mengawasi para koki.


"Nona sudah bangun? ada yang bisa saya bantu?" Salimah berdiri saat melihatku.


"Aku ingin sarapan mie lagi pagi ini, tolong buatkan, Ya."


"Pagi-pagi sarapan mie?" Salimah menautkan kedua alisnya.


"Ya, aku suka masakan mie yang di buat koki rumah ini," ujarku tersenyum melihat para koki yang sedang memasak.


"Baiklah, Nona. Kami akan menyiapkan sarapan mie untuk nona."


"Terimakasih, Salimah." Aku beranjak pergi kembali ke kamar.


Setelah sampai di kamar, aku segera mandi secepat kilat sebelum tuan Arga bangun. Akan lebih panjang urusannya jika laki-laki itu terbangun saat aku sedang mandi.

__ADS_1


Keluar dari pintu kamar mandi, aku melirik laki-laki itu yang masih tertidur pulas di bawah selimut hangatnya, dia mengubur seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan kepalanya yang tampak.


Aku menghampirinya sejenak sebelum mengganti handukku dengan pakaian lengkap, aku mencium keningnya sekilas, dia menggeliat, tidak menyadari jika aku melakukan hal yang bagiku sendiri sangat gila.


Bagaimana bisa aku tergoda menciumnya, jangan-jangan virus cinta itu sudah bertebaran di mana-mana, bahkan sudah merasuki jiwa dan pikiranku.


Aku bergegas menuju ruang ganti sebelum tuan Arga menyadari apa yang sudah aku lakukan padanya.


Entah mengapa, ada perasaan malu atau tidak enak jika dia mengetahuinya. Mungkin itu karena kami sama-sama belum saling memahami perasaan apa yang ada diantara kami.


...


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tapu laki-laki yang sedang bermimpi indah itu belu juga membuka matanya.


Apakah aku harus membangunkannya?


Kalau nanti dia marah bagaimana?


Aku memberanikan diri membangunkannya, ku dekati tubuh itu dan duduk di tepi tempat tidur tepat di sampingnya.


Aku mengelus rambutnya pelan, berharap dia tau dan membuka kedua matanya, namun nihil, dia semakin pulas dalam belaian tanganku. Aku mengguncangkan tubuhnya pelan, dia hanya menggeliat.


Selimut yang menutup tubuhnya sengaja ku buka agar dia merasakan hawa dingin dari AC yang masih menyala agar membuatnya terbangun.


"Tuan, bangunlah, ini sudah siang," ujarku pelan.


"Tuan, bangun!"


Kau ini tidur atau pingsan sih, kenapa susah sekali membangunkan mu.


Hampir setengah jam aku berusaha membangunkannya secara halus dan pelan, tapi laki-laki itu seperti sudah menelan obat bius sepuluh kapsul sampai-sampai sulit membuka mata.


Tiba-tiba dia menarik tanganku dengan kuat, refleks tubuhku jatuh di atas dada bidangnya. Matanya masih terpejam dengan rapat, namun bibirnya membentuk senyuman yang begitu mempesona.


Melihat senyummu seperti ini saja bisa membuat jantungku salto dari tempatnya, Tuan.


"Bangunlah, ini sudah siang, Tuan." Aku memuluk dadanya pelan.


"Cium dulu!" dia menunjukkan pipinya.


"Tidak mau, lepaskan aku." Aku meronta melepaskan dekapannya


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mencium ku lagi," ujarnya tersenyum.


"Lagi?" Aku mengernyitkan dahi.


"Bukankah tadi kau sudah mencium ku, itu membuatku semakin nyenyak tidur."


Hah, bagaimana dia tau kalau aku menciumnya, jangan-jangan dia hanya pura-pura tidur. Malunya aku, bisa-bisa turun harga pasar ku.


"Kenapa kau diam?"


"Sa, saya tidak mencium tuan kok, mungkin itu hanya halusinasi tuan saja." Aku membenamkan wajahku di dadanya.


"Aku tidak pernah berhalusinasi, aku tau kau mencium ku, karena aku sudah bangun saat pertama kali kau keluar dari kamar ini."


"Berarti, tuan hanya pura-pura tidur?" Aku mendorong tubuhnya, lalu merapikan bajuku yang kusut.

__ADS_1


"Awalnya aku hanya pura-pura tidur, tapi saat kau mencium ku, aku ngantuk lagi, dan tidur lagi." Dia menarikku lagi, kali ini aku bisa lolos, aku menepis tangannya.


"Cium aku, dan aku akan segera bangun." Dia menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuk.


"Tidak mau!"


"Kenapa? bukankah kau suka menciumku?"


"Siapa bilang saya suka." Aku melirik sinis.


"Dari pada kau melakukannya secara diam-diam, lebih baik secara terang-terangan seperti ini, aku mengizinkanmu menciumku sebanyak yang kau mau, ayo cium aku." Dia merentangkan kedua tangannya ingin di peluk, dengan posisi tubuh masih terlentang di atas tempat tidur.


"Hah, itu sih maumu, Tuan." Aku melengos, lalu beranjak menuju kursi di depan meja riasku.


Aku masih waras, aku tidak mungkin menciumnya sebanyak yang ku mau, bisa-bisa pipi tuan Arga akan tepos bahkan remuk ku buat. Lagipula siapa suruh punya wajah setampan itu, aku jadi tidak tahan melihatmu.


Aku sudah tidak menghiraukan tuan Arga yang terus mengoceh ingin di peluk ingin di cium, aku membiarkannya berbaring di tempat tidur dan bergegas menyiapkan setelan jas dan kemeja untuk dia kenakan bekerja nanti.


Aku mulai terbiasa dengan rutinitasku sehari-hari untuk melayaninya, aku lebih senang jika melakukannya sesuai kemauanku sendiri, dari pada dia yang senantiasa memberiku perintah ini dan itu.


"Terimakasih, Sa," ucapnya sambil memelukku dari belakang.


"Ya, sekarang mandilah, Tuan. Kau bau asem."


"Kau suka kan?"


"Hah, suka apa?"


"Suka aroma tubuhku yang menggoda ini," ujarnya masih dengan tangan yang mendekap tubuhku.


"Menggoda apanya, kalau saja di rumah ini ada tikus, pasti semuanya pingsan gara-gara mencium aroma tubuhmu, Tuan."


"Jangan mengejek, suatu saat nanti, aroma inilah yang akan kamu rindukan," ucapnya sambil tertawa melepaskan pelukannya.


"Saya sudah menyiapkan air hangat, segeralah mandi sebelum airnya dingin."


"Ah, kau membuatku semakin---." Dia tidak melanjutkan kalimatnya terus bergegas menuju ke kamar mandi.


Semakin apa ya maksudnya?


Aku menoleh, mataku mengikuti kemana laki-laki itu berjalan.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2