TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Datang bulan


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, aku langsung membersihkan diri dan tidur siang sejenak.


Hari sudah semakin sore, aku terbangun tepat pukul empat, malas sekali beranjak dari kasur empuk ini, aku sudah lama sekali tidak menikmati tidur siang dengan nyenyak, sejak aku mulai bekerja aku sudah terbiasa tanpa tidur siang, namun saat ini aku harus lebih banyak menghabiskan waktu bersantai di rumah.


Akhirnya aku memutuskan untuk berendam air hangat untuk menyegarkan badan. Aku melepas semua pakaianku di kamar mandi, pemandangan aneh berada di hampir semua bagian tubuhku, laki-laki itu selalu meninggalkan bekas merah di banyak tempat.


Aku memejamkan mataku sambil menikmati air hangat yang meresap menembus pori-pori kulitku, mungkin inilah saatnya aku mulai memanjakan diri, sudah hampir dua tahun aku selalu sibuk berangkat pagi dan pulang sore untuk bekerja, bahkan sama sekali aku tidak pernah datang ke salon atau hanya sekedar berbelanja ke mall, aku selalu sibuk dengan pekerjaanku.


Usai berlama-lama dalam bath up, aku segera berpakaian dan turun ke ruang makan untuk makan malam, sendirian lagi.


...


Saat malam semakin larut, aku semakin merasa kesepian, aku menyadari bahwa kehadiran tuan Arga sangat menenangkan bagiku.


Aku memutuskan untuk membawa sebuah buku gambar dan pensil ke ruang tengah, setidaknya menonton tv dapat membuatku menghilangkan kebosanan.


Aku duduk di sofa panjang sambil menyalakan tv, malam ini hanya terlihat berita gosip-gosip para artis yang berseliweran mencari sensasi, membosankan.


Ku raih buku gambar milikku dan menggambar sebuah design sebuah kemeja.


Lambat laut mata ini semakin berat, aku membiarkan tv masih menyala dan membaringkan tubuhku di atas sofa panjang ini.


...


Mataku mengerjap-ngerjap, sekilas aku melihat tuan Arga keluar dari kamar mandi. Aku terbangun tiba-tiba dan terkejut karena saat ini aku sudah berada di tempat tidur sambil mengenakan selimut.


"Kau sudah pulang?" tanyaku.


"Ya, baru saja. Kenapa kau tidur di ruang tengah, kalau masuk angin bagaimana?" Dia mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"Aku ketiduran, siapa yang memindahkan ku kesini?" tanyaku lalu ikut duduk di sebelahnya.


"Aku yang menggendongmu. Ayo, aku akan menemanimu melanjutkan tidur."


"Aku sudah tidak mengantuk," ujar ku sambil melihatnya dengan perasaan rindu yang menggebu.


"Kau merindukanku?"


Hah, bagaimana bisa di membaca pikiranku.


"Tidak." Aku mengelak.


"Jangan bohong, katakan jika kau rindu," ucapnya memelukku.


"Ya, aku rindu, sedikit." Aku menjawab dengan malu.


"Tidurlah disini." Tuan Arga menepuk pangkuannya, memberikan isyarat agar aku tidur di pangkuannya.


Aku menurut, lalu dia mengelus rambutku dengan lembut.


"Boleh aku bertanya sedikit serius padamu, Honey?" Aku menatap kedua bola mata coklat itu.

__ADS_1


"Tentu saja, tanyakan."


"Bagaimana tipe wanita idaman mu?" Aku sedikit ragu menanyakan hal ini.


Sesaat dia terdiam, mungkin dia sedang berpikir.


"Tidak ada," jawabnya.


"Hah, tidak ada?" Aku menautkan kedua alisku menatapnya lekat.


"Ya, wanita idaman itu tidak ada, karena tidak ada manusia yang sempurna, termasuk wanita. Karena sesuatu yang di idam-idamkan itu identik sempurna." Dia menjelaskan sambil tangannya sibuk menggulung rambutku di jemarinya.


"Kalau begitu, bagaimana kau jatuh cinta?" lanjut ku.


"Bagiku jatuh cinta itu proses, jika aku menemukan seorang pendamping yang cocok denganku dan kami klik, maka aku akan berproses menyesuaikan diri."


"Hmm." Aku hanya mengangguk mendengarkannya.


"Apa kau sedang berproses untukku?" Dia bertanya sambil tersenyum, tubuhku seakan meleleh bagai es batu di buatnya.


"Mungkin," jawabku santai.


"Baiklah, hari ini aku sedang sangat lelah, aku akan membiarkanmu tidur nyenyak. Ayo kita tidur," ucapnya sambil memintaku pindah ke bagian tengah kasur.


Akhirnya kami tertidur pulas dengan saling memeluk.


...


Tangan ini rasanya sangat gatal ingin menyentuh setiap inci kulit mulus itu, aku memberanikan diri mengusap punggung itu dengan pelan, kemudian merambat untuk meraba bagian lengannya, membelai penuh kelembutan pada otot bisep miliknya.


Aku terus melakukannya dengan hati-hati, agar si pemilik tubuh menawan nan mempesona itu tidak sampai terbangun.


Saat aku ingin sedikit mendekatkan wajahku pada punggung itu untuk sekedar mencium aroma tubuhnya, tiba-tiba tuan Arga berbalik badan dengan cepat memergokiku yang sedang asik meraba-raba.


"Kau suka?" Dia bertanya sedikit berbisik.


"Suka apa?"


"Meraba-raba tubuhku."


"Aku tidak meraba, aku hanya sedikit menyentuhnya."


"Bohong, kau sudah tertangkap basah *****-*****."


"Hah, aku tidak melakukan itu, kau ini mesum sekali." Aku melengos, enggan menatapnya, mungkin saat ini mukaku sudah memerah seperti kepiting rebus menahan malu.


"Jika kau ingin, aku akan membiarkanmu meraba seluruh tubuhku dengan suka rela, termasuk si kecil di bawah sana, kau tinggal katakan saja."


"Hah, tidak, aku tidak mau!"


"Baiklah, maka aku yang akan memaksamu, kau sudah membangunkan sesuatu milikku," ucapnya dengan memasang wajah penuh keinginan.

__ADS_1


Beginilah rutinitas hari-hariku, jika malam tidak terlaksana, maka pagipun tak apa. Kapanpun keinginan laki-laki itu, akan sulit terbantahkan. Maka aku harus siap sedia 24 jam jika dia menginginkannya. Terkadang dia memang tidak memaksa, namun aku tak kuasa menolaknya.


Usai olahraga pagi yang menyehatkan, kami bergantian mandi dan bersiap untuk bekerja.


...


Sudah hampir satu bulan penuh tuan Arga selalu berangkat pagi dan pulang dini hari, aku benar-benar merasa sangat kesepian karena setiap harinya harus pulang lebih awal. Aku lebih sering menonton tv, duduk di taman samping, atau sekedar menggambar.


Hari ini aku sibuk bersama Riani melakukan fitting gaun yang akan di pakai seorang mempelai perempuan cantik, anak dari sahabat ayahku. Namun tiba-tiba badanku terasa panas, kepalaku sedikit pusing, dan terasa nyeri di bagian bawah perutku. Aku pamit kepada Riani untuk beristirahat sebentar di ruangan ku.


Aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil, namun tiba-tiba aku terkejut melihat noda darah yang menetes di bagian celana dalam milikku.


Aku bergegas mencari kalender, sejak hari pertama aku menikah, aku sudah mulai mengkonsumsi pil kontrasepsi, sejak itu pula aku tidak pernah merasakan datang bulan.


Aneh, kenapa hari ini aku bisa datang bulan ya, padahal aku masih rutin konsumsi pil kontrasepsi itu. Aku bergumam sendiri sambil membolak-balik kalender di hadapanku.


Badanku terasa meriang, pusing kepalaku semakin menjadi-jadi, aku memutuskan berbaring sebentar di sofa panjang dekat mejaku.


Saat aku tertidur beberapa saat, Riani sudah duduk di sampingku dan membawa kain biru yang di celupkan air hangat, dia mengompres dahiku.


"Kau sudah bangun, Sa?"


"Ya, aku sedikit pusing, Ni."


"Suhu tubuhmu sangat tinggi, ayo aku antarkan ke klinik," ajak Riani.


"Ah, nggak perlu, nanti juga sembuh," jawabku enteng.


"Kalau nggak mau ke klinik, pulang saja, Sa. Aku akan mengurus semua pekerjaan hari ini, sebaiknya kau istirahat di rumah."


"Kau tidak apa-apa jika ku tinggal?"


"Serius, aku bisa menghandle semua pekerjaan ini, kesehatanmu lebih penting. Ayo bangun, aku akan membantumu turun," ucap Riani sambil membantuku untuk berdiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


*B**ersambung* ...

__ADS_1


__ADS_2