
Satu langkah kakiku keluar dari pintu, aku kembali membalik badan, memastikan kembali apakah tuan Arga benar-benar tidak ingin ikut.
Aku mengintipnya dari pintu, hanya kepalaku yang terlihat masuk, namun saat dia menyadari aku mengawasinya, tuan Arga berbalik dan kembali menuju kamar.
Sungguh sebenarnya aku sangat kecewa, aku juga merasa begitu sedih karena tidak mampu meluluhkan hatinya kali ini, apa yang sebenarnya terjadi dengannya membuatku sangat penasaran sekaligus jengkel, bagaimana bisa seorang anak satu-satunya sangat enggan mengunjungi makam ibunya sendiri meskipun hanya setahun sekali, ada masalah apa di antara mereka?
Sopir pribadi papa membuka pintu untuk kami, aku duduk bersebelahan dengan papa di kursi belakang, suasana sangat hening, tidak ada kalimat yang keluar dari mulut papa, ia hanya beberapa kali menghela nafas sambil memandang sebuah kertas lusuh bergambar foto dirinya bersama mendiang istrinya, mama tuan Arga.
Ingin sekali aku bertanya dan mengungkapkan semua rasa penasaran di benakku, tapi rasanya aku belum pantas untuk mengetahui segala masalah dan masa lalu keluarga ini, tuan Arga saja tidak mempercayai diriku sebagai penadah keluh kesahnya, sangat tidak elok jika aku langsung bertanya pada papa.
Mobil melaju dengan santai memasuki sebuah komplek pemakaman tidak jauh dari rumah papa, mungkin hanya butuh waktu dua puluh menit saja, karena jalanan sangat lenggang tanpa kemacetan.
Setelah sampai, papa turun lebih dulu, ia menghela nafas panjang menatap deretan makam yang berjejer di hadapannya. Aku menyusulnya, berdiri di sampingnya sambil tersenyum menguatkan.
Setelah itu sopir membuka jok belakang dan mengambil karangan bunga yang sudah di rangkai oleh pelayan saat di rumah tadi, ukurannya memang tidak terlalu besar, namun sarat akan makna sebagai bukti dari cinta dan kasih sayang yang masih terus papa berikan pada seseorang yang kini akan ia kunjungi.
Aku hanya diam, mengikuti papa menyusuri jalan setapak berukurang setengah meter yang hanya cukup di lewati satu orang saja, aku berjalan di belakangnya sambil membawa buket mawar berwarna putih.
Sesaat kemudian, papa berhenti di sebuah makam yang di lapisi keramik berwarna kuning keemasan, nisannya juga di bingkai dengan keramik dengan warna senada, bertuliskan nama seorang wanita "Adelia Defara Wijaya".
Papa terduduk di sebelah batu nisan, kemudian meletakkan karangan bunga lily putih itu di atas makam. Papa memegang batu itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya kini mengusap buliran bening yang jatuh dari kelopak matanya.
"Aku datang bersama menantu kita, Delia," ujar papa mengelus nisan itu.
"Lihat, dia sangat cantik sepertimu, ternyata putra kita sangat pandai memilih seorang istri, dia juga sangat baik. Aku yakin, perlahan putra kita akan berubah, dia akan memaafkanmu, bersabarlah," lanjut papa sambil terisak, bahunya berguncang, laki-laki itu memegang dadanya yang kian sesak, aku mengusap punggungnya dengan lembut, mencoba menenangkan hati papa.
Melihat pemandangan seperti ini membuatku ikut tenggelam di dalamnya, tidak terasa air mataku ikut luruh bersama berbagai ucapan cinta dari papa untuk mendiang istrinya, aku begitu kagum terhadap mereka. Seperti apa mama mertuaku sehingga bisa membuat papa begitu mencurahkan cinta yang sangat besar untuknya, bahkan sampai raga mereka terpisah di dua alam yang berbeda
Setiap kalimat yang terlontar dari mulut papa tentang tuan Arga, aku menyadari, mama mertuaku pernah melakukan kesalahan besar yang membuat tuan Arga begitu membencinya, tapi aku tidak mengetahui akar masalahnya.
Entah sebesar apa kesalahan orang tua sampai anaknya begitu membencinya, bahkan sampai enggan mengunjungi makamnya.
Usai tangisan papa mulai mereda, aku membantunya berdiri, aku tidak mengucapkan sepatah katapun sampai saat ini, aku lebih memilih diam mendengarkan dan mencoba menenangkan.
Sopir yang sebelumnya berada beberapa meter dari kami, kini mendekat dan menyerahkan satu kantong bunga yang akan kami taburkan di atas makam. Aku dan papa bergantian menaburkan bunga itu, mata papa masih sembab, bahkan tangan itu bergetar sambil terus mengusap batu nisan.
"Nak, berjanjilah pada kami, kau akan mendampingi Arga sampai kelak. Papa percaya, hanya kau yang mampu meluluhkan hatinya," ujar papa menatapku, harapan besar tergambar begitu jelas di matanya.
"Sabrina berjanji, Pa."
"Sebenarnya dia laki-laki yang baik, tapi trauma masa lalu yang membuatnya menjadi begitu angkuh dan tidak berperasaan, semoga kau kuat menghadapinya."
__ADS_1
"Percayalah, waktu akan merubah segalanya, Nak. Kalian akan bahagia, doa papa selalu mengalir deras untuk kalian," lanjut papa. Aku hanya mengangguk lalu mencium hormat tangan laki-laki itu.
Setelah puas berlama-lama disini, papa mengajakku kembali pulang, karena hari makin siang, cuaca juga semakin terik menyengat kulit.
...
"Aku pulang," ujarku sambil membuka pintu kamar.
"Lama sekali," jawab tuan Arga datar, ekspresi wajahnya sedikit kesal.
"Hampir tiga jam kau pergi, Sa. Kau kira aku bisa sekuat itu kau tinggal," lanjutnya, kini dia mulai meluapkan kekesalannya.
"Maafkan aku, Honey. Baru tiga jam kau sudah cemberut," ujarku melepaskan baju di depan tuan Arga.
"Tiga jam rasanya seperti tiga hari, apa kau juga tidak resah pergi berlama-lama tanpa aku?"
"Aku resah, tapi bagaimana lagi, kau sendiri yang bersikeras menolak untuk ikut, aku sudah berkali-kali mengajakmu."
"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau pergi jika untuk hal seperti itu." Kali ini nada suaranya meninggi.
"Terserah, bukan salahku kalau kau kesepian ku tinggalkan."
"Kenapa sekarang kau yang marah, padahal tadinya aku berniat untuk marah padamu," lanjut tuan Arga, kini wajah itu sudah berpaling dariku.
"Jangan mengodaku, kalau senjataku sampai terbangun, kau bisa habis ku makan."
Aku melepaskan pelukan, lalu mundur beberapa langkah, aku benar-benar sedang lelah dan tidak ingin bergelut dengannya di atas kasur siang ini.
"Baiklah, aku mandi sebentar," ujarku meninggalkannya.
Meskipun dia diam dan tidak menjawab, aku tetap melangkahkan kaki menuju pintu kamar mandi. Sesekali aku melirik laki-laki yang berdiri membelakangiku itu, dia juga diam-diam melirikku.
"Jangan pura-pura cuek, nanti kalau aku yang cuekin kamu, kamu nyesel loh, Honey," kataku sebelum menutup pintu kamar mandi dan melakukan rutinitasku di dalamnya.
...
Selepas menyegarkan diri dengan berendam di bath up selama hampir setengah jam, aku segera keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian ganti.
Tuan Arga kini sedang duduk di atas tempat tidur, berselonjor kaki sambil bermain ponsel, sesekali dia melirikku yang membuka handuk di sampingnya tanpa malu, ku raih pakaian yang sudah aku siapkan, lalu memakainya begitu saja tanpa memperdulikan laki-laki yang kini sedang menahan air liurnya yang siap menetes.
"Jangan melihatku seperti itu, Honey," ujarku menyadarkannya dari lamunan, kalau saja dia tidak sedang marah, mungkin aku sudah di lahapnya habis-habisan.
__ADS_1
"Siapa yang melihatmu, aku tidak melihat," jawabnya cuek, kini matanya pura-pura beralih ke ponsel di tangannya.
"Benar, kau tidak melihat, hanya melirik," ucapku menahan tawa.
"Apa yang lucu? kau mau menertawakanku?" ujarnya sinis.
"Kau lucu kalau sedang marah, Honey. Lihat, bulu hidungmu melambai-lambai padaku."
"Apa?" Dia menatapku, lalu mengusap hidungnya dengan punggung tangan.
Lihat, kau lucu sekali kalau sedang marah begitu. Kau bahkan salah tingkah, aku jadi gemas. Padahal aku hanya menggodanya, laki-laki yang super pandai merawat diri sepertinya mana mungkin sampai membiarkan bulu hidung tumbuh dan terlihat mengganggu pemandangan.
Melihat ekspresi wajah dan kegugupannya berjalan mendekati cermin, aku tidak bisa lagi menahan tawa yang ingin meledak-ledak. Dia bahkan berpikir kalau bulu hidungnya benar-benar melambai padaku.
"Tidak lucu!" sahutnya kesal. Dia kembali duduk di tepian kasur setelah mengetahui tidak ada bulu hidung yang terlihat keluar.
"Berhenti tertawa!"
"Sabrina, kau benar-benar, ya."
Aku tidak bisa mengendalikan tawaku yang semakin nyaring memenuhi seluruh ruangan, bahkan perutku sampai kram karena terlalu lama tertawa.
"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, Honey," kataku sambil memegang perutku yang sudah benar-benar kram.
Setelah cukup puas mengerjainya, aku kembali merayunya agar tidak lagi marah, ku peluk-peluk tubuhnya, ku hujani wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Aku memaafkanmu." Akhirnya kata-kata itu muncul dari bibirnya setelah sekian lama aku merayu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...