TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Marah


__ADS_3

Kami tidak keluar kamar untuk makan siang, kata tuan Arga, selama satu hari saat peringatan kematian mamanya, dia dan papa tidak pernah melakukan aktifitas di luar kamar, kecuali papa yang berkunjung ke makam saat pagi.


Aku memperhatikan dengan seksama laki-laki itu, hari ini dia tampak murung, mudah sekali tersinggung dan moodnya naik turun seperti roller coaster.


Makan siang sudah di antar oleh pelayan ke kamar kami, tidak lupa dua cangkir coklat hangat turut di sajikan.


"Kau suka coklat ini?" tanyaku memancinya.


"Aku suka, karena kau suka."


"Bukannya dulu kau juga suka?"


"Suka, tapi dengan alasan yang berbeda."


"Apakah jika aku meninggalkanmu, kau akan kembali membenci minuman ini?" Ku tatap manik coklat yang bening itu.


"Apa yang sedang kau bicarakan? kau berniat meninggalkanku? seperti mamaku? Hah?" Tuan Arga tampak kesal, wajahnya merah padam menahan amarah. Ku dekatkan tubuhku padanya seraya memeluknya, namun ia menepis tanganku, ia duduk di tepi kasur sambil mengalihkan pandangannya.


"Kenapa kau berniat pergi setelah aku memberikan seluruh hidupku padamu?"


"Apa kau tau kenapa aku menjadi laki-laki angkuh yang enggan di sentuh oleh wanita dan sangat menghindari sebuah hubungan cinta?" lanjutnya, ia tampak sangat frustasi sambil melontarkan berbagai kalimat itu.


"Maafkan aku, Honey. Aku tidak bermaksud ..."


"Aku tidak pernah mencintai orang lain dalam hidupku selain papaku, hanya dia orang yang tidak akan pernah meninggalkanku. Lalu, aku menikahimu dengan niat yang buruk, menghalangi Joe bersatu denganmu, tapi aku terjebak dengan perasaanku."


"Aku merasakan hal berbeda dalam diriku, kau membuatku hidup, kau memberi warna di setiap hari-hariku, kau memberikan kehidupan yang indah untukku, lalu sekarang, kau mau meninggalkanku, seperti yang di lakukan mamaku?"


"Jawab, Sabrina! jawab!" Tuan Arga sedikit berteriak, kali ini tubuhku lemas, lutut terasa tak bertulang dan tak mampu menopang raga ini, aku terduduk di kursi depan cermin menghadap dirinya.


"Sungguh, aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu. Aku hanya ingin tau apa yang kau sembunyikan dariku, Honey."


"Jika kau menganggap aku adalah hidupmu, bukankah kita harus saling berbagi suka dan duka? kenapa kau begitu egois dengan dirimu sendiri?"


"Hubungan adalah suatu hal yang sakral, di mana dua insan dipersatukan untuk bersama dalam segala hal, saat aku nekat menjatuhkan cintaku padamu, artinya aku bersedia menjadi bagian dari dirimu, baik dan buruknya itu," lanjutku, kini air mataku mengalir deras menatapnya, aku terisak. Bukan pertengkaran seperti ini yang aku inginkan, aku hanya tidak tau caranya mencari tau sebuah kebenaran tentang masa lalunya.


Bagaimanapun, aku adalah seorang istri. Baik buruknya suamiku, sudah menjadi bagian dari hidupku. Jika memang baik, aku akan mendukungnya, jika buruk, tentu aku wajib meluruskannya, bukankah sebuah pasangan harus saling menjaga dan melengkapi?


"Jangan menangis, maafkan aku," ujar tuan Arga yang melihatku tersedu-sedu, kini laki-laki itu duduk di lantai sambil menggenggam tanganku.

__ADS_1


"Maaf, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku," Dia mengusap air mata yang berlinang di pipiku.


Aku bergeming, entah mengapa rasanya dadaku sesak mendengar ia berkata dengan nada yang begitu kasar. Memang salahku sudah membuatnya marah, tapi apakah harus dengan seperti itu ia memperlakukanku?


Tuan Arga kemudian memelukku, dia berdiri di atas lututnya, memeluk tubuhku yang masih duduk di atas kursi sambil menahan tangis.


"Maafkan aku, Sayang. Ku mohon, maafkan aku," ujarnya berkali-kali.


Ku usap air mata yang nyaris lolos di sudut mataku, lalu memaksakan senyum melihatnya. Aku yang salah dalam hal ini, jika aku marah, maka aku tidak kalah egois darinya, aku harus sedikit mengalah.


"Aku sangat mencintaimu, Sa. Jangan pernah pergi, jangan pernah meninggalkanku," katanya sambil menatap lekat kedua bola mataku, aku melihat harapan yang begitu besar dalam tatapan itu.


"Aku berjanji akan terus bersamamu," jawabku mencium tangan yang masih erat menggenggam tanganku.


Setelah kami mulai tenang, tuan Arga mengajakku berbaring di atas kasur, ia memeluk tubuhku dengan penuh cinta. Kami terlelap sesaat untuk menetralkan perasaan yang sudah bercampur aduk tak karuan.


...


Aku terbangun saat mendengar suara tuan Arga sedang mandi, rupanya laki-laki itu bangun lebih dulu dariku. Ku raih ponsel yang terletak di atas meja, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, ku lihat beberapa pesan yang masuk dari Claire dan Riani.


Dengan singkat aku membalas semua pesan mereka, lalu kembali pura-pura tidur saat tuan Arga keluar dari kamar mandi.


Tuan Arga mengenakan celana kain pendek berwarna putih dengan kaos berwarna senada, kulitnya yang juga putih membuat warna itu sangat cocok dan terkesan elegan jika ia pakai.


Ia mengeringkan rambut dengan handuk kecil, karena di kamar ini tidak tersedia hairdryer, dia mendekatiku dan mencium keningku lembut, aku pura-pura menggeliat merasakan bibirnya yang dingin.


"Honey," ujarku pelan sambil pura-pura mengucek kedua mataku.


"Kau sudah bangun? mandilah, ini sudah hampir malam," katanya sambil mengusap kepalaku.


"Lima menit lagi, ya."


"Baiklah, lima menit." Tuan Arga beranjak lalu berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut dengan jemarinya.


Tuan Arga memang bukan orang yang ribet dalam berdandan, dia tidak pernah memakai sisir, hanya merapikan rambut dengan jemarinya. Aku tidak pernah sekalipun melihatnya memakai handbody atau krim pelembab kulit lainnya, tapi tubuhnya selalu tampak segar dengan kulit yang sehat terawat.


Dia rutin merapikan kumis dan rambut di area wajahnya seminggu sekali, kuku jarinya selalu terpotong bersih dan rapi, ia bukan tipe orang yang suka memelihara kuku panjang. Selama satu bulan sekali, tukang potong rambut selalu datang ke rumah untuk memotong rambut tuan Arga yang mulai memanjang, begitulah rutinitas perawatan yang ia jalani.


"Sudah sepuluh menit," ujar tuan Arga membangunkanku dari lamunan. Aku terkesima melihat ketampanannya setiap saat.

__ADS_1


"Baiklah, Honey. Aku mandi sekarang." Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Usai mandi, makan malam sudah tersedia di meja dengan menu yang lebih bervariasi daripada sarapan pagi dan makan siang.


"Setelah makan, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ujar tuan Arga memelukku dari belakang, ia suka sekali melakukan ini.


"Kemana?"


"Rahasia, jika kau menghabiskan semua makanan ini, aku akan menceritakan dongeng sebelum tidur padamu," lanjutnya.


"Semuanya? ini terlalu banyak, Honey."


"Biasanya kau selalu makan banyak, tapi akhir-akhir ini ku lihat kau menjaga pola makanmu, sepertinya kau ingin mempertahankan tubuh langsing ini." Tuan Arga mengelus perutku.


"Aku hanya kurang berselera, aku tidak takut gemuk kok."


"Alasan, cepat makan!" serunya, tuan Arga memenuhi piring di depanku dengan beberapa centong nasi dan berbagai lauk yang sudah di susun rata.


Benar, mungkin aku menjaga pola makanku agar tubuh ini tidak kembali over weight, tentu saja agar tuan Arga juga semakin sayang padaku, meski aku tau dia menyukai wanita bertubuh berisi, tapi aku menyadari bahwa tubuh langsing semakin menarik perhatiannya.


Usai melahap seluruh isi piring, aku duduk bersandar di kursi dengan perut begah. Tuan Arga tersenyum simpul menatapku. Jika terus seperti ini, maka tidak lama lagi aku akan berubah menjadi hulk, kembali berisi dan berlemak.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2