
Jemari nakalnya kini membuka satu persatu kancing bajuku di bagian punggung, aku berusaha menolak, menepis tangannya berkali-kali, namun dia tetap memaksa.
Usai semua kancing terlepas, dia memeluk tubuhku dari arah belakang, menyibakkan rambutku ke arah depan, lalu mencium tengkuk leherku berkali-kali, aku merasakan hangat nafasnya kian memburu, jemarinya mulai meraba bagian dedaku, memainkannya dengan nakal.
"Kita sedang di rumah papa, kau mau melakukannya saat ini, Honey?"
"Tentu saja, kapanpun dan dimana pun aku tidak peduli."
"Bisakah kau menahan keinginanmu itu sebentar selagi aku ingin pipis?"
"Hah, ada-ada saja. Ya sudah, jangan lama-lama."
Tuan Arga melepaskan tangannya dari tubuhku, sedangkan aku hanya memakai pakaian dalam berjalan ke arah kamar mandi.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara pintu di ketuk mengejutkanku, aku segera berlari ke dalam kamar mandi sebelum orang itu membukanya, gawat! bisa-bisa aku ketahuan kalau mau yang iya-iya.
Setelah aku masuk ke dalam kamar mandi, aku mendengar tuan Arga membuka pintu, sepertinya yang datang adalah papa mertuaku, terdengar suara serak dan berat yang khas darinya.
Usai aku selesai buang air kecil, aku mengintip dulu dari dalam kamar mandi, memastikan tidak ada lagi orang lain di sana selain suamiku, tuan Arga. Karena keadaanku yang tidak memakai baju, dan aku tidak membawa handuk ke dalam kamar mandi.
"Siapa, Honey?" tanyaku sambil mengambil handuk yang terletak di ujung kasur.
"Papa," jawabnya cuek.
"Ya sudah, kalau gitu aku mandi saja, ya."
"Kenapa malah mandi, kan kita belum melakukannya," protes tuan Arga.
Dasar laki-laki, sekali minta, nggak pernah bisa kalau di tunda.
"Tapi, bukankah kita harus menemui papa?"
"Sempatkanlah sedikit, ini tidak akan lama, setelah itu kita akan menemui papa," ujarnya dengan wajah memelas seperti kucing yang minta dikasih pindang
"Kau janji? sebentar saja?"
"Janji, cuma sekali tempur." Dia tersenyum, menampakkan barisan gigi rapinya.
Akhirnya aku menunaikan kewajiban ku sebagai seorang istri, melayani keinginan suamiku kapanpun dan dimana pun.
Setengah jam berlalu, laki-laki itu masih asik menyalurkan hasratnya, berkali-kali mengulang kegiatan yang mengasyikkan baginya. Aku memang tidak pernah keberatan, hanya saja terkadang aku kewalahan menandingi tenaganya yang tidak pernah habis.
Hampir satu jam berlalu, pertempuran sengit telah usai, kedua kubu telah sampai di puncaknya masing-masing, merebahkan tubuh diatas kasur sambil saling memeluk untuk beberapa saat, mengatur nafas yang ngos-ngosan, melemaskan otot-otot yang telah menegang selama satu jam.
Setelah itu, aku meninggalkan tuan Arga yang kini terpejam, ku raih selimut untuk menutupi tubuhnya yang terpampang nyata tanpa busana. Aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, badan lengket karena peluh yang membanjiri seluruh tubuh membuatku tidak betah berlama-lama di atas kasur.
Usai mandi, ku lihat tuan Arga masih tertidur dengan pulas, dia pasti sangat lelah sudah bekerja keras sebelum ini, bekerja keras untuk bercocok tanam di rahimku.
Ku putuskan untuk meninggalkannya sebentar, aku berjalan menuju anak tangga, ku lihat papa sedang membaca buku di temani secangkir kopi duduk di ruang tamu sendirian.
"Papa," sapaku kepada laki-laki itu.
"Oh, nak Sabrina. Kenapa tidak istirahat?" tanya papa, aku mencium punggung tangan laki-laki itu lalu duduk di kursi sebrang meja, tidak elok rasanya kalau duduk tepat di sampingnya.
"Sabrina tidak lelah, Pa. Tuan Arga yang sedang tidur saat ini," ujarku.
__ADS_1
"Arga memang selalu mengeluh capek kalau datang ke rumah ini, mungkin karena perjalanannya yang jauh," ucap papa lalu menyeruput secangkir kopi di hadapannya.
"Apakah besok kau ikut ke makam ibu mertuamu, Sabrina?" tanya papa, aku bingung, aku tidak tau sama sekali mengenai cerita ibu mertuaku, ternyata dia sudah meninggal.
"Emm, iya, Pa."
"Kau pergi bersama papa, karena Arga tidak akan pernah ikut," lanjut papa.
"Memangnya kenapa, Pa? kenapa tuan Arga tidak ikut?"
"Apakah suamimu tidak pernah bercerita?" tanya papa, aku hanya diam tidak menjawab.
"Hmm, Arga memang selalu begitu, dia menutupi rasa sakitnya dari orang lain, dia menyimpan semuanya sendiri."
Aku terkesiap, terkejut sekaligus merasa aneh. Berbagai pertanyaan melayang di kepalaku, rasa penasaran yang cukup besar timbul, ada apa dan apa yang terjadi pada tuan Arga yang membuatnya tidak mau berkunjung ke makam ibunya, dan rasa sakit apa yang di maksud oleh papa.
"Tidak perlu di pikirkan, Nak. Suatu saat Arga akan menceritakan semuanya, dia hanya belum siap, pecayalah," lanjut papa. Kini laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya.
"Papa mau ke kamar sebentar, Nak. Kita akan bertemu nanti di jam makan malam."
"Baiklah, Pa." kataku, akhirnya aku pun ikut masuk ke dalam kamar lagi, menemui tuan Arga.
Saat masuk ke dalam kamar, tuan Arga masih nyaman di bawah selimut, dia memeluk guling di sebelah kirinya, aku mendekat, ikut berbaring di sampingnya.
Entah mengapa, tuan Arga tidak pernah menceritakan hal-hal pribadinya yang menyangkut ibunya, dia seperti menyembunyikan sesuatu. Mungkinkah dia belum sepenuhnya percaya padaku?
Menatap wajahnya saat dia terlelap adalah hal yang membuatku tenang, wajah tampan itu seakan menyihir mataku untuk tidak pernah berhenti menatapnya, alisnya hitam lebat tapi rapi, hidung mancung itu menambah kadar ketampanannya, bibir bawahnya terbelah, mungkin istilahnya di sebut pecah kopi, menakjubkan.
Ku belai pipi laki-laki di hadapanku dengan lembut, menyentuh bibirnya yang basah, lalu menciumnya sekilas. Aku tidak akan bisa tahan jika melihat bibir itu di biarkan menganggur, seakan-akan dia melambai ingin di manjakan.
Tiba-tiba tuan Arga menghempaskan guling yang ia peluk, lalu mendekatkan dirinya padaku, berganti menjadikan aku guling yang lebih nyaman untuknya.
"Puas apa?"
"Puas menikmati tubuhku, kenapa kau masih menggangguku tidur?"
"Aku tidak mengganggu, aku ingin menemanimu tidur," jawabku.
"Menemaniku tidur? tapi kenapa meraba-raba wajah dan menciumku?"
"Aku ...."
"Kau apa? mau melanjutkan ronde kedua?"
Kau ini sebenarnya kenapa sih, kenapa yang ada di dalam otakmu hanya itu-itu saja, apa tidak ada hal lain yang bisa kau pikirkan?
Bukankah sebuah belaian dan ciuman juga bisa mengartikan kasih sayang dan cinta?
Kenapa pikiranmu isinya cuma yang iya-iya aja.
"Tidak, lanjutkan tidurmu saja, Honey. Aku mau ke dapur sebentar," ujarku bergeser.
"Mau apa kau ke dapur?"
"Aku haus, aku mau minum."
"Kau bisa memanggil pelayan."
__ADS_1
"Aku akan ke dapur saja," ucapku lalu melepaskan pelukan laki-laki itu.
"Kau memang benar-benar haus atau menghindariku mengajak ronde kedua kita?" tuan Arga lebih mengeratkan pelukannya.
"Keduanya, aku haus dan aku sedikit menghindar," ucapku jujur.
"Kau jahat, Sayang," ujar tuan Arga melayangkan ciuman di seluruh wajahku, bibir, hidung, mata, kening, pipi, semuanya, tidak ada satupun yang terlewatkan.
"Pergilah, pergilah ke dapur. Aku akan mandi sebentar," lanjut tuan Arga setelah seluruh wajahku hampir basah karena air liurnya yang menempel.
"Kau mau sesuatu?" tanyaku sebelum benar-benar keluar dari kamar.
"Aku mau, coklat hangat. Itupun kalau ada," jawabnya sambil melilitkan handuk menutupi bagian bawahnya.
"Baiklah, aku akan menanyakannya pada pelayan."
Aku menyusuri rumah besar ini sendirian, bingung mencari letak dapur yang sama sekali tidak aku ketahui. Tidak ada satupun pelayan yang melakukan sesuatu atau sekedar duduk di kursi-kursi ruang tengah, sangat sepi.
Aku menuruni anak tangga, mencari lagi, lalu bertemu dengan seorang pelayan laki-laki yang menyambut kedatanganku dan tuan Arga siang tadi. Dia sedang duduk di sebuah kursi kayu yang berada di pojokan sambil menulis sesuatu di buku yang ia pegang.
"Permisi, Pak. Saya mau ke dapur, sebelah mana, ya?"
"Nona ingin sesuatu? saya akan menyediakannya, silahkan katakan yang nona inginkan," ujar pelayan itu sopan, dia berdiri lalu mengangguk.
"Tuan Arga ingin coklat hangat, bisakah aku meminta dua gelas untuk kami?" pintaku.
"Tuan muda mau coklat hangat?" Laki-laki yang umurnya kira-kira masuk empat puluhan itu mengerutkan keningnya, seperti tidak percaya dengan permintaan tuan Arga.
"Sudah lama sekali tuan muda tidak mau meminum coklat hangat, kami juga sudah tidak menyediakannya setelah ...." ucapan laki-laki itu terhenti.
"Setelah apa, Pak?"
"Ah, tidak perlu di pikirkan, Nona. Saya akan ke supermarket sebentar, akan saya belikan coklat bubuk terlebih dahulu, nona bisa menunggunya di kamar," lanjut laki-laki itu.
"Baiklah, Pak. Terimakasih, maaf sudah merepotkan."
"Tidak apa-apa, Nona. Sudah tugas saya melayani nona," ujarnya kembali mengangguk, laki-laki itu tersenyum menampakkan kerutan halus di wajahnya.
Aku kembali ke kamar dengan rasa penasaran yang semakin bertambah, banyak sekali hal-hal yang tidak aku ketahui tentang tuan Arga.
Usia pernikahan kami sudah hampir mencapai satu tahun, tapi laki-laki yang ku sebut sebagai suami itu belum benar-benar terbuka dengan hidupnya, entah apa yang salah denganku sehingga dia tidak mempercayaiku sebagai pendengarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...