
Entah mengapa aku bisa seceroboh itu, mendorong Sabrina dengan sengaja ke dalam kolam tanpa menanyakan apakah dia bisa berenang atau tidak, dan akhirnya hal buruk terjadi.
Sudah beberapa kali aku menghubungi dokter Budi, dokter pribadi keluargaku yang mengabdi pada kami selama puluhan tahun.
Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirku, hampir setiap menit aku mencoba menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu, berharap dia segera sadar, aku mondar-mandir mengelilingi tempat tidur, berkali-kali pula aku resah melihat jam dinding.
Lama sekali dokter Budi ini, bagaimana kalau gadis ini sampai mati. Gumamku dalam hati.
Aku mendekatinya di ranjang, menaruh jari telunjukku di depan lubang hidungnya, kemudian ku buka selimut yang ku tutupkan tubuhnya, memperhatikan dengan seksama gerakan naik turun di di dada dan perutnya.
Syukurlah, sepertinya gadis ini masih hidup.
"Salimah, Salimah!" teriakku memanggil kepala pelayan.
"Iya, Tuan," ucap Salimah ketakutan mendengar teriakanku yang menggelegar ke seantero rumah.
"Kau sudah menghubungi dokter Budi?"
"Sudah, Tuan, beliau akan segera sampai," ujar Salimah sambil menunduk.
"Sudah hampir satu jam tapi belum sampai juga, menyebalkan sekali."
"Mungkin sebentar lagi, Tuan."
Dari kejauhan terdengar seseorang melangkah cepat menuju kearah kami.
"Paman, kenapa lama sekali datangnya, sudah karatan aku menunggumu," ucapanku sinis menyambut dokter Budi.
"Maafkan aku, Arga, jalanan macet, sampai-sampai aku tinggalkan mobilku di jalan dan memesan tukang ojek online biar cepat," ucap laki-laki paruh baya itu, umurnya kira-kira sudah setengah abad, rambut putihnya terlihat lebih banyak dari rambut hitamnya. Aku memang memanggilnya paman, karena dia bekerja untuk keluargaku dari aku masih kecil.
"Masuklah paman, cepat!" ajakku sembari menggandeng lengan dokter Budi.
"Ada apa ini, Arga?" tanya dokter Budi yang bingung melihat ada seorang gadis tergolek lemas diatas tempat tidur.
"Dia baru saja tenggelam, aku tidak sengaja mendorongnya," jelasku dengan raut wajah penuh rasa bersalah.
"Kau sudah gila? kau bisa saja membunuh anak orang, Arga!" bentar dokter Budi.
"Sekarang keluarlah, aku akan memeriksanya." Lanjutnya.
"Tidak, aku disini saja."
"Kalau kau disini mondar-mandir seperti ayam mau bertelur, aku tidak bisa konsentrasi."
"Baiklah, aku akan keluar, cepatlah, jangan sampai gadis itu mati, Paman," ucapku penuh penekanan, dengan berat hati aku berlalu keluar kamar meninggalkan dokter memeriksa gadis itu.
...
Aku sekarang diliputi rasa takut dan khawatir yang bercampur aduk, aku terus saja menggerutu dalam hati karena dokter Budi tidak kunjung keluar dari kamar.
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka seketika membuatku berlari kecil menghampiri dokter Budi.
"Bagaimana kondisinya paman?" tanyaku penasaran.
"Sepertinya dia hanya pingsan, kondisi pernafasannya sudah membaik, dia hampir saja mengalami hipotermia, suhu tubuhnya sangat rendah, untung saja kau pakaikan dia baju hangat dan memberikan selimut, itu sudah sedikit membantu," jelas dokter Budi.
"Apa dia tidak apa-apa?" ujarku sembari berlalu memasuki kamar, di ikuti dokter Budi di belakangku.
"Dia akan bangun sebentar lagi, apa kau tadi sudah melakukan pertolongan pertama padanya sesaat setelah dia tenggelam?"
__ADS_1
"Sudah, air keluar dari mulut dan hidungnya begitu banyak." Aku mengingat dengan jelas kejadian mengerikan itu, hampir saja nyawanya tidak tertolong kalau aku sampai telat meraih tubuhnya di dasar kolam.
"Bagus, semoga saja tidak ada air yang masuk ke dalam paru-parunya."
"Lalu, jika ada air yang masuk ke dalam paru-parunya apa dia akan mati?" tanyaku sedikit ketakutan.
"Bisa jadi," ucap dokter Budi sembari mengulum senyum.
"Jangan bercanda denganku, Paman!" ucapku sedikit membentak.
Aku ini sedang kesal dan bingung, jangan ada yang main-main denganku!
"Lagi pula kau tidak menjelaskan siapa gadis yang hampir kau bunuh itu," tandas dokter Budi.
"Aku tidak sengaja, tolong jangan menuduhku."
"Lalu?"
"Dia istriku, Paman," jawabku lemah, aku menghela nafas berat lalu menghembuskannya dengan perlahan, ini adalah pertama kalinya aku menyebut gadis itu sebagai istriku.
"Sekarang kau yang jangan bercanda, Arga!"
"Aku serius, Paman, dia itu istriku, kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu," jelasku.
"Lalu kenapa papamu tidak mengatakan apa-apa padaku, jangan-jangan ... " ucap dokter Budi menggantung.
"Ya, papa tidak tau tentang hal ini."
"Aku akan segera memberitahu papamu tentang kelakuanmu ini, Arga!"
"Jangan dulu, aku sendiri yang akan memberitahunya, tolong jangan bicara apapun pada papaku, Paman."
"Baiklah, tapi kau harus berjanji memberitahunya, sebelum dia murka."
"Sekarang aku harus kembali ke rumah sakit, jaga istrimu baik-baik, buatkan dia minuman hangat, nanti akan ada pegawai rumah sakit yang datang membawakan obat untuk istrimu," ucap dokter Budi sembari mengemasi barang-barangnya.
"Baiklah, terimakasih sudah datang, Paman, biarkan Salimah yang mengantar."
Dokter Budi hanya mengangguk sambil tersenyum, aku menyalaminya sembari mencium punggung tangan laki-laki itu. Salimah yang hanya menjadi penonton di depan pintu, kemudian ikut berlalu mengantarkan dokter Budi sampai di depan pintu rumah utama.
...
Aku kemudian menutup pintu kamar dan duduk di tepi ranjang, memandangi gadis keriting yang masih menutup mata, kemudian aku menaikkan selimut sampai menutupi dadanya, wajahnya masih terlihat pucat, pipinya juga terasa dingin saat aku diam-diam merabanya.
"Maafkan aku, Sabrina, aku tidak bermaksud jahat padamu," lirihku.
Tok ... Tok ... Tok .... !
Suara pintu diketuk dari luar, aku bergegas membukanya.
"Ada apa?" tanyaku pada salah seorang pelayan laki-laki yang berdiri membawa nampan.
"Saya membawakan teh hangat untuk nona, Tuan,"
"Letakkan saja di meja dekat tempat tidur."
"Baik," ucap pelayan itu masuk menuruti perintahku.
"Tuan, tuan Joe baru saja menghubungi saya, karena dia bilang sudah menghubungi tuan berkali-kali tapi tidak di jawab," Salimah datang dengan berlari kecil.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Dia bilang akan ada kurir yang mengantar buku-buku bacaan untuk nona."
"Buku?" tanyaku keheranan, karena aku benar-benar tidak tau soal ini.
"Iya, nona bilang pada saya kalau dia bosan di rumah, dan dia suka sekali membaca buku cerita, jadi saya mengatakan ini pada tuan Joe kemarin," jelas Salimah.
"Lalu kenapa kau tidak mengatakannya padaku dulu, kenapa harus mengatakannya pada Joe?" tanyaku sedikit menaikkan suara.
"Maafkan saya, Tuan," wajah Salimah terlihat pucat pasi.
"Lain kali kalau ada apa-apa, katakan padaku terlebih dahulu."
"Iya, sekali lagi saya minta maaf, Tuan."
"Baiklah, tolong ambilkan ponselku di dekat kolam, sepertinya tadi aku lupa menjatuhkannya di sekitar sana,"
"Baiklah, Tuan," ucap Salimah mengangguk sopan.
Salimah dan pelayan laki-laki tadi segera pergi dari hadapanku, sedangkan aku bergegas menutup pintu kamar dan membaringkan tubuhku di samping gadis ini.
Aku mencoba memiringkan tubuhku menghadap dirinya, memperhatikannya dari dekat. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa begitu bersalah.
"Bangunlah, jangan mati, aku sungguh-sungguh merasa bersalah, Sabrina," lirihku di dekat telinganya.
Saat aku mencoba mengelus kepalanya, dia seketika membuka mata dengan perlahan, mengerjap-ngerjapkan matanya pelan-pelan.
"Kau sudah sadar?" tanyaku dengan suara lemah lembut penuh kekhawatiran.
"Minum," ucapannya bergetar seperti kehilangan tenaga meskipun hanya untuk mengeluarkan suara.
Dengan sigap tangan kiriku mengambil segelas teh hangat yang ada di meja lalu membantunya duduk dengan menopang bagian punggungnya dengan tangan kananku.
"Ayo, minumlah, ini akan menghangatkan tubuhmu."
Usai meneguk seperempat gelas teh hangat, aku kembali membaringkan tubuhnya dengan hati-hati.
"Kau baik-baik saja?" aku bertanya sambil kembali memasangkan selimut menutupi tubuhnya.
"Baiklah, jangan bicara apapun, simpan saja energimu." lanjutku, karena dia terlihat sedang tidak ingin menjawab pertanyaanku.
"Seharusnya kau bilang kalau tidak bisa berenang, gadis bodoh!" cetusku sambil melirik ke arahnya. Sungguh, aku merasa kesal sekaligus khawatir, dia diam saja tidak menolak saat aku menyuruhnya menemaniku berenang, aku berpikir dia bisa berenang.
Dia hanya diam, tidak bergerak sama sekali, tapi aku melihat ada genangan air yang bersembunyi di pelupuk matanya, entah apa yang dia rasakan saat ini, mungkin dia marah padaku.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Siapa lagi yang mondar-mandir mengetuk pintu, merepotkan saja," gumamku kesal.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...