
Hari demi hari berganti, bulan demi bulan pun berlalu, ku lewati masa-masa indah ini dengan penuh kebahagiaan dan rasa haru yang luar biasa.
Bagaimana tidak, hidupku kini nyaris sempurna, memiliki orang tua dan mertua yang baik dan menyayangiku, memiliki suami yang begitu uwwu, bahkan jika ku jelaskan ke uwwuannya, maka satu bab cerita novel pun takkan mampu untuk mengutarakan segala tentangnya.
Kini, usia kehamilanku sudah memasuki 9 bulan, hari ini adalah hari terakhir seharusnya aku datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan demi memastikan kembali kapan si kecil siap di lahirkan.
"Bagaimana, Dok?" tanyaku pada dokter Daren, laki-laki itu tampak serius memandang layar monitor yang menampilkan hasil USG ku.
"Sangat baik, sepertinya tinggal menunggu hari saja, Kak," jawab dokter Daren. Begitulah, sejak beberapa bulan terakhir dokter tampan yang telah menikah itu memanggilku kakak ipar, meskipun berulang kali aku melarangnya namun ia tetap saja seperti itu, padahal ia sudah tau betapa cemburunya suamiku jika mendengar ia memanggilku kakak ipar.
"Posisi bayi sudah siap lahir, kita tinggal menunggu dia memberi tanda-tanda saja, berat badan janin normal dan air ketuban masih bagus, kita tunggu saja," lanjutnya. Suamiku mendengarkan dengan seksama.
Terlihat di layar monitor itu bayi kecilku sedang memasukkan jari jempolnya ke dalam mulut, ia tampak tersenyum sambil terus bergerak, kakinya menendang lembut perutku.
Mommy tidak sabar menggendongmu, Nak.
"Kira-kira aku bisa melahirkan normal, Dok?" tanyaku.
"Sangat bisa, Kak. Berat badanmu, kondisi kesehatanmu dan bayimu sangat bagus, pertahankan saja semuanya sampai hari persalinan itu tiba, maka dengan siapnya bayi itu lahir, tubuhmu juga akan siap menerima prosesnya," ujar dokter.
Setelah pemeriksaan yang memakan waktu cukup lama, akhirnya aku dan suamiku di antar oleh dokter Daren menemui seorang dokter perempuan yang juga berprofesi sebagai dokter kandungan, karena ia yang akan menangani proses persalinanku nanti.
Dokter wanita sengaja di siapkan karena suamiku tidak mau jika proses persalinanku di tangani oleh dokter laki-laki, termasuk dokter Daren. Tenaga medis yang akan membantuku selama proses persalinan juga semuanya adalah wanita.
Permintaan yang merepotkan banyak pihak, namun itu semua karena ia tidak mau ada laki-laki lain yang menyentuhku secara berlebihan, menyebalkan.
"Jika aku tau, mungkin dulu aku akan kuliah kedokteran spesialis kandungan saja, agar istriku tidak sampai di pegang-pegang laki-laki lain," ujar suamiku kala itu.
Dia begitu khawatir saat dokter menjelaskan bagaimana proses persalinan yang di lakukan secara normal, dan ia menolak dengan keras dokter laki-laki manapun melihat area sensitif milikku.
...
Seminggu setelah kunjungan kami ke rumah sakit, tanda-tanda kelahiran belum begitu nampak, hanya kontraksi palsu yang terjadi dengan durasi singkat dan sangat jarang, aku pun mulai takut dan khawatir.
"Honey, kenapa bayi kecil kita belum juga ingin keluar?" keluhku saat keluar dari dalam kamar mandi. Ya, aku bisa bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil lebih dari 20 kali sehari.
"Bersabarlah, Sayang. Mungkin belum waktunya," ujar suamiku tenang. Dia langsung merangkul tubuhku dan mengajakku duduk di tepi kasur.
"Rupanya bidadari kecil daddy ini masih betah di dalam, ya. Lihat, mommy sudah tidak sabar menunggumu," ucap suamiku sambil mengelus perut besarku.
Setiap kali suamiku mengajaknya mengobrol, ia selalu merespon dengan menendang lembut perutku.
__ADS_1
"Tolong hubungi dokter Daren, Honey. Aku takut jika nanti terjadi sesuatu jika hari lahir melewati masa perkiraan kelahiran," pintaku.
"Baiklah, apapun asal bisa membuatmu senang, Sayang," jawabnya sambil mencium pipiku.
Dia meraih ponselnya di atas meja lalu segera menghubungi dokter seperti permintaanku, dia menjelaskan keluhanku dan kecemasanku.
"Apa? kau yakin itu akan berhasil?" tanya suamiku, entah apa yang sedang di sampaikan dokter padanya.
"Baiklah, Ren. Terimakasih, maaf sudah mengganggumu malam-malam," kata terakhir suamiku sebelum ia menutup telponnya.
Setelah kembali meletakkan ponselnya dia atas meja, ia menghampiriku.
"Bagaimana?" tanyaku.
"Kata Daren, ada satu cara yang manjur untuk memancing kontraksi dan membuka jalan lahirnya," ujar suamiku, wajahnya tampak tegang dan sedikit menahan senyum.
"Bagaimana caranya?" tanyaku penasaran.
"Aku akan langsung mempraktekkannya," jawabnya penuh semangat.
Dengan hati-hati ia merebahkan tubuhku di atas kasur, perasaanku sudah tidak enak.
"Kau mau apa, Honey?" kataku saat laki-laki bertubuh kekar itu mulai membuka kancing piyama yang ku pakai.
"Membantumu, Sayang."
"Membantuku, membantu apa?"
"Kau bilang tadi ingin bayi kecil kita segera lahir, aku akan membantumu mempercepat prosesnya," ujarnya dengan tersenyum senang.
Meskipun dalam kondisi perutku yang besar, aku tidak pernah menolak jika ia menginginkan haknya, hanya saja kami melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati, termasuk memperpendek durasi main agar aku tidak terlalu lelah.
"Aku akan melakukannya dengan pelan, katakan saja jika ada yang sakit, Sayang," ujarnya saat sudah memulai aksinya. Aku hanya mengangguk pasrah.
Malam yang panjang ini kami lewati dengan berbagi peluh bersama, tidak sekalipun ia membuatku kurang nyaman dalam melakukan olahraga malam meskipun perutku dalam kondisi besar.
...
Pagi ini ini kontraksi kembali datang, namun dengan level rasa sakit yang lebih tinggi dan durasi yang hampir sering.
Aku berbaring di kasur sambil menahan kram perut yang datang dan pergi tiba-tiba.
__ADS_1
"Sayang, apa masih sakit?" tanya suamiku, aku mengangguk.
Dengan sangat telaten ia memijat punggungku untuk membantu meredakan rasa sakit, namun kali ini rasa sakit itu tidak mudah hilang seperti biasanya.
"Kenapa sakitnya belum juga hilang, Sayang?" Aku menggeleng.
Entah kenapa tiba-tiba kasurku basah, padahal aku sedang tidak buang air kecil, dan mana mungkin aku ngompol sembarangan.
"Hah, ini apa, Sayang? kau kenapa?" tanya suamiku panik, aku hanya fokus pada rasa nyeri di perutku sehingga tidak menjawabnya, namun dia segera berlari dan berteriak di depan pintu kamar memanggil Salimah.
"Tenang, tenang. Aku akan menghubungi dokter," kata suamiku, Salimah tampak berlari menghampiriku.
"Ya Tuhan, Nona. Ini air ketuban sudah pecah, harus segera ke rumah sakit," teriak Salimah, ia tidak kalah panik.
Belum sempat suamiku menemukan ponselnya yang entah ia letakkan dimana, mendengar ucapan Salimah ia langsung menggendong tubuhku keluar dari kamar.
"Siapkan mobil, cepat!" teriaknya kepada bang Bimo yang duduk santai di dekat anak tangga.
"Hubungi rumah sakit, sekarang!" perintah Suamiku pada Salimah.
Keadaan makin genting saat air ketuban terus saja keluar tanpa terkontrol melalui area sensitifku, rasa sakit semakin sering datang, perasaan khawatir dan takut bercampur memenuhi hatiku.
Perjalanan ke rumah sakit yang biasanya hanya membutuhkan waktu 20 menit kali ini terasa sangat lama.
"Bersabarlah, Sayang. Kuat, sebentar lagi sampai," ujar suamiku, ia terus mengelus perutku sambil mengusap keringat yang mengucur deras di dahiku. Dia sama sepertiku, tampak khawatir dan takut.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1