TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Honey


__ADS_3

Usai tuan Arga membersihkan tubuhnya, dia bergegas menghampiriku di tempat tidur dan berbaring di sampingku.


Dia meletakkan tangan kanannya di bawah kepalaku sebagai bantal, lalu mendekatkan tubuh kami.


"Apakah sopir itu menjagamu dengan baik?" tanya tuan Arga memulai pembicaraan.


"Bang Bimo? ya, dia menjagaku dengan baik, Tuan."


"Tolong berhentilah menyebut namanya seperti itu di depanku," ujarnya.


"Memangnya kenapa?" Aku menatap heran.


"Bahkan kau punya panggilan khusus untuk supir itu, sedangkan kau selalu saja memanggilku tuan, tuan , tuan, kau kira aku ini majikan mu?" Dia menyentil keningku.


"Lalu saya harus memanggilmu apa, Tuan? bukankah memang seharusnya seperti itu?"


"Kau kan bisa memanggilku sayang, bebe, honey, atau yang lain."


"Hah, itu terlalu berlebihan," ucapku sambil menatap sinis ke arahnya.


"Berlebihan bagaiman, bukankah memang seharusnya kau juga punya panggilan khusus untukku?"


"Memanggilmu tuan kan sudah khusus."


"Tidak, aku mau di panggil dengan panggilan lain," dia memonyongkan bibirnya.


"Tidak mau!"


"Bisakah kau tidak membantahku sehari saja?" Tuan Arga sedikit kesal.


"Baiklah, sekarang tuan mau saya memanggil apa?"


"Kau tinggal pilih, mau memanggilku honey, bebe, atau sayang. Dan, tolong mulai sekarang sedikit rubah pola bahasamu denganku, kau berbicara denganku seperti bicara dengan orang asing," lanjutnya.


"Hmm, baiklah, apa hanya itu pilihannya? apakah aku tidak boleh memanggilmu yang mulia raja, atau yang maha benar?" Aku sedikit tertawa dengan ucapanku.


"Aku tidak suka, panggilan itu mengejek."


"Baiklah, aku akan memanggilmu sayang, puas?"


"Emm, lebih enak panggil honey," rengeknya.


"Panggil sayang saja," ucapku.


"Gak mau! panggil honey!"


"Sayang!"


"Honey!"


"Ya sudah, honey." Aku manyun.


Tanpa jawaban dia langsung menyerang bibirku dengan gemas.


Jangan, tolong jangan lakukan ini dulu malam ini, aku sedang tidak punya tameng.


"Tuan," ucapku mendorong tubuhnya.

__ADS_1


"Kau panggil aku apa?" Dia menyipitkan kedua matanya menatapku.


"Eh, honey, bisakah kita libur dulu malam ini, aku sedang lelah," ucapku dengan wajah memelas.


"Kau lelah? memangnya seharian kau melakukan apa saja?"


"Aku banyak pekerjaan di butik, jadi seharian tadi sangat sibuk."


"Ah, aku bisa memijat beberapa bagian penting tubuhmu untuk menghilangkan lelah itu," ucapnya sambil mulai melancarkan aksi nakal tangannya untuk meraba seluruh bagian tubuhku.


Inikah yang kau maksud memijat bagian penting tubuhku?


Ini tidak akan menghilangkan lelahku, tapi menghilangkan rasa hausmu, dasar!


"Honey," ucapku di dekat telinganya.


"Jangan menolakku malam ini, kemarin saja kau sudah membuatku seperti mainan, sekarang aku akan membalas permainanmu," ucapnya sambil menelusuri bagian leher dan dadaku dengan bibirnya.


Aku menyerah, membiarkannya melepaskan semua hasrat berbahayanya. Kami menikmati setengah malam ini dengan bergumul mesra, meskipun aku masih merasa takut dan was-was karena tidak memiliki pil kontrasepsi.


Usai kami berdua sampai di ujung kenikmatan, kami melanjutkan tidur sesaat dengan saling memeluk penuh kehangatan, aku masih tidur di atas lengannya sedangkan tangan satunya mengelus rambutku pelan.


...


Pagi ini kami sarapan hanya berdua, karena tuan Joe sudah berangkat ke kantor lebih pagi, tuan Arga bilang kalau pekerjaan di kantor sedang sangat banyak.


"Sabrina, jangan pulang terlalu sore, kau harus lebih banyak di rumah dari pada di butik," ucap tuan Arga sebelum dia berangkat ke kantor.


"Baiklah, Tuan."


"Tuan?" Dian mengulang kata-kataku.


Tanpa aba-aba di mengecup bibirku lembut, sampai beberapa saat dia tidak mau melepaskannya. Aku bahkan harus meronta mendorongnya, karena dari kejauhan, beberapa pasang mata pelayan sedang melihat aksi mesum pagi-pagi kami.


"Aku malu," ucapku.


"Kenapa harus malu, aku ini suamimu. Jika kau lupa memanggilku honey lagi, aku bahkan tidak segan-segan menciummu di depan jalan raya," ujarnya sambil berlalu pergi membawa sebuah tas hitam miliknya


Ya, ya, ya, setelah lama bersamamu, aku tidak hanya harus menurunkan kadar kewarasan ku, aku juga harus memasang wajah tebal agar tidak malu.


Usai mengantarkannya di depan pintu rumah utama, aku kembali ke kamar mengambil tas dan ponselku lalu bergegas ke butik.


...


Setelah sampai di butik, aku langsung menuju ruanganku, Riani menyusulku di belakang.


"Sa, ini titipan milikmu," ucap Riani sambil menyerahkan kantong plastik hitam berukuran kecil.


"Wah, terimakasih banyak, Riani. Kau memang sahabatku." Aku berhambur memeluknya.


"Apa pil seperti itu yang kau maksud?" tanya Riani. Aku langsung membuka bungkusan plastik itu.


"Iya, tapi ini apa, Ni?" tanyaku menenteng sebuah alat tes kehamilan.


"Itu bonus untukmu," jawab enteng Riani.


"Kenapa kau membelikan aku alat tes kehamilan seperti ini, Ni. Aku ini sedang menunda kehamilan, bukan sedang program hamil," ujarku cemberut.

__ADS_1


"Hanya untuk berjaga-jaga saja, Sa. Lagipula takdir tuhan siapa yang tau."


"Maksudmu apa?" tanyaku.


"Pil yang kau minum memang untuk menunda kehamilan, tapi jika takdirmu harus mempunyai anak dengan tuan Arga, maka kau akan tetap hamil, hanya saja tuhan belum berkehendak." Riani mulai ceramah.


"Apa benar pil ini tidak efektif?" Aku penasaran.


"Tidak tau, manusia hanya bisa berusaha, tapi takdir tuhan tetap berjalan, Sa."


"Baiklah, setidaknya aku sudah berusaha," jawabku lemas.


Setelah ceramahnya panjang lebar, Riani kembali meninggalkanku sendirian di ruangan ku.


Hari ini aku cukup sibuk, karena harus menemui beberapa client yang akan memesan model gaun pengantin untuk pernikahan mereka, dan butuh waktu lebih dari satu jam untuk menampung setiap keinginan si pemesan gaun. Semua wanita pasti ingin mendapatkan gaun terbaik dan penampilan terbaiknya di hari yang paling membahagiakan itu.


Namun, meskipun ragaku ini berada di butik, tapi pikiran dan hatiku melayang-layang mencari keberadaan tuan Arga. Andai saja aku memiliki nomor ponselnya, mungkin aku sudah mengirim ratusan pesan karena rasa ingin tahuku ini.


Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tasku, lalu menekan gambar buku kontak di sana, beberapa kali aku menggesernya ke atas dan ke bawah, entah nomor siapa yang sedang aku cari, namun mataku berhenti pada salah satu nomor yang berakhiran 555, itu adalah nomor tuan Joe.


Apa aku mengirim pesan ke nomor tuan Joe saja ya, untuk menanyakan sedang apa tuan Arga saat ini. Eh, tidak, mau di taruh mana mukaku kalau tuan Joe tau aku sedang penasaran dan selalu ingin tau.


Akhirnya aku mengurungkan niatku, dan kembali fokus dengan pensil dan kertas di hadapanku.


...


Tok ... Tok ... Tok ....


"Masuk," ucapku saat mendengar pintu ruangan di ketuk, Lalu seorang laki-laki membukanya dan masuk, ternyata bang Bimo.


"Mari pulang, Non," ucap bang Bimo.


"Loh, ini baru jam satu siang, Bang." Aku melihat jam kecil di pergelangan tanganku.


"Saya tau, Non. Tuan Arga berpesan kalau non Sabrina harus pulang jam satu siang, tidak boleh lebih," jelas bang Bimo.


Dia bahkan sekarang benar-benar memberikan aturan ketat padaku untuk pulang pergi ke butik, sungguh keterlaluan.


"Sebentar lagi, Bang." Aku menghela nafas panjang, lalu membereskan semua barang-barang milikku dan memasukkannya ke dalam tas.


"Saya tunggu di mobil," ucap bang Bimo lalu keluar dan menutup pintu.


Ya Tuhan, aku pasti akan sangat bosan berada di rumah tanpa laki-laki itu, sedangkan dia harus bekerja sampai tengah malam, aku malah harus pulang lebih awal setiap harinya, ini semua tidak adil!


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2