
Hari ini aku menghabiskan waktu di butik seharian dengan menggambar, ide-ide cemerlang sudah menggunung di otakku. Apalagi setelah aku melihat acara peragaan busana di singapura beberapa waktu lalu, itu membuatku semakin bersemangat membuat beberapa design gaun model terbaru.
Usai semua pekerjaan di butik selesai, aku memutuskan pulang lebih awal. Entahlah, rasanya aku tidak betah berlama-lama meninggalkan rumah.
"Bang, pulang yuk," ajakku pada bang Bimo yang sedang membantu Riani memindahkan beberapa roll kain.
"Sekarang?" tanya bang Bimo.
"Ya, aku ingin pulang sekarang, Bang."
"Baiklah, Non." Bang Bimo berlalu keluar butik.
"Aku titip butik padamu, Ni." ujarku tersenyum melihat Riani.
"Ya, hati-hati di jalan, Saa."
Aku mengangguk lalu segera menyusul bang Bimo menuju parkiran mobil.
"Tumben, non Sabrina ngajak pulang jam segini?" tanya bang Bimo saat kami sudah berada di dalam mobil.
"Pengen aja bang, tolong nanti mampir beli bakso di perempatan, Ya."
"Baik, Non." Bang Bimo melajukan mobilnya pelan.
Setelah sampai di perempatan jalan yang aku maksud, aku keluar dari mobil dan mendatangi kedai bakso langgananku saat masih sekolah dulu. Tempat ini memang jauh dari sekolahku, tapi aku sering kemari bersama teman-temanku. Baksonya sangat enak, berbeda dengan bakso-bakso yang biasa di jual di tempat lain.
Usai membungkus dua porsi bakso, aku kembali masuk mobil menemui bang Bimo.
"Ini buat bang Bimo," ucapku menyodorkan satu kantong plastik berisi bakso.
"Wah, buat bang Bimo, Non?" Dengan wajah bahagianya dia menerima bungkusan itu.
"Di makan ya, Bang. Ini bakso enak kok meskipun lokasinya pinggir jalan."
"Non Sabrina meskipun sudah jadi istri pengusaha kaya raya, nggak malu ya jajan di pinggir jalan," ucap bang Bimo tersenyum menatapku dari spion mobil diatas kepalanya.
"Asalkan tempatnya bersih dan rasanya enak, aku suka jajan di mana aja, Bang. Lagipula jajan di resto mewah juga rasanya belum tentu sesuai seleraku," ujarku.
"Betul, Non. Selera setiap orang memang dmtidak diukur dari mahal dan murahnya sebuah makanan."
Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu mengalihkan pandangan mataku pada jendela kaca di sampingku. Entah mengapa, aku rasanya ingin sekali cepat-cepat pulang, cepat sampai di rumah.
Perasaanku mulai resah sejak pagi tadi, apakah itu gara-gara sikap manis tuan Arga padaku?
Aku mulai bingung dengan apa yang sebenarnya melanda diriku, apakah aku mulai membuka hatiku untuknya?
Tapi aku tidak mau jika terlalu percaya diri, aku takut kalau sikap manis tuan Arga hanya karena ada sesuatu yang dia inginkan, bukan benar-benar karena dia tulus melakukannya.
"Sudah sampai, Non." Bang Bimo mengejutkanku.
"Eh iya, Bang. Maaf tadi aku melamun," ucapku. Tiba-tiba saja kami sudah sampai di halaman rumah, mungkin aku terlalu asik dengan pikiranku yang melayang ke mana-mana.
Bang Bimo membuka pintu mobil di sampingku, aku keluar dan berjalan memasuki rumah. Sepi, tidak ada seorangpun di rumah ini, aku juga tidak melihat mobil tuan Arga terparkir di depan. Mungkin dia belum pulang, lagipula ini masih siang.
Aku juga tidak melihat adanya papa, mungkin dia juga sudah pulang ke rumahnya. Ah, aku sendirian sekarang.
"Salimah." Aku sedikit mengeraskan suaraku mencari keberadaan Salimah.
__ADS_1
"Eh, iya, Non." Salimah tergopoh-gopoh menghampiriku.
"Buatkan aku coklat hangat, Ya."
"Baik, Non."
"Letakkan di meja taman samping, aku mau ganti baju dulu," ucapku sambil berlalu menuju kamar.
Melihat ruangan ini begitu sepi tanpa kehadiran tuan Arga, entah kenapa membuatku seperti kehilangan sesuatu.
Mengapa pikiranku ini di penuhi dengan laki-laki itu, jangan-jangan virusnya sudah menyebar ke seluruh jiwaku, Hah!
Aku mendengus kesal menatap tempat tidur dan sofa panjang yang kosong tak berpenghuni, ku buang tasku ke sembarang arah lalu bergegas mandi sebentar untuk melepaskan penat.
Selesai dengan ritual mandi dan ganti pakaian, aku segera menuju taman samping. Sepertinya ini adalah tempat favoriku mulai hari ini.
"Salimah," sapaku pada Salimah yang sudah duduk menungguku disana membawa coklat hangat permintaanku.
"Iya, Nona. Ini coklatnya," ujar Salimah.
"Terimakasih." Aku duduk di samping Salimah sambil menyesap hangat coklat ini.
"Saya kembali bekerja dulu, Nona," pamit Salimah.
Aku hanya mengangguk, lalu mengarahkan pandanganku menuju mawar-mawar cantikku yang sudah mekar dengan begitu indah.
Ah, kau baik sekali, tuan Joe. Terimakasih sudah membuatku betah tinggal disini. Aku berbicara sendiri.
"Sabrina," ucap seseorang tiba-tiba dari pintu.
"Eh, Tuan." Aku terkejut melihat tuan Arga sudah berdiri disana dengan masih mengenakan pakaian kerja yang lengkap.
"Ya, aku menyuruh sopir itu selalu memberikan laporan kegiatanmu di butik dan kapan kamu akan pulang," ujar tuan Arga sembari duduk di kursi tempat Salimah tadi duduk.
"Oh ...." Aku kembali mengalihkan pandanganku melihat ikan-ikan kecil yang manari dengan riang di dasar kolam yang dangkal.
"Kau suka?"
"Apa?" Aku menatapnya.
"Semua bunga mawar ini," lanjut tuan Arga.
"Saya sangat suka mawar, apakah tuan yang membeli semua mawar ini?" tanyaku.
"Tidak, Joe yang membelinya untukmu."
"Oh ...." Aku terdiam sejenak.
"Sepertinya Joe lebih tau banyak tentangmu," ucap tuan Arga lalu menyandarkan punggungnya.
"Tidak juga, dia hanya tau kalau aku mengatakannya."
"Apa kau mengatakan padanya kalau kau suka tanaman mawar?" Dia bertanya sambil menyipitkan kedua matanya.
"Ya, saya pernah memintanya mampir di sebuah toko bunga saat tuan menyuruhnya mengantar saya berangkat ke butik," ujarku menjelaskan.
"Apa kau juga tidak ingin mengatakan sesuatu yang kau suka padaku?"
__ADS_1
"Tidak, untuk apa?" Aku mengernyitkan dahi menatapnya.
"Misalnya, agar aku membelikannya untukmu," jawabnya.
"Tidak perlu, saya bisa membeli kebutuhan saya sendiri, saya ingin menjadi wanita mandiri, tidak bergantung pada orang lain."
"Ini untukmu," ucapnya sambil menyerahkan sebuah kartu kredit berwarna hitam.
"Ah, tidak perlu, Tuan. Saya kurang suka berbelanja," ujarku menolak.
"Simpan saja, pakailah jika perlu. Aku bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhanmu, itu sudah menjadi tugasku."
"Tapi---." Dia sedikit berdiri mengecup bibirku lembut, membuatku menghentikan ucapan yang belum sempat ku selesaikan.
"Simpanlah, setidaknya hargailah pemberianku." Dia berlalu pergi meninggalkanku duduk sendirian disini.
Lagi, aku di buat terkejut dengan sikap manisnya.
Apakah kau sudah menerima hubungan ini, Tuan?
Benarkah begitu, aku bahkan bingung dengan sikapmu yang seolah-olah menerimaku.
Aku melamun, bingung dengan sikapnya. Aku senang laki-laki yang awalnya seperti harimau buas yang gila itu akhirnya menjadi harimau jinak yang menggemaskan, tapi aku masih ragu jika dia melakukan semua ini dengan tulus.
Memang dia sudah mengurangi bentakannya, perintahnya dan amarahnya padaku, sesekali memang dia masih begitu. Tapi hanya beberapa kali saja dalam sehari, biasanya dia selalu memberikan perintah-perintah seperti aku ini seorang pelayan, bukan istrinya.
Namun, tidak bisa di pungkiri, ada rasa bahagia yang membuncah di dalam hatiku atas sikapnya seharian ini. Entah apa yang merasuki laki-laki itu, semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan kami.
"Nona," ucap Salimah mengejutkanku.
"Ada apa, Salimah." Aku memegang dadaku.
"Maafkan saya membuat nona kaget, tuan Arga menyuruh nona ke kamar," lanjutnya.
"Baiklah, terimakasih banyak, Salimah." Aku berdiri lalu menuju sang mulia raja yang sudah menungguku di tempat peraduannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...