TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
POV Tuan Arga (Harapan)


__ADS_3

Hari ini aku dan Joe memutuskan untuk datang ke rumah milik keluarga Sabrina, mungkin saja dia pulang menemui orang tuanya.


Saat aku sampai di depan gerbang rumahnya, aku tidak langsung turun, aku melihat ibu Sabrina sedang menyapu halaman rumahnya sendirian, terlihat rumah itu sangat sepi.


"Mungkin Sabrina tidak pulang kesini, Boss," ujar Joe.


"Ya, sepertinya dia juga tidak memberikan kabar pada orang tuanya kalau dia pergi dariku."


"Aku akan menugaskan beberapa bawahan untuk mengawasi rumah ini, kita akan segera tau jika Sabrina pulang, Boss," tawar Joe.


"Lakukan apapun yang terbaik, Joe."


"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Joe.


"Aku mau datang ke butik miliknya, kita akan mencari informasi di sana, ada salah satu karyawan yang sangat dekat dengan Sabrina, dia pasti tau sesuatu."


"Baiklah," ucap Joe, lalu memutar arah mobil kami dan menuju ke sebuah butik tempat Sabrina biasa bekerja.


Di dalam perjalanan, mataku terus menyisir setiap tempat, kendaraan, ataupun setiap manusia yang ada di sana, aku berharap menemukan Sabrina lebih cepat.


"Kau sudah menghubungi pihak kepolisian?" tanyaku pada Joe.


"Sudah,"


"Tolong jangan sebarkan berita kehilangan ini di media, aku takut orang tua Sabrina akan terkejut, aku juga tidak mau mereka khawatir," ujarku.


"Semua akan berjalan sesuai rencana, tenangkan dirimu, kita akan membawa istrimu pulang, Boss."


Setelah sampai di butik, aku menemui semua karyawan disana, semuanya sudah ku tanya mengenai keberadaan Sabrina, tapi tidak ada satupun dari mereka yang tau bahwa Sabrina hilang, termasuk orang kepercayaan Sabrina, Riani.


Aku menyuruh Riani menghubungi Sabrina berkali-kali, namun tidak bisa. Ternyata nomor Riani juga di blokir oleh Sabrina.


Kau benar-benar berniat pergi, Sabrina. Bahkan kau tidak meninggalkan celah sedikitpun untuk aku kembali menemukanmu.


"Tolong beri tau kami jika kalian melihat atapun menerima kabar dari Sabrina," ucap Joe pada semua orang di ruangan ini.


Mereka mengangguk tanda mengerti, aku hanya diam. Sulit rasanya menerima situasi yang menyakitkan ini, aku bahkan belum pernah merasakan sakit yang terus menggerogoti jiwaku.


Aku dan Joe meninggalkan butik tanpa kemajuan apapun, belum ada titik terang yang membuatku bersemangat, tapi aku yakin masih ada harapan untuk membawa Sabrina kembali pulang.


...


Tidak ada kabar apapun dari kepergian Sabrina, aku sudah mendatangi kantor polisi setiap hari, aku bahkan mengirim mata-mata di rumah Sabrina dan di butiknya, aku tidak mau sampai terlewatkan jika ada kabar darinya.


Tapi semuanya nihil, tidak ada sedikitpun harapan muncul di semua usahaku.


"Makanlah, Boss," ucap Joe di ruang makan, dia melihatku prihatin.

__ADS_1


"Aku sudah tidak berselera, Joe."


"Kau bahkan terlihat sangat berantakan, Boss."


Aku sudah tidak peduli, semenjak kepergian Sabrina, aku jarang mandi, aku tidak pernah datang ke kantor, aku tidak pernah melakukan aktifitas apapun yang berarti, aku hanya duduk di kamar, merenung.


Aku hanya memantau semua pekerjaan kantor dari rumah, membebankan semua tugas kantor kepada Joe. Aku sudah tidak punya semangat untuk menjalani hari-hariku yang semakin sunyi.


Beberapa kali aku menghubungi Claire, aku berpikir Sabrina akan menemui Claire, aku tau mereka berteman baik.


Tapi Claire juga tidak berkomunikasi dengan Sabrina sejak dia selesai mengunjungi Sabrina di rumah sakit. Aku hampir saja putus asa. Ku cari semua kontak teman-teman Sabrina, hampir semua orang yang mengenal Sabrina, Aku menemui mereka.


Nihil, tidak ada satupun dari mereka yang tau. Aku tidak banyak tau tentang kehidupan Sabrina, itu semakin menyulitkanku mencari keberadaannya, bahkan hanya sedikit orang yang masih mengingat Sabrina sebagai teman mereka, miris sekali. Aku baru menyadari, Sabrina tidak banyak bergaul, dia hanya memiliki beberapa teman.


...


Satu bulan berlalu, semuanya masih sama. Sabrina belum juga kembali pulang.


Rumah besar ini semakin sunyi dan sepi semenjak kepergian wanita itu, sebelum kehadirannya, rumah ini memang sepi, tapi sejak dia datang membawa keceriaan di rumah ini, aku semakin menyadari bahwa hidupku penuh warna atas kehadirannya.


Aku sudah tidak pernah lagi mengurus pekerjaan kantor, aku belum sempat memberi kabar pada papaku kalau Sabrina hilang, aku takut papa akan sakit, sebab Sabrina adalah orang pertama yang memberi kesan terbaik kepada papa.


Pagi ini aku memutuskan duduk di taman samping, tempat favorit Sabrina menikmati secangkir coklat hangat yang biasa dia minta kepada Salimah.


Sabrina, bahkan mawar-mawar ini layu tanpa kehadiranmu, jangan pergi terlalu lama, Sayang. Bukan hanya mawar ini yang akan mati menanti kepulanganmu, mungkin aku juga akan sekarat menunggumu.


Sebuah buku gambar dan pensil tergeletak begitu saja di meja ini, itu semakin membuat dadaku terasa sesak, sakit menjalar ke semua bagian tubuhku.


Aku memberi isyarat agar Salimah kembali pergi meninggalkanku sendirian disini.


*Jangan menyiksaku seperti ini, Sabrina. Aku tau hatimu sakit dan hancur mendengar semua ucapanku dalam video yang di tunjukkan oleh Hana, tapi itu semua aku lakukan juga demi dirimu.


Aku tau Hana licik dan jahat, jika aku mengatakan perasaanku yang sebenarnya tentangmu padanya, dia pasti tidak bisa menerimanya, aku takut dia mencelakaimu.


Tapi dugaanku salah, dia lebih dulu selangkah di depanku*.


Tidak terasa air mataku jatuh, setetes demi setetes membasahi buku gambar yang ku pegang di depan dadaku.


Entah kapan terakhir kali aku menangis, aku lupa. Tapi ini adalah pertama kalinya dalam hidupku menangisi kepergian seorang wanita selain ibuku.


"Bagaimana, Joe?" tanyaku saat menerima sebuah panggilan masuk dari Joe.


"Sepertinya kita mempunyai sedikit harapan, Boss. Aku akan segera datang ke rumahmu," ucap Joe.


Aku menutup panggilan dan meletakkan ponselku di atas meja, berganti mengambil secangkir coklat yang sudah mulai mendingin.


Ku hirup dalam-dalam aroma coklat yang begitu kuat menenangkan, sekilas bayangan senyum manis Sabrina sedang menggodaku dalam lamunan.

__ADS_1


Aku merindukanmu, aku mencintaimu, pulanglah.


Aku terus bergumam sendiri, mungkin aku sudah gila, tapi aku memang gila atas kepergiannya. Aku menggilai wanita yang pergi meninggalkanku dengan semua cinta yang ikut pergi bersamanya.


"Boss," ucap Joe mengagetkanku.


"Kenapa kau bawa mereka padaku?" tanyaku pada Joe sinis, karena dua pengawal tidak becus yang pernah ku hajar kini berdiri di belakang Joe, mereka adalah Anton dan Roby.


"Kau harus mendengar dulu info yang mereka punya, Boss."


"Apa yang kalian ingin sampaikan?" Tatapanku berganti menuju Anton.


"Maafkan kami, Tuan. Kami sudah melacak pemilik mobil putih yang menjemput nona Sabrina di depan butik. Pemiliknya adalah seorang manager di sebuah bank nasional di kota ini," ujar Anton.


"Kau yakin?"


"Ya, kami memeriksa beberapa CCTV di setiap lampu merah dimana arah mobil itu melaju, nona Sabrina ada di dalam mobil itu beserta seorang laki-laki," timpal Roby.


Laki-laki?


Laki-laki mana yang berani merebut istriku?


"Kita tidak tau apa hubungan laki-laki itu dengan Sabrina, Boss. Tapi kita akan segera mencari tau," ujar Joe.


"Cari tau semua identitas laki-laki yang membawa istriku, aku hanya memberi waktu kalian sampai sore nanti. Cepat!" ucapku lantang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Ini episode yang sama dengan beberapa hari lalu teman-teman, yang kemarin terhapus, jadi tak selipin ulang disini, maaf ya.


Semoga tetep nyambung 🙏


__ADS_2