
Di dalam mobil, aku hanya duduk merenung menatap arah luar kaca, air mataku kini sudah mengering, aku tidak lagi ingin menangis.
Aku sedang ingin pergi, menjauh, menata kepingan hati yang hancur, meskipun ia takkan kembali utuh seperti semula, tapi aku berusaha untuk memperbaiki hatiku dulu, sebelum berniat kembali dalam kehidupannya.
"Kau ingin aku mengantarkan mu kemana?" tanya seorang laki-laki berperawakan gagah yang sedang duduk di kursi pengemudi.
"Entahlah," jawabku lirih.
"Sebenarnya kau ada masalah apa, Sabrina. Katakan, aku akan membantumu," ujarnya.
Ya, kata-kata itu sering ku dengar sejak pertama kali aku mengenalnya di bangku sekolah menengah pertama dulu, dia selalu berbaik hati menawarkan bantuan padaku.
"Aku ingin pergi," kataku.
"Pergi? pergi ke mana?"
"Ke tempat yang jauh, aku ingin menenangkan diriku,"
"Katakan dulu apa masalahmu, aku bingung harus membawamu kemana, sedangkan kau ini istri orang Sabrina, aku tidak mau di tuduh menculik istri orang," jawab laki-laki itu tegas.
"Aku akan menceritakannya, tapi tolong bawa aku pergi sejauh mungkin dari sini."
"Kau yakin?"
"Ya."
"Baiklah, sesuai apa yang kau minta."
Akhirnya pengemudi di sampingku melajukan mobilnya kencang.
Langit mulai murung, hari semakin gelap di iringi dengan tetesan hujan yang mulai membasahi kaca mobil. Ku tatap nanar jalanan yang tidak pernah sekalipun aku lalui, ini jauh dari tempat asalku. Tidak apa, lebih jauh lebih baik, semakin aku menjauh akan semakin membuatku tenang.
"Kau lapar? sebaiknya kita mampir makan dulu, sepertinya kau belum makan dari pagi," ucapnya.
"Tidak, aku tidak lapar."
"Setelah ini kita akan masuk ke sebuah perkampungan, tidak akan ada restoran di sana, sebaiknya kita makan dulu."
"Kau saja yang makan, aku tidak lapar."
"Baiklah, kau tunggu saja di mobil," ujarnya lalu menepikan mobilnya di depan sebuah minimarket.
Aku bahkan tidak merasakan apapun di tubuhku, tidak haus tidak juga lapar, hanya rasa sakit yang tertanam dalam disini.
Aku meraih ponselku, banyak panggilan tidak terjawab di layarnya, ada seratus lebih panggilan datang dari tuan Joe, beberapa pesan dari Riani yang menanyakan sebuah gaun rancanganku yang lupa aku selesaikan, dan puluhan panggilan dari nomor baru, entah siapa.
Banyak tanggung jawab yang belum tuntas di butik, tapi aku sudah tidak kuat, biarkan semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan, aku tidak lagi peduli tentang nasib butikku, aku hanya ingin memperbaiki hatiku dulu.
__ADS_1
Aku memblokir semua kontak di ponselku, semuanya, tidak terkecuali, bahkan nomor milik ayah dan ibuku. Aku sadar tindakanku ini bodoh, pergi menghilang tanpa pamit, tapi aku yakin, jika ayah dan ibuku tau tentang semua yang aku hadapi, mereka tidak akan menyalahkan tindakanku, semoga begitu.
"Untukmu, makanlah sedikit," ujar laki-laki yang baru saja masuk ke dalam mobil membawa satu kantong plastik berbagai roti isi dan minuman kaleng.
"Letakkan saja," ujarku kembali mengarahkan pandangan ke kaca samping.
"Baiklah, satu jam lagi kita akan sampai."
Mobil kembali melaju kencang menembus jalanan yang mulai sepi, kini jalanan besar beraspal berganti dengan jalanan kampung yang ukurannya tidak cukup untuk dua mobil yang berpas-pasan, mungkin salah satunya harus mencari tempat yang sedikit longgar untuk memberikan jalan kepada mobil lain.
Suasana kampung yang ramai membuatku sedikit tertarik, banyak orang duduk di depan teras rumah mereka, rumah-rumah disini memang sederhana, tapi setiap rumah memiliki halaman yang cukup luas sehingga banyak anak kecil bermain di depannya.
"Kita dimana?" tanyaku.
"Sebuah perkampungan terpencil di ujung kota, kau tidak pernah tau?"
"Tidak."
"Kau akan suka tempat tujuan kita," ujarnya sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk, kembali mengedarkan pandangan melihat suasana yang berbeda dari yang biasa aku lihat.
Jalanan kampung kini berganti dengan jalan berbatu yang semakin sempit, ukurannya hanya cukup untuk satu mobil, tidak ada celah lagi di samping kanan kirinya.
Rumah-rumah penduduk mulai jarang dan berjauhan, suasana semakin sepi. Pohon-pohon tumbuh lebat di samping kanan kiri jalan, sesekali kami hanya berpas-pasan dengan satu atau dua sepeda motor.
Suasana malam yang sunyi membuat suara jangkrik dan binatang malam terdengar nyaring di telinga, mereka seperti sedang bernyanyi melakukan paduan suara yang merdu.
"Sebentar lagi, apa kau takut?"
"Tidak."
"Kita memasuki area hutan, aku punya sebuah villa disana."
Aku hanya mengangguk, menatap jalanan yang sangat gelap, hanya ada beberapa lampu penerang yang jaraknya mungkin terpisah jauh.
Setelah hampir tiga puluh menit kami menyusuri jalan berbatu di tengah hutan, akhirnya sebuah cahaya terang terlihat dari kejauhan.
"Itu villa milikku," katanya sambil menunjuk asal cahaya.
Setelah sampai di halaman villa, kami di sambut oleh sepasang suami istri paru baya dengan tampilan sederhana mereka, wajah mereka begitu ramah menyambut, senyuman hangat terus mereka pancarkan.
"Ini pak Teguh dan istrinya, bu Ningsih. Mereka orang yang merawat villa ini, mereka sebenarnya tidak tidur disini, rumahnya di daerah perkampungan yang kita lewati tadi, tapi jika kau tidak keberatan, aku akan menyuruh mereka menemanimu disini selama 24 jam," ucap laki-laki yang berdiri di sampingku, tubuh tingginya membuat sinar lampu menghalangi cahaya yang menyinariku, karena tinggiku hanya di bawah bahunya.
"Aku akan lebih senang jika ada mereka, Han," jawabku sedikit tersenyum.
"Mari masuk," ucap bu Ningsih sopan.
__ADS_1
"Tolong siapkan makan malam ya, Bu," pinta Duhan.
"Aku tidak lapar, Han."
"Kau harus makan, Sa. Aku tidak mau bertanggung jawab jika kau mati kelaparan," ucapnya sedikit bercanda.
"Baiklah." Aku mengalah.
"Mbak-nya mau nasi goreng?" tanya bu Ningsih.
"Mau, Bu. Apa saja saya mau," jawabku tersenyum ramah.
"Istirahatlah dulu, sambil menunggu makan malam kita siap," ujar Duhan mengajakku berjalan memasuki villa yang semua dindingnya terbuat dari kayu jati yang di pelitur mengkilat.
"Kamarmu di atas, ayo aku antarkan." lanjutnya.
Villa ini cukup besar, semua perabotnya terbuat dari kayu. Ada kursi, meja, berbagai hiasan dinding dan beberapa pot bunga besar, semuanya berbahan dasar kayu, unik sekali. Juga terdapat sebuah perapian di pojok ruang tengah, dan beberapa kursi berjejer di depannya.
"Villa ini bagus, unik," kataku setelah Duhan mengantar tepat di depan pintu kamar yang akan menjadi tempat istirahatku.
"Kau suka? aku punya perpustakaan di lantai bawah, ada banyak buku bacaan yang bisa kau baca, besok pagi aku akan mengajakmu berkeliling, kau pasti akan kagum dengan tempat ini," ujarnya bersemangat.
Aku mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Kamar ini tidak begitu luas, tapi semuanya tertata sangat rapi, dipan kayu yang cukup besar dengan kasur empuk dan sepasang bantal guling bersarung putih membuatku semakin ingin segera terlelap.
Meski pergi sejauh ini, aku tidak membawa sehelaipun pakaian ganti, hanya pakaian yang menempel di tubuhku saat inilah yang aku miliki. Aku bahkan tidak memikirkannya, karena yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana cara agar aku bisa pergi menjauh, itu saja.
Ah, tidak apa-apa, besok aku akan meminta tolong pada bu Ningsih untuk membeli beberapa baju ganti.
Akhirnya aku mulai membaringkan tubuhku yang benar-benar lelah, lelah hati dan pikiran.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Alurnya sementara maju mundur ya guys 😁
Semoga gak pada mumet bacanya 🥰🥰