
Mungkin aku memang memanjakan diri bersama Claire, datang ke salon, merawat diri, berjalan-jalan. Tapi semua hal yang aku lakukan tidak sedikitpun membuat rasa kosong dalam dadaku terisi sedikitpun, karena rasa kebahagiaan sesungguhnya sudah aku tinggalkan, yaitu dirimu, tuan Arga.
Penyesalan ini rasanya terus menjalar memenuhi rongga hatiku.
"Tubuhmu semakin ramping, kau berdiet?" tanya tuan Arga sambil memeluk tubuhku dari belakang, dia menenggelamkan wajahnya di tengkuk leherku.
"Tidak, aku hanya tidak berselera makan selama ini," jawabku.
"Kenapa?"
Hah, kau masih tanya kenapa?
Sudah jelas-jelas karena aku jauh darimu.
"Karena aku merindukanmu."
"Sungguh? kau merindukanku?"
"Ya, aku rindu." Aku memalingkan tubuhku agar saling berhadapan dengannya.
"Jika aku pernah mengatakan kalau wanita langsing itu tidak enak di peluk, aku tarik kembali kata-kataku, kau semakin menggoda, Sa." Dia tersenyum, perlahan, wajah resah penuh kekhawatiran itu mulai menampakkan keceriaan.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, bagaimana bisa aku pernah berpikir untuk pergi jauh darinya, sedangkan hari ini, aku begitu merasa beruntung memilikinya. Sungguh, aku tidak akan mengulangi perbuatan bodoh itu lagi seumur hidupku.
"Rambutmu lurus," katanya, dia membelai lembut rambutku, lalu mencium pucuk kepalaku.
"Aku meluruskannya, Claire yang memberi ide itu."
"Claire?"
"Ya, dia yang membawaku kembali pulang," jawabku. Aku lupa untuk memberitahunya bahwa aku pulang bersama sahabatnya.
"Dia disini?" tanya tuan Arga.
"Dia akan menginap selama beberapa hari, besok kita akan menemuinya."
"Aku harus berterimakasih padanya karena telah mengembalikan semangat hidupku." Dia mendaratkan ciuman lembut di bibirku.
"Aku tidak peduli jika kau ingin kurus dan meluruskan rambutmu, aku juga tidak peduli meskipun kau makan banyak karena ingin gemuk, dan membuat rambut keritingmu yang unik itu kembali."
"Bagaimanapun dirimu, itu semua tidak akan pernah mengurangi kadar cintaku sedikitpun, bahkan cinta ini akan bertambah setiap harinya," lanjut tuan Arga.
Entah mengapa, laki-laki itu terus membuatku seakan benar-benar di cintai, entah itu hanya sekedar omong kosong ataupun memang apa yang dia katakan berasal dari hatinya, tapi semua itu sukses membuat hati yang pernah luluh lantak kini kembali menyatu.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, ngantukku mulai datang. Setelah banyak hal yang kita bicarakan malam ini, akhirnya aku tertidur dalam pelukannya, aroma wangi tubuhnya membuatku semakin lelap menikmati mimpi indahku.
....
Suara alarm ponsel dari bawah bantalku bergetar, artinya waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Aku melihat tuan Arga sudah bangun lebih dulu, laki-laki itu masih memandangku sama seperti semalam.
"Kau sudah bangun?" tanyaku mencium bibirnya kilas.
__ADS_1
"Aku tidak tidur."
"Hah, kenapa?"
"Aku tidak ingin kau meninggalkanku jika aku tertidur," jawabnya seraya memelukku.
Ya Tuhan, dia ini kenapa?
Bahkan dia tidak tidur semalaman hanya karena takut aku diam-diam pergi meninggalkannya.
"Aku disini, Honey. Aku tidak akan pergi kemana pun."
"Berjanjilah."
"Aku berjanji padamu, aku akan tetap disini, bersamamu, selamanya," ucapku. Ku balas pelukan laki-laki itu dengan sangat erat. Mataku memanas, aku tidak kuasa menahan perasaan sesak karena sikapnya yang seperti ini, dia benar-benar ketakutan atas kepergianku.
"Aku ingin menemanimu mandi," pintanya merajuk.
"Mandi bersama? tentu saja, kita akan mandi bersama," ucapku tersenyum, aku tidak ingin membuatnya merasakan takut lagi, aku akan memperbaiki semuanya.
Kami mandi bersama selama hampir satu jam, menikmati ketenangan bersama tetesan air hangat yang mengguyur tubuh kami yang saling memeluk, menikmati kehangatan itu bersama.
Usai mandi, aku meninggalkannya yang masih membersihkan diri, dia merapikan rambut-rambut halus di wajahnya dan memotong kumisnya yang mulai panjang. Aku memilih untuk mengeringkan rambutku dan berganti pakaian terlebih dahulu.
"Kau sudah selesai? tanyanya menyusulku di ruang ganti.
"Sudah," jawabku menatapnya.
Handuk putih yang hanya melekat di pinggang dan menutupi area pribadinya kini di lepas begitu saja di hadapanku. Aku mengambilkannya pakaian ganti, sebuah kaos berwarna hitam dengan celana jeans putih favoritnya.
"Kemarilah, akan ku keringkan rambutmu, Honey." Ku ulurkan tanganku di depannya, dia menyambutnya dengan senyum yang sangat menawan.
Dia duduk berselonjor di lantai, sedangkan aku duduk di sebuah sofa bundar berukuran sedang, kami menghadap ke arah cermin besar di ujung ruangan.
"Terimakasih telah pulang," katanya lagi, dia meraba tangan kiriku yang mengusap lembut kepalanya.
"Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, aku sekarang sudah pulang, dan tidak akan pernah pergi lagi," kataku memeluk lehernya dari belakang.
Aku melihat wajah bahagianya dari pantulan cermin, itulah senyum yang aku rindukan selama ini.
"Ayo kita turun, pasti Claire sudah menunggu kita," kataku.
Tuan Arga menggandeng tanganku berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan.
Saat sampai di depan meja makan, aku sudah melihat tuan Joe memainkan ponsel pintarnya sambil berdiri bersandar di tembok.
"Joe," sapa tuan Arga.
"Boss, kau sudah membaik? ah, nona Sabrina, akhirnya kau kembali pulang," katanya tersenyum menyambutku. Aku hanya membalas dengan senyuman kecil dan mengangguk.
Entah kenapa, sejak aku tau kalau dia menyukaiku, aku jadi sedikit enggan berlaku terlalu manis padanya, aku takut membuat perasaan terlarangnya semakin kuat, aku takut menyakitinya lebih jauh, aku juga ingin menjaga perasaan Claire.
__ADS_1
"Dimana Claire?" tanya tuan Arga mengedarkan pandangannya.
"Mungkin dia masih di kamar, aku akan memanggilnya," ucapku melepas gandengan tangannya, namun laki-laki itu kembali menarik tubuhku dengan melingkarkan lengannya di pinggangku.
"Biarkan pelayan yang memanggilnya," ucap tuan Arga.
"Aku saja, hanya sebentar, Honey," rayuku.
"Tapi, kau jangan pergi lagi," ucapnya lagi, dia menatap kedua mataku. Aku menghela nafas panjang memperhatikan sikapnya yang semakin berlebihan.
"Tidak, aku hanya memanggil Claire di kamarnya, sebentar saja," kataku meyakinkan.
"Baiklah, sebentar saja, ya?"
"Iya, hanya sebentar." Dia mencium keningku lalu melepaskan pelukannya.
Aku melangkahkan kakiku menuju kamar Claire dengan hati yang tak menentu, sikap berlebihan tuan Arga yang terlalu takut aku pergi, membuatku resah. Bukan karena aku takut diriku tidak bisa pergi ke manapun, tapi aku takut ada yang tidak beres dengan dirinya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Aku mengetuk pintu kamar tamu, tempat Claire tidur. Hanya beberapa detik setelah ketukan, wanita itu sudah keluar dengan wajah ceria dengan polesan make up tipis yang begitu sempurna, dress selutut berwarna biru muda membuatnya terlihat sangat cantik, sesuai dengan warna rambut dan kukunya.
"Ciyee, cantik sekali. Pasti lagi cari-cari perhatian, ya," ledekku. Dia tersenyum sambil menyubit lenganku.
"Jangan keras-keras, Sa. Aku gugup," jawabnya.
"Pangeran kodokmu sudah duduk di ruang makan, Claire. Ayo," ajakku sambil menarik tangannya.
"Tanganmu dingin sekali, Claire."
"Sudah ku bilang aku gugup. Aku lama tidak bertemu dengannya secara langsung," jawab Claire menarik nafas, mencoba menenangkan kegugupannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1