
Usai melakukan adegan selamat pagi yang aneh, kami langsung menuju meja makan untuk sarapan. Di bawah anak tangga sudah terlihat tuan Joe yang mondar mandir sambil memandang ponselnya.
"Boss, baru bangun?" tanya tuan Joe dengan raut wajah terkejut.
"Ada apa?" tanya tuan Arga yang bingung melihat gelagat tuan Joe.
"Kau lupa? pagi ini kita akan bertemu salah satu model yang akan menjadi brand ambassador produk parfum kita," ucap tuan Joe sambil menampakkan wajah resahnya.
"Bagaimana bisa aku lupa begini, aku tidak jadi sarapan, ayo kita berangkat saja." Tuan Arga membalik tubuhnya berniat kembali ke atas mengambil berkas miliknya.
"Tapi, Tuan." Aku menahan lengan kekarnya.
"Ada apa? aku sedang buru-buru." Tuan Arga menghela nafas.
"Mari kita semua sarapan terlebih dahulu, jika perut terisi kenyang, maka otak akan bekerja lebih baik," ujarku.
"Bagaiman, Joe?" tanya tuan Arga melihat ke arah yang di ajak bicara.
"Tidak apa-apa, lima menit saja kita sarapan."
Akhirnya kami bertiga menuju meja makan, tanpa basa-basi kami makan dalam hening, hanya suara sendok dan piring bertabrakan yang terdengar.
Terlihat tuan Arga dan tuan Joe makan dengan cepat, mereka bahkan bisa menelan makanan itu tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. Begitu yang terlihat menurutku.
Aku masih makan dengan tenang, tidak peduli dengan dua laki-laki yang sudah seperti di kejar setan. Tuan Arga memerintahkan seorang pelayan untuk mengambil tas berisi berkas-berkas penting miliknya di ruang kerja.
Usai pelayan mendapatkan apa yang sang majikan perintahkan, tuan Arga bergegas menyelesaikan makannya dan beranjak berdiri.
"Sa, nanti aku akan pulang malam seperti kemarin, jika kau lelah, tidur saja, tidak perlu menungguku." Tuan Arga melihatku sebelum pergi.
"Baiklah." Aku mengangguk sambil menatapnya pergi bersama tuan Joe.
Setelah dua laki-laki itu pergi dari hadapanku, aku segera menyelesaikan makan ku dan kembali menuju kamar mengambil tas milikku. Aku juga harus segera berangkat bekerja, karena ini sudah sangat siang, pasti Riani berpikir aku tidak datang ke butik hari ini.
...
Di butik, aku langsung menuju ruanganku, suasana hatiku hari ini sedang baik, jadi aku memutuskan menggambar beberapa design baru untuk persiapan jika nanti ada client yang meminta.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Masuk," ucapku menyuruh seseorang di balik pintu itu.
"Sa," ucap Riani, ternyata dia yang datang.
"Ada apa, Ni?"
"Ini laporan keuangan kita bulan ini, menakjubkan, Sa." Riani tersenyum girang.
"Ini juga berkat kerja kerasmu, Ni. Terimakasih banyak sudah membantuku," ujarku sambil menerima berkas-berkas yang sudah tertata rapi di dalam map coklat berukuran sedang.
"Besok ada beberapa client yang ingin bertemu denganmu, Sa. Mereka ingin langsung menemuimu untuk menggambar design yang mereka mau," ujar Riani.
"Oke, jangan terlalu pagi jika menjadwalkan pertemuan ya, Ni. Aku terlalu repot kalau harus berangkat pagi-pagi sekali," ucapku.
"Biasanya kau yang selalu datang lebih pagi, tapi akhir-akhir ini kau memang datang siang terus, Sa."
Aku hanya tersenyum tanpa menimpali ucapannya.
__ADS_1
"Oh ya, bagaimana?" Riani tersenyum lebar.
"Bagaimana apanya?" Aku bingung.
"Bagaimana saran yang aku berikan kemarin, apa kau sudah melakukannya?" Riani menampakkan wajah penuh rasa penasaran.
"Tidak," jawabku bohong. Tentu saja aku sangat malu jika mengungkap urusan ranjang ku di hadapannya, apa lagi jika harus menceritakan kegilaan yang sudah aku perbuat semalam.
"Kenapa kau tidak melakukannya, Sa." Riani terlihat kecewa.
"Aku malu, Ni. Malu!"
"Ah kamu, Sa." Riani mencebik.
"Oh ya, aku mau titip sesuatu sama kamu boleh nggak, Ni," ujarku.
"Mau titip apa?"
"Tolong belikan aku pil kontrasepsi, tolong, Ya." Aku memohon.
"Hah, nggak mau!"
"Kenapa?"
"Nanti di kira aku yang meminumnya, lagi pula kenapa kau pakai minum obat seperti itu segala, bukankah lebih baik jika kau segera hamil, kenapa harus di tunda?" Riani terlihat kesal.
"Aku, belum siap."
"Jika kau siap menikah, artinya kau juga harus siap dengan semua resikonya, Sa."
Usai aku mengatakannya, Riani bergegas kembali menuju ruangan bawah dan aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
...
Waktu sudah semakin sore, aku menunggu semua karyawan ku pulang, karena aku sedang tidak ingin pulang lebih awal seperti biasanya, tentu saja karena tidak ada tuan Arga di rumah.
"Non Sabrina," ucap bang Bimo dari balik pintu ruangan ku sambil mengetuk pintu.
"Iya, Bang." Aku membuka pintu.
"Belum mau pulang?" tanya bang Bimo.
"Bang Bimo tunggu saja di mobil, aku beres-beres dulu, Bang."
"Biar saya bantu, Non." Bang Bimo menawarkan bantuan.
"Nggak perlu, sebentar lagi udahan kok, Bang."
Akhirnya bang Bimo turun lebih dulu, aku segera mengemasi beberapa buku dan ponselku lalu memasukkannya ke dalam tas coklat milikku.
Aku menyusul bang Bimo yang sudah berdiri dengan posisi siap grak di samping pintu mobil.
Saat melihatku sudah mendekat dan memastikan bahwa butikku aman, bang Bimo membuka pintu mobil bagian tengah dan mempersilahkan ku masuk.
"Bang, mampir apotek sebentar, Ya." ujarku sebelum masuk ke dalam mobil.
"Eh, anu---." Bang Bimo terlihat menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa, Bang?" Aku mengernyitkan dahi.
"Saya di perintahkan oleh tuan Arga untuk tidak mengantarkan nona Sabrina datang ke apotek manapun," ucap bang Bimo.
"Tapi, tuan Arga kan tidak tau, Bang."
"Maafkan saya, Non. Saya nggak berani, ini sudah perintah," ucap bang Bimo menunduk.
"Ya sudah!" Aku kesal, lalu masuk ke dalam mobil dengan hati dongkol.
"Maafkan saya, Non." Bang Bimo tersenyum getir sambil menyalakan mesin mobil.
Kalau aku tidak bisa membeli pil kontrasepsi, bisa-bisa aku hamil, bagaimana ini.
Aku bingung, selama perjalanan aku hanya diam memandang nanar ke arah luar kaca mobil. Bukannya aku takut hamil, aku hanya takut jika aku sudah mengorbankan semuanya lalu tuan Arga tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Bagaiamana nanti nasibku dan nasib anak yang aku kandung.
Biarkan hanya aku saja yang merasakan pahitnya menjalani hari-hariku tanpa cinta, jangan sampai anak yang aku kandung juga merasakannya. Lagipula tuan Arga belum tentu menginginkan hal seperti ini.
Setelah sampai di rumah, aku segera membersihkan diri, lalu bersiap makan malam, sendirian lagi. Aku merasa begitu kesepian sejak tuan Arga selalu pulang tengah malam, aku hanya bisa melihatnya sebentar, itu membuatku seperti kekurangan nutrisi setiap harinya.
Aku memutuskan kembali menunggu suamiku itu pulang sampai tengah malam, agar tidak ketiduran, aku mengisi waktu dengan menggambar.
Jam dinding sudah tepat menunjukkan pukul satu dini hari, mataku sudah mulai redup, aku memutuskan untuk berdiri menghadap jendela kaca sambil memandang langit cerah berhias bintang yang gemerlap.
Tiba-tiba saja tangan kekar sudah melingkar di tubuhku dari arah belakang, kemudian ciuman-ciuman hangat mendarat begitu banyak di pipi dan leherku.
Aku bernafas lega, membalikkan badanku menghadap laki-laki rupawan yang sedang berdiri dengan senyuman termanisnya.
Senyummu memang seperti candu bagiku, Tuan. Kau bisa mengobati berbagai lelah dan resah hanya dengan menampakkan senyuman termanismu itu.
"Kau menungguku?" ucap tuan Arga lalu mengecup bibirku kilas.
"Ya, saya tidak bisa tidur," jawabku seraya tersenyum.
"Baiklah, aku akan mengganti pakaianku dan akan menemanimu tidur," ujarnya lalu melepaskan jas dan kemejanya di hadapanku, dia meletakkan pakaian itu begitu saja di sofa panjang lalu menuntunku menuju tempat tidur.
"Tunggu disini sebentar," lanjutnya, lalu menuju kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1