TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Lebih Jauh Lagi


__ADS_3

Suara burung berkicau merdu membangunkan ku dari tidur yang teramat lelap, mungkin ini karena efek perjalanan jauh yang ku tempuh bersama Duhan selama seharian penuh.


Aku membuka jendela yang berada di sisi kanan ranjang, pemandangan hijau nan indah terbentang luas di hadapanku, suasana dingin pagi yang menembus kulit jauh berbeda dengan suasana di kota, ini adalah pengalaman pertamaku di tempat yang jauh dari rumah.


Suara burung bernyanyi saling bersahutan terdengar sangat riang, pohon-pohon besar dengan dedaunan hijau menyegarkan di sekeliling villa memanjakan mata, indah sekali.


Tok ... Tok ... Tok ...


Bunyi pintu di ketuk membuatku terperanjat kaget, aku segera bergegas membuka pintu.


"Maafkan saya mengganggu pagi-pagi, Mbak. Ini ada baju ganti dan handuk untuk Mbak Sabrina," ucap bu Ningsih.


"Terimakasih banyak, Bu."


"Oh ya, kamar mandinya sebelah sana, Mbak. Disini cuma ada satu kamar mandi," lanjut bu Ningsih sambil menunjuk ujung lorong.


Aku mengangguk lalu kembali menutup pintu. Mengingat semalam Duhan berjanji mengajakku berkeliling villa, aku langsung kembali keluar dan menuju kamar mandi.


Design kamar mandi ini pun begitu unik, semuanya terbuat dari kayu, bak mandi, gayung, tempat sabun dan berbagai pernak pernik keperluan mandi ada disini.


Usai mandi aku memakai pakaian yang sudah di berikan oleh bu Ningsih, sebuah rok panjang dengan kaos polos berwarna putih.


"Sa," ujar seseorang di belakangku.


"Eh, Duhan. Ada apa?"


"Kau berhutang penjelasan padaku, ikut aku!" ajak Duhan sedikit memaksa.


Aku hanya menurut dan mengikuti langkah kakinya berjalan cepat di depanku.


Kami keluar menuju halaman villa, berjalan beberapa langkah melewati jalan kecil bebatuan dan menemukan sebuah air terjun mini dengan kolam buatan di bawahnya.


"Ah, indah sekali," gumamku.


"Duduk," ucap Duhan.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Sa. Tolong jangan membuatku takut," lanjutnya.


"Maafkan aku, Han. Aku selalu merepotkanmu,"


"Aku pergi meninggalkan suamiku, aku sedang kacau, Han. Ini karena suamiku dekat dengan seorang wanita, temannya sendiri, dan aku berpikir hubungan mereka bukan hanya sekedar teman."


"Kemarin, saat kau menjemputku di depan butik, aku baru saja keluar rumah sakit, aku keguguran," ujarku, seiring kata yang keluar dari mulutku, sederas itu air mata ikut luruh.


"Jadi, kau baru saja keguguran, kau belum pulih, Sa." Mata Duhan mendelik.


"Aku sudah sehat, Han."


"Bohong! aku akan kembali mengantarkan mu pulang," ujar Duhan.


"Jangan, aku mohon. Aku butuh waktu untuk sendiri."


"Tapi itu semua baru prasangkamu, Sa. Belum tentu suamimu memiliki hubungan asmara dengan wanita yang kau maksud."


"Aku tau, tapi dia tidak mencintaiku," lanjutku, aku kembali menangis tersedu-sedu.


"Hah?" Duhan nampak terkejut.


"Jangan menangis begitu, aku bingung melihat kondisimu seperti ini. Memangnya siapa suamimu?"

__ADS_1


"Arga, Argadiansyah Wijaya."


"Pemilik Wijaya Group?" tanya Duhan terkejut.


"Jadi, aku harus menyembunyikan keberadaanmu darinya? itu mustahil, Sa." lanjutnya


"Kenapa?"


"Dia orang berkuasa, banyak cara yang bisa dia lakukan untuk menemukanmu."


"Aku percaya padamu, Han. Tolong jangan sampai ada yang tau tentang ini," ucapku sedikit memohon.


"Jadi, kalau sampai semua ini terbongkar, maka aku akan berurusan dengan suamimu, Sa. Ini tidak akan mudah."


"Aku tidak akan lama, ini hanya sebentar," ucapku meyakinkan.


"Bagaiman kau bisa menikah dengannya, dia terkenal sangat dingin terhadap wanita, aku pernah mendengar kabar pernikahannya, tapi aku tidak tertarik untuk tau siapa wanita beruntung yang mampu menakhlukkan hati laki-laki sombong itu," lanjut Duhan.


"Jadi, aku adalah wanita beruntung?" tanyaku sedikit tersenyum miring.


Miris sekali, di luaran sana semua orang menganggap aku adalah wanita beruntung yang menikah dengan seorang laki-laki kaya raya, tampan dan mapan. Apa yang mereka lihat, jauh dari apa yang sebenarnya aku rasakan.


Aku menceritakan semua asal mula pernikahan kami, dengan wajah prihatin Duhan mendengarkan tanpa membantah.


Sesekali dia menghela nafas panjang melihatku terus menangis.


"Aku turut berduka atas meninggalnya calon bayimu, Sa." Duhan tersenyum, aku hanya mengangguk sambil menatap gemericik air yang jatuh dari atas tebing.


"Aku tidak tau bagaimana perasaanmu saat ini, tapi aku akan memberimu waktu untuk menenangkan diri."


"Nanti siang, aku harus kembali ke kota. Aku sedang banyak pekerjaan, dua minggu lagi aku akan datang berkunjung."


...


Tempat indah di tengah hutan seperti ini sangat menenangkan, banyak hal yang belum pernah aku temui sebelum datang ke tempat ini.


Suasana sejuk dan nyaman membuatku betah, aku senang berlama-lama duduk di teras villa menikmati pemandangan hijau di depanku.


"Sa, aku balik ke kota dulu, jaga dirimu baik-baik. Bu Ningsih akan membeli beberapa pakaian ganti untukmu," ucap Duhan di samping pintu.


"Ya, berhati-hatilah."


"Kalau kau minta apa-apa, katakan saja pada bu Ningsih, beliau yang akan mengurus semua keperluanmu," lanjutnya.


"Baik, Han. Terimakasih banyak sudah mau menolongku."


Setelah Duhan pergi, aku memutuskan kembali ke kamar. Saat membuka pintu, terdengar ponselku berdering terus menerus.


Bukankah aku sudah memblokir semua nomor?


Lalu siapa yang menelpon?


Aku mendekat ke arah ponsel yang tergeletak diatas kasur, ada sebuah nomor baru tertera di layar ponsel.


Jemari tangan rasanya ingin menerima panggilan itu, tapi dalam hati menolak. Aku tidak mau keberadaanku terusik, aku benar-benar ingin menenangkan diri.


Akhirnya ku tekan tombol merah disana, lalu mematikan daya ponselku agar tidak ada lagi yang bisa menghubungiku.


"Mbak," ucap bu Ningsih yang sudah berdiri di ambang pintu, karena pintu kamarku memang ku buka sedikit.

__ADS_1


"Ada apa, Bu?"


"Mbak Sabrina nggak mau di buatkan sesuatu? teh panas misalnya?"


"Kalau coklat hangat, ada nggak?"


"Oh, ada. Saya buatkan dulu," ujar bu Ningsih lalu pergi ke dapur.


Ah, aku bahkan rindu coklat hangat rumah itu.


Tuan, apakah kau kehilanganku?


Apakah kau berharap aku kembali?


Pertanyaan seperti itu terus berulang-ulang di kepalaku setiap saat. Aku seperti di hantui laki-laki itu. Tidak dapat di pungkiri, aku merindukannya, tapi rasanya berat jika aku harus kembali sebelum hatiku benar-benar pulih.


...


Seminggu, dua minggu, tiga minggu berlalu, dan setelah satu bulan penuh, Duhan baru datang mengunjungiku. Dia membawa beberapa makanan favoritku saat masih sekolah dulu.


"Banyak kabar beredar atas hilangnya istri dari pemilik perusahaan terbesar di kota, Sa. Banyak orang mencarimu, bahkan suamimu menawarkan imbalan yang fantastis bagi siapa saja yang bisa menemukanmu," ujar Duhan sambil menyeruput secangkir kopi panas.


"Benarkah? dia mengadakan sayembara?"


"Ya, sepertinya begitu. Kau belum ingin pulang?" tanya Duhan.


"Apa kau tertarik dengan imbalan yang di janjikan suamiku?" tanyaku menyelidik.


"Bukan begitu maksudku, tapi---," ucapnya menggantung.


"Aku takut, Sa. Dia orang paling berpengaruh di kota kita, aku bisa kehilangan pekerjaan, karir, dan segalanya jika sampai dia tau kalau aku yang menyembunyikan keberadaanmu." Duhan terlihat khawatir sekaligus takut, matanya menampakkan perasaan yang sedih.


"Aku akan segera meninggalkan tempat ini, Han. Jangan khawatir, aku akan segera pergi."


"Aku tidak bermaksud mengusirmu, Sa."


"Aku tau, terimakasih sudah banyak membantuku selama ini."


"Kemana kau akan pergi setelah ini?"


"Jauh, mungkin lebih jauh dari ini," jawabku mantap.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2