
Tiga tahun berlalu 🖤
...
"Bagaimana hubungan kalian, Claire?" tanya Sabrina saat mereka mengadakan acara bersantai bersama di taman samping. "Bukankah sudah cukup matang untuk lebih serius?"
"Entahlah, Sa. Aku bingung, di satu sisi Duhan sangat mencintaiku, dia begitu baik, bahkan sangat baik." Claire menghela nafas.
"Tapi ... di sisi lain hatiku, aku masih menyisakan harapan pada Joe," imbuhnya, sontak kalimat yang baru saja di ucapkan Claire itu membuat Arga yang tengah asik bermain dengan Chamomile terusik.
"Apa maksudmu? bagaimana bisa kau bersama Duhan bertahun-tahun tapi masih menyimpan nama Joe di hatimu," geram Arga. "Keterlaluan kau ini, Claire!" bentaknya.
"Aku tidak sanggup mengatakan kebenaran ini pada Duhan, dia tidak seharusnya ku sakiti seperti ini." Claire mulai terisak, gadis itu sedang berperang sendiri dengan hatinya.
"Aku sudah mendengarnya," ujar sosok laki-laki di ambang pintu dengan suara berat. Duhan, ia sudah berdiri di sana hampir sepuluh menit yang lalu, namun semua orang tidak menyadarinya.
"Duhan, kapan kau datang?" tanya Claire gugup, ia mengusap air matanya yang menempel di pipi.
"Baru saja, Sayang," jawab Duhan, ia mendaratkan kecupan lembut di kening Claire, sebuah ungkapan kasih sayang yang membuat semua orang iri.
Duhan selalu memperlakukan Claire bagai ratu, membuat gadis itu merasa sangat istimewa di hidupnya, namun pembalasan Claire atas cintanya membuat ia sedikit meringis menahan sakit hati yang tak kasat mata.
Duhan masih tersenyum hangat melihat Claire di tempat ini, ia seperti tidak mendengar hal menyakitkan yang baru saja Claire lontarkan, ia sangat pintar dalam menyembunyikan rasa sakit.
Tentu saja dirinya paham, bagaimana mungkin bisa melupakan orang seperti Joe, Claire sudah mencintai Joe hampir lima tahun, sejak pandangan pertamanya, mana mungkin cinta itu bisa hilang begitu saja di kikis waktu yang hanya tiga tahun.
"Claire, aku ingin bicara." Duhan bersuara, ia menggenggam erat tangan Claire, membawa gadis itu sedikit menjauh dari Sabrina, Arga dan Chamomile.
"Han, aku tau apa yang ingin kau bicarakan." Claire menatap wajah teduh Duhan dengan seksama, wajah itulah yang telah menemani hari-harinya selama tiga tahun terakhir. Namun kini, separuh jiwanya hampir pergi.
"Tidak apa, Sayang. Aku tau kau tidak bisa memberikan seluruh hatimu padaku, meskipun perjuanganku selama 3 tahun ini sudah sangat maksimal."
"Level mencintai tertinggi adalah ikhlas, ikhlas menerima bahwa dia bukan jodoh kita, ikhlas melepaskan separuh jiwa kita asalkan ia bahagia. Aku ikhlas, Claire, sungguh." Duhan meraih jemari Claire, menautkan dua tangan mereka untuk saling menggenggam.
__ADS_1
"Jika aku melepasmu, berjanjilah untuk bahagia," lanjut Duhan.
Claire mengangguk, ia terharu, entah bagaimana bisa ia tidak mampu mencintai laki-laki setulus Duhan, mungkin dari sejuta laki-laki yang pernah Claire temui, hanya Duhan yang punya kualitas hati seperti itu.
"Jika dia menyakitimu, membuatmu kecewa, aku tidak akan segan-segan kembali merebutmu."
"Kamu laki-laki baik, Han. Kamu pantas mendapatkan wanita yang bisa mencintaimu seutuhnya, bukan seperti aku." Claire berbicara, buliran bening menetes deras tanpa aba-aba.
Ada sesosok manusia yang sudah berdiri di atas tangga paling ujung dengan telinga tajam mendengar semua percakapan dua manusia yang akan berpisah, Joe.
Joe, merasakan ada angin sejuk yang menyentuh kulitnya, mendinginkan suhu kejiwaannya yang memanas karena kehidupan menyendiri dan tanpa belahan jiwa.
Namun, ada sisi lain di hatinya merasa sakit, sakit karena telah membuat seorang wanita menunggu terlalu lama karena keegoisannya. Mungkin ia sudah tau jika Claire menyimpan cinta itu selama bertahun-tahun, bahkan sebelum kehadiran Sabrina, sayangnya ia sangat egois, egois dengan hatinya.
"Claire, berjanjilah. Jika orang yang kau cintai itu tidak mampu membahagiakanmu, kau harus kembali padaku," ujar Duhan, ia meraih tubuh Claire, mendekapnya erat di depan dada.
"Aku mencintaimu, tapi aku ikhlas jika jalan bahagiamu bukanlah bersamaku," imbuh Duhan.
Joe masih bergeming, ia tidak sanggup jika melihat Claire bersama laki-laki lain, jika saat ia mencintai Sabrina ia masih bertahan melihat kemesraan Sabrina dan Arga, namun berbeda dengan Claire, ia merasa suhu tubuhnya mendadak panas karena melihat Claire bersama orang lain.
...
Setelah kepergian Duhan, Claire kembali ke taman samping, menemui Sabrina, Arga dan Chamomile.
"Hai, gadis cantik. Mau ajak aunty main?" tanya Claire pada Chamomile.
"Mau ...." teriak Chamomile kegirangan.
"Aunty merasa gerah, Mile mau berenang nggak?"
"Emm ...." Chamomile tampak berpikir, lalu menatap papanya yang duduk bersebelahan dengan mamanya.
"Daddy, apa Mile boleh berenang?" tanya Chamomile pada Arga.
__ADS_1
"Boleh, Sayang," jawab Arga sambil melempar senyum.
Akhirnya Chamomile pergi berenang di kolam belakang bersama Claire, sedangkan Joe langsung menghampiri Arga dan Sabrina.
"Joe, kau kapan datang?" tanya Arga.
"Sudah lama, mampir ruang kerja sebentar ambil berkas," jawab Joe.
"Hmm, apa kau lihat Duhan datang?" tanya Sabrina.
"Aku tidak melihatnya, tapi aku mendengar semuanya. Jadi ...." Joe menggantungkan kalimatnya.
Arga dan Sabrina saling bertatapan, menunggu kalimat Joe yang belum terselesaikan dengan rasa penasaran.
"Lusa, aku akan segera melamar Claire, bisakah kalian membantuku?" tanya Joe malu-malu.
"Seriously? apa aku tidak salah dengar?" Sabrina berucap histeris.
"Sstt, jangan teriak. Ini akan jadi kejutan, jadi ... kalian harus merahasiakannya," lanjut Joe.
"Apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Arga.
"Tidak, ini bahkan sudah terlambat. Seharusnya aku melamarnya beberapa tahun yang lalu," ujar Joe dengan wajah menyesal.
"Bagus! kau harus menyadari kesalahanmu!" sindir Sabrina menohok.
🖤🖤🖤
Hallo semuanya, sesuai janji dan permintaan kalian, Akhirnya author mempersatukan Joe dan Claire.
Masih ada 1 ekstra part ya, mohon bersabar, I Love You Gaes ❤️
Oh, jangan lupa mampir di "PENGANTIN BAYARAN", kalian pasti suka ❤️
__ADS_1