
Riga terus menatap gadis itu. Gadis yang sedang duduk di dekat jendela. Gadis yang balas menatapnya dengan datar. Ia memandangi gadis itu lekat-lekat. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa gadis itu nyata atau hanya khayalannya saja.
Riga lelah. Ia sudah cukup lelah hari ini. Pertandingan tadi membuat badan dan pikirannya lelah. Lalu sekarang, gadis itu. Gadis itu sungguh-sungguh ada di hadapannya. Gadis itu masih duduk di dekat jendela tanpa bersuara.
"Akhirnya lo datang juga, Chia!" Fajar terlihat senang.
Fajar adalah orang pertama yang masuk ke dalam ruangan itu. Ruang klub basket. Fajar berjalan mengelilingi ruangan. Ia duduk di kursi panjang lalu merebahkan tubuhnya sambil tersenyum senang.
"Akhirnya ruangan ini bersih lagi. Gak ada lo, ruangan ini persis kuburan Chia. Iya gak?" komentar Fajar lagi.
"Yoi!" jawab Gian dan Rezky kompak.
Riga mengamati kedua temannya masuk bersamaan dan ikut merebahkan diri seperti Fajar. Beberapa anggota klub, yang berdiri di belakang Riga pun, berjalan melewatinya dan masuk ke dalam ruangan lima meter kali lima meter itu. Semuanya berimpitan duduk di lantai untuk melepas lelah.
Sedangkan Riga sendiri tampak malas melangkah. Ia masih mematung di depan pintu sendirian. Tatapan tajamnya masih terpusat pada Chia.
"Lo gak akan masuk Riga?"
Ah, Riga tak tahu siapa yang bertanya padanya barusan, yang jelas ia tak memiliki niat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia masih terfokus pada Chia yang sedang menatapnya dingin.
Menyebalkan! Riga sungguh tak menyukai kehadiran gadis itu di sekitarnya. Rasanya selalu ada perasaan aneh yang hinggap ketika ia harus bertemu pandang dengan Chia. Pasti ada sesuatu tentang cewek aneh ini! Pikirnya.
Satu hal yang membuat Riga tak habis pikir, bagaimana bisa Chia selalu berada di sekitarnya? Uh Riga kesal! Tak bisa mengingat apa pun di masa lalunya, membuat ia berpikir keras tentang hal itu.
Chia tiba-tiba berdeham pelan sambil mengibas-ngibaskan hidungnya. Ia mulai bergerak. Ia tidak lagi duduk di dekat jendela seperti tadi. Chia berjalan ke arah pintu. Tepat ke arah Riga tanpa melepaskan pandangannya.
"Apa yang lo lakuin di sini?" Ah Riga sungguh tak tahan dengan sikap gadis itu. Meski awalnya ia tak berniat berkata apa pun, pada akhirnya ia bicara juga dengan Chia.
"Apa ini usaha lo buat deketin gue? Apa ini cara lo buat dapetin perhatian dari gue?"
Riga terdiam. Masa bodoh dengan pertanyaan pedasnya itu. Justru saat ini pikirannya sedang terbagi. Mendadak jantungnya berdegup sangat kencang tak karuan, saat gadis itu telah berdiri tepat di hadapannya. Rasa khawatir, takut dan marah mulai hinggap dibenaknya. Ah, ia sungguh tidak menyukai gadis itu. Gadis yang saat ini menatapnya dengan datar.
"Apa?" tanya Chia dengan datar.
Hanya itu? Hanya itu yang cewek ini ucapin? Riga mendecakkan lidah. Emosi Riga meningkat, meski wajahnya masih terlihat tenang. Namun, setiap orang yang melihat sorot mata Riga, mereka pasti akan mengerti bahwa ia sedang marah saat ini.
"Pacar gue? Asisten pribadi? Anggota klub sastra? Sekarang apalagi? Buat apa lo ada di sini? Ini cara lo deketin gue?"
__ADS_1
"Riga!"
Riga melirik Fajar yang tadi tiba-tiba berteriak padanya.
Laki-lati itu tiba-tiba berdiri dan berjalan menghampiri Riga. Ia diam tepat di belakang Chia. Wajahnya merah padam. Laki-laki itu menatap Riga dengan kesal.
"Omongan lo cukup kasar sama Chia. Gak semestinya lo ngomong gitu sama cewek lo sendiri!" Fajar tampak memelototi Riga.
Yang bener aja! Riga berkata di dalam hati.
"Cewek gue? Dia?" Tanya Riga sambil menatap dingin ke arah gadis itu.
Riga merasa sangat kesal pada Chia. Entah kenapa seluruh orang di sekitarnya terlihat membela gadis di hadapannya itu. Gadis yang bahkan masih tak mengacuhkannya.
Tiba-tiba Chia menyingkirkan sebagian rambutnya. Ia lalu memegang headset yang terpasang di telinga kanannya. Ia melepasnya. Sementara tatapannya masih tertuju pada Riga.
"Lo ngomong sama gue? Lain kali sebelum lo ngomong sama gue, tolong kasih tau gue, supaya gue bisa denger semua omongan lo," katanya masih dengan nada datar yang sama.
Riga tertegun. Ia melihat Fajar tersenyum di belakang gadis itu. Bahkan Gian dan Rezky tertawa pelan. Sementara anggota lain masih mengatupkan mulutnya menahan tawa.
Gadis itu berdeham pelan lagi. "Tugas gue udah selesai. Gue harus pulang."
"Dia pacar lo, asisten pribadi lo, anggota klub sastra dan pengurus klub basket, itu semua bener."
Alih-alih mendapat penjelasan dari gadis yang telah pergi itu, Riga justru mendengarnya dari mulut Fajar, yang masih berdiri di hadapannya.
Ragu-ragu Riga memandang ke arah Fajar. Mencari-cari apakah lelaki itu berbohong atau tidak.
"Itu semua bener, Riga. Itu kenyataannya. Sekarang lo boleh ngelak semua itu karena lo hilang ingatan. Tapi coba lo pikirin perasaannya Chia saat lo ngomong kayak gitu di depan dia." Fajar melanjutkan perkataannya.
Riga menatap lurus-lurus ke arah Fajar. "Siapa yang minta dia buat lakuin semua itu?"
Riga tak segera mendapatkan jawaban. Justru ia melihat Fajar mengangkat salah satu alisnya. Laki-laki itu terdiam. Sepertinya ia tak memiliki keinginan menjawab pertanyaan barusan.
Laki-laki itu justru menatap Riga dalam-dalam tepat di bola matanya. Bahkan Gian, Rezky dan anggota lain pun melakukan hal yang sama. Mereka hanya diam sambil menatap ke arah Riga.
"Apa?" Tanya Riga tenang ketika mendapati dirinya menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Ia termenung sejenak. Lalu tersontak.
"Maksud kalian, orang itu gue?" tanya Riga datar.
Tanpa ragu Fajar, Gian dan Rezky mengangguk hampir bersamaan. Begitu pun anggota lain yang berada di dalam ruangan. Semuanya menatap Riga prihatin.
● ● ●
"Bukannya ini udah terlalu malem buat lo pulang ke rumah, Fachri?"
Chia langsung duduk di atas sebuah kursi, tanpa menunggu persetujuan seseorang yang telah duduk di sana terlebih dulu. Ia duduk tepat di samping laki-laki yang dijumpainya sore tadi di ruang klub basket.
"Bukannya kita sama Chia?" Fachri menoleh ke arahnya, menanggapi pertanyaan Chia barusan.
"Gak akan ada orang yang bertanya kapan kita pulang? Kita lagi dimana? Kita sedang apa? Atau kenapa kita pulang terlambat? Iya kan?" sambungnya.
Chia terdiam. Matanya masih memandangi kerlap-kerlip lampu di kejauhan.
"Seenggaknya lo masih beruntung. Kedua orang tua lo masih ada di dunia ini," jawab Chia tanpa menoleh pada laki-laki itu.
"Mereka ada, cuma buat tinggal di luar negeri dan sibuk ngurusin kerjaannya. Bukannya itu sama aja mereka gak ada kan? Ah! Gue benci mereka!"
Fachri terdiam sejenak. Chia bahkan bisa mendengar suara embusan napasnya. "Lo tau Chia, apa yang paling gue benci di dunia?"
"Gue lemah! Gue bahkan gak bisa ngelindungin orang yang gue sayang," sambung Fachri tanpa menunggu jawaban darinya.
Chia masih mengatupkan kedua bibirnya. Ah ia tahu Fachri sedang menatapnya saat ini. Tatapan yang masih sama seperti satu tahun lalu. Perasaan lo masih belum berubah sama gue? Chia menghela napas. Membingungkan memang, ia bahkan tak tahu caranya membalas tatapan laki-laki itu.
"Gue baik-baik aja." Ah, ini yang terbaik. Jika Chia tak bisa membalasnya, tidak memberikan harapan padanya adalah jalan terbaik menurutnya.
"Sebaiknya lo cepet pulang!" dalih Chia seraya bangkit berdiri.
Fachri tak segera menjawab. Ia terlihat menghela napas lagi. Sorry. Ucap Chia di dalam hatinya, seakan ia tahu apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu.
"Gue duluan," ujar Chia sambil berjalan meninggalkannya.
"Iya," jawab laki-laki itu akhirnya tanpa menoleh ke arah Chia.
__ADS_1
● ● ●