Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
S2-Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Chia masih penasaran mengenai berita tentang Asta. Untuk itu dia berada di salah satu perpustakaan terbesar yang letaknya paling dekat dengan apartemennya. Gedung perpustakaan yang cukup tinggi itu terlihat sangat nyaman. Begitu Chia masuk, dia telah disambut oleh dinginnya udara yang keluar dari AC di setiap sudut ruangan. Juga sofa-sofa merah yang tampak nyaman jika Chia duduk di sana sambil membaca. Ruangan yang luas, dengan gaya industrial, juga rak-rak tinggi yang berjajar, membuat Chia merasa betah di tempat itu.


Chia menyeretkan langkah. Berkeliling memutari setiap rak. Dia menghampiri sebuah rak yang berisi deretan majalah juga surat kabar edisi terbaru. Edisi lama pun sepertinya masih ada. Namun, hanya sampai edisi bulan kemarin.


Chia mendesah pelan. Sepertinya kali ini dia akan kesulitan mencari informasi mengenai Asta. Tangannya diulurkan untuk meraih sebuah majalah bisnis edisi minggu ini. Namun, belum sempat Chia membuka dan membacanya, ponsel di dalam tas kecil yang dibawanya itu bergetar.


Chia merogoh tas berwarna moka itu. Dia mengeluarkan sebuah ponsel lalu membukanya. Sebuah pesan baru saja masuk. Dari Riga.


Lagi apa di sini?


Di sini? Alis Chia terangkat satu. Dia memutar kepalanya, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan di lantai dua itu. Matanya menangkap sosok pria jangkung, berambut dan bermata coklat sedang berdiri di belakangnya. Riga ... sedang menatap Chia dalam diam dengan sebuah ponsel di tangan kanannya.


Tak berani bersuara di dalam ruangan yang sangat hening itu, Chia pun mengetikkan balasan untuk Riga.


Baca.


Jawaban singkat yang merupakan pesan pertama Chia kepada Riga sejak pertemuan kembali keduanya, setelah lelaki itu meminta paksa nomor baru Chia. Riga hanya menatap datar balasan dari perempuan yang berdiri dengan jarak kurang dari dua meter itu. Kemudian tangannya menari lagi di atas benda pipih yang sedang ditatapnya.


Baca majalah bisnis?


Kalau pengen referensi untuk tulisan lo, lo bisa tanya ke gue.


Mata Chia beralih pada majalah di tangannya setelah membaca pesan dari Riga. Sial! Dia lupa untuk menaruh kembali buku itu. Lantas, alasan apa yang akan Chia katakan pada lelaki itu?


Di saat Chia sedang bingung memikirkan pesan balasan, Riga melangkah maju untuk membuang jarak di antara keduanya. Begitu Chia sadar Riga telah berdiri tepat di sampingnya, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telinga Chia.


Lantas Riga berbisik, "Mau gue bantu?"


Debaran jantung yang tidak tahu waktu untuk terpacu lebih cepat itu membuat lidah Chia mendadak kelu. Sudah terlalu lama Chia tidak berada dalam radius yang begitu dekat dengan Riga. Maka, Chia sungguh mati kutu ketika berada di fase itu lagi.


"Thanks. Tapi gue rasa gak perlu. Gue cuma lagi iseng baca," jawab Chia mencoba mengendalikan debaran jantungnya yang belum kembali normal. Dia berusaha tidak menatap bola mata Riga yang selalu bisa menyihirnya setiap saat.

__ADS_1


Buru-buru dia menjauh dari Riga. Malu jika seandainya lelaki itu mendengar detak jantung Chia yang tak karuan sejak tadi. Chia duduk di salah satu sofa merah yang paling dekat dengan jendela. Dia mencoba fokus dengan tujuannya. Ya, mencari tahu soal Asta adalah prioritas. Dia harus tahu fakta yang sebenarnya.


"Gak bosen yah baca?" tanya Riga tiba-tiba.


Chia yang sejak tadi sibuk dengan buku di tangan, kemudian menoleh pada lelaki yang duduk di seberangnya itu. Diamatinya Riga yang tengah memainkan gantungan kunci pada tas gendong lelaki itu.


Setiap hari, sejak pulang sekolah, sejak memasuki perpustakaan, sejak Chia duduk di sebuah kursi dekat jendela untuk membaca buku, Riga memang mengekor Chia terus. Lelaki itu duduk diam. Tidak melakukan apa-apa. Hanya menunggu Chia yang sedang asyik sendiri dengan bacaannya.


Meski begitu, sesekali Chia melirik ke arah Riga. Takut kalau Riga bosan. Namun, Riga tak pernah protes sekali pun. Lelaki itu kadang hanya diam sambil memerhatikan keluar jendela. Kadang sibuk sendiri dengan ponselnya. Kadang hanya duduk mengamati Chia hingga kedua mata mereka bertabrakan. Riga tak pernah sekalipun mengganggu Chia yang masih berkutat dengan buku.


Begitu mendengar Riga angkat suara untuk pertama kalinya, perhatian Chia lantas buyar. "Daripada cuma diem di situ, mendingan lo pulang deh," ucap Chia saat melihat Riga meringkuk di atas meja. Menopangkan kepalanya di atas kedua tangan yang terlipat. Chia tahu, Riga pasti bosan.


"Menurut lo, kenapa gue masih betah di sini dan gak mau pulang?" tanya Riga yang telah mengubah posisi kepalanya. Kini hanya dagu yang ditopangkan di atas tangannya. Sehingga kedua mata Riga dan Chia bertemu.


Chia mengendikan bahu. "Gak ada kerjaan? Males diem di rumah?" Chia mencoba menebak.


Riga mengulurkan jarinya. Lalu menyentil dahi Chia pelan. "Bodoh."


Tidak! Sejak Riga membuntuti Chia hingga menunggunya seperti ini, hati Chia terus merasa tak karuan. Pikirannya kacau. Jangankan dapat membaca dengan serius, sedetik mencoba untuk tidak melirik ke arah Riga saja, rasanya sulit. Lelaki itu sungguh telah membuat dunia Chia jungkir balik.


"Dari pada bosen, kenapa lo gak coba untuk baca buku aja?" tanya Chia.


"Mengulang suatu tulisan yang bisa gue inget dalam satu kali baca, rasanya nyebelin."


Astaga! Chia sungguh tidak paham jalan pikiran orang yang cerdas dari lahir. "Baca buku yang belum pernah lo baca. Ada banyak kok isi buku yang belum lo simpen di memori kepala lo."


"*Gue lebih tertarik menyimpan memori tentang berbagai ekspresi lo waktu lagi baca. Lo yang kadang senyum-senyum sendiri. Dahi yang berkerut kalau lagi serius. Kadang, menggigit bibir bawah tanpa sadar. Atau saat lo udah ngantuk tapi tetep pengen baca. Juga ekspresi aneh yang terlihat lucu. Semuanya ... pengen gue inget sampai kapan pun*."


'Tapi pada akhirnya lo melupakan itu semua 'kan Riga?' tanya Chia dalam hati sambil membaca dengan cepat majalah bisnis di pangkuannya. Namun, hingga Chia hampir membalik halaman terakhir, tak ada satu pun artikel yang membahas soal Asta ataupun perusahaan itu. Chia menghela napas berat. Kecewa.


Chia menaruh buku itu di atas meja. Bertumpuk dengan majalah dan buku-buku lain yang telah dibacanya selama hampir tiga jam. Tengkuknya mulai terasa pegal karena terlalu lama menunduk. Chia memijatnya sebentar sebelum membereskan buku-buku di atas meja kaca. Dia mengakhiri pencarian infonya hari ini. Chia akan melanjutkannya besok.

__ADS_1


Duk!


Sesuatu yang berat tiba-tiba menimpa bahunya. Itu kepala Riga dengan kedua mata yang terpejam. Uh! Bagaimana Chia bisa melupakan bahwa ada Riga yang sejak tadi duduk di sampingnya. Menemaninya. Duduk diam tanpa melakukan apa pun. "Lo pasti bosen," gumam Chia dalam hati. Diam-diam tersenyum tipis.


Perlahan Chia mencoba mengangkat kepala lelaki itu dari bahunya dengan tangan kiri. Namun, tiba-tiba saja tangan lelaki itu menggenggam tangan kanannya. "Ijinin gue kayak gini sedikit lebih lama lagi," ucap Riga dengan mata terpejam dan tangan yang masih menggenggam Chia. Seolah takut Chia bangkit berdiri dan pergi meninggalkannya.


"Gue mau nyimpen buku-buku ini," dalih Chia. Padahal kenyataannya dia hanya ingin melarikan diri dari situasi canggung itu. Situasi canggung yang rupanya membuat Chia merasa nyaman. Ah, andai hati masih bisa berharap.


"Apa yang lo cari?" tanya Riga datar tanpa membuka mata.


Eh? Kenapa Riga bisa tahu? Chia membuang muka ke luar jendela "Kenapa lo bisa berpikir gue mencari sesuatu?"


"Lo kelihatan antusias waktu mulai membaca sebuah buku, tapi berubah lesu setelah lo sampai di halaman terakhir. Ekspresi itu ... lo ulangin terus selama tiga jam."


Uh! Menyebalkan! Chia malu. Sangat. Dia sungguh payah dalam mengontrol mimik wajahnya sendiri ketika membaca. Sekarang, haruskah Chia berkata jujur pada lelaki yang menjadikan bahunya sebagai bantal itu?


"Gue ... lagi cari berita soal Asta."


"Asta?" ulang Riga. Matanya kini terbuka. Dia mengangkat kepalanya lalu menyentil dahi Chia pelan. "Bodoh! Kenapa lo gak tanya gue?"


"Jadi ... lo tahu soal Asta?" Chia sangat terkejut. Lantas, bagaimana dengan tiga jam yang terbuang sia-sia karena hasil sikap sok tahu Chia? Menyebalkan.


"Ya! Tapi ... gue gak berbagi informasi dengan gratis."


"Terus? Mau lo apa?" tanya Chia datar.


Senyum Riga mengembang. Sementara Chia mulai merasa tak enak melihat cara Riga tersenyum.


♡ ♡ ♡


maafin up nya lama. dan sedikit. hapeku mendadak ngajak ribut minta dibedah. error entah kenapa.. 😢😢

__ADS_1


__ADS_2