Unbeatable-Talking About U

Unbeatable-Talking About U
Bab 5 : U and The Memories (2)


__ADS_3

Mara menoleh ke belakang sekali lagi. Namun hasilnya tetap nihil, meskipun ia telah mempercepat langkahnya. Ia bahkan beberapa kali berlari kecil ketika ada kesempatan berbelok.


Ih ngapain sih dia ngotot ngikutin gue?! Udah dibilang gue gak kenal juga!


Langkah Mara terhenti di ujung jalan. Ia berhenti di depan sebuah zebra cross. Ia menatap lampu lalu lintas. Ia merengut. Lampu merah tak kunjung menyala juga. Ia tak berani menoleh ke belakang. Ia tahu orang itu masih berdiri lima meter di belakangnya.


Dasar orang aneh! Niat banget ngikutinnya! Udah ketauan, masih aja jaga jarak!


Mara masih menatap lampu lalu lintas. Ia sudah tak sabar ingin segera menyeberang jalan. Ia ingin segera menaiki bus kota yang ada di seberang sana. Ia ingin laki-laki itu berhenti mengikutinya. Kenapa sih hari ini lampu merah berasa kayak siput!


Mara melangkahkan kakinya. Ia tidak peduli lagi dengan lampu lalu lintas yang masih berwarna hijau. Dalam hitungan detik, seseorang telah menarik tangannya, bersamaan ketika salah satu kaki Mara telah menginjak zebra cross.


"Aw!" pekik Mara kerika sebuah mobil sedan melintas tepat di hadapannya. Bahkan kaca spionnya nyaris mengenai tubuh Mara.


"Bego! Punya amalan sebanyak apa sampe lo siap mati di usia segini?"


Mara menoleh ke belakang, tepat pada laki-laki yang saat ini sedang menopang tubuhnya. Uh, hampir saja ia melupakan laki-laki yang telah menolongnya itu.


"Gue cuma pengen nyebrang." Mara merengut. Ia menyesal. Nyaris saja ia kehilangan nyawanya.


Tiba-tiba Mara tersontak. Ia baru ingat tubuhnya masih bertopang pada laki-laki itu. Buru-buru ia berdiri tegak, melepaskan diri dari laki-laki itu.


Tuh kan! Mimpi apa gue semalem, sampe dipeluk Riga dari belakang. Eh! Mulai ngaco nih otak! Mara mendengus sambil menundukkan kepala. Malu.


● ● ●


Asta masuk ke dalam mobilnya. Ia duduk di belakang kemudi. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ia menekan beberapa tombol lalu menyimpan ponsel itu di telinganya. Ia menghubungi seseorang.


Tut ... tut ... tut .... Hanya bunyi itu yang didengarnya. Tampaknya panggilannya tidak mendapat respon sedikit pun.


Panggilan pertamanya gagal. Ia belum menyerah. Ia menekan ulang tombol-tombol itu. Masih nada yang sama. Berulang-ulang hingga sepuluh kali ia melakukannya.


"Halo?" Suara dari seberang terdengar. Akhirnya panggilannya mendapat respon juga.


"Lo dimana?" tanya Asta tanpa berbasa-basi.


"Mmm ... gue ... gue ...." Terdengar suara gemeresik yang samar. Untuk beberapa menit, suara itu menghilang. "... Gue lagi di taman ...," jawab orang itu dengan nada ragu.


"Lo tunggu disitu! Gue ke sana sekarang!" Asta segera menutup panggilannya.


Buru-buru ia memasang sabuk pengaman. Ia menyalakan mesin. Dalam hitungan detik, mobil Asta telah meninggalkan parkiran sekolah.


● ● ●

__ADS_1


"Kenapa lo ngikutin gue?" Mara malas berbasa-basi. Lagi pula sejak setengah jam yang lalu, ia terus diabaikan oleh laki-laki yang menolongnya itu, sekaligus yang telah membawanya ke sebuah taman. Wajar saja jika sekarang Mara gemas. Gue bukan patung! Umpatnya.


Mara menoleh. Ia mengamati laki-laki yang duduk di sampingnya itu masih membisu. Percaya atau tidak, Mara mulai merasa kesal dengan laki-laki dingin di sebelahnya itu. Tuh kan dicuekin! Ternyata sikapnya gak jauh beda sama psikopat gila di sekitar gue! Huh!


Mara mengalihkan pandangan. Toh pertanyaannya sama sekali tak mendapatkan respon sedikit pun. Mara mengamati sekelilingnya. Ah, taman itu terasa tak asing baginya. Ia juga dulu sering berkunjung ke sebuah taman yang memiliki ayunan dan air mancur persis seperti taman itu, saat Mara masih kecil. Saat kedua adiknya belum lahir.


Jangan-jangan ini taman yang sering gue datengin sama ayah waktu dulu lagi? Mirip banget! Mara masih mengedarkan pandangannya.


Tiba-tiba Mara terlonjak. Suara dering ponselnya sukses membuatnya kembali dari lamunan nostalgianya. Namun, Ia tidak segera melirik ponselnya. Ia membiarkan ponsel itu berdering tanpa henti.


Bodo amat deh! Paling si gila itu yang nelpon! Mara mengendikan bahu. Ia bersikap normal kembali, berpura-pura tak mendengar nada dering di ponselnya.


"Hp lo bunyi tuh dari tadi."


Uh, Mara sebal. Nada bicara datar laki-laki itu begitu mirip dengan seseorang yang sedang ingin dilupakannya, seseorang yang sedang menghubunginya sejak tadi.


Mara meringis. Dengan berat hati ia mengambil ponsel yang berdering itu di dalam sakunya. Ia berdiri lalu berjalan sedikit menjauhi Riga. Ia menatap ponselnya lalu menekan salah satu tombol.


"Halo?" ucapnya dengan pelan.


"Lo di mana?"


"Mmm ... gue ... gue ...." Mara mengerutkan dahinya. Ia menutup sebagian ponselnya sambil melirik ke arah Riga, laki-laki yang sejak tadi duduk di sebelahnya. Lalu Mara kembali pada ponselnya.


"Lo tunggu di situ! Gue ke sana sekarang!"


"Eh tu-tungg ...." Sebelum Mara melanjutkan ucapannya, nada 'tut' mengakhiri percakapan singkat itu. Mara menatap ponselnya dengan kesal.


"Emang lo tau gue di taman mana? Taman di kota ini kan banyak. Emangnya lo mau datengin semua taman satu per satu apa?" gerutu Mara.


Ia menghela napas. Dengan kesal ia menyelipkan ponsel itu ke saku bajunya lagi. Ia melirik ke arah Riga lalu menatapnya lekat-lekat.


● ● ●


Chia menghentikan sepedanya di depan rumah. Ia termenung sejenak, lalu menoleh ke belakang. Ia menatap ke arah jalan yang sedang lengang. Ia mulai memutar sepedanya, memunggungi rumah yang sudah setahun lebih ditinggalinya.


Chia mulai mengayuh sepedanya lagi. Menelusuri jalanan yang baru saja dilewatinya. Di perempatan, ia tidak mengambil jalan lurus yang biasa digunakannya untuk pergi ke sekolah. Ia berbelok ke arah kiri. Melewati jalanan yang lebih sempit. Sebuah gang yang padat dengan rumah-rumah mungil di kanan-kirinya.


Chia menghentikan sepedanya setelah melewati jembatan kecil yang terbuat dari kayu. Ia masih duduk di atas sepedanya dengan satu kaki sebagai topangan. Ia memandangi sebuah rumah besar bertingkat dua yang diimpit rumah-rumah kecil lainnya. Warna putih cerahnya terlihat kontras dengan warna-warni pudar cat rumah yang mengimpit.


Chia menatapnya lekat-lekat. Rasa rindu membuat ia kembali ke tempat yang tidak asing baginya. Tempat yang menjadi sejarah untuknya. Ia termenung cukup lama sambil menatap rumah itu. Hingga akhirnya ia tersadar dan memutuskan untuk pergi melewati rumah itu. Ia mengayuh sepedanya sedikit lebih cepat.


● ● ●

__ADS_1


Mara berjalan mendekati Riga yang masih duduk manis di kursi taman. Laki-laki itu masih belum mengajaknya bicara. Ia menatapnya.


"Mmm ... Kayaknya gue harus pulang duluan deh. Sorry gak bisa nemenin lo lebih lama."


Riga masih terdiam. Ia bahkan tidak menatap Mara sedikit pun.


"Oh iya makasih yah buat pertolongan lo yang tadi. Dah! Gue pergi." Mara menghela napas sambil berbalik badan. Ia pun mulai berjalan menjauhi laki-laki itu.


"Utaraka Meteoriga!"


Mara mengernyitkan alisnya. Ia menoleh dan menatap Riga penuh tanya. "Maksud lo?"


"Nama gue Utaraka Meteoriga. Lo bisa panggil gue Riga."


"Hah?"


"Lo bilang kita gak saling kenal kan? Ya udah kita kenalan sekarang." Riga menatap Mara dengan pandangan tak terjelaskan.


Mara mengerutkan dahinya. Sedikit demi sedikit ia melebarkan bibirnya. Lalu tertawa renyah.


"Ok." Mara menganggukkan kepalanya.


"Nama gue Naigisa Amaranth. Panggil gue Mara aja." Mara sambil tersenyum.


"Gue pergi sekarang. Dah!" sambungnya.


Riga mengangguk sambil tersenyum tipis.


● ● ●


Chia terpaku. Ia menatap lekat-lekat dua orang yang sedang berbincang tidak jauh di depannya. Dua orang yang tak asing. Dua orang yang tadi sempat dilihatnya ketika ia keluar dari toko buku dekat sekolah.


Dilihatnya dari kejauhan Riga sedang duduk di sebuah kursi sambil memunggungi Chia. Sedang Mara berdiri tidak jauh dari laki-laki itu. Ia menatap Mara yang sedang tertawa. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan. Ia tak tahu. Namun, tiba-tiba saja Mara pergi meninggalkan Riga sambil tersenyum.


Chia memalingkan wajahnya. Ia berbalik badan. Lalu memandangi sepeda tuanya.


● ● ●


Diam-diam Riga mengikuti Mara dari belakang. Ia bersembunyi di antara pepohonan ketika mobil seseorang menghampiri Mara di pintu taman. Ia tak yakin ekspresi apa yang ditampilkan gadis itu ketika masuk ke dalam mobil.


Riga keluar dari persembunyian ketika mobil yang ditumpangi Mara berlalu meninggalkannya. Ia menatap mobil itu hingga menghilang dari pandangan. Riga terdiam sambil menunduk. Memandangi dedaunan yang terkapar di jalanan karena tertiup angin.


Riga menghela napas. Ia mengangkat kepalanya. Belum sempat melangkahkan kaki, Riga tiba-tiba terpaku. Ia menatap seorang gadis yang sedang berjalan keluar dari taman sambil mendorong sepeda. Ia menatap gadis itu lekat-lekat.

__ADS_1


● ● ●


__ADS_2